PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 215


__ADS_3

Maura dan Erland kini tengah duduk di kamar yang nantinya akan mereka tempati. Dan dengan Erland yang mengelus kepala Maura yang tengah bersandar di bahunya, laki-laki itu bertanya, "Bagaimana? Apa kamu suka dengan semua ruangan yang ada di rumah ini?"


Maura tersenyum menatap wajah Erland dari samping kemudian ia menganggukkan kepalanya.


"Kamu yakin?" Lagi-lagi Maura menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan yang Erland layangkan kepadanya.


"Kamu tidak ingin merubah interior, desain atau tata letak di ruangan yang menurut kamu tidak bagus?" Maura menggelengkan kepalanya sembari ia menegakkan tubuhnya, memutar tubuhnya itu agar berhadapan langsung dengan sang suami. Tangan Maura kini menggenggam erat kedua tangan Erland.


"Dengar ya sayang. Aku sudah sangat puas dengan interior, desain ataupun tata letak dari seluruh ruangan yang ada di ruang ini. Semuanya sesuai dengan yang aku mau. Jadi kamu tidak perlu merenovasi rumah ini lagi," tutur Maura tentunya tak berbohong sedikitpun. Niatnya tadi ia ingin bungkam saat ia tak menyukai salah satu ruangan yang ada di rumah barunya itu. Tapi ternyata semua sesuai dengan seleranya yang semakin membuat hati Maura membuncah kesenangan.


"Syukurlah kalau memang begitu, sayang," balas Erland. Maura menganggukkan kepalanya kemudian ia menyadarkan kembali kepalanya di bahu sang suami dengan tatapan matanya lurus kedepan, melihat pemandangan yang sangat menyejukkan mata.


Untuk sesaat keduanya terdiam, sampai suara Maura memecahkan keheningan di dalam ruangan tersebut.


"Sayang, kalau aku boleh tau, siapa yang sudah mendesain rumah ini?" tanya Maura penasaran.


Erland menatap kearah istrinya itu dengan senyum mengembang.


"Tanpa aku jawab sepertinya kamu sudah tahu jawabannya," ujar Erland.


"Aku tau jawabannya?" Erland mengangguk-anggukkan kepalanya.


Maura mengerutkan keningnya, ia menebak-nebak sendiri nama seseorang yang sudah membuat rumah ini sangat cantik. Hingga satu nama terlintas di pikirannya yang membuat dirinya langsung menegakkan tubuhnya dan sepenuhnya menghadap kearah suaminya.


"Jangan bilang orang yang sudah mendesain rumah ini adalah kamu." Erland tersenyum lalu mengangguk.


Maura membelalakkan matanya, "Serius? Kamu yang sudah mendesain rumah ini?"


"Iya sayang. Rumah ini aku sendiri yang mendesainnya. Aku pikir kamu tidak akan suka dengan desainku karena aku tidak tau selera kamu bagaimana. Tapi ternyata kamu suka. Tunggu dulu, kamu benar-benar suka kan sayang? Kamu gak bohong kan?" Muara menghela nafas panjang.


"Kan aku tadi sudah bilang kalau aku sangat suka dengan apapun yang ada di rumah ini. Aku tidak bohong akan hal itu. Dan kamu tau sayang, desain kamu ini benar-benar sama persis seperti yang aku mau. Ini benar-benar seleraku banget," ucap Maura yang tak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagianya sampai senyum lebar pun terlihat menghiasi wajahnya.


"Benarkan? Desain yang aku buat ini sama seperti selera kamu?" Maura menganggukkan antusias.


Erland menghela nafas lega dengan mengelus dadanya.


"Huh, syukurlah," ucap Erland.


"Tapi sayang aku penasaran, sejak kamu kamu cosplay jadi seorang arsitek? Bukannya kamu kuliah dulu mengambil jurusan management?" tanya Maura yang sudah mengetahui lebih dalam lagi tentang suaminya itu.


