
Mama Rina dan Papa Jaya kini masih menunggu Orla yang sudah di pindahkan ke ruang ICU. Mana Rina pun juga sudah tidak menangis seperti tadi tapi ia saat ini hanya akan menghabiskan waktu untuk melamun. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika sang putri berniat bunuh diri gara-gara cintanya di tolak oleh seorang laki-laki. Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika Orla tak mau berusaha untuk melawan rasa sakit yang dirinya buat sendiri itu. Dan berakhir Orla meninggalkan dirinya selamanya.
Ketika Mama Rina tengah bergulat dengan pikirannya sendiri, Papa Jaya diam-diam juga tengah melamun hingga lamunannya itu tersadar dengan sendirinya. Ia menghela nafas panjang dengan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia masih terus menyalahkan keluarga Abhivandya karena penyebab putrinya masuk rumah sakit adalah mereka. Hingga tak sengaja matanya kini menangkap sosok laki-laki dengan jas dokternya tengah bercakap-cakap dengan tekan seprofesinya. Dimana saat ia melihat laki-laki itu, emosinya yang sempat mereda kini kembali berkobar. Dan dengan cepat tanpa berpamitan terlebih dahulu kepada sang istri, Papa Jaya melangkahkan kakinya dengan lebar mendekati laki-laki itu.
Dan saat ia sudah mengikis jarak dirinya dengan laki-laki tadi, Papa Jaya dengan gerakan cepat mencengkeram kerah baju laki-laki tersebut. Dimana hal tersebut tentunya membuat orang yang tiba-tiba mendapat serangan mendadak itu terkejut.
"Apa-apaan ini?" ucap orang yang di serang oleh Papa Jaya itu.
Sedangkan orang lain yang tadi tengah bercakap-cakap dengan laki-laki itu, kini tengah berusaha memisahkan Papa Jaya dari tubuh laki-laki tersebut yang tak lain adalah Adam. Entah kenapa Papa Jaya bisa tersulut emosi kala melihat keturunan Abhivandya itu. Walaupun memang tadi Adam tidak ada disaat kejadian memalukan tadi, tapi Papa Jaya menganggap jika semua keturunan ataupun orang yang memiliki marga Abhivandya adalah seorang dalang yang berhasil melukai anaknya dari mulai fisik maupun hatinya. Jadi ia harus memberikan pelajaran dan akan membenci semua orang yang memiliki marga Abhivandya di dunia ini.
Tapi sayangnya orang yang berniat memisahkan Papa Jaya dari Adam tampak kewalahan. Hingga satpam penjaga yang tadi sempat di panggil oleh suster di rumah sakit itu, kini datang dan segera memisahkan Papa Jaya dari Adam. Dimana saat satpam tadi sudah berhasil, ia langsung membawa tubuh Papa Jaya keluar dari rumah sakit tersebut.
Papa Jaya terus memberontak, ia belum melangkahkan sebuah pukulan ke wajah tampan salah satu putra Daddy Aiden. Tapi sayangnya semakin ia memberontak bukannya akan terbebas dari jeratan satpam berbadan kekar itu, ia justru semakin susah untuk menggerakkan tubuhnya. Tapi tak urung, ia berteriak, "Kalian semua! keturunan Abhivandya harus tanggungjawab dengan apa yang telah kalian lakukan ke Orla! Terutama Erland! Bajingan sialan itu harus mendapatkan apa yang sudah dialami Orla sekarang!"
Dimana teriakan dari Papa Jaya itu tentunya di dengar oleh semua orang yang ada di rumah sakit itu yang tadi juga ikut melihat aksi dari Papa Jaya yang tiba-tiba menyerang Adam. Tak sedikit dari orang yang mendengar teriakkan dari Papa Jaya tadi langsung penasaran dengan masalah yang tengah dihadapi oleh orang tadi dengan keluarga Abhivandya. Keluarga bernama yang tak pernah tertimpa berita miring sama sekali.
Sedangkan Adam, ia memijit pelan lehernya yang tadi sedikit tertekan oleh jari Papa Jaya. Tapi tak urung tatapan matanya matanya terus tertuju kearah pintu rumah sakit yang hanya terbuat dari kaca itu. Dimana disana ia melihat laki-laki yang menyerangnya tadi tengah berusaha masuk kembali kedalam namun dua satpam menghalangi niatnya tadi.
Bohong jika Adam saat ini tidak penasaran hal apa yang membuat laki-laki itu menggila seperti tadi dan sempat mengucapakan kata-kata penuh dendam itu. Apalagi saat mengucapkan nama Erland. Terlihat jelas jika laki-laki itu memiliki dendam pribadi dengan adiknya itu. Dan sepertinya Adam harus bertanya langsung kepada Erland, apakah dia memiliki masalah dengan laki-laki yang menyerangnya dan yang ia tau jika laki-laki itu merupakan ayah dari seseorang yang memiliki nama Orla. Ya ada harus bertanya dengan Erland sekarang juga.
