
"Sekarang sudah tau kan cara menyapu yang benar itu seperti apa. Jadi lakukan dengan baik. Jangan di buat mainan seperti tadi karena yang ada debu yang kamu sapu akan menyebar lagi keseluruh rumah ini dan semua pekerjaanmu itu tentunya akan percuma dan tenagamu akan terbuang sia-sia," ujar Erland yang kini melepaskan tangannya tadi dari tangan Maura. Kemudian ia mulai memundurkan tubuhnya.
"Coba kamu lakukan sendiri. Aku mau lihat," sambung Erland. Ia harus benar-benar memastikan jika Maura sudah memahami apa yang ia ajarkan tadi.
Tanpa menimpali ucapan dari Erland, Maura mulai menggerakkan tangannya. Walaupun ia masih kaku untuk melakukannya, tapi sebisa mungkin ia menggerakkan tangannya seperti yang di contohkan oleh Erland tadi.
Erland tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oke, cukup baik. Lanjutkan pekerjaanmu," kata Erland dengan memberikan usapan lembut di kepala Maura sebelum ia kembali menuju ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
Sedangkan Maura, ia menatap kepergian Erland tadi hingga helaan nafas keluar dari hidungnya.
"Huh berasa di ospek lagi kalau begini caranya," gumam Maura. Namun tak urung setelah dirinya mengatakan hal tersebut ia kembali menyapu lantai rumah itu mulai dari didalam rumah sampai depan rumah sekalipun.
Dan setelah dua tempat itu selesai ia bersihkan, ia berjalan masuk kedalam dapur.
"Aku sudah menyapu dalam dan luar rumah ini. Jadi bolehkan aku istirahat sebentar saja sebelum aku menyapu di dapur ini?" tanya Maura dengan keringat yang keluar bercucuran. Erland yang sudah selesai memasak dan tengah menghidangkan masakannya itu di meja makan, ia menolehkan kepala kearah Maura yang terlihat benar-benar sangat kelelahan.
"Istirahatlah. Tapi sebelum istirahat lebih baik kamu lap keringat kamu itu dan segera cuci tanganmu biar waktu istirahatmu ini bisa kamu gunakan untuk mengisi perut juga," ujar Erland yang membuat mata Maura berbinar.
__ADS_1
"Aku sudah boleh makan?" tanyanya yang langsung mendapat anggukan kepala dari Erland. Dimana hal tersebut membuat Maura langsung berlari menuju ke wastafel di dalam dapur tersebut untuk mencuci tangannya dan mengelap keringatnya dengan tisu dapur.
Erland yang melihat pergerakan dari Maura itu ia menggelengkan kepalanya sembari tangannya melepas apron lalu mendudukkan tubuhnya di kursi makannya. Dimana saat dirinya sudah duduk, Maura sudah kembali dengan senyum merekah kala melihat makanan yang di hidangkan oleh Erland. Makanan dengan menu yang tidak mewah seperti sebelumnya karena hanya balado telur saja dan juga ada oseng kangkung tapi tetap saja membuat napsu makan Maura tergugah.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Maura segara duduk berhadapan dengan Erland. Dan tanpa di persilahkan dulu oleh Erland, ia langsung mengambil nasi beserta lauk pauknya. Kemudian setelahnya ia mulai menyantap dengan lahap seperti seseorang yang belum makan setahun karena saking lahapnya. Bahkan Erland yang melihatnya pun ia sampai melongo tak percaya dengan otaknya yang bertanya, "Apa sebegitu laparkah dia sampai makan saja belepotan seperti itu dan sangat-sangat cepat. Aku yakin makan yang Maura makan tidak dia kunyah tapi ia telah begitu saja."
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa berputar di otak Erland, tak bisa ia ucapkan karena takut membuat napsu makan Maura menjadi turun karena terus terang saja walaupun Maura makan dengan rakus seperti ini tapi Erland sangat suka karena tandanya Maura tak pilih-pilih makanan. Padahal ia tadi sempat berpikir kalau Maura akan protes mengenai menu hari ini yang sangat sederhana. Tapi nyatanya tidak sama sekali dan hal itu benar-benar membuat Erland bersyukur.
Erland tersadar dari lamunannya kala ia mendengar suara batuk dari Maura.
Uhukk uhukk uhukk!
