PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 24


__ADS_3

"Hayyy mang. Ada apa ya pagi-pagi datang kesini?" ucap Maura basa-basi. Padahal ia sudah tau maksud dan tujuan dari penjual bakso itu mendatangi rumahnya.


"Saya tidak memerlukan basa-basi kamu karena yang saya perlukan adalah hutang kamu untuk segera di bayar. Sini uangnya cepat. Saya tidak ada waktu berlama-lama disini," kata penjual bakso itu to the point. Ia juga sudah tidak betah jika harus lama-lama di rumah itu, takut Erland berbuat macam-macam kepadanya.


"Lho hutang saya belum dilunasi juga?"


"Belum."


"Ck, Mamang gimana sih kan tadi malam saya sudah bilang kalau minta suami saya karena saya belum dikasih uang bulanan sama dia."


"Saya sudah menagih ke suami kamu tapi kata suami kamu, dia tidak mau ikut campur dengan urusan kita. Lagian apa kamu tadi lupa kalau suami kamu bilang, kalau dia tidak mau di sangkut pautkan masalah hutang kamu itu. Jadi lebih baik kamu sekarang bayar hutangmu. Kalau kamu belum di kasih uang bulanan ya minta sana cepat," ucap penjual bakso itu yang membuat Maura mencebikkan bibirnya.


"Ck, ya udah tunggu bentar," ujar Maura sembari berdiri dari duduknya dan bergegas berjalan menuju ke dapur. Ia terpaksa harus meminta uang ke Erland. Perkara laki-laki itu nanti tidak memberikannya, ia bertekad akan diam-diam mengambil uang di dompet Erland. Toh niatannya itu tidak termasuk mencuri kan karena kata orang-orang uang suami adalah uang istri juga.


"Er," panggil Maura kala dirinya sudah sampai di dalam dapur.


Erland yang masih asik memasak pun ia melirik kearah Maura tanpa berniat menjawab panggilan dari istrinya itu.


"Erland," panggil ulang Maura dengan suara yang ia keraskan. Dimana hal itu membuat Erland mendengus, jika ia tak menimpali panggilan dari Maura, perempuan itu pasti akan terus memanggilnya dengan suara yang semakin di perkeras. Dan agar tidak menimbulkan kegaduhan yang pastinya akan membuat tetangga terganggu, akhirnya Erland memilih menjawab dengan deheman saja.

__ADS_1


"Hmmm."


"Minta duit," ucap Maura dengan menengadahkan tangannya kearah Erland yang mana uluran tangan itu di tatap oleh Erland.


Maura yang melihat tatapan tanpa minat yang di pancaran oleh Erland, ia kembali angkat suara.


"Setelah kita sah menjadi suami istri, kamu belum memberiku uang nafkah seperti yang kamu janjikan dulu dan janji itu tertuang di dalam surat perjanjian kita. Dan perlu kamu tau, aku tadi malam terpaksa hutang bakso ke mamang yang sekarang ada di ruang tamu itu di sebabkan karena kamu juga. Aku hampir mati kelaparan kalau aku tidak mengutang seperti tadi malam karena kamu pergi entah kemana tanpa meninggalkan sepiring makanan atau bahkan uang 1 rupiah pun. Bahan makanan juga tidak ada sama sekali. Kalau ada bahan makanan, aku masih bisa mengolahnya dengan asal-asalan tanpa harus mengutang seperti tadi malam. Jadi kamu seharusnya menyalahkan diri kamu sendiri yang tidak bertanggungjawab dengan istrimu sendiri. Kalau tau seperti ini harusnya kamu mensetujui untuk mengabaikan ucapan laknatku waktu itu, dimana kita tidak akan menikah seperti saat ini jika kamu---" Ucapan panjang lebar Maura itu terhenti kala, Erland dengan tiba-tiba menaruh uang ratusan ribu ke tangan Maura yang sedari tadi menengadah di samping tubuhnya.


