
Ucapan dari Maura tadi membuat Dokter Leli langsung menatap kearah Erland. Ia sangat yakin jika laki-laki itu tak mengetahui hal ini, alias Maura melakukannya secara diam-diam. Terbukti juga saat Erland tau jika Maura tengah hamil, respon yang di berikan benar-benar mencerminkan seseorang yang sudah menunggu kabar itu dari lama, bukan respon negatif seperti laki-laki lain yang tak menginginkan hadirnya sang buah hati.
Erland yang sadar jika dirinya tengah di tatap oleh Dokter Leli pun, ia kini berkata, "Aku ke kamar mandi dulu. Permisi Dok."
Setelah mengatakan hal tadi tanpa menunggu jawaban dari dua perempuan tersebut, Erland bergegas keluar dari dalam bilik pemeriksaan tersebut sekaligus keluar dari dalam ruang kerja Dokter Leli.
Kepergian dari Erland tadi tentu saja tak lepas dari tatapan mata Maura. Ia akui jika dirinya salah telah melakukan hal tersebut tapikan tidak sepenuhnya salah dirinya juga. Jika saja Erland dari dulu mengatakan jika dirinya merupakan salah satu keturunan Abhivandya yang tidak kekurangan uang, Maura tidak akan melakukannya. Karena balik lagi, semua yang ia lakukan itu karena ia tak mau membebani Erland yang dulu mengaku hanya bekerja sebagai seorang sopir saja yang pada saat itu keuangan mereka hanya bisa digunakan untuk biaya hidup mereka berdua. Jadi terpaksa Maura melakukan KB tanpa sepengetahuan Erland.
Keterdiaman Maura tersadarkan kala ia merasakan elusan di lengannya. Dan tentunya Dokter Leli lah yang melakukannya.
"Semuanya sudah terlanjur, tidak ada waktu yang bisa di putar kembali. Tapi hanya ada satu cara agar semuanya kembali seperti semula yaitu memperbaiki hal yang salah dan tidak mengulanginya lagi. Untuk masalah kandungan nyonya, untuk saat ini masih baik-baik saja. Dan saya sarankan agar Nyonya stop mengkonsumsi pil KB lagi jika nyonya tidak mau menyakiti bayi nyonya. KB memang tidak terlalu bahaya buat janin, tapi tetap saja bisa berpotensi menggugurkan janin yang saat ini di kandungan Nyonya. Kalau tidak, mungkin nanti akan berdampak pada perkembangan janin yang tentunya Nyonya malah menyakiti janin Nyonya. Mungkin saat ini Nyonya belum menerima janin ini tapi saya benar-benar mohon ke nyonya untuk menjaganya, jangan sakiti dia karena ada banyak orang yang menginginkan hadirnya seorang anak selama bertahun-tahun namun tidak kunjung juga diberi momongan. Jadi nyonya yang terpilih oleh sang maha kuasa untuk di percaya menjaga ciptaannya, bersyukurlah karena tidak semua orang seberuntung Nyonya. Saya disini juga akan membantu Nyonya untuk memantau perkembangan janin yang ada di kandungan Nyonya setiap bulannya," ujar Dokter Leli yang entah kenapa ia merasa sakit jika melihat ada seorang ibu yang tak menginginkan janinnya sama seperti Maura saat ini.
Dokter Leli merogoh saku jas dokternya untuk mengambil kartu nama miliknya kemudian ia menyodorkan kartu nama itu ke hadapan Maura yang sedari tadi sudah mendudukkan tubuhnya.
"Ini kartu nama saya, disana ada nomor ponsel saya. Jika saat di rumah terjadi sesuatu dengan kandungan nyonya atau keluhan lainnya segera hubungi saya," sambung Dokter Leli.
Maura menatap sekilas kearah kartu nama tersebut sebelum tangannya bergerak, mengambil kartu nama itu dari tangan Dokter Leli.
"Kalau begitu kita keluar sekarang. Saya akan kasih resep vitamin dan obat-obatan lainnya yang perlu Nyonya minum. Mari saya bantu," ujar Dokter Leli. Kemudian setelahnya ia membantu Maura untuk turun dari brankar yang ia duduki tadi. Lalu keduanya keluar dari bilik pemeriksaan tersebut.
