PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 178


__ADS_3

Kembali lagi dengan sepasang suami-istri yang saat ini tengah bermanja-manja satu sama lain. Posisi mereka saat ini, Maura tengah tiduran dengan paha Erland sebagai bantalannya tak lupa Erland terus mengelus rambut kesayangannya itu.


Maura yang merasakan usapan lembut pun ia menikmatinya dengan menutup kedua matanya. Sebelum akhirnya ia tersadar, ia tadi seperti melihat sesuatu yang di pegang oleh Erland saat laki-laki itu datang tadi. Hingga Maura kini membuka matanya, melihat kearah meja tepat di sampingnya yang tak ada kantong plastik satupun disana. Lalu kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Erland.


"Sayang," panggilnya yang tentunya membuat Erland menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah cantik sang istri.


"Kenapa hmmm?"


"Begini. Aku tadi sepertinya lihat kamu bawa sesuatu ke sini, benarkan? Atau aku hanya salah lihat saja tadi?" tanya Maura benar-benar penasaran isi di dalam satu kantong plastik itu.


Erland tanpa mengerutkan keningnya, sampai ia membelalakkan matanya dan dengan menepuk keningnya sendiri, Erland berkata, "Astagfirullah. Aku lupa."


"Lupa? Lupa apa?" tanya Maura tak paham.


"Aku lupa sama apa yang aku bawa tadi padahal barang itu dari Mama buat kamu. Jadi kamu duduk dulu ya disini. Aku mau cari barang itu dulu. Sepertinya aku tidak sengaja menjatuhkannya di depan kamar ini," ujar Erland yang langsung di turuti oleh Maura. Maura langsung mendudukkan tubuhnya sehingga Erland bergegas berdiri dan dengan sedikit berlari ia menuju keluar kamar tersebut.


Maura hanya melihat kepergian Erland, hingga laki-laki itu kembali dengan satu kantong plastik yang tadi sempat ia lihat.


"Huh untung saja masih ada. Kalau sampai ada orang yang menemukan barang ini dan langsung membuangnya, aku tidak tau Mama akan semarah apa denganku," ujar Erland sembari mendudukkan tubuhnya di samping Maura. Kemudian tangannya bergerak menyerahkan satu kantong plastik tadi ke hadapan Maura, "Nih ambil."


Tak menunggu waktu lama, Maura langsung mengambil satu kantong plastik tersebut sembari berkata, "Apa isinya?"


"Buka saja sendiri sayang. Kamu nanti akan tau sendiri isinya," balas Erland yang diangguki oleh Maura.


Tangan Maura bergerak untuk melihat isi di dalam kantong plastik tersebut.


Salah satu alis Maura terangkat kala dirinya sudah melihat isi kantong yang katanya dari sang ibunda.


"Kok testpack isinya? Mana banyak banget lagi. Buat apa coba?" tanya Maura tak habis pikir. Padahal sudah jelas-jelas ia tadi melakukan pengetesan dengan benda itu tapi hasilnya negatif, Erland pun juga melihat dengan mata kepalanya sendiri. Harusnya suaminya itu memberitahu Mama Dian tentang dirinya yang sedang tidak hamil dan malah melakukan apa yang di minta oleh mertuanya.

__ADS_1


Dari tatapan mata penuh intimidasi yang di pancarkan Maura, Erland bisa menebak isi pikiran sang istri yang pastinya sudah berisi hal-hal negatif tentang dirinya.


Erland tanpa menghela nafas sesaat sebelum ia angkat suara, "Jika kamu tanya kenapa Mama memberi kamu alat itu, jawabannya karena Mama curiga kalau kamu saat ini tengah hamil. Dan kamu jangan menuduhku hanya langsung menurut saja, aku tadi sudah menceritakan tentang kamu yang tadi sempat testpack dan mengatakan hasilnya juga. Tapi Mama tetap tidak percaya. Kata beliau dia harus memastikannya sendiri. Jadi karena aku tidak enak jika harus menolak permintaan Mama, alhasil aku turuti saja. Toh biar rasa curiga Mama terjawab juga sayang."


Erland mengulurkan tangannya untuk membelai lembut rambut Maura yang saat ini tengah menatapnya dengan lekat sebelum helaan nafas terdengar.


"Tapi kalau hasilnya sama seperti tadi gimana?" tanya Maura. Ia benar-benar takut jika orang-orang yang ia sayangi itu akan kecewa seperti Erland tadi.


Erland tersenyum menimpali ucapan dari Maura tadi.


