PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 208


__ADS_3

Maura memijit pangkal hidungnya. Sudah lebih dari 2 jam lamanya ia membujuk Erland untuk tidak merajuk lagi tapi sayangnya usaha apapun yang ia lakukan tidak mempengaruhi suaminya itu. Tangis Erland memang sudah reda, tapi tetap saja membuat Maura resah karena biasanya suaminya itu cerewet kepadanya tapi tiba-tiba mendiaminya.


"Sumpah demi apapun, aku gak tau lagi harus berbuat apa supaya kamu gak ngambek kayak gini. Aku sudah menjelaskan secara gamblang mengenai Radit. Aku menaruh rasa kepada dia saat aku duduk di bangku SMA, dan sekarang sama sekali aku tidak memiliki rasa kepada dia. Jadi ayolah sayang, jangan ngambek lagi. Pusing nih lama-lama akan jadinya cuma gara-gara mikirin cara untuk membujuk kamu," ujar Maura dengan menatap wajah Erland yang tengah menutup matanya. Maura sangat tau jika Erland tidak benar-benar tertidur makanya ia berkata demikian tadi.


"Ya udah jangan pikirin aku kalau gitu. Pikirin aja tuh laki-laki sialan tadi," ucap Erland dengan ketus.


Maura mengacak rambutnya hingga sekarang tampilannya sudah seperti gembel saja.


"Ya Allah, ya gusti mau gimana lagi aku jelasinnya biar kamu paham dan menyingkirkan pikiran-pikiran tidak masuk akal yang ada di otak kamu itu mengenai diriku. Sumpah aku capek Er dari tadi jelasin tapi kamu masih aja nuduh aku yang tidak-tidak. Sekarang terserah kamu, mau kamu masih percaya sama aku, Alhamdulillah kalau tidak terserah. Aku gak peduli lagi. Bujuk kamu yang lagi seperti ini hanya buat aku stress sendiri dan hanya berakhir sia-sia," ujar Maura yang sudah menyerah. Ia kali ini akan membiarkan Erland merajuk kepadanya sekaligus ia akan melihat sejauh mana suaminya itu bertahan dengan mode ngambeknya itu.


Setelah mengucapakan perkataannya tadi, Maura turun dari atas ranjang. Ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan kamar yang saat ini dirinya dan sang suami tempati. Ia akan tidur di kamar tamu saja untuk malam ini dan membiarkan Erland tidur sendirian di kamar mereka.


Erland yang sedari tadi menutup matanya itu kembali terbuka saat mendengar suara pintu yang tertutup. Erland menolehkan kepalanya kearah pintu kamar tersebut dengan kerutan di keningnya.


"Ck, baru juga bujuk 2 jam udah nyerah gitu aja dan gak mau usaha lagi. Huh dasar emang udah gak sayang sama aku," ujar Erland dengan mengerucutkan bibirnya.


"Ini semua gara-gara Radit sialan itu. Kenapa dia harus muncul di depan Maura sih? Kalau dia tadi tidak muncul pasti kita tidak bertengkar seperti ini. Ck, dasar Radit perusak rumah tangga orang!" erang Erland dengan menyalurkan kekesalannya dengan memukul-mukul guling yang sedari tadi ia peluk, tak hanya itu saja melainkan ia sempat menggigit guling tersebut, menganggap jika guling itu adalah Radit, laki-laki yang sudah membuat dirinya terbakar api cemburu.


Erland baru menghentikan pukulannya di guling tersebut setelah ia rasa emosinya sedikit surut. Dan dengan nafas yang naik turun Erland berkata, "Kamu malam ini berniat tidur sendiri kan, Maura? Oke aku jabanin! Memangnya kamu kira dengan kamu yang berlagak pisah ranjang denganku, aku bisa luluh dan menghampiri kamu lagi lalu ngemis-ngemis dihadapan kamu meminta kita tidur satu ranjang lagi? Heh, tidak semudah itu. Aku tidak akan melakukannya. Toh aku yakin, kamu yang justru akan menghampiriku dan meminta maaf kepadaku karena tadi sudah berdekatan dengan Radit, lalu menyerah untuk membujukku yang tengah marah dan meminta maaf karena kamu memutuskan untuk meninggalkan diriku sendiri disini. Kita lihat saja, sebentar lagi aku yakin kamu akan kesini!"