Maura mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Erland yang ternyata tak ada di ruangan itu. Bahkan saat ia melihat kearah kamar mandi, pintu kamar mandi di ruangan tersebut terbuka yang menandakan tidak ada orang di dalam kamar mandi itu. Jadi mungkin pamitnya Erland ke kamar mandi tadi hanya alasan saja.
Maura menghela nafas sebelum dirinya mendudukkan tubuhnya di hadapan Dokter Leli yang tengah sibuk menulis resep obat di sebuah kertas dihadapannya.
Maura yang tak ingin menggangu pun ia diam saja sampai Dokter Leli menegakkan kembali kepalanya, tanda jika Dokter perempuan itu sudah selesai mencatat.
Dokter Leli mendorong kertas yang berisi resep obat itu sampai di hadapan Maura.
"Semua obat-obat yang sudah saya tulis disitu silahkan nyonya ambil di ruang obat ya. Dan kita jadwalkan untuk pertemuan kedua kita di tanggal yang sama seperti sekarang, untuk waktunya, terserah nyonya saja," ujar Dokter Leli dengan senyum yang kembali terbit di bibirnya.
Maura menganggukkan kepalanya.
"Baik Dok. Tapi untuk pemeriksaan tadi berapa ya biayanya?" tanya Maura.
Dokter Leli semakin tersenyum kala mendengar pertanyaan dari Maura.
__ADS_1
"Nyonya merupakan adik ipar dari pemilik rumah sakit ini. Jadi sudah di pastikan jika Nyonya tidak perlu membayarnya lagi." Maura lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Ia sudah tidak terkejut lagi dengan fakta tersebut, karena saat ia dulu pernah curiga kepada Erland sebelum semuanya terbongkar, ia sempat membaca beberapa artikel yang membahas keluarga Abhivandya yang ia akui sangat hebat itu.
"Kalau begitu saya permisi Dok dan terimakasih," pamit Maura dengan berdiri dari posisi duduknya, tak lupa ia juga menyodorkan tangannya ke arah Dokter Leli yang langsung di sambut oleh Dokter perempuan tersebut yang saat ini juga tengah berdiri.
"Membantu Nyonya untuk memeriksa kandungan adalah kewajiban saya. Jadi tidak perlu berterimakasih, saya hanya ingin Nyonya merenungkan apa yang saya katakan sebelumnya tadi. Tolong jaga janin itu dan sayangi dia," tutur Dokter Leli yang benar-benar tak ingin Maura berbuat macam-macam.
Maura tersenyum sangat tipis kemudian ia menganggukkan kepalanya. Sebelum ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Dokter Leli.
"Saya permisi. Mari Dok," pamit Maura yang dibalas anggukan saja oleh Dokter Leli. Tapi tak urung Dokter perempuan yang masih terlihat sangat cantik itu walaupun umurnya sudah kepala tiga, terus menatap kepergian Maura sampai tubuh Maura menghilang bersamaan dengan pintu ruangan Dokter Leli tertutup kembali.
Dokter Leli menghela nafas panjang dan dengan kasar ia mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.
"Andaikan perempuan yang tidak menginginkan seorang keturunan itu merasakan sekitnya kehilangan rahim atau mandul yang mengakibatkan mereka tidak bisa hamil, padahal dia sangat menginginkannya. Aku yakin mereka pasti akan menjaga janin-janin mereka dan tidak akan ada lagi pembuangan bayi atau aborsi. Ya Tuhan sadarkan orang-orang yang sudah lalai itu. Dan yakinkan lah mereka jika hadirnya seorang buah hati merupakan anugerah terbesar untuk mereka, aamiin," ucap Dokter Leli dengan menengadahkan wajahnya keatas, berdoa untuk kesadaran perempuan-perempuan di luar sana yang sudah bertindak keji. Ia juga berharap agar Maura tidak melakukan hal yang sama seperti perempuan-perempuan keji itu.