Maura yang melihat uang tersebut pun, ia dengan cepat menggenggam uang itu dan menarik tangannya untuk menjauh dari tubuh Erland, takut laki-laki itu akan mengambil uang tersebut dari tangannya lagi. Dan dengan senyum yang mengembang, Maura mulai menghitung uang tersebut yang ternyata berjumlah 2 juta rupiah seperti yang dijanjikan oleh Erland.


"Nah, gini kek dari kemarin. Btw thanks," ucap Maura lalu setelahnya ia pergi meninggalkan Erland yang sedari tadi hanya diam saja. Sepertinya ia baru menyadari kesalahannya itu.


"Ini mang uangnya. 100 ribu seperti yang saya janjikan tadi. Jadi hutang diantara kita berdua sudah sah ya." Penjual bakso tadi mengambil uang itu dari tangan Maura lalu setelahnya ia berdiri dari duduknya.


"Nah gini dari tadi kan enak. Tidak perlu pakai otot. Terimakasih. Saya permisi dulu," ucap penjual bakso itu yang diangguki oleh Maura. Dimana anggukan itu membuat penjual bakso bergegas keluar dari dalam rumah tersebut tanpa berniat berpamitan kepada Erland karena ia sudah cukup takut dengan laki-laki itu.


Sedangkan Maura, ia kembali tersenyum ketika melihat uang-uang pemberian Erland tadi sebelum ia menyimpan uang-uang tersebut kedalam saku celana jeansnya yang dari kemarin ia kenakan.


Dan saat dirinya berniat untuk pergi ke kamarnya, suara Erland menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Sarapan." Singkat, padat dan jelas hanya satu kata namun masih bisa Maura dengar. Hingga perempuan itu kini memutar tubuhnya menghadap kearah Erland yang berdiri di belakangnya.


"Tunggu sebentar kamu bicara sama aku?" tanya Maura dengan menunjuk dirinya sendiri.


Pertanyaan dari Maura tadi tak dijawab oleh Erland, laki-laki itu malah pergi dan masuk kembali ke arah dapur.


Dimana hal itu membuat Maura mendengus kasar namun tak urung ia mengikuti langkah Erland tadi.


Mata Maura berbinar kala dirinya melihat satu menu favoritnya yang tersaji di satu piring yang ia yakini piring itu miliknya pasalnya diatas meja itu hanya ada dua piring, satu piring yang menganggur dan satu piring lagi milik Erland dimana laki-laki itu sudah melahap isi di piring tersebut.


"Wahhhhh ayam mentega. Ini buat aku, Er?" tanya Maura yang membuat Erland menatapnya sekilas sebelum laki-laki itu menganggukkan kepalanya sembari kembali fokus ke makanannya lagi.


Maura yang melihat anggukan itu, ia segera mendudukkan tubuhnya, berhadapan dengan Erland. Dan saat dirinya sudah memegang sendok serta garpu, tangannya terhenti kala ia ingin menyendokkan makanan tersebut ke mulutnya.


"Tunggu sebentar, makanan ini tidak kamu kasih racun kan?" tanya Maura was-was. Ya siapa yang tidak was-was jika laki-laki yang tadi malam hampir membuatnya mati kelaparan dan tadi sempat kasar kepadanya tiba-tiba baik, menyiapkan sarapan untuknya dengan menu kesukaannya.


"Jika kamu beranggapan seperti itu, jangan sentuh makanan itu. Dan buat sarapanmu sendiri. Biar makanan itu aku makan nanti sore," ucap Erland.


"Ehhh gak gitu juga dong. Aku kan tadi hanya tanya saja. Gitu aja udah mau ngambek. Baperan banget jadi lakik," ujar Maura lalu setelahnya ia mulai menyuapkan makanan tadi ke dalam mulutnya. Dimana saat lidahnya mulai mengecap rasa makanan itu, matanya kembali di buat berbinar dengan cita rasa masakan Erland yang perlu ia acungi jempol jika saja dia tidak gengsi melakukannya. Tapi berhubung ia gengis, ia memilih diam saja dengan menikmati makanan itu tanpa tau jika Erland tengah menatapnya.

__ADS_1


__ADS_2