
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Afif yang sudah berada di depan ruang meeting langsung mendobrak pintu di hadapannya. Tentunya suara keras yang berasal dari dobrakan itu membuat semua orang yang berada di dalam ruangan terperanjat kaget.Tak terkecuali dengan Erland yang saat ini menatap tajam kearah Afif. Sayangnya Afif tidak peduli dengan tatapan tajam dari bosnya, ia masih dalam berlari mendekati Erland. Dan tanpa mengucapakan sepatah katapun, ia langsung menyeret lengan Erland dengan kencang hingga tubuh bosnya itu berdiri dari posisi duduknya.
Saat Erland ingin protes, suaranya kalah dari suara Afif yang sudah lebih dulu terdengar.
"Untuk meeting hari ini selesai sampai disini dulu. Akan di sambung lain kali. Terimakasih," ujar Afif. Tanpa melihat wajah penuh tanya dari semua orang yang berada di ruangan itu, Afif bergegas menarik Erland menuju keluar ruangan. Meninggalkan orang-orang yang saat ini mulai berbisik, "Apa yang sebenarnya terjadi?"
Sedangkan Erland, ia menghentakkan tangannya sampai genggaman tangan Afif terlepas dari lengannya kala mereka telah keluar.
"Kamu apa-apaan Afif! Punya hak apa kamu menghentikan meeting yang tengah berjalan ini? Meeting kali ini sangat penting dan kamu tau itu! Tapi kenapa kamu tanpa sopan santun masuk tanpa permisi dan langsung memutuskan jika meeting kali ini di hentikan! Maksud kamu apa hah?!" Tentu saja Erland yang tidak tau alasan Afif melakukan semuanya ini, ia marah besar. Ia menganggap jika Afif sudah keterlaluan. Dia memang selalu mempercayakan perusahaan miliknya ini untuk di ambil alih Afif untuk sementara jika dirinya memiliki kesibukan lain. Tapi bukan karena hal itu, sekertarisnya tersebut bisa ngelujak seperti ini. Aksi Afif ini benar-benar memancing kemarahannya.
Sedangkan Afif, ia mengusap wajahnya dengan kasar sebelum ia berkata, "Oke baik lah saya minta maaf atas ketidak sopanan dan kelancangan saya tadi. Saya benar-benar tak memikirkan masalah sopan santun dan yang lainnya ketika saya panik saat ini. Dan bos, lebih baik anda segera ke rumah sakit sekarang juga!"
Erland mengerutkan keningnya.
"Ngapain saya ke rumah sakit? Saya tidak sedang sakit Afif. Oh atau jangan-jangan hal ini merupakan alasan kamu bertindak seperti tadi? Kalau ini alasan kamu, saya akan pe---"
__ADS_1
"Ck, jangan banyak bicara bos! Istri anda yang tengah di rumah sakit sekarang! Istri anda akan melahirkan?" ujar Afif yang tampak frustasi. Bisakah bosnya itu jangan berpikir yang tidak-tidak tentang dirinya dan segara melakukan apa yang dia suruh tanpa harus menuduhnya.
Erland mendengus mendengar ucapan dari Afif tadi.
"Kalau melahirkan ya sudah, melahirkan saja... Eh tunggu apa yang kamu bilang tadi?" Tolong siapapun, cegah Afif untuk tidak memukul kepala atasannya itu. Ia benar-benar di buat habis kesabarannya oleg Erland.
Dengan kepalan tangan Afif menjawab, "Istri kamu mau melahirkan bodoh! Segera ke rumah sakit sekarang! Kalau kamu masih cerewet. Saya tidak akan segan-segan untuk membungkam mulut kamu dengan kaos kaki saya!"
Sudah cukup geram Afif meladeni bosnya, persetanan dengan kesopan-santunan, ia tak peduli lagi. Siapa suruh bos-nya itu memancing dirinya untuk berkata kasar seperti tadi.
Sedangkan Erland, matanya terbuka sempurna.
Afif yang melihatnya ia menghela nafas kasar, sebelum ia mengikuti kepergian dari Erland tadi. Tapi tentu saja sebelumnya, ia mengirimkan pesan ke sekertaris Erland yang lainnya agar ia menghandle urusan perusahaan untuk sementara waktu.