"Ki, aku ke ruanganku dulu," pamit Adam yang ia tujukan kepada temannya yang bernama Rezki.
Laki-laki yang satu profesi dengannya itu kini menganggukkan kepalanya.
"Iya. Sebaiknya kamu memang harus di ruanganmu saja. Dan untuk masalah ini, aku akan handle agar tidak sampai ke telinga media. Karena aku sangat yakin jika semua ini terjadi karena sebuah kesalahpahaman saja. Dan sebaiknya kamu juga segara telepon keluarga kamu untuk berhati-hati takut jika laki-laki gila itu menyerang salah satu keluargamu seperti tadi. Apalagi keluargamu yang perempuan, yang tidak bisa melawan jika mendapat serangan mendadak seperti tadi," ucap Rezki yang sangat pengertian sekali dengan Adam.
Adam menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku akan menghubungi keluargaku. Aku pergi," ucap Adam yang diangguki oleh Rezki.
Kepergian dari Adam tadi membuat Rezki menuju ke teman rekan kerjanya untuk membantu dirinya agar memberitahu ke semua orang yang tadi mendengar ataupun melihat masalah yang terjadi beberapa menit yang lalu agar tetap diam dan menyimpan kejadian tadi untuk mereka sendiri. Dan untungnya rekan kerjanya itu mau membantunya sehingga meringankan tugas Rezki.
Disisi lain, Adam yang baru saja sampai di ruang kerjanya, ia langsung mengambil ponselnya. Dan langsung menghubungi Erland untuk menanyakan masalah tadi kepada adik laki-laki itu. Tapi sayangnya Erland tak kunjung mengangkat telepon darinya yang membuat Adam berdecak sebal. Dan saat dirinya mencoba menghubungi Erland kembali, hanya suara operator yang saat ini ia dengar. Dimana hal tersebut berhasil membuat Adam kesal setengah mati.
__ADS_1
"Sialan! Biasa-biasa dia matiin telepon. Awas saja ya kalau sampai kita bertemu. Aku tidak akan segan-segan untuk mengkebiri kamu! Huh," kesal Adam sebelum tangannya kini bergerak, menuju ke nomor sang Daddy.
Berbeda dengan Erland tadi, jika adiknya itu malah mematikan ponselnya, Daddy Aiden justru langsung mengangkat telepon darinya. Memang ya sang Daddy selalu fast respon jika dirinya menghubungi laki-laki paruh baya itu.
📞 : "Halo, assalamualaikum. Kenapa Dam? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan menantu dan cucu Daddy?"
Memang benar Daddy Aiden selalu merespon cepat panggilannya karena selalu saja yang laki-laki itu tanyakan pertama kali adalah istri serta cucunya. Tapi walaupun menyebalkan, namun Adam bersyukur karena tandanya kedua orangtuanya itu sayang dengan istri dan anaknya.
"Tidak Dad, menantu dan cucu Daddy baik-baik saja di rumah."
Terdengar helaan nafas lega sangat jelas dari sebarang sana. Tentunya helaan nafas itu dari Daddy Aiden.
📞 : "Syukurlah kalau memang begitu. Terus kamu telepon Daddy kenapa?"
Adam mendudukkan lalu menyandarkan tubuhnya disandaran kursi keduanya. Helaan nafas pun turut ia lakukan sebelum dirinya membalas ucapan dari sang Daddy.
"Jadi begini Dad. Adam sekarang masih di rumah sakit tapi tiba-tiba Adam di serang oleh seorang laki-laki yang tidak ada kenali. Tapi untungnya satpam disini langsung menyeret laki-laki itu untuk menjauh dari Adam. Tapi yang buat Adam bertanya-tanya saat dia di seret tadi, dia sempat mengucapakan jika kita semua yang memiliki marga Abhivandya harus bertanggungjawab atas perlakuan kita ke anak dia. Siapa ya tadi namanya---"
Sedangkan Daddy Aiden yang berada di sebrang, ia menunggu sampai Adam meneruskan ucapannya tadi. Hingga...
"Ahhhh aku tau. Anak dia bernama Orla. Ya, laki-laki itu bilang kalau kita semua harus bertanggungjawab kepada Orla terutama Erland. Kalau boleh tau sebenarnya apa yang sedang terjadi di keluarga kita sih Dad. Sepertinya permasalahan ini cukup rumit. Dan Adam malah tidak tau sama sekali masalah ini," ucap Adam yang membuat Daddy Aiden mengusap wajahnya.
