
Papa Jaya menepuk pipi Orla ketika mereka telah sampai di bandara, tempat terakhir sebelum mereka masuk kedalam pesawat yang akan mengantarkan mereka ke negara yang mereka tuju.
Orla yang merasa terusik karena tepukkan pelan yang diberikan oleh Papa Jaya tadi, ia mengerjabkan matanya perlahan. Saat mata itu sudah terbuka lebar, ia menatap kearah sekelilingnya.
"Apa kita sudah sampai?" tanya Orla dengan menatap kearah Papa Jaya saat dirinya sudah menegakkan tubuhnya kembali.
Papa Jaya tersenyum kemudian ia merapikan rambut Orla.
"Iya sayang, kita sudah sampai dan 30 menit lagi kita akan masuk kedalam pesawat. Jadi tunggu apa lagi, kita ke tempat tunggu dulu yuk," ajak Papa Jaya yang diangguki oleh Orla. Kemudian setelahnya, sepasang ayah dan anak itu turun, dan dengan menyeret koper di tangan mereka masing-masing keduanya mulai memasuki bandara tersebut. Namun saat di tengah langkah kaki mereka berdua, suara seseorang yang berada di belakang mereka, menghentikan langkah mereka.
"Tunggu sebentar tuan Jaya!"
Suara orang tersebut otomatis membuat Papa Jaya dan Orla memutar tubuh mereka. Papa Jaya langsung memberikan senyumannya kepada dua orang yang saat ini tengah berjalan mendekati mereka. Tapi berbeda dengan Orla, tubuhnya mendadak menjadi membeku dengan bibir yang seakan terkunci rapat. Ia tak tau harus berbuat apa dengan dua orang yang saat ini berada di depannya, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Rasa malu dan segan pun kini menerpa dirinya.
Sedangkan kedua orang tadi, kini berjabat tangan dengan Papa Jaya.
"Maaf sudah menghentikan waktu anda, tuan Jaya," ucap orang tersebut.
"Ah tidak apa-apa tuan Erland. Kita masih punya waktu setengah jam sebelum keberangkatan. Tapi maaf jika boleh tau, apa tujuan tuan Erland dan emmm." Papa Jaya tampak bingung dengan seseorang yang berada di samping Erland saat ini. Terlihat ia saat ini tengah menggaruk tengkuknya.
"Panggil saja Maura, tuan," ucap perempuan tersebut tentunya Maura, istri Erland.
__ADS_1
"Ahhh iya nyonya Maura. Ada tujuan apa ya kalian menemui saya dan putri saya?" tanya Papa Jaya yang membuat Maura melirik kearah Orla yang masih senantiasa menundukkan kepalanya.
Sedangkan Erland, ia menatap kearah sang istri sebelum ia memberikan usapan lembut di puncak kepalanya yang menyadarkan Maura untuk menatap kearah Papa Jaya saja.
Maura yang mengerti pun ia menganggukkan kepalanya, dan dengan tersenyum kembali ia menjawab pertanyaan dari Erland tadi.
"Sebenarnya kita tidak memiliki tujuan yang pasti bertemu dengan tuan Jaya dan nona Orla saat ini. Hanya saja kita berdua ingin memberikan ini untuk kalian," ucap Maura setelah ia mengeluarkan amplop coklat dari dalam tasnya kemudian ia meraih tangan Papa Jaya lalu meletakkan amplop tadi di tangan laki-laki paruh baya tersebut.
"Apa ini?" tanya Papa Jaya dengan melihat kedalam isi amplop tersebut yang membuat matanya langsung terbuka lebar. Lalu sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya.
"Saya berterimakasih atas niat baik tuan Erland dan nyonya Maura. Tapi saya tidak bisa menerima uang ini. Jadi saya kembalikan ke kalian," ucap Papa Jaya tapi saat dirinya ingin menarik tangan Maura, Erland langsung menghalanginya.
"Tapi uang ini terlalu banyak tuan. Lagian saya kemarin juga sudah mendapatkan uang dari tuan Aiden. Jadi lebih baik uang ini tuan simpan saja," ujar Papa Jaya. Walaupun ia belum mengecek uang pemberian Erland yang ternyata sudah dalam bentuk dolar itu, ia yakin jumlahnya tidak sedikit mungkin sampai ratusan juta.
