PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 55


__ADS_3

Dengan meminum air putih yang Erland tadi berikan kepadanya Maura terus menatap Erland yang sepertinya sudah selesai dengan acara memasaknya itu.


"Ra, kamu tadi buat nasi?" tanya Erland saat laki-laki itu tadi sempat melirik kearah rice cooker yang terlihat mengeluarkan sedikit asap.


"Iya tadi aku sudah buat nasi. Sepertinya nasinya juga sudah siap itu," ujar Maura.


"Ohhhh ya sudah kalau gitu aku tidak perlu buat nasi lagi," ucap Erland walaupun didalam lubuk hatinya ia tak percaya jika Maura benar-benar bisa buat nasi. Pasti hasilnya gagal. Dan tebakan dari Erland tadi tidak meleset sama sekali. Saat laki-laki itu membuka rice cooker tersebut dengan satu tangan membawa piring berniat untuk mengambil nasi tersebut, ia justru di buat melongo saat melihat didalam rice cooker itu bukan nasi melainkan bubur.


Erland lagi-lagi harus di buat sabar akan ulah istrinya tersebut. Dengan cepat Erland mematikan rice cooker itu lalu mengeluarkan wadah nasi yang berisi bubur tersebut. Kemudian Erland perlahan menuang bubur itu ke plastik yang tentunya akan berakhir ke tempat sampah.


Maura yang melihatnya pun ia terkejut dengan aksi Erland tersebut.


"Kok kamu buang di Er? Itu makanan lho," tutur Maura.


"Aku tau makanan. Tapi kalau sudah jadi bubur yang sudah tercampur dengan berbagai kotoran dari beras yang belum kamu bersihkan begini apa kamu mau memakan makanan ini? Jika saja tadi kamu mencuci beras sebelum kamu jadikan nasi lebih tepatnya bubur tadi aku bisa memperbaiki bubur ini yang bisa aku masak ulang. Tapi kalau kotor begini kamu sendiri yang masak juga tidak mau memakannya kan?" ucap Erland dengan memperlihatkan bubur yang sebagian masih berada di penanak nasi tersebut.


Maura yang tak menyangka jika nasinya tadi menjadi bubur pun ia justru bertanya, "Lho kok malah jadi bubur? Padahal aku tadi kan buatnya nasi."


"Kebanyakan air," jawab Erland yang kembali sibuk dengan membersihkan penanak nasi tersebut.


"Iya kah?"


"Hmmmm lagian kamu tadi kasih airnya seberapa sih?" tanya Erland penasaran.


"Anu itu aku tadi kasih airnya cuma setengah dari wadah itu saja kok."

__ADS_1


"Terus berasnya?"


"Aku tadi ambil beras dengan gelas dan cuma satu gelas saja." Erland tampak menghela nafas. Pantas saja menjadi bubur orang tidak seimbang, batin Erland.


"Kamu mau tau caranya buat nasi yang benar?" tanya Erland dengan menghampiri Maura kembali.


Maura tampak ragu-ragu ia menganggukkan kepalanya. Ia juga harus tau kesalahan apa yang sudah ia perbuat tadi sampai nasi yang ia buat berubah menjadi bubur.


Erland yang melihat anggukan kepala dari Maura pun ia menggendong Maura dengan salah satu kakinya menendang-nendang kecil kursi yang sempat Maura duduki tadi. Sedangkan Maura yang terkejut karena dirinya di gendong kembali oleh Erland dan ingin protes, Erland lebih dulu bersuara.


"Kalau kamu jalan bisa menghabiskan waktu 15 menit jadi daripada waktuku terbuang sia-sia hanya untuk menunggu kamu sampai di dapur dengan berjalan kaki jadi lebih baik aku gendong, biar lebih cepat dan tidak memakan waktu banyak," ujar Erland. Dimana setelah ia mengucapkan perkataannya itu ia mendudukkan tubuh Maura di kursi yang ia tendang kecil tadi. Ia hadapkan istrinya itu di depan wastafel.