Erland sangat percaya diri jika istrinya itu akan kembali menemui dirinya dan kembali membujuknya, namun sayangnya sampai 1 jam tepat di pukul 12 malam, Maura sama sekali tidak datang lagi ke kamar tersebut.


Erland yang sedari tadi menunggu kedatangan Maura dengan sesekali menatap kearah pintu yang masih setia tertutup rapat kini ia berdecak sembari mendudukkan tubuhnya.

__ADS_1


"Ck, kenapa dia tidak kembali sih?" erang Erland.


"Masak iya dia sekarang yang giliran ngambek sama aku?!"


"Tidak. Tidak, dia tidak akan pernah bisa ngambek sama aku. Mungkin saja dia sekarang tengah makan makanan yang dia beli tadi saat di pasar malam di dapur. Nah karena makanan yang dia beli tadi sangat banyak makanya dia tidak kembali-kembali kesini. Ya, pasti dia saat ini tengah sibuk dengan makanannya. Jadi biarkan saja aku tunggu lagi disini karena aku tidak mau pergi menemuinya terlebih dahulu, biar dia saja yang menemuiku," sambung Erland. Padahal orang yang ia anggap tengah menyantap makanan, sekarang dirinya sudah berselancar didalam alam mimpi. Tidak lagi memikirkan suaminya yang masih marah kepadanya karena ia benar-benar cukup lelah dan frustrasi. Jadi sebelum ia menjadi gila dan berakhir akan mempengaruhi janin yang ada di dalam kandungannya saat ini, ia memilih untuk mengistirahatkan pikiran serta tubuhnya.


Kembali lagi dengan Erland yang terus setia menunggu kehadiran Maura. Tapi satu jam sudah berlalu, Maura belum juga menampakkan batang hidungnya yang membuat Erland mengerutkan bibirnya sebelum ia turun dari atas ranjangnya lalu keluar dari dalam kamar tersebut. Tentunya untuk mencari keberadaan sang istri tercinta. Dan dari sini sudah dipastikan Erland lah yang kalah, ia tak bisa terlalu lama jauh dari istrinya. Terlebih ia tidak akan bisa tidur jika tidak memeluk tubuh Maura, apalagi ia belum mendapatkan night kiss dari wanitanya itu yang akan semakin membuat dirinya gelisah dan tak tenang, Maura sudah menjadi candu untuknya yang tak bisa ia lewatkan begitu saja.


Erland terus mencari ke seluruh penjuru rumah mertuanya itu namun ia tak menemukan keberadaan Maura yang membuat dirinya khawatir seketika.


"Kamu kemana sih sayang? Kalau kamu benar-benar menyerah untuk membujukku, oke tidak apa-apa tapi jangan menghilang begini dong, aku kan jadi khawatir. Ck, kamu kemana sih?" gumam Erland dengan mengedarkan pandangannya. Namun hasilnya masih sama, nihil. ia tak menemukan Maura.


Erland kembali mencari keberadaan istrinya itu dan tujuannya saat ini menuju ke taman belakang rumah tersebut. Namun saat dirinya ingin menyentuh kenop pintu, matanya tak sengaja menangkap seseorang yang tengah menengguk air putih di dapur pembantu.


Erland menajamkan penglihatannya, takut-takut yang ia lihat saat ini bukanlah manusia. Tapi setelah ia melihat kearah bawah, tepat di kaki orang tersebut ia bisa menghela nafas lega karena kaki orang itu tidak melayang yang artinya, orang yang ia lihat bukanlah hantu sehingga Erland dengan langkah lebar ia mendekati orang tersebut.


"Astaga tuan Erland ngagetin saja. Saya juga hantu tadi," ucap orang tersebut yang merupakan kepala maid di rumah itu.


Erland hanya nyengir dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Maaf bik jika saya tadi sempat membuat bibik takut," ujar Erland tak enak hati.


"Tidak apa-apa tuan. Oh iya, tuan malam-malam begini kenapa disini? Tuan butuh sesuatu kah? Atau tuan tengah lapar? Kalau begitu biar saya masakan dulu," ucap wanita paruh baya tersebut. Dan saat dirinya ingin pergi, lengannya lebih dulu di cekal oleh Erland sehingga ia mengurungkan niatnya untuk pergi dari hadapan anak menantu majikannya itu.