Disisi lain, Maura berjalan dengan sesekali melihat kearah kanan kirinya, berusaha untuk mencari keberadaan Erland yang entah suaminya itu saat ini berada dimana.
"Ck, itu orang kemana sih? Main pergi gitu aja. Katanya mau ke kamar mandi, tapi kenapa tadi tidak ada di dalam kamar mandi di ruang kerja Dokter Leli. Tidak mungkin kan jika dia ke kamar mandi lain, kalau iya, kurang kerajaan sekali," gumam Maura masih dengan melihat-lihat kearah sekitarnya.
"Tapi aku yakin dia tadi hanya alasan saja karena mungkin dia marah atas tindakanku yang diam-diam dibelakangnya," sambungnya.
Dengan nafas ngos-ngosan, Maura akhirnya sampai di tempat parkir, mata Maura menatap satu persatu deretan mobil disana sampai akhirnya ia menemukan mobil Erland yang ternyata masih disana. Jadi sudah di pastikan jika suaminya itu masih berada di sekitar rumah sakit ini.
Maura membalikkan tubuhnya, menghadap kearah rumah sakit besar tersebut dengan helaan nafas berat.
"Rumah sakit ini terlalu besar jika aku mencari keberadaan Erland di sekitar sini. Huh, ya sudah lah biar aku menunggu dia di loby saja nanti. Dan aku sekarang harus menebus obat-obatan ini dulu," tutur Maura dengan menatap kertas yang ada di tangannya. Lalu ia kembali melangkahkan kakinya memasuki area rumah sakit tersebut, mencari keberadaan ruang obat yang dimaksud oleh Dokter Leli tadi. Dan sekitar 30 menit ia mencarinya akhirnya ia menemukan tempat tersebut. Namun sayangnya ia harus antri terlebih dahulu.
Saat Maura tengah mengantri obat, dari kejauhan terlihat ada seorang perempuan paruh yang tadi tak sengaja melihatnya kini tengah tersenyum misterius kearah Maura setelah dirinya melihat ke sekitarnya, mencari keberadaan Erland yang ternyata tak bersama dengan Maura.
"Ini sudah saatnya aku menekan dan menggerakkan kamu, Maura. Dan ini saat yang pas karena Erland tidak bersama denganmu," kata perempuan itu yang tak lain adalah Mama Rina.
Lalu setelah mengatakan hal tersebut, Mama Rina bergegas mendekati Maura. Dan saat dirinya sudah berada di samping Maura, ia langsung mencekal lengan Maura. Tentunya Maura langsung menolehkan kepalanya kearah samping. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat perempuan yang sama persis seperti perempuan kemarin yang mendatangi rumahnya.
Saat Maura ingin memberontak agar cekalan di lengannya terlepas, Mama Rina sudah lebih dulu menariknya secara paksa tapi sebelumnya ia sempat berucap, "Ikut saya"
Maura yang sudah telanjur di tarik oleh Mama Rina menjauhi tempat antri obat tadi, ia hanya bisa pasrah saja. Toh dia juga penasaran apa yang akan di katakan oleh perempuan itu. Tentunya Maura saat ini tidak akan takut dan tidak akan terlihat lemah seperti kemarin di depan perempuan paruh baya itu. Ia akan melawannya jika memang sampai perempuan paruh baya tersebut bersikap kasar kepadanya.
__ADS_1
Maura terus mengikuti langkah kaki Mama Rina tanpa berusaha melepaskan cengkraman di lengannya sampai akhirnya mereka telah sampai di ruang jenazah yang sangat jauh dari keramaian itu. Dan saat itulah tangan Maura baru di lepas oleh Mama Rina.
"Maksud kamu apa?" Maura yang tengah mengelus lengannya yang tampak memerah akibat tarikan tadi pun, ia kini menatap kearah Mama Rina dengan kerutan di keningnya. Ia benar-benar tak paham arah dari perkataan Mama Rina itu.
"Apa sih Tan? Saya tidak paham maksud ucapan Tante itu. Tolong to the point karena saya tidak memiliki waktu banyak untuk bercengkrama dengan Tante," ujar Maura yang justru membuat Mama Rina tersulut emosi.