Sesampainya Afif di parkiran mobil, ia melihat Erland yang tengah mengacak-acak rambutnya. Afif segara mendekati bosnya itu, ia menepuk pelan pundak Erland kemudian berkata, "Panik boleh tapi otaknya juga harus di pakai. Mobil tidak akan bisa jalan kalau tidak ada kunci kontaknya. Masuk, biar saya yang menyetir karena kalau kamu yang menyetir dalam keadaan kacau seperti ini, sudah di pastikan kamu sampai di rumah sakit bukan untuk menemani isteri kamu lahiran tapi menjadi salah satu pasien juga."
__ADS_1
Untung saja sebelum menemui Erland di ruang meeting tadi, ia sempat menyahut kunci mobil milik Erland. Jika tidak, ia sendiri yang akan kerepotan mondar-mandir dan tentunya akan memakan waktu mereka.
Tanpa menunggu persetujuan dari Erland, Afif masuk kedalam mobil tepat di kursi kemudi. Erland yang tak ingin membuang waktu pun akhirnya mau tak mau ia masuk dan duduk di kursi penumpang sebelah kemudi.
Afif melirik sekilas kearah Erland yang sudah memasang sabuk pengamannya, barulah saat itu Afif melajukan mobilnya. Tenang saja, Afif melajukan mobil milik bosnya itu tidak dengan laju lambat, ia melajukan dengan kecepatan tinggi yang mampu membuat Erland mendelik dengan tangan yang kini berpegang erat di pegangan mobil. Tak segan-segan Erland juga terus bergumam, "Ya Allah ya Tuhanku selamatkan aku. Lindungi aku dari mala petaka. Ya Allah aku masih ingin hidup, melihat dan menemani istriku melahirkan. Melihat perkembangan buah hatiku. Jadi hamba mohon ya Allah lindungilah aku!"
Mungkin jika Erland sendiri yang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi seperti ini ia tak masalah, karena tentu rasa takutnya pasti teralihkan dengan fokus dirinya di jalanan. Tapi ketika menjadi penumpang, ia merasakan ketakutan itu.
Mobil itu terus melaju hingga hanya butuh waktu 10 menit saja, mereka telah sampai di rumah sakit milik keluarga Abhivandya.
Sebelum Erland keluar dari dalam mobilnya, ia menghela nafas lega. Dan setelahnya ia keluar, lalu berlari menuju ke dalam rumah sakit. Tanpa bertanya terlebih dahulu, Erland sangat yakin jika istrinya itu saat ini berada di ruang bersalin yang di khususkan untuk keluarganya dan tentunya Erland langsung saja menuju ke tempat itu, diikuti oleh Afif yang sedari tadi berlari sepertinya.
Sesuai tebakan Erland tadi, Maura saat ini berada di ruangan bersalin khusus itu buktinya ia bisa melihat keluarga besarnya dan juga keluarga Maura berada di depan ruangan tersebut.
"Mommy, dimana Maura?" tanya Erland yang baru saja sampai di depan sang Mommy.
__ADS_1
Mommy Della menggusap lengan Erland lalu ia berkata, "Maura ada di dalam sama mertua kamu. Tadi kata dokter yang menangani Maura, pembukaannya masih di tahap ke 6. Jadi temani Maura, kasih semangat ke Maura. Mommy tidak bisa ikut masuk kedalam karena orang yang masuk di batasi."
Erland yang mendengar perkataan Mommy Della, ia menganggukkan kepalanya sebelum dirinya menuju ke pintu ruang bersalin yang tertutup itu. Bohong jika Erland tidak merasa gugup, ia sangat-sangat gugup sekali. Dan untuk menekan rasa gugupnya, ia menghela nafas panjang sebelum ia membuka pintu ruangan itu. Saat pintu itu ia buka, hatinya merasa sakit sekali seperti ada ribuan tombak yang menghujam hatinya saat ia melihat wajah Maura tengah meringis kesakitan. Erland tidak tega melihatnya sampai-sampai tanpa ia sadari, setetes air mata keluar dari pelupuk matanya.