PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 103


__ADS_3

Pagi harinya, Maura terbangun lebih dulu daripada Erland. Perempuan itu tampak menguap sesaat sebelum matanya mengerjab-ngerjab perlahan hingga mata itu kini terbuka sempurna. Dimana saat matanya itu sudah terbuka sempurna, ia baru bisa melihat jika dihadapannya saat ini ada tubuh seseorang yang membuat dirinya memelototkan matanya. Tapi saat dirinya ingin berteriak bahkan ingin mendorong tubuh laki-laki dihadapannya yang belum ia sadari jika tubuh itu milik sang suami, laki-laki itu justru mengeratkan pelukannya sembari berucap, "Jangan bergerak sayang dan jangan berteriak. Aku masih mengantuk dan lebih baik kita lanjut tidur saja."


Suara serak-serak basah khas orang tidur itu masuk kedalam indra pendengaran Maura. Dan dengan mata yang sudah berkaca-kaca Maura menengadahkan kepalanya, melihat siapa orang yang sudah berani-beraninya meniduri dirinya. Suaminya saja belum pernah, masak iya harus keduluan sama orang lain. Namun saat Maura sudah menengadahkan kepalanya, ia menghela nafas lega saat melihat wajah Erland lah yang terpampang jelas di matanya. Tapi tunggu dulu, kenapa Erland bisa tidur disini? Bukannya laki-laki itu saat ini tengah berada di kota lain untuk menjalankan tugas Daddy Aiden? Dan kalau dia sudah pulang, kapan dia pulangnya, jam berapa? Kenapa Maura tidak mendengar ada orang yang memasuki rumah ini tadi malam? Apakah tidurnya senyenyak itu sampai-sampai ia tak menyadari kepulangan Erland? Dan satu lagi bukannya Erland bilang kalau mau pergi beberapa hari tapi baru juga sehari laki-laki itu sudah berada di rumah kembali? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang sekarang tengah memutar di otak Maura. Namun dibalik banyaknya pertanyaan-pertanyaan itu yang membuat Maura sangat penasaran, Maura juga bersyukur setidaknya Erland kembali dengan waktu cepat dan dalam keadaan baik-baik saja tanpa luka sedikitpun.


Dimana hal tersebut membuat bibir Maura tak terasa tersungging ke atas, membuat sebuah senyuman yang sangat-sangat indah.


"Jangan senyum-senyum sayang. Aku tidak mau terkena penyakit diabetes karena lihat kamu tersenyum terus seperti ini," ucap Erland yang membuat Maura langsung melunturkan senyumannya dengan kerutan dikening perempuan itu yang saat ini terlihat.


"Tunggu dulu. Bukannya mata kamu sekarang tengah tertutup. Jadi darimana kamu bisa tau kalau aku tadi senyum?" Tanya Maura penasaran. Ya kali, Erland memiliki mata lainnya yang tak terlihat.


Namun ucapan dari Maura itu membuat Erland justru tersenyum kemudian matanya kini ia bukan, lalu ia menundukkan kepalanya agar bisa bertatapan langsung dengan mata sang istri.


"Karena aku melihat dari hatiku," ucap Erland yang membuat Maura memutar bola matanya malas.


"Gombal. Siapa yang ngajarin kamu menggombal begitu coba hmmm?" tanya Maura yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Erland.


"Kata siapa aku gombal. Orang aku mengatakan yang sebenarnya."


Maura hanya bisa menghela nafas, sepertinya ia harus mengalah untuk kali ini karena masih ada pertanyaan yang lebih penting dari topik pembicaraan mereka tadi.

__ADS_1


"Tadi pulang jam berapa? Dan katanya kamu mau pergi beberapa hari karena perjalanan yang kamu tempuh cukup jauh, tapi baru juga sehari kamu sudah kembali. Kamu jadikan menjalankan tugas Daddy Aiden tadi?" tanya Maura dengan tangan yang refleks bergerak menyentuh pipi Erland. Ia bisa melihat wajah lelah sang suami.


Erland yang mendapat sentuhan tak biasa dari sang istri pun ia tersenyum. Tangan kirinya yang tadi ia taruh diatas pinggang Maura, ikut bergerak hingga menyentuh tangan Maura yang tengah mengusap-usap lembut pipinya itu.


Tapi tak urung Erland juga menjawab, "Sekitar pukul setengah 2 aku baru sampai rumah. Kamu tenang saja, tugas Daddy sudah aku selesaikan. Dan aku kan seorang pembalap jadi waktu yang harusnya di habiskan beberapa hari, biasa aku taklukan hanya sehari saja," ujar Erland.


