PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 104


__ADS_3

Tak berselang lama, suara ketukan pintu terdengar.


"Er, kayaknya itu yang nganter pesanan kita deh. Lepas dulu ya pelukannya aku mau kesana, ambil makanan," ucap Maura.


Erland yang sebenarnya tadi sudah tertidur pun ia harus terbangun lagi kala merasakan elusan di lengannya dan mendengar suara Maura.


"Emmmm birain aja," ucap Erland yang membuat mata Maura melotot sempurna.


"Kok biarin sih Er. Kasihan orang yang nganter itu pasti nungguin didepan," ujar Maura.


"Kalau dia tidak mau menunggu ya sudah biarkan dia pergi saja."


"Kalau dia pergi makanan kita gimana?"


"Tinggal ditaruh di depan pintu apa susahnya," balas Erland tak mau kalah.


"Memangnya kamu sudah membayar makanan itu?" Erland menggelengkan kepalanya.


"Nah kan kamu saja belum membayarnya. Jadi tidak mungkin orang itu akan menaruh makanan kita begitu saja yang ada dia nanti rugi lah. Kasihan juga dia, Erland. Dia pagi-pagi sudah kerja untuk menghidupi keluarganya lho ini. Masak kita tega biarin dia bawa makanan yang sudah dia bawa jauh-jauh kesini kembali sih. Dan kita juga bisa dianggap sebagai penipu sama dia. Satu lagi kamu bisa membuat dia sedih setelah kamu buat dia bahagia karena sebentar lagi dia akan mendapatkan uang dari orderan kita tadi. Ayolah lah Er, aku mohon," ujar Maura yang sudah tidak tau lagi harus membujuk Erland dengan cara apa lagi jika dengan ucapannya tadi tak bisa membuat suaminya itu luluh.


Erland tampak terdiam sesaat, namun bukan karena dirinya kembali tidur melainkan ia tengah memikirkan ucapan dari Maura tadi.


"Er, ayolah." Erland masih terdiam, tak membalas ucapan dari Maura.


"Ck, sayang. Aku mohon lepas dulu sebentar," ujar Maura dimana ucapannya itu membuat Erland yang tadi menutup matanya, mata itu kini terbuka kembali dengan senyuman merekah. Jangan tanya kenapa Erland tersenyum sekarang, tentunya hanya gara-gara Maura memanggil dirinya dengan sebutan sayang.


"Baiklah-baiklah aku akan melepaskanmu tapi dengan satu syarat," ucap Erland. Dan tanpa berpikir panjang Maura menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Syaratnya apa? Jangan yang sulit dan jangan membuang waktu yang lama. Kasihan orang itu."

__ADS_1


"Gak akan sulit dan tidak akan lama kok kamu tenang saja."


"Kalau begitu katakan sekarang juga," ujar Maura.


Lagi dan lagi Erland tersenyum sebelum dirinya berucap, "Syaratnya kamu harus kiss aku dulu."


"Kalau begitu lepas dulu pelukanmu. Kalau kamu tidak melepasnya gimana aku bisa cium kamu," ujar Maura.


"Tapi kamu tidak akan kabur kan?" tanya Erland was-was takut Maura tak menepati syarat yang telah ia berikan tadi.


"Tidak akan. Cepat sayang!" erang Maura yang sudah sangat kasihan dengan seseorang yang mengantar pesanan makanan mereka yang sedari tadi mengetuk pintu sembari berkata, "Permisi."


Erland yang mendengar suara Maura yang sedikit naik pun ia melepaskan pelukan Maura. Dimana hal tersebut membuat Maura bisa bernafas lega.


"Udah aku lepas kan pelukannya kalau begitu kissnya mana," pinta Erland padahal Maura tengah membenarkan posisi pakaian dan mengikat rambutnya secara asal.


Erland yang melihat hal tersebut pun ia menutup matanya. Dan saat dirinya ingin memiringkan wajahnya, untuk mempermudah Maura mencium pipinya. Kepalanya justru ditahan oleh kedua tangan Maura. Hingga ciuman yang Erland kira tadi akan mendarat di pipinya, justru mendarat di bibirnya. Dimana hal tersebut otomatis membuat mata Erland terbuka sempurna.


Cukup lama Maura menempelkan bibirnya ke bibir sang suami sebelum akhirnya ciuman itu selesai dan ia segara turun dari atas ranjang tersebut kemudian berlari keluar dari kamar sang suami sembari menyembunyikan senyum merah di wajahnya.


Sedangkan Erland yang mendapat ciuman tak terduga dan si pelaku sudah kabur, tangannya yang bergetar itu bergerak menuju ke bibirnya, menyentuh bibir itu dengan lembut.


"Astaga, apa aku tadi dicium oleh Maura di sini? Apa itu kenyataan? Aku sedang tidak bermimpi kan?" gumam Erland dan untuk memastikan semuanya, Erland menampar pipinya sendiri cukup keras.


