PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 23


__ADS_3

Erland baru kembali ke rumah barunya setelah dirinya tadi pergi ke kantornya karena ada urusan penting yang harus segara ia selesaikan sekaligus ia tadi menyempatkan diri untuk berbelanja bahan makanan. Dimana saat mobil yang ia kendarai ingin masuk kedalam area rumahnya itu, keningnya di buat berkerut kala ia merasakan ada hal aneh yang baru saja mobilnya itu lintasi.


"Perasaan di antara pintu gerbang tidak ada polisi tidur. Tapi kenapa aku tadi ngerasa kalau mobil ini habis melintasi sebuah gundukan mana rasanya hanya sebelah saja," gumam Erland heran sembari mematikan mesin mobilnya.


Dan untuk menjawab rasa penasarannya, Erland yang sudah turun dari dalam mobilnya kini bergegas menuju ke arah pintu gerbang. Ia di buat heran dengan benda yang kini ia lihat.


"Kok ada pecahan mangkuk disini? Apa jangan-jangan mangkuk ini lah penyebab aku ngerasa melewati gundukan tadi? Haishhhh siapa juga sih yang sudah naruh mangkuk di tengah jalan gini kayak gak ada kerjaan lain apa?" gerutu Erland dengan membersihkan pecahan mangkuk itu dan segera membuangnya ke tempat sampah tanpa menaruh curiga sedikitpun kepada Maura, si pelaku yang menaruh mangkuk sembarangan tersebut.


Setelah dirasa di tengah gerbang itu sudah tidak ada pecahan mangkuk lagi, Erland bergegas menuju ke mobilnya kembali untuk mengambil barang belanjaannya tadi dan segera masuk kedalam rumah.


Hal pertama yang ia rasakan saat masuk kedalam rumah tersebut yaitu sunyi, seperti tak berpenghuni. Dimana hal itu hanya mendapat respon gedikkan bahu oleh Erland. Kemudian laki-laki itu bergegas untuk menaruh barang belanjaannya tadi diatas meja makan, tanpa berniat untuk menata barang-barang itu. Erland kini bergegas masuk kedalam kamarnya, merebahkan tubuhnya untuk segara mengistirahatkan tubuhnya yang terasa sangat melelahkan itu.


...****************...


Dipagi harinya, Erland lebih dulu bangun dari tidur nyenyaknya. Dan dengan pakaian rapi namun terlihat santai ia keluar dari dalam kamarnya. Ia mendengus kala melirik ke kamar Maura yang masih tertutup rapat. Erland yakin jika perempuan yang sialnya adalah istrinya itu belum bangun dari tidur nyenyaknya.


"Punya istri kayak gak punya istri," gumam Erland sembari berjalan menuju ke arah dapur. Ia berniat memasak sarapan untuknya sendiri. Ingat, untuknya sendiri tanpa berniat untuk membuatkan Maura sekalian karena ia tak peduli dengan istrinya yang manja itu, mau makan apa kek, mau kelaparan kek, Erland benar-benar tidak peduli. Siapa suruh manja, pikir Erland.


Ditengah-tengah aksi memasaknya, Erland di kejutkan dengan suara gedoran pintu utama rumah tersebut.

__ADS_1


"Siapa orang yang sudah tidak sopan menggedor rumah orang lain seperti itu?!" tanya Erland marah. Setelah ia mematikan kompornya, Erland bergegas menuju ke pintu utama tersebut dan segera membuka pintu itu. Dimana saat pintu terbuka lebar, ia bisa melihat ada seorang laki-laki yang mungkin seumuran dengan Abang pertamanya kini tengah menatap dirinya dengan tatapan garang sembari berkacak pinggang.


Erland yang tak tau maksud dan tujuan laki-laki itu datang ke rumahnya dengan tak sopan, ia kini bertanya.


"Maaf anda siapa ya? Kenapa masih pagi-pagi seperti ini sudah datang ke rumah saya dengan tidak sopan seperti tadi. Anda tau apa yang anda lakukan tadi benar-benar sangat mengganggu ketenangan saya selaku pemilik rumah ini," ucap Erland.


"Saya tidak peduli mau saya menggangu ketenangan kamu karena ini lah tujuan saya kesini biar kamu tidak tenang dan segera membayar hutang kamu." Erland mengerutkan keningnya. Apa dia tadi tidak salah dengar? Hutang? Sejak kapan dia memiliki hutang dengan laki-laki di hadapannya saat ini? Dia saja baru melihatnya pagi ini.


