
Erland tampak terdiam, memikirkan ucapan dari Edrea tadi. Apa memang benar jika dirinya masih terbayang-bayang akan trauma dimasa lalu, dia justru akan kehilangan Maura yang belum tentu memiliki sifat ataupun karakter yang sama seperti Kayla dulu? Dan kalau hal itu terjadi, apa mungkin ucapan dari Edrea tadi benar, jika dia akan menyesal nantinya? Arkhhhh, entahlah Erland bingung dengan dirinya sendiri. Tapi yang pasti ia akan memastikan perasaan Maura terlebih dahulu dan untuk selanjutnya ia akan pikirkan nanti.
Edrea yang melihat Erland melamun pun ia menepuk pundak Kakaknya itu sembari berucap, "Heyyy! Kok Abang malah ngalamun sih? Aku ngomong dari tadi Abang dengerin gak sih?"
Erland mengerjabkan matanya kemudian ia menatap kearah Edrea sembari menganggukkan kepalanya.
"Abang dengar, Re," ujar Erland.
"Syukurlah kalau Abang dengar. Terus keputusan Abang apa?" tanya Edrea. Ia tak ingin Erland terus terjebak dalam traumanya itu.
"Masih Abang pikirkan," jawab Erland sembari merogoh ponselnya yang tadi sempat berbunyi, menandakan jika ada sebuah pesan masuk.
Sedangkan Edrea, ia hanya bisa menghela nafas pasrah. Namun dia berharap agar Erland mengambil langkah terbaik didalam hidup laki-laki itu.
Erland yang sudah mendapatkan ponselnya pun ia segera membuka pesan tersebut yang ternyata dari Bayu. Dan ia segera membacanya.
📨 : Bayu Batara
__ADS_1
"Er, perempuan yang Lo suruh gue buat ngawasin dia sekarang sudah sampai rumah. Tapi yang bikin aneh tuh setelah dia keluar dari cafe you and me, dia diam terus padahal sebelumnya dia cerewet banget bahkan selalu ngajakin gue ribut. Tapi tadi dia hanya diam, gue tanya dia jawab seperlunya. Raut wajahnya yang tadi songongnya minta ampun seketika berubah jadi murung. Bahkan saat kita di perjalanan menuju ke rumah, gue sempat lihat lewat spion motor dia kayak nangis. Gue gak tau penyebab dia murung sama nangis apa, karena gue gak ikut masuk ke cafe tadi. Gue tadi sudah sangat muak soalnya sama dia. Jadi sorry gue gak dapat informasi mengenai penyebab dia berubah dengan seketika tadi. Itu aja yang mau gue sampaikan ke Lo, Er. Dan berhubung tugas gue selesai, gue mau pulang. Capek juga jadi ojek dadakan. Dan thanks atas uang yang Lo kirim."
Erland yang sudah membaca setiap kata yang ada di dalam pesan yang Bayu kirimkan tadi, ia tak bisa menyembunyikan kerutan di keningnya. Bahkan didalam hatinya ia berkata, "Maura menangis? Kenapa? Apa dia sakit?"
Erland tampak menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku bisa pastikan jika dia tidak sedang sakit saat ini. Tapi alasan dia menangis karena apa? Apa gara-gara lihat aku sama Edrea disini? Kalau memang benar, berarti---"
Erland dengan tiba-tiba berdiri yang membuat Edrea serta kedua ponakannya yang tadi memperhatikan dirinya terkejut akan aksi Erland tadi.
Dan sebelum Edrea bertanya, Erland lebih dulu berkata, "Sepertinya Abang harus pulang sekarang Re. Kata orang suruhan Abang, Maura sekarang lagi nangis. Kamu gak papa kan Abang tinggal sendiri disini?"
Edrea tampak tersenyum kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Uncle Er, pulang dulu. Jangan nakal karena kalian hanya bersama Mommy kalian," ucap Erland dengan lembut. Yang tentu saja ucapan Erland tadi di mengerti oleh kedua keponakannya yang memang paham akan bahasa Indonesia, mereka tadi hanya berakting tidak bisa saja saat berbicara dengan Maura ataupun orang lain yang belum terlalu akrab dengan mereka. Dan sifat si twins ini tentunya diturunkan dari sang Daddy yang sangat irit bicara.
