PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 139


__ADS_3

"Permisi mbak," ucap Mama Rina kala dirinya sudah berada di samping salah satu karyawan butik.


Karyawan yang tadi sempat melayani pengunjung, ia mencari sumber suara hingga ia menemukan seorang wanita paruh baya yang tengah tersenyum kepadanya yang otomatis karyawan itu ikut tersenyum.


"Iya ada yang bisa saya bantu, nyonya? Mau cari apa?" tanyanya.


"Tidak. Saya hanya mau bertanya. Apa Vivian saat ini ada disini?"


"Oh Kak Vi ya. Beliau ada kok nyonya. Nyonya ada janji kah sama beliau?" Mama Rina menggelengkan kepalanya.


"Tidak sih mbak, saya tidak memiliki janji ke Vivian. Tapi apa boleh mbak panggilkan Vivian agar dia turun kebawah? Ada hal yang perlu saya sampaikan ke dia soalnya," ucap Mama Rina.


"Oh begitu ya. Kalau begitu nyonya tunggu dulu sebentar. Biar saya mencoba panggil Kak Vi dulu. Sebentar ya nyonya," ucap karyawan tersebut sangat sopan. Dimana ucapan dari karyawan itu dibalas dengan anggukan kepala oleh Mama Rina.


Karyawan yang melihat anggukan kepala tersebut, kini bergegas menuju ke lantai dua, dimana di lantai itu terdapat ruang kerja Vivian berada. Sedangkan Mama Rina, ia memilih untuk duduk disalah satu sofa yang berada di samping pintu masuk, menunggu karyawan itu kembali.


Tak berselang lama, karyawan tersebut sudah turun kembali dan mendekati dirinya.


"Maaf sebelumnya nyonya. Kak Vi saat ini masih meeting dengan salah satu kliennya. Dan kemungkinan 20 sampai 30 menit lagi meeting akan selesai. Jadi harap di tunggu ya nyonya," ujar karyawan itu.


"Oh sedang meeting ya. Baiklah saya akan menunggu Vivian sampai selesai meeting." Karyawan tersebut hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu saya permisi nyonya. Kalau ada sesuatu yang perlu saya bantu lagi, nyonya bisa mencari saya atau meminta bantuan ke karyawan lainnya."


"Baiklah. Terimakasih atas bantuan kamu tadi." Karyawan itu lagi-lagi hanya membalas anggukkan kepala sebelum dirinya pergi dari hadapan wanita paruh baya tersebut.


Dan setelah karyawan tadi pergi, Mama Rina beranjak dari tempat duduknya, mencari keberadaan Orla.


Ia tersenyum kala melihat putrinya yang masih sibuk memilih-milih dress untuknya.


"Hay sayang. Gimana? Apa kamu sudah menemukan dress yang pas untukmu?" tanya Mama Rina yang berhasil membuat Orla mengalihkan pandangannya kearah sang Mama.


Ia tersenyum, "Tentu saja. Tapi Orla bingung Ma, harus pilih yang mana. Menurut Mama dari dua dress ini mana yang paling bagus." Orla mengangkat dua dress yang sedari tadi berada di tangannya. Memperlihatkan keindahan dress tersebut kepada sang Mama.



__ADS_1


Mama Rina menatap kedua dress tersebut. Menimbang-nimbang apakah dua dress yang menjadi pilihan putrinya itu sudah pas untuk acara lamaran nanti.


"Hmmm Mama pikir-pikir, dua dress yang kamu pilih ini tidak cocok untuk acara lamaran sore nanti. Terlalu terbuka soalnya," ucap Mama Rina memberikan penilaian untuk kedua dress tersebut.


"Yahh gak cocok ya Ma?" Mama Rina menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu mana dong yang cocok untuk Orla," ujar Orla.


"Coba kamu pilih gaun saja. Akan terlihat sopan soalnya kalau kamu memakai gaun dengan potongan kain panjang yang menutup kaki jenjangmu untuk acara nanti sore," ucap Mama Rina yang diangguki oleh Orla. Kemudian setelahnya Orla segara menuju ke deretan gaun panjang yang tak kalah cantik dengan model dress pendek tadi.


Orla langsung memilih gaun disana. Namun ia tak kunjung menemukan gaun yang memikat matanya.


Dan detik-detik Orla ingin menyerah, matanya tak sengaja melihat satu gaun yang langsung membuatnya terpana akan keindahan dari gaun tersebut. Ia bergegas mendekati gaun tersebut namun belum juga sampai, gaun itu sudah di ambil oleh seorang perempuan yang membuat dirinya ingin sekali mendekati perempuan itu dan merebut gaun tersebut. Namun ia ingat jika saat ini ia harus menjaga sikapnya, jika tidak mau calon Kakak iparnya nanti ilfil terlebih dahulu kepadanya. Hingga dengan perasaan dongkol dan mengepalkan kedua tangan, ia memutar tubuhnya, berjalan mendekati sang Mama yang tengah fokus memilih pakaian.


Gaun yang di inginkan Orla tapi sudah di ambil oleh orang lain ⬇️



Mama Rina yang menyadari kehadiran sang putri, ia menolehkan kepalanya dengan kerutan di keningnya.


"Ada apa? Kenapa wajah kamu murung seperti itu?" tanya Mama Rina penasaran.


"Yang sabar ya. Tahan rasa kesalmu itu. Dan lebih baik kamu segera memilih dress atau gaun yang lain. Selagi menunggu Vivian selesai meeting dan menemui kita nanti," ujar Mama Rina.


