PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 137


__ADS_3

Maura lagi-lagi berdecak melihat reaksi orang-orang yang melihat dirinya.


"Ck, Mama kenapa sih lihatin Maura seperti itu? Tutup lah Ma, mulut Mama itu. Takut nanti kemasukan lalat. Dan biasa saja lihatnya. Kayak gak pernah lihat Maura saja. Menyebalkan," ucap Maura yang berhasil menyadarkan Mama Dian dengan keterkejutannya tadi.


Tanpa menimpali ucapan dari Maura, wanita paruh baya tersebut berjalan mendekati Maura. Saat ia sudah berdiri tepat di hadapan sang putri, ia menangkup kedua pipi Maura, menengadahkan kepala anaknya itu agar ia bisa melihat detail wajah Maura yang tampak natural dan cantik. Makeup tebal yang dulu sering melekat di wajahnya sekarang tergantikan oleh makeup tipis yang justru semakin membuat wajah sang putri kelihatan cantik dan awet muda tidak seperti dulu yang terlihat seperti tante-tante kurang belaian.


"Kamu beneran Maura kan?" tanya Mama Dian masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Maura memutar bola matanya malas.


"Jika yang ada di hadapan Mama saat ini bukan Maura, lalu siapa? Mama lupa dengan anak Mama sendiri? Padahal kita hanya berpisah dua bulan lho dan Mama secepat itu melupakan wajah Maura? Ck, jahat sekali." Maura mengerucutkan bibirnya.


"Ck, Mama gak pernah lupa wajah anak Mama. Tapi kalau kamu beneran Maura kenapa sangat cantik sekali. Beda banget sama yang dulu."


"Memangnya yang dulu gimana? Gak cantik gitu?" tanya Maura penasaran penilaian Mamanya tentang dirinya yang dulu seperti apa. Walaupun ia tau kata apa yang akan Mamanya itu ucapankan kalau tidak...


"Dulu kamu hmmm cantik sih tapi lebih tepatnya kamu seperti badut dengan make up tebal kamu. Kelihatan tua dan seperti tante-tante girang." Ya begitulah penilaian Mamanya yang ternyata masih sama saja seperti dulu.


"Tapi ini beneran kan Maura?" Maura menghela nafas kala mendengar ucapan yang terus Mamanya itu katakan.


"Iya Mama iya! Ini Maura. Anak Mama," kesal Maura. Dimana ucapan dari Maura tersebut langsung di sambut dengan tubuh Mama Dian yang tiba-tiba menerjang tubuh Maura. Hingga membuat Maura memekik tertahan karena tubuhnya sampai terjengkang kebelakang dengan tubuh sang Mama yang sudah berada di atasnya.


Tak hanya Maura saja yang terkejut dengan aksi Mama Dian tadi. Erland pun juga tak kalah terkejut melihatnya. Namun keterkejutannya hanya sesaat saja sebelum Erland hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ternyata ibu mertuanya itu tak kalah pecicilannya dengan Maura.


"Astaga, Mama! Apa yang Mama lakukan? Minggir Ma, sesak nih. Maura gak bisa nafas," ucap Maura.


"Tidak. Tidak mau. Mama tidak mau melepaskan kamu. Mama kangen sama kamu tau. Jadi biarkan seperti ini dulu," tolak Mama Dian.

__ADS_1


"Kalau terus seperti ini yang ada Maura bisa mati nanti. Dan Mama apa tidak malu di lihatin sama menantu Mama tuh," ujar Maura yang berhasil membuat Mama Dian teringat jika yang datang ke rumahnya bukan hanya putrinya saja melainkan dengan Erland, menantunya.


Dengan cepat Mama Dian beranjak dari atas tubuh Maura. Ia tersenyum kearah Erland kala tatapan dirinya bertemu dengan tatapan Erland.


Erland, laki-laki itu membalas dengan senyuman sebelum ia ikut berdiri dari posisi duduknya kemudian mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan sang mertua.


"Apa kabar Ma?" ucap Erland sedikit basa-basi kepada Mama Dian.


Mama Dian tersenyum dan dengan memberikan usapan lembut di salah satu lengan Erland, kala Erland sudah menjauhkan kepalanya dari punggung tangan Mama Dian. Ia menjawab, "Mama baik-baik saja nak. Kamu sendiri bagaimana? Baik-baik saja kan? Mental kamu juga masih aman kan karena harus menghadapi Maura setiap hari yang ada saja tingkahnya bikin kepala pusing? Tapi kalau kamu mau menyerah sama Maura, Mama kasih izin kok ke kamu, jika kamu mau buang Maura ke laut."


Maura memelototkan matanya mendengar ucapan dari sang Mama.


"Heh enak saja Maura mau di buang ke laut. Perlu Mama tau ya, suami Maura ini memiliki kesabaran yang tidak ada batasannya, tidak seperti Mama sama Papa yang dikit-dikit marah-marah, kesabarannya setipis tisu. Jadi sudah bisa di pastikan kalau suami Maura aman terkendali entah itu fisik maupun mentalnya," ucap Maura tentunya membela dirinya sendiri.


