PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 58


__ADS_3

Pagi-pagi sekali tepatnya saat waktu akan memasuki jam sholat subuh, Erland yang sudah mandi dan berganti pakaian pun ia bergegas keluar dari kamarnya, menuju ke kamar sang istri.


Sesuai dengan harapannya dan Maura yang ingin mencoba untuk memperbaiki dirinya, Erland dengan sebisa mungkin akan membantu Maura dalam perubahan di diri istrinya itu.


Erland yang sudah berdiri didepan pintu kamar Maura, tangannya bergerak untuk mengetuk pintu tersebut sembari ia memanggil Maura, "Maura, bangun! Sudah waktunya sholat subuh!"


Panggilan serta ketukkan yang Erland lakukan tak membuahkan hasil sama sekali. Maura pun tampak tak terusik dengan kebisingan yang Erland lakukan.


Erland yang tak pantang menyerah pun akhirnya ia memilih untuk masuk kedalam kamar tersebut mengingat tadi malam saat dirinya mengantar Maura kedalam kamar itu, ia hanya menutup pintu tersebut begitu saja tanpa menyuruh Maura untuk menguncinya dan perempuan itu pun juga tidak memiliki inisiatif sendiri untuk mengunci pintu tersebut, buktinya pintu itu dengan gampangnya Erland buka.


Erland meraba saklar yang ada didalam kamar tersebut untuk menyalakan lampu disana. Dimana saat lampu itu ia nyalakan, ia menghela nafas panjang saat melihat tubuh Maura masih terlelap.


Erland kini berjalan mendekati Maura. Dan dengan sedikit membungkukkan badannya, ia menepuk pelan lengan Maura.


"Maura bangun dulu. Siap-siap untuk sholat subuh," ucap Erland. Namun Maura masih saja tak memberikan respon apapun kepadanya.


Tepukan kecil yang ia berikan di lengan Maura tadi kini berubah menjadi guncangan. Ia mengguncangkan lengan tersebut dengan cukup kencang hingga akhirnya Maura membuka matanya. Tapi Erland di buat terkejut saat Maura justru langsung duduk dari posisi terbaringnya tadi dengan ekspresi wajah yang cukup lucu, seperti orang linglung.


"Astaga. Apa tadi gempa?" tanya Maura yang sepertinya ia belum menyadari jika guncangan yang ia rasakan tadi bukan berasal dari gempa tapi dari sang suami.

__ADS_1


"Iya tadi gempa." Suara seseorang yang menimpali ucapannya tadi membuat Maura kini menolehkan kepalanya kearah sumber suara.


"Lho Erland. Kok kamu ada disini? Katanya tadi ada gempa ya? Kok kamu gak keluar dari rumah ini buat menyelamatkan diri kamu dan malah berdiri disini?" ucap Maura.


"Gempanya hanya gempa lokal saja dan tidak berefek apapun kepadaku. Sudahlah jangan bahas gempa lagi. Lebih baik kamu segera membersihkan tubuh kamu itu sebelum adzan berkumandang," ujar Erland.


"Jangan lupa juga nanti setelah adzan segera tunaikan ibadah sholat subuh," sambung Erland lalu setelahnya dia bergegas untuk keluar dari kamar Maura yang masih ketar-ketir jika ada gempa susulan nantinya.


"Apa aku harus mandi sekarang? Tapi kalau aku mandi gimana kalau tiba-tiba ada gempa susulan dan aku terjebak di dalam kamar mandi sendiri dan berakhir hidupku akan berakhir begitu saja. Ya Tuhan, aku tidak mau mati sia-sia dan menjadi korban gempa. Atau aku numpang mandi di kamar Erland saja ya. Kalau ada gempa susulan setidaknya Erland pasti akan ingat kalau aku ada di dalam kamar mandi dan pasti dia akan menolongku. Kalaupun dia lupa aku akan teriak dan akan membuat dia ingat kembali. Ya, aku harus numpang mandi disana saja," ujar Maura dengan tekatnya itu.


