PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 188


__ADS_3

"Jaga ucapanmu itu! Kamulah pelakor sesungguhnya. Jika tidak ada kamu, pasti putriku dengan Erland sudah menikah sekarang. Semuanya gagal hanya gara-gara kamu. Lebih baik kamu mati saja. Kamu hidup hanya menjadi benalu, perusak dan tidak tau mau! Mati saja lalu," ujar Mama Rina sembari berniat menyerang Maura dengan pisau di tangannya.


Namun sayang seribu sayang, Maura yang tadi melihat jika Mama Rina membawa pisau, dengan gerakan cepat ia menangkis tangan Mama Rina. Dan refleks Maura menendang perut Mama Rina hingga perempuan paruh baya itu tersungkur ke lantai.


Ke-refleksan tadi tentunya membuat Maura terkejut sendiri.


"Oh wow ternyata aku bisa bela diri juga," ucap Maura dengan senyum bahagia. Namun ia tak boleh terlalu bahagia, perempuan paruh baya tersebut masih sangat berbahaya darinya sehingga Maura kini menjongkokkan tubuhnya tepat di hadapan Mama Rina yang meringis kesakitan.


Maura menyaut pisau dari tangan Mama Rina sampai pisau itu beralih ke tangannya.


Dengan tampang sombong karena dirinya merasa sudah memang, ia mencengkram kuat rahang Mama Rian, sampai wajah Mama Rina mendongak ke atas dan tatapan mata mereka saling bertemu.


"Hanya satu kali saja kamu saya izinkan untuk menyerang saya. Untuk lain kali jangan harap kamu bisa menyerang ataupun berniat melukai saya. Karena jika sampai hal itu terjadi saya tidak bisa menjamin jika nyawa kamu akan tetap berada di raga anda. Perlu saya tekanan, jika kamu melukai saya maka yang akan kamu hadapi para singa dari keluarga Abhivandya. Pertama, Daddy Aiden yang memiliki segala kekuasaan, beliau bisa menghancurkan dirimu dan keluargamu. Aku pastikan jika Daddy Aiden tidak akan pernah membiarkan kamu dan keluargamu lolos begitu saja. Kedua, Erland. Kamu tidak hanya berhadapan dengan Daddy Aiden, tapi kamu juga akan berhadapan dengan Erland, suamiku. Dia mungkin tidak sehebat Daddy Aiden tapi aku yakin dia bisa menghilangkan nyawamu. Hanya dengan dua singa itu saja saya yakin kamu tidak akan bisa berkutik, apalagi sampai di tambah Papa saya, Papa Louis yang tidak akan segan-segan melakukan hal di luar pikiranmu. Jadi saya sarankan, kamu berpikir terlebih dahulu jika ingin menyerang dan melukai saya," ucap Maura panjang lebar. Dan setelah mengucapakan hal tersebut, Maura melepaskan cengkraman tangannya yang berada di rahang Mama Rian itu dengan kasar hingga membuat kepala Mama Rina hampir terbentur ke lantai.


Tapi Maura mana peduli. Jika perempuan paruh baya itu bisa nekat, maka Maura akan melakukan hal yang sama dan ia tak peduli jika orang itu lebih tua darinya atau lebih kecil darinya karena dimatanya semua musuh yang berniat menyakitinya itu sama saja.


Maura kini berdiri dari posisi berjongkoknya tadi. Namun sebelum ia pergi dari hadapan Mama Rina, ia melontarkan satu perkataan untuk Mama Rina.


"Sebelum saya pergi. Saya ingin memberitahu ke kamu dan sampaikan juga ke putrimu itu jika sampai kapanpun saya tidak akan pernah bercerai dengan Erland. Apalagi ada calon anak Erland di dalam sini yang sudah bisa di pastikan jika Erland nanti akan semakin lengket dengan saya dan hubungan rumah tangga kita akan semakin bahagia. See you bit*ch. Dan selamat berhalu ria," ucap Maura. Lalu setelahnya ia mulai melangkahkan kakinya. Namun baru juga beberapa langkah, ia kembali berhenti kala ia mengingat sesuatu yang membuat dirinya hampir tertawa terpingkal-pingkal jika saja ia tak ingat kalau ia harus menjaga sikapnya di depan musuh.


Sehingga Maura kini memutar tubuhnya kembali menghadap kearah Mama Rina yang baru saja berdiri dari posisi duduknya tadi, masih dengan meringis kesakitan karena tendangan dari Maura tadi benar-benar sangat kencang.