"Sakit," ucap Erland sembari mengelus pipinya itu.


"Tapi tunggu dulu kalau aku ngerasain sakit berarti aku tidak sedang bermimpi kan sekarang. Ya Tuhan berarti tadi kenyataan dong. Huwaaaa Mommy akhirnya Maura mau cium Erland. Biasanya Erland yang mencuri ciuman dari Maura. Huwaaaa Erland sangat bahagia," ucap Erland dengan menelusupkan wajahnya di balik bantal yang saat ini berada di atas kepalanya, untuk meredam suara jeritannya itu. Bahkan kakinya saat ini ia hentak-hentakkan, sungguh Erland saat ini terlihat seperti keponakan twinsnya kala si twins mendapatkan mainan baru.

__ADS_1


Sedangkan Maura, perempuan itu memegang pipinya yang memanas sembari berjalan menuju ke pintu utama rumah tersebut. Saat dirinya telah sampai didepan pintu, ia berdehem sesaat untuk merubah raut wajahnya yang tak kalah bahagia dari Erland menjadi raut wajah yang biasanya.


Tangan Maura kini bergerak untuk memutar kenop pintu tersebut. Dimana hal tersebut membuat si pengantar makanan tadi yang berniat ingin mengetuk pintu untuk yang kesekian kalian, tangannya terhenti di udara kala pintu itu sudah terbuka dan memunculkan seorang perempuan.


"Maaf Pak lama. Habis mandi soalnya hehehe," ucap Maura dengan memperlihatkan deretan gigi rapinya itu dan tentunya ucapannya itu merupakan sebuah kebohongan besar. Lagian tidak mungkin kan kalau ia bilang telat bukain pintu hanya gara-gara sang suami tidak melepaskan pelukannya. Maura tidak gila untuk mengucapakan hal romantis dari hubungan rumah tangganya kepada orang lain apalagi orang itu tak ia kenal.


Sang pengantar makanan itu tampak menganggukkan kepalanya.


"Pantas saja, lama buka pintunya." Maura lagi-lagi hanya bisa menampilkan cengirannya saja sebelum dirinya kembali angkat suara, "Kalau begitu totalnya berapa ya pak?"


"Totalnya semua 40 ribu," kata pengantar makanan tadi.


Maura tampak menganggukkan kepalanya sembari tangannya merogoh saku celana tidurnya, mencari uang disana. Namun setelah ia cari-cari ia tak menemukan serupiah pun uang didalam sakunya. Dimana hal tersebut membuat Maura menepuk keningnya sendiri kala ia ingat jika dirinya keluar dari dalam kamar tadi tidak membawa uang sedikitpun.


"Pak, bisa tunggu sebentar kan? Saya lupa ambil uang tadi." Si pengantar makanan itu hanya bisa menghela nafas lelah namun tak urung ia menganggukkan kepalanya. Untung dia orang yang diberikan kesabaran seluas samudera jadi ia hanya bisa diam dan pasrah saja bukan marah-marah ke konsumennya.


"Maaf ya Pak. Saya hanya sebentar kok," ujar Maura sebelum ia berlari menuju ke kamar Erland untuk mengambil uang yang ada di dompetnya, kebetulan dompet serta barang-barangnya sudah ia pindahkan semuanya ke kamar sang suami karena dirinya sudah memantapkan diri untuk menepati permintaan Erland waktu itu jika dirinya harus tidur satu ranjang dan satu kamar dengan Erland.


Maura dengan kasar membuka pintu kamar Erland dimana hal tersebut membuat Erland yang tadi sempat melupakan rasa bahagianya terhenti dan bantal yang menutup matanya ia buka.


"Cari apa?" tanya Erland saat melihat Maura sepertinya tengah mencari sesuatu di kamar tersebut. Ia pun juga sudah membenarkan posisi tubuhnya yang tadi tiduran menjadi duduk dan bersandar di kepala ranjang.


"Cari dompetku. Perasaan aku kemarin naruh disini," ujar Maura.


"Mungkin jatuh sayang. Sudahlah jangan cari dompetmu. Nanti saja carinya. Dan lebih baik kamu pakai uang yang kemarin aku tinggalkan untukmu, nih." Erland menyodorkan beberapa uang yang terbungkus kertas berwarna coklat itu kearah Maura.


Maura menatap bungkusan uang yang sedari kemarin tak ia sentuh itu sebelum tangannya bergerak untuk mengambil bungkusan uang itu lalu tanpa melihat isi didalamnya, Maura mengambil satu lembar uang senilai seratus itu dari dalam kertas tersebut. Lalu setelahnya ia mengembalikan bungkusan uang tersebut kepada Erland.

__ADS_1


Dimana setelah bungkusan uang itu diterima oleh Erland, Maura lagi-lagi berlari keluar dari dalam kamar tersebut tanpa menutup kembali pintunya. Hal tersebut membuat Erland menggelengkan kepalanya dengan senyum yang terpatri di bibirnya.


__ADS_2