PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 182


__ADS_3

Erland kini telah sampai di rumah mertuanya, malahan sekarang dia sudah berada di depan pintu kamar Maura. Tanpa mengetuk terlebih dahulu pintu dihadapannya itu, ia langsung membukanya.


Keningnya di buat berkerut saat melihat situasi didalam kamar itu sangat gelap.


"Apa Maura sudah tidur?" gumam Erland sembari berjalan dengan menyalakan senter yang berada di ponselnya.


Ia mendekati ranjang tersebut dengan sinar senter ponselnya yang menerangi jalannya.


Erland menghela nafas saat dirinya kini telah sampai di samping tubuh Maura yang memang sudah menutup matanya dengan bibir yang terbuka lebar, menandakan jika perempuan cantik itu sudah tertidur pulas.


Erland mengalihkan pandangannya kearah paper bag yang berada di tangannya itu sembari berkata, "Huh, ya sudahlah. Biar dia makan besok saja."


Setelah mengatakan hal tersebut, Erland menaruh paper bag tadi tepat di atas nakas samping Maura. Kemudian setelahnya, tanpa menghidupkan lampu di kamar tersebut, Erland memilih untuk segara menuju ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya, perkara baju ganti, ia tadi sempat mampir ke rumah dirinya dan Maura hanya untuk mengambil beberapa baju ganti. Karena ia sangat yakin, Maura belum mau pulang ke rumah mereka dan akan tinggal di rumah orangtuanya beberapa hari kedepan. Sekaligus di waktu itu, Erland juga akan mencari-cari rumah baru untuk mereka tinggali. Kali ini ia akan memberikan tempat tinggal yang mungkin di impikan oleh Maura yaitu penuh dengan kemewahan. Ia sekarang sudah tidak peduli jika Maura akan kembali seperti dirinya yang dulu, gemar menghambur-hamburkan uang. Erland sudah tidak mempermasalahkan hal itu, asalkan istrinya itu tidak keras kepala kembali dan ingin menang sendiri apalagi sampai berniat meninggalkan dirinya, kalau hal-hal itu, Erland tetap akan tegas untuk mendidik Maura.


Setengah jam sudah berlalu, Erland sudah selesai dengan aktivitas membersihkan tubuhnya dan kini ia segara keluar dari dalam kamar mandi. Namun dirinya hampir di buat jantungan saat melihat Maura sudah duduk dengan bersandar di sandaran ranjang, rambutnya yang panjang terurai hampir menutupi semua wajahnya karena perempuan itu tengah menunduk di tampah cahaya di dalam kamar itu menjadi temaram karena Maura menyalakan lampu tidur saja.


Dan dengan mengelus dadanya yang terasa berdetak sangat kencang, Erland melangkahkan kakinya sembari berucap, "Sayang, kenapa kamu bangun hmmm?"


Erland kini mendudukkan tubuhnya di samping tubuh Maura.


Maura yang sibuk mengunyah makanan di bibirnya ia menolehkan kepalanya.


"Kamu juga kenapa sudah pulang gak bangunin aku sih? Dan ini." Maura menunjukkan satu kotak rujak kepada Erland.


"Kenapa di sini hanya ada rujaknya saja. Mana es krimnya? Aku kan tadi mintanya rujak es krim, kamu ini gimana sih," sambung Maura dengan mengerucutkan bibirnya. Walaupun rujak itu tanpa di tambah es krim sudah sangat enak di makan, tapi tetap saja ada yang kurang buat Maura. Dan hal itu membuat dirinya menjadi uring-uringan sedari tadi.


Erland tersenyum kemudian dengan mengacak rambut istrinya ia beranjak dari tempat duduknya, mengambil paper bag yang masih tergeletak di tempat ia letakkan tadi, kemudian ia segara mencari apa yang saat ini di inginkan oleh Maura.

__ADS_1


Setelah mendapat satu kota es krim disana, ia menyodorkannya kepada Maura.


"Ini es krimnya. Kamu hanya kurang teliti saja tadi sayang. Aku memang sengaja meminta penjualnya tadi untuk memisahkan antara rujak sama es krimnya karena kalau terlalu lama di dalam perjalanan pasti es krimnya akan meleleh dan pasti rasanya akan menjadi berbeda," ujar Erland.


"Oh jadi es krimnya dipasah. Ngomong dong dari tadi. Kan kalau kamu ngomong dari tadi, aku tidak akan merasakan kecewa. Bahkan aku tadi sempat berpikir untuk menarik kata untuk memaafkanmu," ucap Maura yang membuat Erland menghela nafas panjang, sekaligus ia bersyukur karena memiliki otak yang pinta dan orangtua yang baik hati mau membantunya.