__ADS_1


"Tidak perlu bik, saya tidak lapar. Hanya saja saya saat ini tengah mencari Maura. Apa bibik tadi sempat melihat Maura?" tanya Erland.


"Non Maura ya?" Erland menganggukkan kepalanya.


"Sebenarnya saya tidak tau dimana Non Maura sekarang ada dimana. Tapi dua jam yang lalu Non Maura datang ke kamar saya buat minta kunci kamar tamu. Mungkin Non Maura sekarang ada disana tuan," ujar wanita paruh baya tersebut. Ia memang tidak tau posisi Maura sekarang ada dimana karena setelah nonanya itu tadi meminta kunci dan ia memberikannya, Maura langsung pergi begitu saja. Ia yang tak ingin kepo dengan urusan sang majikan pun memilih untuk tidak bertanya untuk apa Maura meminta kunci kamar tersebut dan ia tadi juga langsung kembali ke kamarnya.


"Kamar tamu ya bik?"


"Iya tuan. Coba tuan cek saja. Siapa tau nona Maura memang ada disana," ujar wanita paruh baya tersebut yang diangguki oleh Erland.


"Baik bik. Saya akan cek kamar tamu. Terimakasih ya bik atas informasi. Saya pergi dulu, selama malam," tutur Erland dengan sopan.


"Selamat malam juga tuan," balas kepala maid itu yang diangguki oleh Erland. Lalu setelahnya Erland bergegas menuju ke kamar tamu yang kebetulan berada di lantai satu rumah tersebut.


Erland kini mengusap wajah secara kasar saat ia sudah berada di depan kamar tamu. Namun ia sekarang bingung kamar mana yang saat ini tengah di tempati oleh Maura dari ketiga kamar tamu di hadapannya saat ini.


"Sumpah demi apapun, nih otak kalau lagi gak tenang seperti ini jadi bodoh banget. Kenapa tadi tidak tanya Maura berada di kamar tamu sebelah mana? Ck, sialan memang. Kalau kayak gini aku harus lihat satu persatu dari tiga kamar ini. Ck, buang-buang waktu!" geram Erland. Tapi setelahnya ia mulai bergerak, mencoba membuka pintu kamar yang ada di hadapannya. Untuk yang pertama, pintu itu terkunci artinya Maura tidak ada di dalam sana karena istrinya itu saat berada di dalam kamar, tidak pernah mengunci pintu dengan alasan takut saat ada gempa ia kesusahan membuka pintu seperti pengalamannya dulu saat mereka tinggal di rumah sederhana mereka.


Erland kini berpindah ke pintu kamar kedua, dimana saat ia memutar kenop pintu tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu, pintu itu terbuka. Erland menghela nafas lega, setidaknya ia tak membuang waktunya lebih lama lagi.


Erland mengintip sekilas kearah ranjang yang terdapat Maura disana namun posisi berbaring istrinya itu membelakangi dirinya sehingga Erland tidak tau apakah Maura sudah tidur atau belum.


Dengan menampilkan wajah yang tertekuk Erland masuk kedalam kamar tersebut, berjalan dengan kaki yang sengaja ia hentak-hentakkan. Ia merangkak naik keatas ranjang di sebelah Maura, lalu setelahnya ia melihat wajah Maura dari belakang.

__ADS_1


Dan dengan bibir yang semakin maju ke depan Erland berucap, "Kok udah tidur sih. Ah elah! Aku belum dapat night kiss!"


Erland mengacak rambutnya, kini giliran dirinya yang frustasi karena ia yakin malam ini dirinya tidak akan bisa tidur gara-gara Maura yang belum menciumnya. Jika saja istrinya itu tadi sebelum meninggalkan dirinya di dalam kamar mereka, ia menyempatkan untuk memberikan kecupan selama malam, Erland tidak akan sefrustasi ini dan mungkin ia sudah tertidur nyenyak seperti Maura saat ini. Tapi sayangnya, istrinya itu tak melakukannya tadi yang berakhir membuat dirinya uring-uringan sendiri.


__ADS_2