PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 125


__ADS_3

Sudah satu minggu telah berlalu sejak Maura dan Erland melakukan hubungan suami-istri dimana saat itulah keduanya semakin dekat satu sama lain. Maura yang mendapat tuntunan dari sang suami mulai mengerti tentang agamanya yang sejak dulu sering ia tinggalkan. Bahkan saat ini Maura sudah selesai membaca iqro jilid satu, tentunya dengan pengawasan Erland yang saat ini tengah tersenyum kemudian mengusap kepala Maura yang masih tertutup mukena itu.


"Besok kita lanjut jilid dua. Kamu siap sayang?" tanya Erland. Keduanya sudah tidak segan-segan lagi untuk memanggil satu sama lain dengan panggilan sayang.


Maura tersenyum kemudian mengangguk penuh semangat.


"Tapi kalau boleh, kamu bantu aku buat selesaiin jilid dua nanti selama tiga hari. Bisa kan?" tanya Maura. Karena ia menghabiskan selama satu minggu ini hanya untuk belajar di jilid satu saja padahal ia sudah tak sabar untuk bisa membaca Al-Qur'an. Kitab yang dulu sangat anti ia sentuh.


Erland semakin mengembangkan senyumannya melihat ke antusiasan Maura. Hingga dengan gemas ia mencubit pelan pipi Maura.


"Baiklah. Aku akan membantumu untuk lancar membaca iqro jilid dua selama tiga hari." Maura yang mendengar penuturan dari Erland pun dengan refleks ia memeluk tubuh Erland sembari berucap, "Terimakasih."


Erland memberikan elusan di punggung Maura, "Sama-sama sayang."


Keduanya untuk sesaat masih dalam posisi saling berpelukan. Hingga Maura lebih dulu melepaskan pelukannya saat perempuan itu tak sengaja matanya melihat kearah jam dinding yang saat ini menunjukkan pukul setengah tujuh.

__ADS_1


"Astaga, sayang kamu telat," ujar Maura dengan heboh sembari tangannya memukul-mukul paha Erland.


Erland yang tak paham dengan maksud dari Maura, ia mengerutkan keningnya, "Telat apa si sayang?"


"Ck, kamu tidak ingat apa katamu tadi malam kalau kamu harus berangkat kerja pukul 7 pagi karena kamu harus mengantar bos kamu ke bandara? Dan lihatlah, sekarang sudah jam setengah tujuh. Ayo cepat kamu siap-siap. Aku akan menyiapkan sarapan untuk kamu," ujar Maura sembari berdiri dari posisi duduknya tadi. Bahkan tanpa melepaskan mukena yang masih ia pakai, perempuan itu dengan tergesa-gesa menuju ke dapur. Ya walaupun sebenarnya tadi Erland yang memasak untuk sarapan mereka, tapi Maura yang sudah sedikit mengerti tugas seorang istri, ia akan menaruh nasi berserta lauk pauknya ke piring Erland. Tak hanya itu saja Maura sekarang juga sudah bisa membuatkan teh hangat ataupun kopi untuk suaminya. Untuk urusan memasak, Maura masih berusaha untuk belajar bahkan tak segan-segan saat Erland pergi bekerja ia akan diam-diam belajar memasak, tentunya dengan melihat tutorialnya di YouTube agar tidak terjadi kekacauan lagi seperti waktu itu.


Erland yang melihat kepergian dari Maura, ia menggeleng-gelengkan kepalanya namun tetap saja senyumannya tak ia lunturkan dari bibirnya.


"Gemes. Jadi gak pengen kerja kalau gini jadinya. Tapi hari ini ada ketemu klien dari Cina lagi huh," gumam Erland. Beginilah rutinitas setiap hari Erland jika laki-laki itu ingin bekerja. Ia terus saja uring-uringan dengan dirinya sendiri. Disisi lain ia tak ingin meninggalkan istrinya dan ingin terus menempel kepada Maura, tapi di sisi lain ia tak bisa meninggalkan terus menerus urusan kantor karena bisa terjadi masalah besar jika ia mengabaikan kantor yang sudah di dirikan oleh sang Daddy. Dan tentunya jika ada masalah besar yang ditimbulkan oleh dirinya, maka ia harus siap di ceramahi habis-habisan oleh kedua orangtuanya, belum di suruh ganti rugi oleh sang Daddy dan kemungkinan lainnya ia bisa di coret dari silsilah keluarga Abhivandya yang jelas setelah hal itu terjadi, ia akan menjadi gelandangan. Kalau sendiri sih tidak masalah yang jadi masalahnya sekarang ia sudah memiliki Maura, ia tak ingin istrinya itu mengalami penderitaan selama hidupnya. Jadi dirinya memilih untuk bekerja saja walaupun dengan hati yang tak rela.