Dan untuk menimpali ucapan dari Maura tadi, Erland hanya bisa memberikan sebuah senyuman kepada Maura. Sedangkan Maura, perempuan yang tadi sempat cemberut akhirnya ia bisa tersenyum juga sebelum tangannya mengambil alih satu kotak es krim dari tangan Erland. Menyendok es krim itu dan ia campurkan ke dalam rujak yang berada di pangkuannya.


"Hemmm enek. Ini baru perpaduan yang pas. Sangat cocok sekali," ujar Maura dengan terus memasukkan makanan tadi ke mulutnya. Sebelum ia menyadari jika suaminya masih berada di sampingnya sehingga ia menolehkan kepalanya kearah Erland yang ternyata suaminya itu juga tengah menatap dirinya.


"Kamu mau?" tawar Maura.


Erland menggelengkan kepalanya tak lupa senyumannya pun tak pernah luntur dari bibirnya.


"Tidak. Buat kamu saja," balas Erland.


"Aku yakin sayang. Kamu saja yang makan," tutur Erland.


"Ya udah kalau gitu. Aku makan sendiri saja sampai habis tak tersisa," kata Maura yang hanya diangguki oleh Erland.


Setelah percakapan singkat tadi, Maura kembali fokus dengan makanannya sedangkan Erland, laki-laki itu terus terfokus ke wajah Maura yang tetap saja sangat cantik walaupun dalam keadaan baru bangun tidur, rambut seperti singa dan pipi yang mengembang, penuh dengan makanan di dalamnya.


Terdengar Maura tengah bersendawa kala perempuan itu sudah menghabiskan rujak es krimnya tadi.


Erland yang mendengar bunyi sendawa Maura yang cukup keras itu, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Minumnya tadi aku sudah bawakan juga di dalam paper bag tadi," ujar Erland yang sudah menyiapkan apa yang sekiranya Maura butuhkan.

__ADS_1


Maura tersenyum sembari mengacungkan kedua jari jempolnya, "Suami terbaik."


Setelahnya Maura segara mengambil satu botol air mineral dan meminumnya hingga tandas. Dan setelahnya, ia menepuk-nepuk perutnya dengan pelan.


"Huh akhirnya, perutku penuh juga," ujar Maura dengan merebahkan tubuhnya kembali dengan posisi mata yang tertutup.


"Kalau habis makan itu jangan rebahan dulu sayang. Tapi tetap duduk untuk beberapa saat," tutur Erland dengan mencoba membantu Maura untuk kembali duduk.


"Tapi aku sangat mengantuk lho, sayang. Toh kalau rebahan, nih isi di dalam perut juga tetap bekerja," kata Maura.


"Tetap tidak boleh sayang. Perlu kamu tau ya, kalau habis makan terus tidur itu bisa mengakibatkan obesitas, gangguan tidur, gerd, bahkan bisa mengakibatkan stroke. Dan aku tidak mau kamu terkena salah satu dari penyakit itu," ujar Erland yang membuat Maura memutar bola matanya.


"Baiklah-baiklah pak dokter. Aku akan menurut saja. Tapi peluk." Maura merentangkan kedua tangannya yang langsung di sambut oleh Erland.


Laki-laki itu membawa tubuh sang istri kedalam dekapannya dengan tubuh yang mereka sandarkan di sandaran ranjang.


Untuk beberapa saat mereka tak ada yang membuka suara, keduanya tampak menyalurkan kehangatan satu sama lain lewat pelukan itu sampai pada akhirnya Maura berkata, "Sayang, aku besok pengen makan gudeg."


Erland menundukkan kepalanya untuk melihat wajah Maura yang saat ini tengah menengadah.


"Kalau begitu suruh salah satu art disini untuk membuatkan makanan itu untuk kamu." Dengan cepat Maura menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mau orang-orang yang berada di kota sini yang membuatkan makanan itu untukku."


"Lha kalau yang buat bukan orang-orang di kota ini alias kamu tidak mau beli atau buat sendiri, terus gimana kamu bisa makan makanan itu? Ya kali makanan itu datang sendiri dari langit," ujar Erland tak habis pikir dengan jalan pikiran Maura.


"Ya emang makanan itu tidak datang sendiri tapi kita yang mendatangi makanan itu. Aku mau kita besok ke Jogja langsung. Aku mau makan makanan itu di kota asalnya," tutur Maura yang membuat Erland melongo tak percaya. Mau makan gudeg saja harus jauh-jauh ke kota pelajar itu, yang benar saja! Padahal rasanya mungkin juga sama dengan gudeg buatan di ibukota ini. Huh dasar istrinya itu memang aneh-aneh saja.

__ADS_1


__ADS_2