PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 172


__ADS_3

Mama Dian sedikit berlari saat menuruni anak tangga dan tujuan utamanya saat ini yaitu ke kamar tamu yang saat ini tengah di tempati oleh Erland. Ia tak akan segan-segan untuk mengatakan kecurigaannya itu kepada menantunya supaya Erland nanti bisa membantu dia untuk membuktikan Maura tengah hamil seperti firasatnya.


"Erland! Erland! Erland!"


Tok tok tok tok!!!


Mama Dian berteriak memanggil Erland tak lupa ia turut menggedor pintu kamar di hadapannya. Tak peduli jika sang menantu saat ini tengah beristirahat di dalam sana.


Erland yang sedari tadi merenung, memikirkan cara meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Maura, renungannya itu buyar seketika kala mendengar gedoran serta teriakan keras dari luar. Tapi tak urung Erland yang sebenarnya sangat terganggu atas aksi sang mertua itu, ia tetap berdiri dari posisi duduknya tadi dan segera menghampiri pintu kamar itu dan membukanya.


"Mama ada apa?" tanya Erland.


"Ada yang perlu Mama bicarakan sama kamu. Tapi kita lebih baik masuk kedalam dulu," kata Mama Dian dan sebelum ia mendengar persetujuan dari sang menantu, ia langsung masuk begitu saja ke kamar tersebut.


Erland tentunya merasa was-was, takut jika terjadi kesalahpahaman nanti kala ada seseorang yang melihat dirinya dan sang mertua berada di dalam satu ruangan yang sama terlebih saat ini mereka di dalam kamar berdua saja tanpa ada orang lain yang berada di tengah-tengah mereka. Dan tentunya kesalahpahaman yang mungkin akan terjadi itu membuat kepala Erland langsung keluar asap pasalnya belum juga masalah satu selesai datang masalah lainnya. Erland tentunya tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jadi Erland dengan sengaja tidak menutup pintu kamar itu dan justru membukanya dengan lebar. Tapi saat dirinya ingin mendekati Mama Dian, mertuanya itu berkata, "Pintunya di tutup Er. Jangan di buka seperti itu. Apa yang akan Mama bicarakan ini sangat penting dan jangan sampai ada yang tau, apalagi sampai Maura tau."

__ADS_1


Erland otomatis menghentikan langkahnya.


"Pintunya ditutup Ma?" tanya Erland untuk memastikan jika apa yang ia dengar tadi tidak salah.


Mama Dian menganggukkan kepalanya.


"Tapi Ma, apa tidak sebaiknya di buka seperti itu saja. Takut nanti ada yang salah paham kalau pintunya tetap di tutup. Apalagi sampai Papa tau, yang ada Erland nanti kena hantam sama Papa. Jadi biarkan pintunya terbuka saja ya Ma. InsyaAllah apa yang akan Mama katakan nanti tidak akan terdengar oleh orang lain," ujar Erland memberikan penjelasan sekaligus menolak perintah dari mertuanya tadi dengan cara yang sangat lembut dan semoga saja Mama Dian mengerti kekhawatirannya itu.


Mama Dian tampak menghela nafas panjang sebelum ia menganggukkan kepalanya.


"Jadi apa yang akan Mama katakan ke Erland?" tanya Erland.


Mama Dian tampak menoleh kearah luar kamar tersebut, dirasa semuanya aman, tidak ada orang sama sekali disana, ia mulai angkat suara.


"Jadi gini Er. Mama tadi kan ke kamar Maura. Rencananya Mama tadi itu mau tanya siapa orang yang sudah membocorkan rahasia kamu. Tapi rencana awal Mama itu harus tertunda saat Mama justru melihat Maura tengah memesan banyak makanan untuk dia sendiri," ujar Mama Dian yang diangguki oleh Erland. Ia juga bingung harus bereaksi seperti apa karena memang akhir-akhir ini istrinya itu makan dengan porsi yang tidak wajar.