"Bakat terpendam sayang. Aku sekolah memang di jurusan manajement, tapi aku sangat suka dunia arsitek. Jadi secara individu aku belajar mengenai arsitek dan berakhirlah aku memiliki sedikit keahlian ini. Ya walaupun jika dibandingkan dengan arsitek asli, aku tidak ada apa-apanya dari mereka," ujar Erland.


"Kata siapa yang tidak sebanding dengan mereka? Kamu tidak kalah keren sama mereka lho sayang. Buktinya kamu bisa menciptakan karya yang sangat-sangat cantik ini. Aku saja sampai terkagum-kagum lho. Tapi ngomong-ngomong, sejak kapan kamu membangun rumah ini. Karena aku yakin kamu membangun rumah ini tidak mungkin setelah kamu menikah denganku," ujar Maura.


"Aku memang membangun rumah ini jauh sebelum aku kenal sama kamu. Mungkin sekitar 3 tahun yang lalu. Dan rumah ini baru jadi tahun kemarin, tepat satu tahun sebelum kita bertemu. Tapi walaupun begitu, aku belum pernah menempati rumah ini dan selama rumah ini jadi, hanya di isi para maid dan orang keamanan saja untuk menjaga dan merawat rumah ini. Karena aku masih harus tinggal di rumah Mommy sama Daddy. Jadi bisa di katakan kalau rumah ini aku siapkan untuk istriku yang syukur, Alhamdulillahnya istriku adalah kamu yang memiliki selera sama denganku," jelas Erland tak lupa senyumannya tak pernah luntur dari bibirnya.

__ADS_1


"Berarti aku sangat beruntung ya dapatin kamu. Udah tampan, pintar dalam bidang pendidikan ataupun agama, mana mapan pula. Tapi anehnya kenapa kamu dulu merahasiakan identitas asli kamu coba padahal kalau kamu tidak menyembunyikannya, banyak tuh cewek yang udah ngantri," ujar Maura tak habis pikir dengan suaminya.


Erland yang gemas dengan Maura kini mencubit pelan hidung istrinya itu.


"Karena aku tidak mau mendapatkan istri yang hanya cinta hartaku saja," ujar Erland. Entah untuk yang keberapa Maura sudah bertanya mengenai alasan dirinya menyembunyikan identitas aslinya. Yang pasti Erland tidak akan pernah bosan menjelaskan kepada Maura walaupun sampai ribuan kali istrinya itu bertanya dengan pertanyaan yang sama.


Maura menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan dari Erland tadi.


"Sayang, aku boleh jujur tidak?" Erland memincingkan alisnya.


"Jujur tentang?"


"Tentang diriku sendiri. Sebenarnya aku juga sama seperti perempuan lain di luar sana yang memandang laki-laki dari dompetnya. Karena pikiranku dulu kalau aku tidak memandang laki-laki dengan ketebalan dompetnya, aku tidak akan bisa hidup ketika kita menikah. Tapi kamu jangan salah paham dulu. Karena itu aku yang dulu sebelum kenal sama kamu. Dan setelah aku kenal sama kamu bahkan pernah mengalami perjalanan hidup dalam keuangan yang pas-pasan, aku belajar banyak dengan pengalamanku itu yang tentunya aku dapatkan dari kamu. Aku bersyukur karena mulai saat itu aku tidak lagi menghabiskan uang hanya untuk hal-hal yang tidak penting, tidak lagi pergi clubing, tidak lagi mengkonsumsi minuman haram itu, dan aku sangat bersyukur karena kamu memilih aku ingin kamu jadikan istri, aku lebih dekat dengan Tuhanku lagi setelah bertahun-tahun aku lupa akan sang penciptaku. Aku benar-benar banyak berubah ke perubahan yang baik berkat kamu. Aku tidak tau lagi harus berterimakasih dengan cara seperti apa untuk membalas kebaikanmu itu," ujar Maura.


