
📞 : "Sayang, hey kamu masih ada disana kan?" Ucap Maura dengan sesekali ia memeriksa layar ponselnya yang masih menunjukkan jika sambungan telepon mereka berdua masih terhubung. Namun anehnya, tidak ada suara Erland yang menimpali ucapannya tadi.
Erland yang mendengar ucapan dari Maura tadi matanya mengerjab, tanda ia tersadar dari keterdiamannya.
"Iya sayang. Aku masih disini."
📞 : "Syukurlah kalau masih disitu. Jadi gimana kamu setuju kan dengan rencanaku tadi?" tanya Maura. Walaupun ia sangat ingin melakukan ide yang sudah berada di kepalanya itu tetap saja ia akan meminta izin kepada suaminya terlebih dahulu. Kalau Erland tidak mengizinkan maka dengan berat hati Maura juga tidak akan melakukannya. Karena ia sadar ridho suami itu penting untuk dirinya saat ini.
"Tidak bisa kah kamu duduk manis saja di rumah?" tanya Erland dengan suara lembutnya.
📞 : "Mungkin kalau kamu tanya hal itu dengan Maura versi yang masih manja dan masih mementingkan egonya dulu, aku pasti jawab tentu saja akan memilih duduk manis seperti yang kamu perintahkan. Tapi aku sekarang bukanlah Maura yang dulu, sayang. Ya walaupun masih manja sih, tapi beneran sayang, aku mau mencoba untuk memulai usaha. Biar aku ada kegiatan juga di rumah. Jenuh tau kalau di rumah hanya nonton tv, main hp gitu aja terus. Boleh ya sayang. Please. Nanti kalau aku sudah bisa membuat kue kering dan sudah mulai mempromosikan tapi tidak ada juga yang mau beli, aku berhenti deh. Ya sayang ya. Boleh ya," rengek Maura yang membuat Erland hanya bisa menghela nafas panjang.
"Baiklah kalau begitu aku kasih izin. Tapi saat kamu belajar nanti tunggu aku saat di rumah saja dan kalau kamu mau mulai usaha, coba lewat online saja dengan cara Pre-order biar kue yang akan kamu jual nanti tetap fresh dan kamu juga tidak akan rugi nantinya. Karena jika kamu membuat kue itu terlebih dahulu sebelum ada yang mau membeli, takutnya mubasir nanti. Kamu paham kan sayang?" tutur Erland pada akhirnya memilih untuk mengalah saja.
Sedangkan Maura yang berada di sebrang telepon tampak mengangguk excited.
📞 : "Iya aku paham. Aku akan melakukan apa yang sudah kamu katakan tadi. Dan terimakasih sayang sudah memberikan izin ke aku untuk mencoba usaha. Jadi tambah sayang kalau begini," ucap Maura diakhiri dengan kekehan kecil.
Erland yang mendengar kekehan itu otomatis membuat dirinya juga tersenyum. Hingga...
__ADS_1
Tok tok tok!
"Permisi Pak!" ketukan pintu sebelum pintu itu terbuka dan seseorang yang berada di balik pintu tadi berucap, membuat Erland mendelik kemudian dengan secepat kilat ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara dengan menatap tajam orang yang sudah lancang masuk sebelum ia persilahkan terlebih dahulu.
Orang yang baru saja masuk dan ingin mengatakan sesuatu kepada Erland, bibirnya kembali terkatup kala melihat tatapan tajam yang bosnya itu berikan kepadanya. Dan jangan tanya lagi siapa orang yang sudah lancang itu jika bukan Afif. Bahkan Afif dengan meninggalkan sebuah cengiran di bibirnya, ia melangkah kakinya mundur kembali hingga saat ia sudah keluar dari ruangan Erland, ia menutup kembali pintu tersebut dengan bergidik ngeri. Dirinya lebih baik memilih untuk menunggu Erland nanti memanggilnya saja daripada ia kembali mengetuk seperti tadi karena di lihat-lihat dari ekspresi yang di perlihatkan oleh Erland, laki-laki itu tengah sibuk dengan seseorang yang tengah bercengkrama dengannya melalui telepon. Dan mungkin yang menelepon itu adalah salah satu kliennya yang ada di luar negeri dan mereka tengah membicarakan masalah proyek mereka. Makanya Erland tampak garang seperti tadi. Jadi daripada Afif nanti menjadi tumbal pelampiasan amarah sang bos, ia memilih menuju ke ruangannya sendiri saja.