Erland yang mendapat anggukan kepala dari kedua keponakannya pun ia mengelus kepala keduanya sebelum ia segara melangkahkan kakinya meninggalkan ketiga orang yang tengah menatap kepergiannya.
Edrea yang sudah tidak melihat tubuh sang Abang yang menghilang dibalik pintu pun ia menghela nafas panjang sembari bergumam, "Aku yakin bang kalau kamu memang sudah mulai jatuh cinta dengan istri kamu. Dan aku harap perasaanmu ini tidak bertepuk sebelah tangan. Semoga Kak Maura membalas cinta kamu. Sudah cukup Rea lihat Abang terpuruk gara-gara cinta, sekarang saatnya Rea lihat Abang bahagia dengan namanya cinta. Doa Rea selalu menyertai Abang dan Kak Maura agar rumah tangga kalian yang berawal karena keterpaksaan itu awet sampai maut memisahkan. Aamiin."
__ADS_1
"Aamiin." Kedua anak laki-laki yang sempat mendengar gumaman dari Edrea walaupun mereka belum cukup mengerti dengan maksud ucapan sang Mommy, tetap saja keduanya ikut mengaminkan apa yang telah di ucapan oleh Edrea tadi. Dimana hal tersebut membuat Edrea tersenyum lalu tangannya bergerak untuk mengacak gemas rambut kedua putranya itu yang membuat kedua anak laki-laki tersebut tersenyum, menampilkan deretan gigi rapinya.
Sedangkan disisi lain, Maura mengurung dirinya di dalam kamarnya. Ditemani dengan tisu yang berada di hadapannya.
"Hiks kenapa dadaku sesak banget sih setelah lihat Erland sama perempuan lain? Mana ini hati juga ikutan sakit lagi. Huwaaaa Mama!" jerit Maura.
"Ya Allah sakit banget," ucap Maura yang masih terisak sembari memukul-mukul dadanya yang bergitu sesak. Ia pernah merasakan yang namanya sakit hati berulang kali. Tapi rasanya tak sehebat yang ia rasakan saat ini.
"Hiks Erland jahat. Perlakuan lembut yang dia tunjukkan beberapa hari ini artinya apa? Mau semakin buat aku ketergantungan dengan dia dan saat itu terjadi, kamu mau menyakitiku lebih dalam lagi. Jahat, kamu benar-benar jahat Er," gumam Maura seakan-akan Erland saat ini berada di hadapannya.
"Erland jahat. Erland jahat. Erland jahat. Hiks. Erland jagat." Maura terus menggumamkan kata-katanya itu dengan menelusupkan wajahnya di balik lipatan kedua lengannya yang tengah ia taruh diatas kakinya yang ia tekuk. Maura terus terisak dengan bayang-bayang kejadian saat di cafe tadi yang terus menghantui dirinya.
Disisi lain, Erland melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Ia bahkan tak memperdulikan teriakan, umpatan bahkan nyawanya sendiri yang sudah 3 kali dirinya hampir menabrak kendaraan lain. Ia tak peduli dengan itu semua karena yang ia pedulikan saat ini adalah Maura. Ia memang berniat buat Maura cemburu tapi ia tak sanggup jika Maura harus meneteskan air matanya.
Tak butuh waktu lama Erland sampai di pelataran rumahnya. Dan dengan memarkirkan motornya serta menaruh helmnya ia berlari masuk kedalam rumah yang tampak sepi.
Erland menghela nafas, ia tau Maura saat ini ada dimana. Jadi tanpa menunggu lama lagi, ia bergegas menuju ke kamar Maura. Dimana setelah dirinya sampai di depan pintu kamar istrinya tersebut, tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu atau tanpa mengetuk pintu itu, Erland langsung membuka pintu tersebut sembari berkata, "Mau---ra."
__ADS_1
Ucapan Erland terputus kala ia melihat Maura tengah duduk di pojok ruangan dengan tubuh yang bergetar tak lupa isakan tangisnya pun terdengar yang membuat hati Erland seperti teriris, sangat-sangat sakit ia rasakan. Sampai akhirnya ia kini berlari menuju kearah Maura, dimana sesampainya ia di hadapan sang istri, ia memeluk tubuh Maura begitu erat sembari berkata, "Maafkan aku."