__ADS_1


"Dan kamu tau gak, Er, kalau yang di pesan itu pecel sama kupat tahu. Padahal nih ya, Maura itu paling benci sama yang namanya ketupat ataupun kacang-kacangan. Tapi kali ini dia malah memakannya. Dan anehnya saat Mama tanya kenapa dia makan makanan yang tidak dia suka, dia bilang kalau dia hanya nurutin kata hati. Kamu merasa aneh gak sih Er. Dari porsi makan yang bertambah dan dari makanan yang tidak dia suka bisa dia makan? Kalau Mama sih jujur saja, Mama sangat curiga sama perubahan Maura itu. Entah kenapa Mama merasa jika Maura saat ini tengah ngidam. Kamu tau kan ngidam?" ucap Mama Dian yang hanya bisa membuat Erland menghela nafas panjang sebelum ia kembali menganggukkan kepalanya.


"Erland tau kok Ma, ngidam itu apa. Tapi maaf Ma, kecurigaan Mama itu salah. Maura saat ini sedang tidak hamil. Dia tadi juga sudah testpack dan hasilnya negatif. Maaf ya Ma kalau kita berdua belum bisa ngasih Mama cucu dan Erland minta doanya semoga Erland dan Maura segara di berikan keturunan," ujar Erland tentunya ucapan dari Mama Dian tadi kembali membuka rasa sesak di dadanya.


Sedangkan Mama Dian, ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak, kamu tidak perlu meminta maaf ke Mama. Tidak masalah jika kalian belum juga kasih Mama cucu dan Mama juga selalu mendoakan kebaikan tentang kalian berdua. Tapi masalahnya perasannya Mama ini tetap mengatakan kalau Maura tengah hamil sekarang Er dan Mama harus mendapatkan buktinya sekarang juga. Siapa tau kan alat testpack yang Maura gunakan itu sudah rusak. Jadi pokoknya Mama mau Maura harus testpack ulang dan kamu yang harus membujuk dia. Mama gak mau tau pokoknya Maura harus testpack lagi dan kamu bantu Mama ya buat bujuk Maura supaya mau buat testpack, please. Mama mohon. Karena kalau Mama belum membuktikan kecurigaan Mama yang ada Mama gak akan pernah bisa tidur. Ayolah Er, kamu mau ya," tutur Mama Dian panjang lebar dengan tatapan penuh permohonan tentunya hal itu membuat Erland tak tega untuk menolaknya. Erland juga tak enak hati jika menolak permintaan mertuanya itu. Walaupun ia sebenarnya takut jika saat Maura nanti test kembali dan hasilnya sama seperti tadi akan membuat dirinya kembali kecewa.


"Baiklah. Nanti Erland akan bantu Mama untuk bujuk Maura. Walaupun Maura saat ini masih belum mau bertemu dengan Erland, Erland tetap akan berusaha untuk membuktikannya secara langsung tentang kecurigaan Mama tadi," ucap Erland mensetujui permintaan Mama Dian.


Mama Dian tersenyum mendengar jawaban dari Erland tadi. Lalu setelahnya, ia berdiri dari duduknya. Dan sebelum dirinya melangkahkan kakinya. Ia sempat berkata, "Kalau begitu Mama pergi ke apotek dulu buat beli alat testpack. Karena besok kita akan beraksi. Terimakasih ya Er, kamu sudah mau membantu Mama."


Erland menganggukkan kepalanya tak lupa ia juga tersenyum kearah Mama Dian.


"Ya sudah kalau begitu Mama pergi dulu. Kamu lanjut saja istirahatnya. Assalamu'alaikum," ujar Mama Dian.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," balas Erland. Dimana setelah perempuan paruh baya itu mendengar balasannya, ia langsung melangkahkan kakinya, keluar dari kamar itu. Tak lupa ia juga menyempatkan dirinya untuk menutup pintu kamar yang tengah di tempati Erland itu. Agar menantunya merasa nyaman saat beristirahat.


__ADS_2