"Hutang? Yang benar saja, kita baru bertemu pagi ini mana bisa saya sudah berhutang dengan anda. Jangan jadi orang penipu ya anda karena perlu anda tau, anda salah sasaran jika mau menipu saya," ucap Erland dengan menunjuk laki-laki di hadapannya itu dengan centong sayur, persis seperti emak-emak.


"Heyyy jangan asal menuduh ya. Saya tidak pernah melakukan penipuan. Jadi jaga ucapanmu. Lagian nama kamu, Erland kan? Suami dari Maura?" tanya laki-laki itu yang membuat Erland kini memincingkan satu alisnya. Darimana laki-laki itu tau nama dirinya, statusnya juga nama perempuan itu? batin Erland bertanya-tanya. Atau jangan-jangan...


Pertanyaan dari Erland tadi langsung mendapat anggukan kepala oleh laki-laki tersebut.


"Ya, dia yang memiliki hutang itu. Dan kata dia, saya harus menagihnya dengan suaminya. Saya yakin suaminya yang bernama Erland itu kamu. Iya kan?" Erland mendengus kasar setelah dugaannya tadi benar. Namun tak urung ia menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari laki-laki tersebut.


"Memang benar saya suami Maura. Tapi untuk hutang piutang yang terjadi diantara kalian lebih baik selesaikan sendiri jangan menyeret saya dalam masalah kalian berdua. Kalau pun Maura mengatakan saya akan membayar hutangnya, saya tetap tidak akan membayarnya karena itu merupakan tanggungjawab dia jadi biarkan dia sendiri yang membayarnya. Dan lebih baik anda sekarang masuk dulu, saya akan panggilkan Maura agar kalian menyelesaikan urusan hutang piutang itu saat ini juga. Tapi ingat saya tidak akan ikut campur masalah kalian," ucap Erland dengan suara yang sudah tidak segarang tadi. Ia juga benar-benar tidak mau ikut campur dengan masalah Maura yang dengan kurang ajarnya perempuan itu limpahkan ke dirinya.


Dan setelah mengucapkan perkataannya tadi, Erland membuka pintu rumahnya agar laki-laki yang tak lain adalah penjual bakso itu masuk kedalam.

__ADS_1


Erland kini berjalan dengan langkah lebar menuju ke kamar Maura. Dan dengan tak santainya, Erland menggedor pintu kamar perempuan itu.


Brak Brak Brakkk!!!


"Maura! Bangun!" teriak Erland menggelegar memenuhi rumah tersebut. Ia tak peduli jika ada sepasang mata yang menatapnya ngeri.


"Hanya masalah hutang yang tidak seberapa saja, tatapan dan aksi laki-laki itu sangat menakutkan," batin penjual bakso itu.


"Maura!" teriakan itu kembali terdengar sampai di dalam kamar Maura yang membuat perempuan yang tadinya tengah menelusupkan kepalanya di bawah bantal karena terganggu dengan aksi Erland itu, akhirnya ia kini menyingkirkan bantal tersebut.


"Anjing! Laki-laki sialan!" umpat Maura yang tak terima acara tidurnya terganggu. Namun tak urung, ia kini turun dari atas ranjang. Dengan langkah yang penuh dengan emosi dan kedua tangannya yang terkepal, Maura mendekati pintu kamarnya dan ia membuka pintu itu dengan kasar.


"Mau apa sih?! Berisik banget jadi orang? Gak tau apa kalau aku lagi tidur! Hah!" Semprot Maura tepat di depan wajah Erland.


Erland yang sudah cukup kesal dan tak ingin menjadikan paginya yang sudah mulai hancur ini semakin hancur lagi, ia menarik lengan Maura menuju ke ruang tamu.


"Selesaikan masalahmu baik-baik. Jangan menyangkut pautkan aku di dalam masalahmu!" ucap Erland penuh dengan penekanan sembari melepaskan celananya tadi dari lengan Maura dengan kasar setelah mereka sampai di ruang tamu. Dimana hal itu membuat Maura meringis kesakitan. Tapi Erland mana peduli, laki-laki itu setelah mengucapakan hal seperti tadi, ia justru bergegas menuju ke dapur kembali.


Sedangkan Maura, ia mengumpati Erland dengan menatap punggung laki-laki itu. Sebelum akhirnya ia menolehkan kepala kearah belakang dimana tepat disana, ia bisa melihat seseorang yang tengah duduk dengan mantap dirinya. Maura yang melihat tatapan tak bersahabat dari penjual bakso itu, ia kini memperlihatkan cengiran di bibirnya itu dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

__ADS_1


__ADS_2