"Air, uhukk!" Ucap Maura membutuhkan pertolongan.
"Makanya kalau makan itu hati-hati. Di kunyah dulu baru di telan. Aku juga tidak akan merebut makananmu Maura dan kalau makanan itu mau kamu habiskan, habiskan saja karena aku sudah cukup makan satu piring itu saja," ujar Erland disela ia menepuk-nepuk punggung Maura itu.
Maura yang sudah menghabiskan minumannya pun ia kini menghela nafas lega kala ia sudah tidak merasakan perih di tenggorokannya. Namun beberapa saat setelahnya, ia membalas ucapan dari Erland tadi.
"Ck, namanya juga lapar. Aku tadi juga mengunyah makanan yang aku makan terlebih dahulu sebelum aku telan. Dasarnya saja kalau mau tersedak ya tersedak entah cara makannya seperti putri solo sekalipun," balas Maura yang membuat Erland memutar bola matanya malas.
__ADS_1
Dan karena ia rasa Maura sudah baik-baik saja, dirinya menghentikan tepukan di punggung perempuan tersebut lalu kembali duduk di kursinya tadi untuk mulai menyantap makanannya yang tadi ia anggurkan karena asik melihat Maura makan tanpa memperdulikan Maura yang kini justru menatapnya.
Perempuan itu tampak ingin bersuara, terlihat dari bibirnya yang tengah terbuka namun mangatup kembali setelah beberapa saat.
"Kalau mau bicara, bicara saja," ujar Erland tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan di hadapannya itu.
Maura mengerutkan keningnya heran, kenapa Erland bisa tau jika dirinya ingin berbicara lebih tepatnya bertanya. Namun Maura tidak ambil pusing dengan hal itu, dan sesuai dengan perintah Erland tadi ia kini mulai angkat suara.
"Kamu hari ini tidak bekerja?" tanya Maura pada akhirnya.
"Kan aku tadi sudah bilang sama kamu kalau hari ini aku akan mengawasi cara kerjamu," jawab Erland yang kini menatap sepenuhnya kearah Maura karena makanannya juga sudah habis ia lahap.
"Hah? Hanya karena kamu ingin mengawasiku kamu harus libur kerja?" Erland menganggukkan kepalanya sembari berucap, "Memangnya kenapa?"
"Kamu hanya kenapa? Astaga Erland. Gini ya aku kasih tau, kalau kamu libur bekerja seperti ini gimana dengan gaji yang akan kamu dapatkan bulan ini? Pastinya bos kamu itu tidak akan membayarmu full 2 juta seperti bulan kemarin dan dengan itu berarti uang bulananku juga akan berkurang nanti," ucap Maura.
"Ya memang. Tapi aku sudah bilang ke bosku untuk mengambil cuti saja jadi kamu tenang saja gajiku akan tetap utuh 2 juta untuk bulan ini yang artinya uang bulananmu tidak akan terpotong," ujar Erland yang membuat Maura memincingkan alisnya.
"Lah bisa gitu ya? Padahal kamu hanya sopir lho Er bukan pekerja kantoran atau pekerja pabrik yang gajinya akan tetap utuh tanpa potongan jika tengah cuti. Kamu benaran jadi sopir kan Er?" tanya Maura.
__ADS_1
"Menurut kamu? Jika aku bukan sopir tapi pekerja kantoran atau pekerja pabrik tidak mungkin gajiku hanya dua juta perbulan Maura. Kalau kamu tidak percaya lihat saja dompetku ini. Apa didalam sana ada isinya?" Erland mendorong dompetnya sampai didepan Maura yang langsung diambil oleh perempuan itu untuk membuktikan ucapan dari sang suami. Dan benar saja, didalam dompet itu hanya ada KTP dan SIM saja. Tidak ada uang ataupun ATM sama sekali. Ya tidak akan ada lah, karena Erland sudah memindahkan semua kartu ATM dan kartu-kartu lainnya di dompet satunya yang selalu ia taruh di kantornya. KTP dan SIM pun sudah ia letakkan terbalik jadi Maura tidak akan melihat nama lengkapnya siapa.
"Oke, aku percaya sekarang," ujar Maura dengan mengembalikan dompet tersebut kepada Erland. Walaupun ia masih bertanya-tanya, sejak kapan seorang sopir tetap di gaji walaupun dia tengah cuti?