Erland kini mengelus kepala Maura tapi tatapan mata laki-laki itu tertuju ke manik mata Maura. Ia menatap dalam dan penuh cinta ke Maura sebelum dirinya berkata, "Merubah kamu menjadi lebih baik adalah kewajibanku sebagai suami kamu sayang. Dan aku bersyukur jika kamu merasa lebih baik dari sebelumnya. Aku berharap semoga kedepannya kamu ataupun aku menjadi lebih baik lagi daripada sekarang. Aku tidak mengharapkan balasan apapun dari kamu karena apa yang aku lakukan tulus dari dalam hatiku. Aku hanya meminta kepadamu jangan pernah tinggalin aku, tetap di sisiku. Kita habiskan sisa waktu kita berdua di dunia ini bersama-sama. Sampai maut memisahkan dan kita di pertemukan lagi di Jannah. Aku terus berdoa agar kamu jodoh sehidup semati dan sejannahku, sayang. Aku hanya menginginkanmu untuk sekarang ataupun diakhirat kelak."


Untuk kesekian kalinya, ucapan maupun perlakuan Erland berhasil menyentuh hati Maura, dan untuk kesekian kalinya juga Maura meneteskan air mata bahagianya. Sehingga dirinya kini memeluk erat tubuh sang suami sembari ia berucap, "Kebaikan apa yang sudah aku perbuat selama ini sehingga Tuhan sangat baik hati memberiku pasangan yang sangat sempurna. Terimakasih ya Allah, puji dan syukur hamba ucapkan hanya kepadamu."


Ucapan Maura tadi tentunya sampai di telinga Erland yang kini menyematkan sebuah kecupan di puncak kepala Maura, lalu ia berkata, "Aku lebih bersyukur karena aku memilikimu."


Maura tersenyum dalam tangisnya, pelukannya pun semakin ia kencangkan lagi untuk bukti seberapa besar cintanya dengan Erland. Tak peduli jika suaminya itu nanti akan kesusahan bernafas, karena yang terpenting Maura menyalurkan kasih sayangnya kepada suaminya itu.


...****************...


Sesampainya mereka di kediaman rumah mewah milik keluarga Abhivandya, keduanya bergegas masuk kedalam agar Maura segara berisitirahat. Namun saat pintu utama terbuka, mata Erland terbuka lebar saat di depan sana ia melihat seorang balita bersama dengan Mommy Della juga Daddy Aiden.


"Sweetie!" teriak Erland yang membuat balita berumur sekitar 4 tahun itu yang merasa tak asing dengan suara yang memanggilnya tadi, ia menolehkan kepalanya ke sumber suara. Saat ia melihat orang di ambang pintu, balita itu tersenyum lebar sehingga memperlihatkan deretan gigi susunya itu. Kemudian ia betdi dari posisi duduknya lalu berlari kearah Erland berada sembari berteriak, "Uncle!"


Erland berjongkok untuk menyambut pelukan hangat dari sang keponakan. Dan saat tubuh bocah perempuan itu berada di dalam pelukannya, ia langsung mengangkat lalu memutar-mutar tubuh mereka yang otomatis membuat bocah itu tertawa.


"Uncle kangen sama kamu," ujar Erland dengan menciumi seluruh wajah bocah perempuan itu yang Erland panggil dengan sebutan sweetie tadi.


"Hahaha stop Uncle. Geli," ucapnya berusaha untuk menghindari ciuman dari Erland tadi.


"Uncle tidak mau menghentikan ciuman Uncle karena Uncle sangat rindu sama kamu," tutur Erland sebelum melanjutkan ciumannya tadi yang semakin membuat bocah itu tertawa terbahak-bahak.


"Uncle, please stop! Sweetie capek." Erland yang merasa kasihan dengan keponakannya itu ia menghentikan aksinya dengan memperlihatkan wajah keponakannya yang semakin lama semakin cantik saja.