"Sayang! Sarapannya sudah siap!" teriak Maura dari arah dapur. Dimana hal itu membuat Erland yang tadi sempat melamun terkejut dibuatnya.


Ia berjalan mendekati Maura yang sudah duduk di kursi makan menunggu dirinya.


"Terimakasih," ujar Erland sembari duduk di kursi makannya dengan memberikan elusan di kepala Maura.

__ADS_1


Maura hanya menganggukkan kepalanya untuk membalas ucapan dari Erland tadi. Kemudian setelahnya kedua orang itu menikmati sarapan mereka dengan sesekali ia melirik kearah Maura yang tak bisa membuat dirinya mencegah bibirnya untuk tidak terangkat ke atas. Apalagi melihat penampilan Maura yang masih menggunakan mukena itu membuat hati Erland sangat damai. Hingga membuat Erland berandai-andai, jika Maura mau berhijab pasti ia akan senang bukan kepalang. Tapi Erland tidak akan memaksa istrinya itu untuk melakukan apapun seperti yang ia inginkan. Namun tetap saja Erland tengah berusaha agar Maura sedikit merubah penampilannya. Yang tadinya terus berpenampilan seksi setidaknya ia bisa membuat Maura berpenampilan sedikit tertutup. Itu sudah merupakan keajaiban jika Maura mau melakukannya apalagi jika wanitanya itu bergerak hatinya dan mau berhijab, sujud syukur Erland jika memang hal itu terjadi.


Hanya butuh waktu beberapa menit saja akhirnya mereka berdua telah selesai dengan aktivitas sarapan. Dan kini Maura tengah mengantar Erland sampai di depan pintu utama rumah tersebut.


"Hati-hati dijalan ya. Masih ada waktu 10 menit kok. Jadi jangan ngebut-ngebut oke," ujar Maura.


"Iya sayang iya. Aku akan hati-hati. Kamu juga hati-hati di rumah. Kalau kamu takut, masuk saja ke kamar, kunci pintu kamar dan kunci jendelanya juga. Kalau ada orang yang sangat mencurigakan atau ada sesuatu yang menurut kamu bisa membahayakan diri kamu, segera hubungi aku. Karena walaupun di perumahan ini penjagaannya ketat tapi tidak menutup kemungkinan ada seseorang yang memang nekat untuk berbuat jahat. Kamu paham sayang?" tanya Erland yang berhadapan langsung dengan tubuh sang istri.


Maura tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu aku berangkat dulu," ujar Erland yang langsung membuat Maura mengulurkan tangannya. Erland yang tau apa yang akan di lakukan oleh Maura, ia membalas uluran tangan tersebut. Maura mencium tangan sang suami dengan khidmat. Dan setelah Maura melepaskan tangan Erland, Erland mengecup setiap inci wajah Maura. Lalu setelahnya ia memeluk sebentar tubuh Maura, untuk bekal dirinya di kantor nanti agar tak terlalu merindukan wanita kesayangannya. Untuk beberapa saat keduanya dalam posisi berpelukan hingga Erland melonggarkan pelukannya, mendekatkan bibirnya tepat di sisi telinga Maura yang terhalang oleh kain mukena itu kemudian ia berucap, "Kamu cantik sekali hari ini sayang dan akan lebih cantik lagi kalau kamu menggunakan hijab seperti pagi ini. Aku bersyukur memiliki kamu. Love you."


Erland meninggalkan sebuah kecupan di pipi Maura sebelum ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Maura yang tampaknya istrinya itu tengah malu-malu dengan pujian yang sedikit menyelipkan sebuah kode tersebut.


"Aku pergi dulu, assalamualaikum," pamit Erland dengan mengusap lembut puncak kepala Maura. Lalu kemudian ia bergegas menuju ke arah mobilnya berada. Sedangkan Maura, ia yang tadinya menundukkan kepalanya, kini kepala itu ia tegakkan kembali.

__ADS_1


"Love you too. Waalaikumsalam hati-hati!" teriak Maura karena Erland sudah masuk kedalam mobil bahkan laki-laki itu sudah menyalakan mesin mobil tersebut.


Erland menganggukkan kepalanya dan sebelum melajukan mobilnya, Erland membunyikan klakson mobilnya sebagai tanda pamit yang dibalas dengan lambaian tangan oleh Maura.


__ADS_2