Dan dengan mengepalkan tangannya Mama Rina berucap, "Apa kamu bodoh hah? Sampai kamu tidak paham maksud dari ucapan saya yang kemarin?! Saya sudah katakan ke kamu untuk menceraikan Erland karena dia sudah memiliki tunangan! Apa kamu memang berniat untuk menjadi pelakor? Atau memang ini watak kamu yang sebenarnya, perusak hubungan orang lain? Sebegitu tidak laku kah kamu sampai harus merebut tunangan orang lain, hah? sampai kamu melakukan hal menjijikan ini?!"
Ucapan dari Mama Rina itu tentunya memancing emosi Maura. Enak saja dirinya dikatain pelakor yang merusak hubungan orang lain. Mana Mama Rina tadi juga mengatakan kalau dia tidak laku lagi. Heh, perlu Mama Rina tau saja, banyak laki-laki di luar sana yang tengah mengantri untuk mendapatkan dirinya. Jadi dari segimana Maura tidak laku? Tapi Maura harus tetap tenang, ia akan membalas Mama Rina dengan cara anggun. Namun tak urung Maura tetap menggerutu didalam hati, "Kemarin bilangnya baru perjodohan saja sekarang bilangnya sudah bertunangan. Huh dasar pembohong kurang profesional dan udah lilin ya gini nih. Menghancurkan rencana dia sendiri dengan kepikunan itu."
Hanya dengan gerutuan di dalam hatinya membuat Maura ingin sekali tertawa terbahak-bahak ke lawan bicaranya saat ini. Tapi untungnya Maura bisa menahan tawanya itu. Ia memilih mendatarkan wajahnya dengan tangan yang ia silangkan kedepan dada. Kemudian ia berkata, "Ada bukti kah kalau Erland sudah memiliki tunangan dan tunangannya itu adalah putri kamu? Setidaknya foto pertunangan mereka lah. Jadi mana sini aku lihat."
Maura menyodorkan tangannya di hadapan Mama Rina.
Mama Rina tampak terdiam, belum apa-apa saja dia sudah merasa terpojokkan oleh Maura.
"Sa---saya tidak sendang membawa ponsel saya. Semua foto pertunangan mereka ada di ponsel," jawab Mama Rina yang tentunya berbohong.
Maura tampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau begitu katakan tanggal berapa mereka bertunangan?" tanya Maura lagi.
Mama Rina kembali terdiam. Ia bingung harus menjawab tanggal dan tahun berapa karena pernikahan Erland dan Maura ini jauh dari berita publik, tanggal dan tahun pernikahan mereka pun juga tidak di ketahui kapannya. Jadi takutnya Mama Rina malah menjawab di tanggal dan tahun yang lebih muda dari usia pernikahan Maura dan Erland.
"Kok diam saja sih? Ayo jawab dong," desak Maura.
Mama Rina semakin mengepalkan tangannya. Dan tanpa rasa takut sedikitpun, ia menjawab, "Saya lupa. Toh tidak penting juga kamu tau tanggal pertunangan Erland dan putriku."
Maura yang mendengar jawaban dari Mama Rina pun ia tersenyum miring, kemudian ia melangkahkan kakinya semakin mendekati tubuh Mama Rina yang tak bergerak sama sekali dan malah menatapnya dengan tatapan permusuhan.
Dan mungkin hanya berjarak satu jengkal saja, Maura menatap lekat wajah Mama Dian sebelum ia berkata, "Tentu saja tanggal pertunangan itu harus aku ketahui karena akan menjadi salah satu bukti, apakah aku memang seorang pelakor atau---"
Maura senagaja menggantung ucapannya, ia sekarang malah mencondongkan tubuhnya sampai kepalanya kini berada tepat disamping telinga Mama Rina.
"Atau justru putrimu lah pelakor sesungguhnya? Ahhh tidak hanya putri kamu saja yang menjadi pelakor tapi kamu juga karena kamu berniat menghancurkan rumah tanggaku dengan Erland," ujar Maura kemudian setelahnya ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Mama Rina yang saat ini wajah perempuan itu sudah merah padam, menandakan jika emosinya sebentar lagi akan meledak.
__ADS_1