"Keponakan Uncle semakin lama semakin cantik ya. Gemes Uncle jadinya," ucap Erland dengan memberikan cubitan di hidung bocah tersebut hanya beberapa detik saja karena bocah perempuan itu langsung menangkis tangan yang bertengger di hidung mancungnya itu.


"Terimakasih atas pujiannya Uncle, tapi perlu Uncle ketahui jika sweetie sudah cantik dari lahir." Erland mengangguk-anggukkan kepalanya, setuju dengan penuturan dari bocah perempuan tersebut karena hal itu memang kenyataannya.


"Baiklah, Uncle percaya dengan ucapanmu itu. Tapi ngomong-ngomong kamu kesini tidak sendiri kan? Kamu sama Daddy kamu kan?" tanya Erland karena ia melihat batang hidung ayah dari bocah perempuan tersebut.


"Tentu saja sweetie datang kesini dengan Daddy. Tidak mungkin sweetie terbang pakai pesawat dari Rusia kesini sendiri yang ada nanti di kira anak hilang lagi dan yang pasti Daddy tidak mengizinkan hal itu terjadi," ujarnya yang diangguki oleh Erland. Ia sangat tau se-posesif apa ayah dari sweetie ini. Dan mungkin ia juga akan se-posesif itu nanti jika anaknya sudah lahir ke dunia ini.

__ADS_1


"Kalau begitu, dimana Daddy kamu?" tanya Erland.


"Daddy tadi bilang mau ke kamar. Mungkin sekarang Daddy lagi istirahat," jawab bocah tersebut sebelum pandangan matanya beralih kearah seseorang yang masih berdiri di ambang pintu. Orang itu sangat asing di mata bocah perempuan tersebut sehingga ia yang harus tau siapa orang tersebut, kini ia mengalihkan pandangannya kearah Erland kembali lalu ia berkata, "Dia siapa Uncle."


Bocah itu menuju kearah Maura. Tentunya arah tujuknya itu di ikuti oleh Erland.


Erland menepuk keningnya saat ia melupakan istrinya sendiri kala ia tadi asik melepas rindu dengan bocah cantik nan menggemaskan itu.


"Astaga Uncle lupa. Uncle akan memperkenalkan kamu dengan aunty itu," ucap Erland lalu ia menatap kearah Maura.


"Sayang sini, sweetie ingin berkenalan dengan kamu," sambung Erland tentunya ia tujukan untuk sang istri.


Dengan ragu-ragu Maura mendekati suami dan bocah kecil tersebut yang menatap dirinya dengan tatapan dingin. Raut wajah dari bocah tersebut pun jauh berbeda dengan sebelumnya. Jika tadi terlihat riang gembira saat bersama dengan Erland, berbeda dengan sekarang saat berhadapan dengan Maura, wajah bocah perempuan itu datar hampir sama seperti Erland dulu saat mereka baru bertemu. Mungkin ini salah satu ciri khas keluarga Abhivandya yang harus memiliki wajah datar dan dingin seperti kutup utara, pikir Maura.


"Sweetie kenalin aunty ini adalah istri uncel, namanya aunty Maura," ucap Erland dengan suara lembutnya yang sama sekali tak di respon oleh bocah perempuan itu yang semakin membuat Maura kikuk sendiri. Tapi Maura harus mencoba meluluhkan bocah perempuan itu. Sehingga dengan memasang wajah full senyum Maura melambaikan tangannya kearah bocah perempuan tersebut yang tak berkedip sama sekali menatap dirinya.


"Hay cantik. Kenalin nama aunty Maura. Nama kamu siapa?" tanya Maura basa-basi saja. Bocah perempuan itu tidak langsung menjawab pertanyaan dari Maura tadi, ia justru menatap kearah Erland, seakan-akan terlihat dari matanya, anak itu meminta agar Erland yang memakili dirinya untuk menjawab. Namun Erland menggelengkan kepalanya.