"Ahhh satu lagi, aku baru ingat jika kita pernah bertemu sebelumnya. Tidak, tidak saat kamu datang ke rumahku kemarin tapi beberapa hari yang lalu di butik milik Kak Vivian, salah satu Kakak Erland yang merupakan Kakak iparku. Dan aku juga baru ingat jika waktu itu ada sebuah kabar jika keluarga Jaya ingin melamar salah satu putra keluarga Abhivandya tapi sayangnya lamaran itu di tolak oleh laki-laki yang mereka lamar dan laki-laki itu adalah suami saya, Erland. Dan keluarga Jaya itu adalah keluarga kamu bukan?"


Mama Rian terdiam tapi tak urung ia mengepalkan kedua tangannya.


"Diam saya anggap iya. Jadi disini sudah saya pastikan jika kamulah yang merupakan pelakor bukan saya. Dan apa kamu tidak malu, sudah di tolak oleh Erland dan keluarganya, masih saja dengan beraninya mengaku jika putri kamu itu sudah bertunangan dengan Erland. Kalau saya jadi kamu, saya akan malu dan mungkin tidak akan keluar dari rumah, tidak berani menampakkan wajah saya di khalayak ramai saking malunya. Tapi jika itu terjadi dengan saya, entahlah kalau kamu dan putrimu itu, mungkin kalian tidak akan malu lagi karena wajah kalian sangat tebal," ujar Maura.


"Bohong! Kamu jangan asal bicara. Kita memang pernah di tolak oleh Erland dan keluarganya karena mereka tidak mau merendahkan keluarga saya yang melamar duluan. Dan setelah itu, mereka yang datang ke rumah saya untuk membalas lamaran yang kita lakukan waktu itu. Dan saat itulah pertunangan antara Erland dan putriku terjadi!" ucap Mama Rina masih kekeuh tak mau kalah dengan Maura.


Maura memutar bola matanya malas.


"Saya tidak pernah mengatakan omong kosong seperti yang kamu tuduhkan itu. Apa yang saya katakan benar adanya dan saya mendapatkan cerita itu langsung dari Erlandnya sendiri. Tapi jika kamu, putrimu atau keluargamu masih mau halu, menganggap Erland sebagai calon menantu kalian ya silahkan. Asalkan jangan terlalu halu ya karena kesihan kalau kalian sampai gila karena kehaluan kalian itu. Huh sudahlah, sepertinya perbincangan tidak bermanfaat ini sampai disini saja. Saya harap kita tidak akan pernah bertemu lagi. Karena saya sudah muak melihat wajahmu yang seperti ondel-ondel itu. Bye," ucap Maura dengan melambaikan tangannya. Kemudian setelahnya, tanpa melihat lagi kebelakang, Maura melangkahkan kakinya dengan anggun meninggalkan Mama Rina berada di depan ruang jenazah itu sendirian.


Mama Rina yang melihat Maura semakin menjauh darinya pun, ia kini mengepalkan tangannya sampai urat-urat di tangannya itu terlihat, "Sialan! Perempuan itu sudah kelewatan! Aku merasa harga diriku di injak-injak oleh dia! Sialan sialan sialan!" Erang Mama Rina.


"Kenapa semua yang aku rencanakan justru berbalik ke diriku sendiri. Harusnya yang terjatuh tadi perempuan itu bukan aku. Harusnya yang di bugkam itu dia bukan aku! Harusnya dia yang tertindas bukan malah aku! Arkhhhh sialan! Maura sialan!" Jerit Mama Rina dengan mengacak rambutnya frustasi kala rencana yang sudah ia susun tadi gagal total. Ia kalah telak dengan perempuan yang kemarin berhasil ia bikin menangis. Ia benar-benar kalah. Tapi kekalahan ini tidak akan membuat dirinya menyerah. Sudah pernah ia katakan bukan jika apapun akan ia lakukan untuk membuat putri kesayangannya itu bahagia.


"Ini semua belum berakhir Maura. Aku, Rina Wijaya tidak akan berhenti sampai disini hanya karena kamu hari ini berhasil mengalahkanku. Aku akan membalasmu suatu hari nanti, tunggu saja balasan dariku yang aku pastikan jika pembalasanku nanti akan lebih kejam dari apa yang kamu lakukan tadi," ucap Mama Rina dengan mantap dan yakin jika rencana ketiganya itu akan berhasil membuat Maura menyerah dan menceraikan Erland.


Dan dengan senyum miring karena sudah mendapatkan ide untuk rencana ketiganya, Mama Rina bergegas kembali ke kamar inap Orla.

__ADS_1


...****************...


Maura yang tadi stay cool di depan Mama Rina, sekarang ia justru mengerut tak hanya itu saja ia juga sempat menyumpah serapahi Mama Rina. Untuk pisau Mama Rina yang ia rebut tadi, sudah ia buang di tempat sampah yang ia lewati tadi.