"Vivian ada disini?" Mama Rina menganggukkan kepalanya.


"Dan kata salah satu karyawan yang Mama tanyai tadi, meeting Vivian akan selesai 20 sampai 30 menit lagi. Jadi buruan gih cari gaun atau dress yang bagus. Terus nanti kamu coba terlebih dahulu sebelum kamu perlihatkan ke Vivian seberapa cantiknya diri kamu memakai pakaian hasil rancangan dia," ujar Mama Rina dengan mencoba untuk mengembalikan mood baik putrinya.


Rasa kesal Orla seakan melebur dan menghilang hingga senyuman di bibirnya kembali ia perlihatkan. Dengan anggukan kepala, Orla kembali mencari pakaian yang sekiranya cocok untuknya.


Sedangkan disisi lain, tepatnya di ruang ganti masih didalam butik yang sama, Maura mencoba beberapa gaun yang ia pilih tadi. Ia selalu memotret penampilannya ketika memakai gaun ataupun dress yang ia pilih itu melalui pantulan kaca di ruang ganti tersebut. Tentunya ia akan mengirim foto-foto itu kepada suaminya untuk memberikan penilaian tentang kecocokan pakaian tersebut dengan dirinya. Seperti sekarang ini contohnya, ia sudah mencoba 3 gaun tapi tidak ada satupun gaun yang cocok di mata Erland. Entah itu terlalu terbuka lah, bahunya ataupun belahan dadanya kelihatan dan masih banyak lagi alasan yang diberikan oleh Erland jika suaminya itu tidak suka dengan gaun pilihannya.


Hingga sisa dua gaun lagi yang belum ia coba. Maura segara mengganti gaun yang ke-empat dengan harapan semoga gaun itu di setujui oleh Erland.


Maura kembali mengirimkan fotonya saat mengenakan gaun ke-empat, gaun yang sama seperti yang di inginkan oleh Orla. Ya, orang yang lebih dulu mengambil gaun itu adalah Maura.


Hingga tak berselang lama, notifikasi di ponsel Maura berbunyi yang menandakan jika ada sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Tentunya pesan itu dari Erland.

__ADS_1


📨 : My beloved husband ❤️


"Gaun itu sangat cantik di tubuh kamu, sayang. Tapi alangkah baiknya kamu memilih pakaian yang bagian dadanya tidak menerawang seperti itu."


Maura menghela nafas, sudah ia tebak pasti Erland tidak setuju dengan pilihan ke-empatnya itu. Hingga mau tak mau, ia harus melepas gaun yang menurutnya cantik itu tanpa melawan perintah dari sang suami.


Dan dengan memakai pakaian yang kelimanya, Maura berucap, "Kalau sampai gaun ini tetap tidak disukai oleh Erland. Lebih baik aku nanti dari sini langsung beli gamis saja sekalian. Huh."


Maura kembali memfoto penampilan dirinya.


📨 To : My beloved husband ❤️


"Ini yang terakhir!"



Seperti sebelumnya, setelah ia mengirimkan pesan kepada Erland, ia menunggu pesan tersebut hingga...


Ting!


Maura bergegas melihat isi pesan itu yang membuat senyum di bibirnya terbit kala membaca pesan dari Erland.


📨 : My beloved husband ❤️


"Perfect. Kamu sangat cantik dan anggun secara bersamaan sayang. Aku sangat menyukai gaun itu. Dan katakan terimakasih ke Mama ya karena sudah membelikan kamu gaun seindah ini."


Dengan gerakan tangan yang lincah, Maura membalas pesan dari Erland yang berisi.


📨 To : My beloved husband ❤️


"Nanti aku sampaikan kata terimakasih kamu ke Mama nanti. Terimakasih atas pujiannya sayang dan semangat bekerja. Aku tunggu kamu pulang. Love you ❤️"


^^^"Your welcome baby. Love you too❤️"^^^


Setelah melihat balasan dari Erland, Maura dengan cepat berganti pakaian kembali. Dan setelah selesai ia membawa gaun-gaun yang tak jadi ia beli tadi kemudian menaruhnya ke tempat semula. Dimana pergerakan dari Maura itu membuat Orla yang sedari tadi cemberut karena masih saja tak ada gaun yang ia inginkan, matanya langsung berbinar kala gaun incarannya telah kembali di taruh ke tempat semula. Dan tanpa mengulur waktu lagi, takut jika gaun itu kembali di ambil oleh perempuan lain, Orla berlari menghampiri gaun tersebut. Senyum merekah ia perlihatkan kala gaun incarannya sudah berada di genggaman tangannya.


Sembari mengelus gaun tersebut, Orla berucap, "Aku sangat yakin jika Erland nanti akan terpesona dengan penampilanku saat mengenakan gaun ini. Tunggu aku nanti sore Erland. Aku pastikan kamu tidak akan kecewa dengan penampilanku."

__ADS_1


Dan setelah mengucapakan perkataannya tadi, Orla bergegas menuju ke ruang ganti tentunya untuk mencoba gaun tersebut sebelum ia perlihatkan kepada Mama Rina dan tentunya ke calon Kakak iparnya juga. Pasti Kakak iparnya akan setuju juga jika ia memilih gaun tersebut untuk acara nanti malam. Huh, membayangkan saja sudah bikin hati Orla berbunga-bunga bagaimana kalau sampai kejadian, pasti ia sangat bahagia.


__ADS_2