"Astaga kamu ini ya. Lain kali jangan ngebut-ngebut saat berkendara itu sangat berbahaya. Dan apa katamu tadi, kamu batu sampai jam setengah dua?" Erland menganggukkan kepalanya.


"Berarti kamu baru tidur 4 jam dong?" tanya Maura yang dibalas dengan gedikkan bahu oleh Erland.


"Ya ampun, kalau begitu kamu tidur lagi," ucap Maura dan saat dirinya ingin bergerak menjauh dari tubuh Erland, pergerakannya kalah cepat dari pergerakan sang suami yang sudah melingkarkan tangannya di pinggangnya kembali.


"Aku mau mandi Er dan aku juga mau beres-beres rumah sekaligus mau pesan makanan lewat online buat kita sarapan berdua nanti. Karena aku yakin kamu seharian kemarin belum makan kan?" tanya Maura yang tepat sasaran. Karena memang Erland belum makan seharian kemarin mengingat banyaknya masalah yang menerpa dirinya sehingga makan pun ia tak enak sekaligus tidak sempat.


"Jadi lepasin aku ya. Aku mau siap-siap supaya semuanya selesai lebih awal," pinta Maura yang dibalas gelengan kepala oleh Erland bahkan laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya hingga tubuh mereka berdua saling menempel lagi dan wajah Erland sudah di tenggelamkan di ceruk leher Maura.


Dimana hal tersebut membuat bulu kuduk Maura berdiri kala nafas Erland menerpa lehernya.


"Tidak mau. Kamu harus menemaniku tidur. Jangan melakukan apapun untuk hari ini termasuk mandi, lagian kamu masih wangi," ujar Erland yang benar-benar tak ingin melepaskan sang istri sedikitpun dari dekapannya. Ia sangat ingin bermanja dengan Maura hari ini.

__ADS_1


Maura yang mendengar permintaan dari sang suami, ia melebarkan matanya. Yang benar saja ia tak boleh melakukan apapun hari ini. Ia juga manusia biasa kali yang bisa merasakan lapar dan ia tak ingin mati kelaparan. Jadi sebisa mungkin Maura akan berusaha untuk membujuk Erland agar suaminya melepaskan dirinya.


"Er, ayolah kita ini juga butuh makan dan minum lho. Masak iya kamu tidak memperbolehkan aku untuk melakukan dua hal itu. Kamu mau lihat istri kamu kelaparan?" Dengan cepat Erland menggelengkan kepalanya. Ia tidak gila jika harus membiarkan istrinya itu kelaparan.


"Nah kan kamu saja juga tidak mau kalau aku sampai kelaparan. Jadi lepasin dulu sebentar ya. Kalau aku tidak kamu perbolehkan untuk mandi dan bersih-bersih rumah tidak masalah tapi aku harus memesan makan dulu untuk kita. Lepasin oke, hanya sebentar saja kok gak lama," pinta Maura masih berusaha membujuk sang suami.


"Hanya memesan makanan kan?" Maura menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu pesan dari atas ranjang ini saja tanpa kamu harus beranjak dari sini," ujar Erland. Dan dengan menyilangkan kakinya di tubuh Maura, menggantikan tangannya yang tadi ia gunakan untuk memeluk tubuh sang istri yang kini tangan itu bergerak untuk mengambil ponselnya diatas nakas.


Sedangkan Maura, ia hanya bisa pasrah saja mendapat perlakuan manja dari sang suami. Untung Maura sayang dengan Erland jika tidak mungkin ia sudah meninju wajah tampan suaminya itu.


Erland yang sudah mengambil ponselnya, jari jemarinya itu bergerak lincah menuju ke aplikasi pemesanan makanan online.


"Kamu mau apa?" tanya Erland kepada sang istri yang hanya diam saja sedari tadi.


"Bubur ayam saja," jawab Maura yang diangguki oleh Erland.


Erland memesan apa yang ia inginkan dan memesan makanan untuk Maura. Dimana setelah ia selesai melakukan pemesanan, ia menaruh kembali ponselnya ke tempat sebelumnya lalu setelahnya ia memeluk kembali tubuh sang istri, menjadikan tubuh istrinya itu sebagai guling untuknya. Maura pun yang sudah benar-benar pasrah, ia hanya diam saja dijadikan guling oleh sang suami yang saat ini sudah memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


__ADS_2