Mama Dian melirik kearah Maura, "Mama tidak tanya sama kamu. Jadi diamlah karena menurut kamu dan menurut Erland itu beda."


Mama Dian tampak menghela nafas lega.


"Syukurlah kalau memang begitu. Oh ya kalian sudah sarapan? Kalau belum sarapan disini saja."


"Kita sudah sarapan tadi di rumah Ma. Dan maaf Erland tidak bisa lama-lama di sini. Erland harus berangkat bekerja sekarang. Udah telat soalnya. Erland pamit ya Ma," ucap Erland dengan meraih tangan Mama Dian untuk berpamitan.


"Yah padahal Mama pengen kamu tetap disini lho Er."


"Lain kali Erland nanti main kesini lagi sama Maura saat Erland libur bekerja. Erland titip Maura ya Ma. Maaf merepotkan," ujar Erland yang merasa tak enak hati dengan mertuanya itu. Walaupun Maura memang anak kandung Mama Dian tapi kan Maura sudah menjadi tanggungjawab Erland sepenuhnya jadi ia merasa segan jika Maura nanti jalan-jalan bersama mertuanya itu yang pasti nanti Maura akan dipaksa belanja oleh Mama Dian. Dan itu cukup merepotkan bagi Erland jika Mama Dian ingin membelikan apapun kemauan Maura dengan uang pribadi mertuanya itu.


Mama Dian tersenyum sangat lembut, "Maura itu anak Mama, Erland. Jadi kamu tidak merepotkan sama sekali. Hati-hati kalau kerja ya."

__ADS_1


Erland hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu Erland pamit ya Ma." Erland kembali bersalaman kepada Mama Dian, sebagai salam pamitnya sebelum tatapan Erland berpindah kearah Maura yang sudah berdiri disamping sang mertua.


"Sayang, aku berangkat dulu," pamit Erland yang membuat Maura langsung mengulurkan tangannya yang tentunya segera dibalas oleh Erland.


Untuk yang kesekian kalinya Mama Dian dibuat terkejut dengan perubahan Maura yang mau bersalaman bahkan mencium punggung tangan orang lain. Namun keterkejutannya itu berubah menjadi sebuah senyuman kala Mama Dian melihat Erland yang saat ini tengah mencium setiap inci wajah Maura tanpa rasa malu walaupun dirinya melakukannya di depan mata mertuanya secara langsung. Beda lagi dengan Maura yang wajahnya saat ini sudah merah seperti tomat.


"Aku berangkat dulu. Nanti sore aku jemput kamu disini. Have fun sayang. Assalamualaikum," pamit Erland dengan mengusap kepala Maura sebelum ia melemparkan senyuman kearah sang mertua. Lalu kemudian ia bergegas pergi dari ruang tamu itu.


Maura yang masih malu-malu ia sempatkan untuk berteriak, "Hati-hati dijalan sayang. Kalau sudah sampai jangan lupa kabarin aku."


Erland menolehkan kepalanya sesaat kearah Maura sebelum ia menganggukkan kepalanya untuk membalas ucapan dari istrinya itu. Kemudian setelahnya ia melanjutkan langkahnya kakinya hingga benar-benar menghilang dari balik pintu utama rumah tersebut.


Dimana kepergian dari Erland tadi membuat Mama Dian kini menyenggol-nyenggol lengan Edrea, "Duh aduh aduh pengantin baru sweet sekali sih. Cieee, Mama jadi iri nih."


"Ck, Mama apaan sih. Biasa aja kali," ucap Maura dengan sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya yang memerah itu.


"Biasa aja, tapi mukanya sampai merah kayak tomat. Tapi Mama beneran lho mau ngelakuin apa yang kamu lakukan dengan Erland tadi. Mama iri soalnya melihat ke romantis kalian." Mama Dian masih menggoda Maura yang membuat Maura mendengus kesal.


"Kalau Mama terus godain Maura, Maura mau pulang aja. Gak jadi pergi sama Mama." Maura hendak pergi dari hadapan sang ibunda. Namun lengannya langsung ditarik oleh Mama Dian sampai tubuh Maura masuk kedalam pelukan wanita paruh baya itu.


"Uluh uluh uluh udah punya suami tapi ngambekan ya. Maaf-maaf deh Mama gak akan godain kamu lagi. Dan lebih baik kita berangkat sekarang. Tapi tunggu sebentar, Mama mau ambil tas dulu. Jangan kemana-mana, apalagi berniat untuk pulang. Awas saja kalau kamu berani pulang," ujar Mama Dian.


"Kalau Mama gak godain Maura, Maura tidak akan pulang." Mama Dian menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu tunggu sebentar," ucap Mama Dian sebelum ia berlari menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas. Dimana hal tersebut membuat Maura menggeleng-gelengkan kepalanya. Memang sangat energik Mamanya itu diusia yang sudah terbilang tidak muda lagi. Saking energiknya anak tangga pun wanita paruh baya itu lalu dengan cara berlari. Benar-benar sangat menakjubkan.

__ADS_1


__ADS_2