📞 : "Sebenarnya masalah laki-laki yang menyerangmu itu hanya dengan Daddy, Mommy dan Erland saja. Pasalnya tadi ada sebuah kejadian yang kamu sendiri pasti tidak menyangkan."
"Kejadian apa Memangnya?" tanya Adam yang benar-benar penasaran.
Dimana pertanyaan tadi langsung membuat Daddy Aiden menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi secara detail. Tentunya Adam terkejut sekaligus tak percaya jika permasalahan utama itu berawal karena mereka menolak lamaran dari keluarga laki-laki yang menyerangnya tadi yang baru ia ketahui bernama Jaya itu.
"Pantas saja saat dia mengatakan nama Erland, kobaran amarah sangat jelas dia pancarkan lewat matanya," ucap Adam ketika Daddy Aiden telah selesai menceritakan kronologis kejadian tadi.
"Tapi Dad. Kenapa dia marahnya sama aku juga? Padahal aku tidak tau apa-apa lho ini. Dan kenapa kita harus bertanggungjawab? Kan sudah menjadi konsekuensi mereka jika lamaran mereka kalian tolak. Kecuali Erland sudah pernah tidur sama dia. Ehhh tunggu Erland gak ngelakuin itu kan Dad?"
📞 : "Daddy pastikan semua anak Daddy tidak ada yang melakukan hal seperti itu. Apalagi kamu tau kan Erland sudah sangat berubah yang awalnya berandalan menjadi taat akan agamanya setelah ia dulu patah hati. Jadi tidak mungkin dia mau melakukan itu di luar pernikahan," ucap Daddy Aiden yang tentunya ucapannya itu merupakan fakta.
__ADS_1
📞 : "Tapi tunggu dulu. Dia tadi bilang minta pertanggungjawaban kita?" tanya Daddy Aiden.
"Iya. Aku juga bingung pertanggungjawaban apa yang dia minta."
📞 : "Dia sekarang ada di rumah sakit?" tanya Daddy Aiden tanpa menimpa ucapan dari Adam tadi.
"Iya."
📞 : "Tunggu dulu Dam, tunggu dulu." Adam mengerutkan keningnya.
"Ada apa sih Dad?"
Daddy Aiden yang berada di sebarang telepon kembali menghela nafas panjang.
📞 : "Sepertinya Daddy tau pertanggungjawaban apa dia inginkan. Jadi kamu coba periksa kedaftar pasien yang masuk hari ini lebih tepatnya setelah jam 5 sore ini. Cari ada tidak nama Orla di daftar pasien itu."
Adam dengan cepat melakukan apa yang di perintahkan oleh Daddy Aiden tadi. Ia bahkan berlari menuju ke tempat pendaftaran. Dimana saat ia sudah sampai di tempat itu ia langsung bertanya kesalah satu suster yang bertugas disana.
"Apa hari ini ada pasien dengan nama Orla?" tanya Adam.
"Pasien dengan nama Orla ya Dok. Tunggu sebentar saya carikan dulu," ucap suster tersebut lalu dirinya mulai mencari kedalam komputer didepannya.
"Orla Syakila Fajaya? Benar itu namanya dok?" tanya suster tersebut untuk memastikan nama yang sedang dicari oleh pemilik rumah sakit itu benar sama atau tidak dengan nama yang baru saja ia ucapkan.
"Hmmm entahlah, saya tidak tau nama lengkapnya siapa. Yang saya tau namanya Orla dan dia masuk kerumah sakit setelah jam 5 sore," ucap Adam yang diangguki oleh suster tadi.
"Sepertinya orang yang dokter cari memang orang yang namanya saya sebutkan tadi karena hanya ada satu pasien dengan nama Orla dan dia baru saja masuk pada pukul 7 malam ini," tutur suster tersebut.
"Kalau begitu katakan dimana dia sekarang dirawat?!"
"Beliau tadi sempat masuk ke ruang UGD tapi saat ini sudah di pindah ke ruang ICU, menurut laporan yang saya terima dari Dokter Tristan tadi, pasien dengan nama Orla memiliki luka sayatan di pergelangan tangannya tepat di nadinya. Mungkin akan mencoba bunuh diri. Dan keadaan pasien saat ini tengah kritisi dan tengah mengalami koma." Tanpa diminta, suster itu menjalankan secara detail mengenai Orla tentunya hal itu membuat Adam tidak perlu lagi harus melayangkan pertanyaan lagi. Dan dengan menganggukkan kepalanya Adam berucap, "Terimakasih atas informasinya. Selamat bekerja."
Suster tersebut membalas ucapan dari Adam dengan senyuman di bibirnya. Sedangkan Adam, ia memilih segara pergi kembali ke ruang kerjanya, melanjutkan percakapannya dengan sang Daddy yang sempat tertunda tadi.
__ADS_1