Sedangkan Erland, ia mulai mengambil alih wadah penanak nasi tersebut lalu mengambil dan menaruhnya di hadapan Maura.


"Nah setelahnya kamu cuci dulu beras ini dua atau tiga kali," ucap Erland dengan memberikan contoh kepada Maura. Maura yang sedari tadi memperhatikan pun sesekali perempuan itu menganggukkan kepalanya.


"Nah setelah beras ini bersih, kamu beri air yang seimbangan. Contohnya ini ya, kamu kan tadi tau kalau cuma ada satu cup beras disini maka kamu kasih airnya dua cup saja jangan lebih. Jadi hanya 1:2 saja." Erland kembali mempraktekkan cara menanak nasi yang benar.


"Dan kalau kamu mau memastikan jika airnya memang sudah pas atau belum kamu bisa gunakan ruas jari kamu."


"Ruas jari? Gimana?" tanya Maura tak paham. Dimana hal tersebut justru membuat Erland tersenyum.


"Jadi begini, taruh jari kamu ke permukaan beras nah pastikan jika air itu berada di satu ruas jari kamu, tidak boleh lebih," ujar Erland.


"Kamu mau mencobanya?" tawar Erland yang diangguki antusias oleh Maura.

__ADS_1


"Oke kalau gitu cobalah." Maura mulai mencelupkan jari telunjuknya ke dalam wadah penanak nasi tersebut dan mengikuti arahan yang dikatakan oleh Erland sebelumnya.


Maura tampak tersenyum senang kala air itu tepat di satu ruas jarinya.


"Lihat Er, airnya pas di satu ruas jariku," ucap Maura dengan mantap sekilas kearah Erland sebelum tatapan matanya itu kembali menatap takjub kearah tangannya yang masih berada di dalam wadah penanak nasi tersebut.


Erland yang gemas sendiri dengan tingkat Maura yang terlihat seperti anak kecil pun ia mengacak rambut Maura sembari berkata, "Itu artinya airnya sudah pas dengan beras tadi."


"Nah kalau sudah pas gini. Baru kita nanak nasinya." Erland mengambil wadah penanak nasi itu yang otomatis membuat Maura menjauhkan tangannya dari dalam wadah tersebut.


Sedangkan Erland, laki-laki itu berjalan menuju ke rice cooker.


"Kamu sudah bisa pakai alat ini kan?" tanya Erland.


"Ya. Hanya tinggal tekan saja kan biar lampu di sana berpindah ke tulisan cook?" Erland lagi-lagi tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya sebelum ia menekan tombol di rice cooker tersebut.


"Nah sekarang kita tinggal nunggu nasi itu matang," ujar Erland yang lagi-lagi berjalan mendekati Maura.


Dimana setelah ia berada di hadapan Maura yang sudah merubah posisi duduknya yang tadinya menghadap kearah wastafel kini perempuan itu membelakangi wastafel tersebut saat melihat Erland menaruh wadah tadi ke dalam rice cooker, Erland kini membungkukkan tubuhnya sampai wajahnya berhadapan dengan wajah istrinya itu. Kemudian ia berkata, "Jadi gimana? Apa sekarang kamu sudah paham cara menanak nasi yang benar, sayang?"


Maura yang kembali dibuat terkejut dengan aksi Erland tadi, jantungnya semakin dibuat berdegup kencang kala mendengar kata sayang keluar dari bibir laki-laki itu.


Bibir Maura yang tiba-tiba kaku dan lidahnya terasa sangat kelu pun ia hanya bisa menjawab pertanyaan dari Erland tadi dengan anggukkan kepala saja.


Dimana saat Erland melihat anggukkan kepala itu ia menegakkan kembali tubuhnya lalu dengan tangan yang mengacak rambut Maura, dia berkata, "Good girl."

__ADS_1


__ADS_2