PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 171


__ADS_3

Maura yang sadar betul tengah di tatap secara intens oleh sang Mama, ia menolehkan kepalanya kearah wanita paruh baya itu.


"Mama kenapa lihatin Maura kayak gitu? Maura risih sekaligus takut tau gak, berasa kayak di lihatin singa lapar yang tengah mengincar mangsanya," ujar Maura yang membuat Mama Dian memutar bola matanya malas.


"Jangan samakan Mama dengan singa. Mama gak sebringas itu." Maura hanya menganggukkan kepalanya saja untuk menimpali ucapan Mama Dian sebelum Mama Dian kembali angkat suara.


"Tapi kalau boleh jujur nih ya, Ra. Mama itu sebenarnya menaruh curiga sama kamu," ucap Mama Dian.

__ADS_1


"Hah? Mama curiga sama Maura? Apa yang membuat Mama curiga sama Maura? Perasaan Maura gak ngapa-ngapain deh," balas Maura.


"Iya, memang kamu tidak melakukan apa-apa yang sangat mencurigakan, tapi Mama tetap curiga karena apa yang kamu lakukan sekarang. Kamu tidak suka kacang dan ketupat, sedangkan kamu sekarang malah memakannya dengan lahap pula. Dan Mama curiga kalau kamu itu sekarang tengah ngidam. Kamu hamil Ra?" tanya Mama Dian penasaran.


"Ck, kenapa semua orang bilang kalau aku lagi hamil sih. Tadi Erland sekarang Mama dan jangan bilang nanti saat Maura bertemu sama Papa atau art di rumah ini mereka juga bilang hal yang sama. Padahal Maura sedang tidak hamil. Maura tadi juga sempat testpack dan hasilnya hanya ada garis satu aja yang artinya Maura memang sedang tidak hamil," ujar Maura.


"Baru juga tadi sore."

__ADS_1


"Astaga, kalau ngelakuin test itu harusnya pagi hari saat kamu baru bangun tidur karena lebih akurat hasilnya. Jadi Mama gak mau tau besok pagi kamu harus testpack lagi. Takutnya kandungan kamu memang masih kecil jadi tidak terbaca di testpack disaat kamu test sore hari. Dan bisa jadi juga testpack yang kamu pakai tadi rusak," ujar Mama Dian yang benar-benar harus membuktikan tentang kecurigaannya tadi.


"Gak mau ah. Nanti kalau hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Mama mau, Mama kecewa lagi kayak Erland tadi. Gak ya, Maura tetap tidak mau ngelakuin testpack lagi. Toh Maura juga beberapa minggu yang lalu masih menstruasi. Jadi Maura sangat yakin seyakin-yakinnya kalau Maura tidak hamil. Jadi hentikan kecurigaan Mama tentang Maura karena hasilnya akan mengecewakan Mama sendiri nantinya," ujar Maura. Dan dengan perasaan sebal yang tiba-tiba saja datang, Maura menyuapkan satu sendok penuh kupat tahu kedalam mulutnya.


Sedangkan Mama Dian, ia masih terdiam dengan pikirannya yang masih sangat mencurigai Maura.


"Masak iya sih Maura tidak hamil? Tapi yang dia lakukan ini seperti orang ngidam. Dan satu lagi, porsi makan dia juga nambah, yang biasanya kalau makan soto ya soto saja, itu pun biasanya dia gak habis. Tapi sekarang di tambah dua menu lainnya dan katanya masih ada menu lain lagi yang dia ingin makan. Seakan-akan dengan tambahnya porsi makan yang up-normal itu menandakan jika yang makan makanan ini dirinya sendiri saja melainkan ada calon manusia yang ada di dalam perutnya yang ikut makan. Memang sih fisik Maura belum terlihat jelas perubahannya, perutnya juga masih terlihat rata. Tapi--- gak, gak bisa. Aku gak bisa terus terjebak dalam pikiranku sendiri yang selalu menebak-nebak ini. Jadi aku harus tetap bergerak untuk bisa membuktikan jika kecurigaanku ini benar atau salah," batin Mama Dian yang terus berperang hingga ia memutuskan untuk tetap membuktikan semuanya.

__ADS_1


Mama Dian kini berdiri dari posisi duduknya. Dan tanpa mengucapakan sepatah kata pun kepada Maura, bahkan sepertinya ia juga lupa tujuan utama dia tadi datang ke kamar Maura untuk bertanya tentang masalah putrinya, Mama Dian justru kini bergegas keluar dari dalam kamar tersebut. Dan kepergiannya tak luput dari tatapan heran Maura, sebelum perempuan itu menggedikkan bahunya, tak ingin memikirkan kenapa Mamanya tiba-tiba pergi begitu saja. Ia memilih untuk meneruskan acara makanan dengan senyum-senyum senang karena apa yang ia mau terkabulkan.


__ADS_2