Gerutuan Maura itu baru berhenti saat dia sudah berada di ruang tunggu pengambilan obat.


"Ck, antri lagi kan jadinya. Ah elah, menyebalkan!" kesal Maura kala dirinya sudah mengantri paling belakang.


Kedatangan Maura saat ini tak lepas dari tatapan seorang laki-laki yang sedari tadi mencarinya. Sampai-sampai ia meminta bantuan ke satpam yang menjaga rumah sakit itu.


"Astaga. Itu orangnya," ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Erland.


Kedua satpam yang mendengar ucapan dari Erland pun mereka mengalihkan pandangannya kearah perempuan cantik yang berada di barisan belakang.


"Itu orang yang bapak cari?" tanya salah satu satpam itu yang berhasil membuat Erland menatap kearah dua satpam tadi.


"Iya Pak, dia orangnya. Terimakasih ya pak sudah membantu saya mencari istri saya," ucap Erland.


Kedua satpam itu mengangguk, "Iya pak sama-sama. Dan berhubung istri bapak sudah ketemu kita pamit kedepan dulu."


"Baik Pak, silahkan. Sekali lagi terimakasih ya Pak." Lagi dan lagi kedua satpam itu menganggukkan kepalanya sebelum mereka melangkah kaki mereka meninggalkan Erland.


Erland yang sudah melihat dua satpam itu menjauh darinya, ia berlari kecil menuju kearah Maura.


Maura yang tak siap dengan serangan Erland secara mendadak itu, ia hampir saja terjatuh jika ia tak berusaha menyeimbangkan tubuhnya tadi.


Ia pun juga ingin marah dengan orang yang tiba-tiba memeluknya itu. Tapi saat ia mencium parfum yang sangat familiar di hidungnya ditambah mendengar suara orang tersebut, niatannya tadi ia urungkan karena tanpa ia melihat wajah dari orang tersebut ia sudah tau jika orang itu adalah suaminya sendiri.


"Kamu kemana saja sih? Aku dari tadi mencari kamu," ucap Erland tanpa melepaskan pelukannya.


Maura mendengus pelan, "Kepo banget sih kayak Dora."


Jawaban yang di lontarkan oleh Maura tadi membuat Erland langsung melepaskan pelukannya tadi.


"Kok jawabnya gitu sih? Aku tanya beneran lho ini. Dan aku tadi juga cariin kamu beneran gak bohong. Jadi jangan bercanda, jawab yang serius," ujar Erland, tak peduli lagi dengan orang-orang disekitarnya yang tengah menatapnya dan Maura.


Maura memutar bola matanya malas.


"Perlu kamu tau ya, bukan hanya kamu saja yang mencariku tapi aku juga mencarimu! Katanya ke kamu pergi ke kamar mandi? Kalau memang ke kamar mandi, kamar mandi mana? Karena di kamar mandi di dalam ruang kerja Dokter Leli tadi kamu tidak ada disana. Kamu mengatakan mau ke kamar mandi hanya alasan kamu saja kan? Ngaku kamu," ujar Maura.


"Gak, aku mengatakan mau ke kamar mandi bukan hanya karena alasanku saja tapi aku memang benar-benar ke tempat itu. Kamar mandi di ruang kerja Dokter Leli tadi krannya rusak. Jadi tidak mungkin aku menggunakannya. Dan dengan terpaksa aku pergi ke kamar mandi lain di rumah sakit ini. Aku tadi juga balik lagi ke ruang kerja Dokter Leli tapi kamu sudah tidak ada di sana. Kalau kamu tidak percaya, tanya saja ke Dokter Leli," ujar Erland.

__ADS_1


Maura yang tak ingin memperpanjang permasalahan ini pun ia hanya menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Baiklah-baiklah. Aku percaya."


"Kalau kamu percaya sama apa yang aku katakan tadi. Coba katakan kemana kamu pergi tadi?" Erland masih kepo kemana perginya istrinya itu tadi. Dan masalah ucapannya tadi, ia tak berbohong sama sekali, ia memang ke kamar mandi, bukan untuk membuang hajatnya tapi Erland justru menangis disana. Ia merasa belum becus menjadi suami untuk Maura bahkan ia merasa gagal mendidik istrinya itu sampai Maura melakukan hal yang sama sekali tak pernah terpikirkan oleh Erland.


"Kamu mau tau aku pergi kemana tadi?" Dengan semangat Erland menganggukkan kepalanya.


"Baiklah aku beritahu kamu, jika aku tadi pergi ke ruang jenazah," ucap Maura yang tentunya membuat Erland terkejut.


