PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 71


__ADS_3

Didalam perjalanan menuju ke rumah, tak ada yang membuka percakapan dari sepasang suami-istri itu. Erland yang terus fokus kearah jalanan dengan sesekali menatap wajah Maura. Sedangkan Maura, perempuan itu memilih menikmati pemandangan yang tentunya hanya ada gedung pencakar langit yang ia lihat, tapi setidaknya bisa sedikit merubah mood jeleknya menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Motor yang dikendarai oleh Erland memang sengaja laki-laki itu perlambat lajunya, tentunya hal tersebut ia lakukan agar dirinya bisa merasakan pelukan hangat dari istrinya.


Dan saat mata Erland ingin menatap wajah Maura lewat kaca spion motornya untuk yang kesekian kalinya, saat ini tatapannya itu gagal fokus kala tak sengaja ia melihat ada segerombolan orang dengan memakai motor sport melaju tak jauh dibelakangnya. Erland ingin sekali berpikir positif dengan orang-orang di belakangnya itu, namun sayangnya pikiran negatifnya lebih dominan. Bahkan feeling Erland pun mengatakan jika tidak ada yang beres dengan segerombolan orang-orang di belakangnya tersebut.


Tapi Erland dengan sebisa mungkin ia bersikap tenang agar tak membuat Maura takut nantinya. Dan sekaligus untuk memastikan feelingnya itu benar, Erland yang harusnya membelokkan motornya ke kiri dan masuk kedalam perumahan yang saat ini tengah dia tempati, ia justru terus berjalan. Dimana hal tersebut membuat Maura mengerutkan keningnya.


"Kamu lupa arah jalan pulang apa gimana? Jalan masuk ke perumahan sudah lewat," ucap Maura dengan nada suara yang masih ketus. Ingat ia masih kesal perihal tadi di toko buku.


Erland yang sedari tadi masih mengawasi pergerakan dari segerombolan orang-orang yang mengendarai motor sport itu yang ternyata mengikutinya pun tatapan matanya kini ia alihkan, menatap wajah Maura di pantulan kaca spion motornya.


"Aku tidak lupa hanya ada masalah sedikit saja. Dan aku perintahkan kamu untuk terus memelukku seperti ini kalau bisa pelukan ini semakin kamu eratkan dan jangan kamu lepas," ujar Erland masih berjalan dengan kecepatan motor seperti tadi.


Maura yang mendengarnya dengan refleks ia memukul punggung Erland.

__ADS_1


"Oh ternyata kamu nyuruh aku buat pegang dengan cara seperti ini itu hanya rencana modus kamu saja dengan dalih kalau aku bisa jatuh dan sebagainya? Ketauan kan sekarang akal busuk kamu, sialan. Memang ya, laki-laki itu buaya darat semua. Dipanggil mas saja sudah tebar pesona!" Nah kan mulai lagi. Maura kembali mengungkit masalah di toko buku tadi. Erland yang mendengar pun ia hanya bisa menghela nafas panjang. Sabar, satu kata yang Erland ucapkan di dalam hatinya.


"Simpan amarahmu itu Maura. Sekarang bukan waktunya kamu marah. Ada hal yang lebih penting dari itu. Dan jika kamu benar-benar mau selamat lakukan seperti yang aku perintahkan tadi!" ucap Erland yang terdengar sangat tegas. Tapi Maura tetaplah Maura, perempuan yang masih di landa emosi itu, kini menegakkan tubuhnya bahkan melepaskan pelukannya tadi dari tubuh Erland. Dan seakan dia tengah menantang Erland, Maura melipat kedua tangannya di depan dadanya sembari berkata, "Gak sudi,"


Erland tampak memejamkan matanya beberapa detik. Dan setelah matanya itu kembali ia buka, tanpa mengucapkan sepatah katapun, tangannya menarik tubuh Maura. Tak peduli bagian mana yang ia tarik yang terpenting perempuan itu kembali mengikis jarak antara Erland dan Maura.


