PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 50


__ADS_3

Kedatangan Erland, membuat atensi Hazel teralih. Laki-laki yang tadi marah-marah karena sudah kalah dengan si pendatang baru pun ia kini menatap tajam kearah Erland dengan tangan yang bersedekap dada.


"Mau apa Lo kesini? Berharap gue kasih selamat ke Lo? Mimpi," ujar Hazel.


"Gue gak butuh ucapan selamat dari Lo. Tapi sepertinya gue yang harusnya kasih selamat ke Lo untuk kekalahan Lo hari ini. Dan selamat karena Lo hari ini juga harus melepas kuda besi Lo itu sesuai dengan janji yang sudah tertera dalam pengumuman tadi. Jadi gue disini selain kasih Lo selamat atas kekalahan Lo, gue juga mau ngambil apa yang sekarang sudah menjadi milik gue yaitu motor Lo itu," ujar Erland yang berhasil membuat Hazel mengeram kesal.


"Jangan jadi pengecut dengan Lo yang tidak menepati janji Lo itu. Gue juga tidak punya banyak waktu hanya untuk menunggu Lo untuk mengelak karena semua itu sudah ada bukti nyatanya," ucap Erland lagi kala ia melihat bibir Hazel yang bergerak. Ia sangat yakin lawannya itu ingin mengelak akan janji yang dia sendiri ucapkan.


Hazel mengepalkan tangannya kala ia melihat sebuah kertas yang dibawa oleh Odi. Dimana kertas itu adalah kertas pengumuman yang tersebar. Dimana janji Hazel tadi juga tertuang di dalam sana.


Hazel yang sudah tidak bisa mengelak pun dengan kasar ia mencabut kunci motornya itu lalu melemparnya kearah Erland yang tentunya lemparan itu berhasil Erland tangkap.


Erland tampak tersenyum dengan menatap kunci motor tersebut sebelum ia mengalihkan pandangannya kembali kearah Hazel. Namun sesaat setelahnya ia berjalan mendekati Hazel yang masih menatapnya dengan kobaran amarah yang terlihat jelas dimata laki-laki itu.

__ADS_1


Erland yang sudah berhadapan dengan Hazel, ia mencondongkan tubuhnya hingga saat kepalanya sudah berada disamping kepala Hazel, ia berucap, "Lo salah cari lawan Hazel. Gue bukan pembalap lain yang bisa Lo kalahkan dengan trik licik Lo itu. Luka yang Lo torehkan ke tubuh gue juga tidak ada efeknya sama sekali. Dan gue saranin ke Lo, jika Lo benar-benar pembalap sejati bukan pembalap pengecut hilangkan kebiasaan Lo untuk bermain licik seperti tadi. Jika kamu memang benar-benar jago dan pantas menjadi juara buktikan dengan skill yang Lo punya jangan jadi pengecut seperti tadi. Gue tunggu permainan terbaik Lo tanpa ada permainan licik seperti tadi suatu saat nanti."


Erland menepuk pundak Hazel sembari menjauhkan kepalanya dari samping kepala Hazel. Dan setelah dirinya mengatakan hal tadi, ia memutar tubuhnya lalu melempar kunci motor Hazel ke arah Odi.


"Bawa motor dia. Gue cabut dulu," ujar Erland lalu melangkah kakinya menuju ke arah motornya.


Semua teman Erland yang melihat pergerakan dari Erland pun mereka mengikuti Erland tak terkecuali dengan Odi yang sudah menaiki motor Hazel dan membawa motor itu mendekati Erland yang sudah siap untuk pergi.


"Tunggu dulu Er. Kalau Lo pergi, hadiah Lo gimana? Dan ini motor mau ditaruh mana?" tanya Odi.


Sedangkan teman-temannya yang sedari tadi berteriak dengan harapan agar Erland mendengarnya mereka saat ini tampak menghela nafas kasar.


"Kalau dia pulang dalam keadaan terluka seperti itu. Gue yakin dia gak bakal selamat dari amukan Mommy Della," ucap Septian.

__ADS_1


"Hmmm tapi kita juga bisa apa? Nyusul dan berusaha buat cegah Erland, gue rasa kita tidak bisa melakukannya. Erland sangat keras kepala orangnya. Orangtuanya aja selalu dibuat tepuk jidat karena ulahnya alias frustasi apalagi kita," timpal Galuh yang diangguki teman-temannya yang lain.


"Haishhh sudahlah daripada kita memikirkan Erland yang akan terkena amukan Mommy Della lebih baik kita langsung ambil hadiah dari pertandingan ini dan mencari panti asuhan atau panti jompo yang perlu kita bantu atau kalau tidak cari orang-orang yang memang sangat membutuhkan uang seperti yang diamanatkan oleh Erland tadi," ucap Hito.


"Ya sudah kalau gitu gue aja yang ambil hadiah itu. Dan setelahnya kita balik ke markas dulu, baru nanti kita bahas tempat mana yang memang benar-benar membutuhkan bantuan." Semua teman-temannya itu tampak menganggukkan kepalanya dimana hal tersebut membuat Odi kini berjalan menuju ke tenda panitia untuk mengambil hadiah setengah milyar yang berhasil di menangkan oleh Erland.


Dan seperti yang ia katakan tadi setelah ia mendapatkan hadiah itu, ia beserta teman-temannya menuju ke markas mereka untuk membahas lebih lanjut tentang amanat yang diberikan oleh Erland.


Sedangkan disisi lain, Erland kini telah sampai di sebuah gedung pencakar langit. Bukan, ia bukan tengah berada di perusahaan dirinya atau perusahaan manapun melainkan ia tengah berada di salah satu gedung apartemen dimana di gedung itu terdapat satu unit apartemen miliknya.


Ia memang tidak berniat kembali ke rumah itu malam ini dengan tujuan karena ia tak yakin jika dirinya bertemu dengan Maura lagi ia tak akan se-emosi tadi. Biarkan saja dirinya menyendiri terlebih dahulu untuk menenangkan dirinya sendiri. Karena terus terang saja dirinya benar-benar sangat lelah menghadapi tingkah laku Maura yang selalu membuat kepalanya ingin pecah saja.


Dirinya tadi pun juga tidak mampir terlebih dahulu ke markas untuk menukar motor yang ia pakai saat ini dengan mobilnya tadi. Biarkan saja lah mobil itu ia tinggal di markas karena ia sudah sangat bosan memakai mobil dan ingin kembali memakai motor seperti masa remajanya dulu.

__ADS_1


Dengan langkah lebarnya Erland menuju ke unit apartemennya kala pintu lift yang mengantar dirinya ke lantai 10 tadi terbuka. Dimana setelah ia menemukan unit apartemennya itu, ia langsung membuka pintu tersebut lalu segara masuk.


Erland kini menghempaskan bokongnya di salah satu sofa didalam apartemen tersebut dengan posisi tubuh yang ia sandarkan dan mata yang ia pejamkan, berharap beban pikirannya hilang untuk beberapa detik saja.


__ADS_2