"Ke ruang jenazah? Untuk apa?" tanya Erland tak habis pikir kenapa istrinya itu sampai kesana. Apa yang tengah dicari istrinya itu coba sampai ia datang ke ruang jenazah itu.


"Main-main saja. Kebetulan tadi ada yang mengajakku kesana untuk bermain, ya sudah lah kebetulan aku sedang memiliki waktu yang renggang, aku mau saja bermain dengan dia," ujar Maura.


"Hah, bermain? Siapa yang mengajak kamu bermain? Tidak mungkin kan makhluk halus?" Maura menggelengkan kepalanya.


"Memang bukan makhluk halus melainkan titisan Lucifer." Jawab Maura tadi membuat orang-orang yang sempat mendengar percakapan antara sepasang suami-istri itu merinding seketika.


"Jangan bercanda sayang."


"Siapa yang bercanda sih. Aku mengatakan yang sebenarnya. Hanya saja titisan Lucifer itu berwujud orang yang mengaku jika dia calon mertua kamu dan hampir membunuhku tadi. Hah untung saja aku bisa mengelak, kalau tidak mungkin aku akan ikut bergabung dengan mayat-mayat yang ada di dalam ruang jenazah," ucap Maura.


Erland yang merasa jika ada sesuatu tidak beres dengan istrinya itu, ia menganggukkan kepalanya paham dengan maksud ucapan Maura tadi.


"Oke aku sekarang paham apa yang kamu katakan. Jadi kasih tau aku, siapa orang itu?"


Maura yang memang membutuhkan perlindungan karena tak mungkin ia menghadapai perempuan jahanam itu sendirian apalagi mengingat ada calon anaknya di dalam rahimnya mau tak mau ia menjawab, "Orang itu adalah orang yang sama seperti yang menemuiku kemarin. Orang dari keluarga Jaya. Dan mungkin dia nyonya dari keluarga itu."


Jawaban dari Maura tadi membuat darah di dalam tubuh Erland mendidih seketika. Ternyata keluarga itu tidak kapok juga berurusan dengan keturunan Abhivandya. Maka, jangan salahkan Erland jika ia akan bertindak lebih dari apa yang sebelumnya ia lakukan.


"Katakan dimana dia sekarang berada?" tanya Erland dengan nada suara yang berubah menjadi berat, menandakan jika laki-laki itu benar-benar marah sekarang.


Maura yang menyadari hal itu pun, ia segara mengelus lengan Erland. Tidak lucu juga kan kalau Erland yang notabenenya adik dari pemilik rumah sakit membuat keributan disana. Jadi Maura berusaha untuk menengadahkan suaminya itu.


"Tenang sayang tenang. Kamu jangan gegabah seperti ini. Kalau kamu gegabah yang ada kamu sendiri yang rugi. Kamu pasti akan di cap tidak beretika dan mencoreng nama baik kamu sendiri. Jadi kamu tahan emosi ini, dan lebih baik kamu sekarang menggantikanku untuk mengantri disini. Capek juga tau gak berdiri terus disini dari tadi. Dan kamu tidak kasihan apa sama calon baby kita kalau kamu tega membiarkan aku berdiri terus," ucap Maura dengan mengelus perutnya yang masih rata itu. Ia tadi memang sempat tak menginginkan kehadiran calon anaknya itu, tapi setelah ia mendengar ucapan dari Dokter Leli, ia menjadi sadar jika kehadiran janin tersebut merupakan anugerah dari sang maha pencipta yang tidak boleh ia sia-sia. Jadi Maura akan menyayangi calon bayinya itu dan akan mulai belajar cara menjadi ibu yang baik untuk bayinya itu.


Erland yang mendengar ucapan dari Maura, dengan cepat emosinya itu mereda, ia tersenyum kemudian tangannya bergerak, ikut mengelus perut Maura.


"Maaf sayang sudah membuat kamu berdiri terus. Kalau begitu, kamu duduk saja ya, biar aku yang mengantri di sini," ujar Erland yang diangguki oleh Maura.


"Nah gitu dong dari tadi. Ini resepnya, aku tunggu disitu," ucap Maura dengan menunjuk salah satu kursi tunggu yang berada di belakang orang-orang yang tengah mengantri itu.


Erland menganggukkan kepalanya, "Kalau ada apa-apa teriak. Aku pasti mendengarnya."

__ADS_1


Maura menganggukkan kepalanya sebelum dirinya melangkahkan kakinya menuju ke kursi yang tadi ia tunjuk tadi.


Sedangkan Erland, ia menatap kepergian Maura sampai istrinya itu sudah duduk tenang di kursi tunggu dan barulah, ia menatap kedepan, melihat antrian yang masih lumayan sangat panjang itu.


__ADS_2