Maura yang ditarik cukup keras itu membuat tangannya dengan refleks melingkar di pinggang Erland. Dan sebelum Maura mengatakan omelannya serta merubah posisinya kembali, Erland langsung menambah kecepatan motornya hingga membuat bibir Maura yang sempat ingin terbuka tertutup kembali dengan mata yang melotot sempurna. Bahkan tangannya yang tadi enggan memeluk tubuh Erland sekarang justru melingkar erat disana, tidak berani ia lepas jika dirinya memang masih sayang dengan nyawa. Pasalnya Erland mengendarai motornya seperti laki-laki itu ingin mengajak dirinya mati saja.


Erland terus menjalankan motornya itu dengan kecepatan tinggi. Tak sekali dua kali Erland dengan gesit menyalip pengendara lain di jalan raya tersebut, tak jarang juga dia meliuk-liukkan motornya saat dia tengah menyalip motor ataupun mobil didepannya.


"Jangan gila kamu, Erland! Jangan lakukan itu. Kalau kamu mau mati, mati sendiri saja jangan ajak aku!" ucap Maura. Namun tak urung tangannya semakin ia eratkan untuk memeluk pinggang Erland.


Ucapan Maura sepertinya hanya dianggap angin lalu saja oleh Erland, pasalnya laki-laki itu justru menatap dengan intens jalanan di depannya itu. Sebelum ia semakin menambah kecepatan dimana hal tersebut membuat Maura menjerit histeris dengan kedua mata yang tertutup rapat. Bahkan perempuan itu sekarang sudah pasrah dengan nasib dirinya selanjutnya.


Motor Erland kini melaju di tengah-tengah kedua truk yang saling berpapasan itu. Rasa panas yang di keluarkan dari mesin truk pun bisa keduanya rasakan tapi hanya beberapa saat saja karena motor Erland saat ini telah berhasil melewati truk tersebut. Dimana hal tersebut, Erland gunakan untuk kabur dari pengintaian para orang-orang yang entah siapa, Erland juga tidak tau.

__ADS_1


Erland bisa menghela nafas kala dirinya bisa menghindari mereka, bahkan saat sampai di rumah, tak ada yang mengikutinya lagi.


Erland sudah mematikan mesin motornya itu. Namun yang membuat dirinya heran sekarang adalah kenapa Maura tak kunjung turun dari atas motornya. Perempuan itu masih setia memeluk tubuhnya.


"Ra, hey kita sudah sampai," ucap Erland dengan memberikan elusan di punggung tangan Maura. Dimana saat itu juga Erland bisa merasakan jika tangan Maura terasa sangat dingin. Dan hal tersebut membuat Erland kini khawatir, apakah Maura sekarang tengah pingsan akibat ulahnya?


Pertanyaan yang sempat terlintas di otak Erland tadi seketika terjawab dengan adanya pergerakan dari Maura. Maura tampak membuka matanya yang tadi sempat ia pejamkan, melihat sekelilingnya sebelum ia menegakkan tubuhnya.


Erland yang melihat hal tersebut pun ia menghela nafas lega. Setidaknya Maura tidak kenapa-napa. Tapi ia juga sudah menyiapkan telinganya yang pastinya dia nanti akan mendengarkan omelan panjang lebar dari istrinya itu.


Dan benar saja prasangkanya tadi, karena baru saja Maura turun dari motor, perempuan tersebut langsung mengomeli Erland.


"Kamu itu ya. Kalau mau mati, mati sendiri saja sana jangan ngajak aku. Masih banyak hal yang harus aku lakukan di dunia ini. Bekalku untuk ke akhirat juga masih sedikit malah mungkin tidak ada. Aku masih ingin memperbaiki diri, belum mau mati. SIALAN!"


Erland hanya bisa diam saja mendengar omelan dari istrinya itu karena dirinya juga mengaku salah telah mengajak Maura ngebut seperti tadi. Tapi perlu di ingat, Erland melakukan hal tersebut untuk kebaikan mereka berdua. Dan sebelum Maura semakin menjadi dan menjadi tontonan para tetangga mereka, Erland menarik pelan lengan Maura untuk masuk kedalam rumah mereka. Ia tak peduli dengan Maura yang memberontak saat ia mencekal lengan perempuan itu sampai akhirnya mereka masuk kedalam rumah, barulah Erland melepaskan tangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2