Sedangkan Erland yang melihat pintu itu sudah di tutup pun ia tampak memejamkan matanya. Hanya sesaat saja sebelum suara Maura yang ada di sebrang mengalun indah masuk kedalam indra pendengarannya.
📞 : "Sayang, kamu sedang berada dimana?" tanya Maura yang tampaknya curiga dengan apa yang barusan terjadi tadi. Suara pintu di ketuk tiga kali sebelum terdengar suara seseorang yang sangat asing bagi Maura. Mana orang itu memanggil dengan sebutan Pak lagi. Terkesan jika Erland saat ini tengah berada di satu ruangan khusus untuk seorang atasan. Kan gara-gara hal itu Maura saat ini jadi bertanya-tanya.
"Aku? Tentu saja aku tengah bekerja, sayang. Tapi saat ini aku tengah berada di kantor bos aku. Di dalam ruangan beliau. Aku tadi sempat di suruh nganterin tuan muda yang akan mengambil alih perusahaan untuk sementara waktu saat bosku ke luar negeri. Tapi kata tuan muda, aku gak boleh keluar dari ruangannya, katanya dia takut sendiri karena tidak terbiasa dengan orang asing. Maklum saja tuan mudaku ini anak rumahan," ujar Erland dengan mengatakan kalimatnya yang terakhir dengan cara berisik, seolah-olah memang ada orang lain yang berada di satu ruangan dengannya. Dan tentunya ucapan Erland tadi sepenuhnya bohong besar.
"Heem. Udah dulu ya sayang. Nanti lagi. Gak enak juga kita teleponan kayak gini lama-lama saat aku ada di satu ruangan dengan tuan muda. Bye sayang. See you nanti sore. Love you. Assalamualaikum," tutur Erland berpamitan.
📞 : "Love you too. Waalaikumsalam."
Balasan Maura tadi merupakan akhir dari sambungan telepon dari sepasang suami istri itu.
Dimana Erland langsung menghela nafas lega karena ia rasa setelah dirinya memberikan alasan tadi, Maura tetap percaya dan tak mencurigai dirinya.
__ADS_1
"Huh, kalau sampai Maura tadi gak percaya sama apa yang aku katakan, entah apa yang akan aku lakukan. Aku memang ingin mengatakan yang sebenarnya tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat. Dan ini semua gara-gara Afif," kata Erland kemudian ia meraih telefon yang tergeletak di sisi meja kerjanya, menekan tombol dari telepon tersebut yang menghubungkan langsung ke ruang kerja Afif.
"Keruangan saya sekarang!" perintah Erland kala dirinya merasa jika sambungan tersebut sudah terhubung.
Tak berselang lama setelah Erland melayangkan perintahnya dan memutus sambungan telepon, suara ketukan pintu terdengar.
Tok tok tok!
"Masuk!"
Afif yang mendengar perintah dari Erland, ia mendorong pintu di hadapannya dan saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Erland yang masih terlihat tajam itu, lagi dan lagi ia memperlihatkan cengiran bodohnya itu. Namun tak urung dengan perasaan takut-takut ia mendekati Erland yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari sang sekretaris.
Yakinlah tatapan mata Erland membuat Afif risih.
"Pak, jangan lihatin saya begitu Pak. Takutnya bapak khilaf dan suka sama saya. Kalau bapak suka sama saya kan jadi ribet nanti urusannya karena saya masih normal," tutur Afif.
Erland memutar bola matanya dengan malas.
"Saya juga masih normal. Kalaupun saya sudah belok arah, saya juga tidak mau jika harus suka sama kamu karena kamu terlalu lembek untuk saya. Dan lebih baik segara katakan to the point hal apa yang membuat kamu harus bersikap tidak sopan, masuk kedalam ruangan atasan kamu sebelum di izinkan," balas Erland yang cukup membuat hati Afif sedikit tercubit. Apa lagi saat Erland mengatakan jika dirinya lembek. Bosnya pikir dirinya ini jelly apa, pakai lembek segala. Padahal dirinya cukup kuat walaupun memang tidak sekuat Erland. Tapi kalau hanya membunuh semut saja ia bisa. Ck, bosnya itu memang menyebalkan. Tapi tak urung Afif menyodorkan beberapa dokumen ke hadapan Erland tanpa melontarkan sepatah katapun. Toh Erland juga akan paham apa yang akan laki-laki itu kerjakan tanpa Afif memberitahunya terlebih dahulu.
__ADS_1