"Uncle tidak mau membantu kamu untuk menjawab pertanyaan dari aunty Maura. Kamu sendiri saja yang memperkenalkan nama kamu," tolak Erland yang membuat anak perempuan itu mengerucutkan bibirnya. Tapi tak urung beberapa saat setelahnya terdengar bocah itu mengeluarkan suaranya untuk menjawab pertanyaan dari Maura tadi.


"Evanthe Zifanya Tzuwie Bagaskara Abhivandya," ucap bocah perempuan itu mengenalkan namanya yang cukup panjang dan sepertinya sangat sulit di lafal oleh Maura sehingga perempuan itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tapi Maura penasaran, nama bocah perempuan itu tidak memakai kata sweetie tapi kenapa suaminya tadi memangilnya dengan sebutan itu? Apa nama yang di sebutkan oleh Erland tadi adalah panggilan sayang dari Erland? Hmmm bisa jadi.


"Nama yang sangat cantik seperti orangnya," puji Maura yang tak mendapat balasan apapun dari bocah itu kala ia memujinya. Bocah itu benar-benar sangat dingin dan tak tersentuh.


Erland yang menyadari jika istrinya itu merasa canggung dan tak tau harus berbuat apa lagi karena jika istrinya itu mengajak bocah perempuan itu, pastinya tak akan pernah mendapat respon apapun dari dia. Sehingga Erland memilih untuk menurunkan tubuh bocah tersebut. Lalu dengan memberikan usapan lembut di kepala bocah tersebut Erland berkata, "Main sana lagi gih sama Oma dan Opa. Uncle sama aunty mau istirahat dulu. Have fun, sweetie."


"Thank you Uncel. Bye," balas bocah perempuan tersebut sebelum ia berlari kembali menuju kearah Mommy Della dan Daddy Aiden yang sedari tadi memperlihatkan interaksi mereka bertiga.


Perginya Anya dari depan Maura dan Erland, Erland menggenggam tangan Maura.


"Tidak perlu terkejut dengan sikap anak itu. Dia memang terkesan dingin dan tak tersentuh tapi kalau dia benar-benar sudah kenal sama seseorang, dia akan sangat cerewet seperti yang kamu lihat saat dia bersamaku tadi. Dan hal itu akan terjadi saat kamu dan sweetie sudah dekat satu sama lain," ujar Erland yang diangguki oleh Maura.


"Ya sudah kalau begitu kita ke kamar yuk." Erland berniat menggiring istrinya itu menuju lantai atas, dimana letak kamar Erland berada.


Namun saat Erland ingin melangkahkan kakinya, Maura justru tetap berdiri tegak sembari berkata, "Tunggu dulu sayang. Tidak sopan tau jika kita langsung ke kamar sebelum kita bertemu sama Mommy dan Daddy dulu. Setidaknya kita salaman lah sama tuan rumah bukan langsung nyelonong masuk."


Saat Erland ingin menanggapi ucapan dari Maura tadi, ucapan Mommy Della membuat Erland kembali mengatupkan bibirnya.


"Katanya kalian mau ke kamar untuk istirahat? Kenapa masih berdiri disitu! Buruan ke kamar sana gih. Maura juga harus banyak-banyak istirahat. Jangan sampai kecapekan!" Erland dan Maura tentunya menatap kearah Mommy Della.


Dan dengan cengiran, Erland membalas, "Iya Mom. Ini, kita juga mau ke kamar kok."


"Ya sudah sana tunggu apalagi." Erland dan Maura dengan serempak menganggukkan kepalanya sebelum keduanya bergegas menuju ke kamar Erland dan tak lagi membalas ucapan dari Mommy Della tadi.


Dan kepergian dari kedua orang tadi membuat Mommy Della menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu kemudian ia mengembalikan fokusnya untuk menemani sang cucu bermain.

__ADS_1


__ADS_2