"Yang kemarin kan dari Daddy saya bukan dari saya. Sudah saya tegaskan tadi jika saya tidak menerima penolak!" tegas Erland yang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
Papa Jaya menghela nafas pasrah. Jika Erland sudah berbicara seperti itu maka akan percuma jika ia tetap memaksa untuk mengembalikan uang pemberian darinya.
"Baiklah, saya terima uang ini. Terimakasih tuan Erland dan nyonya Maura atas kebaikan yang anda berikan kepada saya dan putri saya. Saya tidak bisa membalas kebaikan kalian, tapi saya yakin Allah yang akan membalasnya," ucap Papa Jaya.
Erland dan Maura dengan serentak mereka menganggukkan kepalanya, untuk menimpali bisa ucapan dari Papa Jaya tadi.
__ADS_1
"Hiduplah dengan sehat dan damai disana," ucap Erland yang diangguki oleh Papa Jaya.
"Ya sudah kalau begitu lanjutkan perjalanan kalian. Semoga selamat sampai tujuan," sambung Erland.
"Baik tuan Erland. Sekali lagi saya ucapan terimakasih. Kami pamit dulu," ucap Papa Jaya dengan menyalami mereka berdua dengan melirik kearah Orla yang sedari tadi diam tak berkutik.
Papa Jaya kini menyenggol lengan Orla dengan mendekatkan kepalanya tepat disamping telinga Orla.
"Apa yang kamu lakukan, Orla? Berterimakasih dengan mereka yang sudah banyak membantu kita. Berterimakasih sekarang!" bisik Papa Jaya penuh dengan penekanan.
Orla yang tidak bisa berbuat apapun dan tentunya tidak bisa melawan sang Papa, dengan tangan yang bergetar hebat juga keringat dingin yang membasahi telapak tangannya, ia menyodorkan tangannya di depan tubuh Erland sembari berkata, "Te---terimakasih atas kebaikan dan bantuan dari tu---tuan Erland juga nyonya Maura yang sudah banyak membantu saya dan Papa. Terimakasih."
Tentunya perkataan yang baru saja terlontar dari bibir Orla merupakan ungkap tulus darinya. Namun karena Erland tak ingin membuat kesalahpahaman antara dirinya dan Maura, ia tak langsung menerima uluran tangan dari Orla tadi, melainkan ia menarik tangan Maura dan menyodorkan tangan istrinya itu sebagai ganti tangannya untuk menjabat tangan Orla. Tentunya hal itu membuat Maura mendelik seketika, ia sempat terkejut dengan aksi suaminya itu.
"Maaf tadi saya dan anda bukan mahram, jadi biarkan istri saya yang mewakili untuk menjabat tangan anda. Dan ucapan terimakasih yang sudah anda katakan tadi, saya terima," ucap Erland.
Orla yang tadi menatap kearah Erland karena ia juga sempat terkejut dengan aksi laki-laki tersebut sama dengan Maura, tadi ia kini menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Maaf saya tidak tau."
Erland hanya menganggukkan kepalanya saja untuk membalas ucapan dari Orla tentunya tanpa menatap kearah Orla melainkan menatap kearah sang istri, seakan-akan istrinya lah objek satu-satunya yang pantas untuk ia lihat.
Orla yang melihat anggukan kepala tanpa minat dari Erland pun, ia menghela nafas, ia semakin sadar sekarang dari dulu sampai dirinya sudah mengikhlaskan Erland, memang tidak ada ruang untuknya dihati laki-laki yang sudah lama ia cintai itu. Tatapan Orla kini berpindah kearah Maura yang juga menatapnya, sebelum ia menunduk karena ia malu sudah berniat untuk merebut Erland dari perempuan cantik yang sudah menyandang status sebagai nyonya Erland itu. Ia benar-benar malu, bahkan wajahnya sudah tidak tau akan ia taruh dimana saat dirinya bersitatap dengan Maura. Walaupun tangan mereka masih saling bertautan, karena Maura sangat erat menggenggamnya. Entah apa yang akan di lakukan oleh Maura nantinya, jujur saja Orla siap untuk menerima hukuman yang sudah ia perbuat dulu dari Maura. Entah ia akan ditampar atau dijambak bahkan di cakar, ia akan diam tak akan membalasnya jika memang istri Erland tersebut melakukannya.
__ADS_1