Setelah ia memutuskan jika dirinya ingin menumpang mandi di kamar Erland, ia mengambil pakaian gantinya dan bergegas pergi ke kamar suaminya itu.


Dengan takut-takut Maura mengetuk pintu kamar tersebut. Dan tak lama setelahnya pintu itu terbuka lebar, menampilkan Erland yang tadinya hanya memakai pakaian santainya kini sudah berganti dengan baju koko berwarna putih, sarung hitam dan peci di kepalanya. Jika Maura boleh jujur, tingkat kegantengan Erland meningkat saat laki-laki itu berpenampilan alim seperti ini. Arkhhhh dan itu benar-benar membuat Maura hampir gila jika harus terus-terusan memandangi wajah Erland. Sampai ia kini memutus pandangannya dari Erland lalu menatap kearah lantai di bawah sana, sekaligus untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya.


Perlu di ketahui saja Maura selain gila dengan laki-laki beruang, ia juga menggilai laki-laki tampan.


Sedangkan Erland yang sedari tadi menatap Maura yang tak kunjung mengucapkan tujuan istrinya itu mengetuk pintu kamarnya pun, ia memilih untuk angkat suara terlebih dahulu.


"Ada apa?" tanya Erland yang berhasil membuat Maura tersadar dari lamunannya itu.

__ADS_1


"Hah, apa?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Erland tadi, Maura justru bertanya balik dengan kepala yang ia sedikit tengadahkan, maklum Maura hanya memiliki tinggi 160 saja sedangkan Erland, laki-laki itu memiliki tinggi 184.


"Ada apa kamu kesini?" tanya ulang Erland. Untungnya dia sabar menghadapi Maura, jika tidak ia pasti akan menendang perempuan itu dari hadapannya jauh-jauh hari.


"Ahhh anu itu hmmmm aku mau numpang mandi," ucap Maura dengan suara lirih tak lupa kepalanya kembali ia tundukkan.


Erland yang mendengar ucapan dari Maura, ia mengerutkan keningnya.


"Apa ada masalah dengan kamar mandi kamu?" tanya Erland heran.


"Tidak, tidak ada. Kamar mandiku tidak ada yang rusak hanya saja aku takut kalau ada gempa susulan dan aku terjebak didalam kamar mandi itu sendirian tanpa ada yang menolongku." Erland tampak melongo dibuatnya. Apakah efek yang ia berikan tadi sampai sebegitu parahnya kepada Maura yang ternyata ketakutan akan ulahnya tadi?


"Er, bolehkan aku mandi disini?" ucap Maura yang tadi tak mendengar persetujuan ataupun penolakan dari sang suami.


Erland yang kembali sadar, ia tampak menghela nafas tapi tak urung ia kini membuka pintu kamarnya dengan lebar agar Maura bisa melewati pintu tersebut dan segera masuk kedalam kamarnya.


"Masuk lah," ucap Erland.


Maura yang mendengar ucapan dari Erland tadi, ia tersenyum sangat lebar. Dan dengan anggukkan di kepalanya, ia berjalan masuk kedalam kamar Erland dimana saat itu juga ia bisa mencium bau harum yang sangat membuat dirinya betah berlama-lama di dalam kamar tersebut. Karena bau itu sangat-sangat menenangkan.

__ADS_1


"Katanya mau mandi tapi kenapa masih berdiri disini?" tanya Erland yang berhasil membuat mata Maura yang tadi sempat terpejam karena menikmati udara yang ia hirup itu kini terbuka kembali dan dengan menampilkan cengiran di bibirnya, Maura bergegas menuju ke kamar mandi didalam kamar tersebut, meninggalkan Erland yang sedari tadi melihatnya kini menggelengkan kepalanya.


"Ada-ada saja," gumam Erland lalu setelahnya ia menutup kembali pintu kamarnya itu. Toh tak masalah bukan jika dirinya berduaan dengan Maura didalam kamar begini dalam posisi pintu tertutup karena mereka sudah sah jadi tidak perlu takut lagi jika akan menimbulkan dosa nantinya.


__ADS_2