"Jika hasilnya memang tetap negatif, tidak apa-apa. Aku yakin Mama juga tidak akan kecewa. Toh mungkin belum saatnya juga kita memiliki buah hati dan di percaya Allah untuk menjaga seorang keturunan kita. Tapi jika kamu tidak mau memiliki seorang anak dariku, aku memakluminya. Aku tidak akan memaksa keinginan kamu itu dan aku akan menuruti kemauan kamu. Karena aku sadar, saat aku menginginkan seorang keturunan, aku harus menitipkannya terlihat dahulu ke rahimmu yang artinya kamu akan merasakan ngidam, beratnya mengandung, rasa sakit melahirkan dan masih banyak lagi, itu semua kamu yang merasakannya dan karena itu aku tidak akan memaksa kamu untuk menuruti keinginanku ini. Kamu berhak menolak memiliki anak karena kamu nantinya yang akan merasakan semuanya bukan aku," ujar Erland tanpa melunturkan senyumannya sedikitpun walaupun tentu saja mengucapakan kata-kata yang keluar dari bibirnya tadi sangat-sangat berat dan cukup menyesakkan baginya tapi balik lagi ia tidak boleh egois, ia harus memikirkan perasaan Maura juga.


Maura yang mendengar ucapan dari Erland, ia tertegun. Dirinya merasa jika Erland bukan lah laki-laki sembarangan, pasalnya suaminya itu bisa membaca isi hati dan pikirannya.


Keterbengongan Maura tak luput dari tatapan mata Erland sehingga tangan Erland yang sedari tadi mengelus rambut istrinya berpindah ke hidung Maura, mencubit dan menarik hidung mancung itu dengan pelan sampai akhirnya Maura tersadar dari lamunannya.


"Kok ngalamun sih? Kenapa hmmm? Kamu mikirin apa?" tanya Erland yang dibalas gelengan kepala oleh Erland.


Untuk sesaat tak ada percakapan diantara pasangan suami istri itu. Keduanya tengah sibuk dengan isi pikiran masing-masing.


Sampai Erland kembali angkat suara, "Jadi gimana? Kamu mau kan melakukan testpack untuk membuktikan kecurigaan Mama?" Maura menolehkan kepala kearah Erland.


Dan untuk yang kesekian kalinya ia menghela nafas panjang sebelum ia menganggukkan kepalanya.


"Aku akan melakukannya. Tapi nanti pagi saja. Karena sekarang aku lagi mau menagih janji kamu tadi yang mau melakukan apapun yang akan mau," ujar Maura.


"Kamu mau memulainya sekarang?" tanya Erland yang diangguki antusias oleh Maura. Ke-antusiasan Maura tadi membuat Erland gemas, ingin sekali ia menerkam istrinya itu saat ini juga. Tapi ia harus menahannya karena tidak mau Maura nanti ngambek dengannya karena ia melakukan hubungan suami-istri terlebih dahulu sebelum melaksanakan keinginan Maura.


"Ya sudah kalau begitu katakan, kamu mau menyuruhku melakukan apa?" tanya Erland yang membuat mata Maura berbinar.

__ADS_1


"Aku mau kamu sekarang pergi untuk membelikan aku rujak es krim sekarang juga." Erland mengerutkan keningnya.


"Rujak es krim?" Maura menganggukkan kepalanya.


"Yang benar saja sayang. Ini sudah malam lho. Dan mana ada orang yang jual rujak es krim malam-malam gini?" ucap Erland yang membuat Maura mengerucutkan bibirnya.


"Kamu pergi aja belum, udah bilang kalau gak ada yang jual. Kalau gak mau memenuhi hukuman kamu ini, bilang!" ujar Maura yang kembali marah dengan Erland.


Erland bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sebelum dirinya berkata, "Baiklah-baiklah, aku akan mencarikan apa yang kamu mau malam ini juga. Aku pergi dulu. Dan kalau aku nanti belum kembali di jam 10 malam, jangan menungguku sampai pulang, lebih baik kamu tidur saja. Nanti kalau aku sudah pulang, aku bangunkan kamu."


Wajah masam Maura langsung berubah ceria kembali setelah mendengar ucapan dari Erland tadi. Dan dengan senyum yang merekah, Maura menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau gitu, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum," ujar Erland dengan menyodorkan tangannya kehadapan Maura. Tentunya sodoran tangan itu langsung di balas oleh Maura. Dan setelah perempuan itu mengecup punggung tangan Erland, ia berucap, "Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan kesayangannya."


Erland tersenyum untuk menimpali ucapan dari Maura tadi, tak lupa tangannya bergerak untuk mengacak rambut Maura. Kemudian dirinya baru melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar Maura. Kepergiannya itu tentunya tak lepas dari tatapan mata Maura yang sangat jelas terpancar sebuah kebahagiaan disana.


Saat Erland sudah menutup kembali pintu kamar Maura, ia langsung mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mau cari dimana coba tuh rujak es krim di jam setengah delapan ini? Maura juga kenapa mintanya yang aneh-aneh sih. Harusnya kalah dia mau makan rujak es krim ini mintanya tadi siang bukan malam begini. Huh, kalau gak di turuti ngambek tapi giliran aku mengiyakan keinginan dia, aku sendiri yang pusing jadinya. Untung aku sayang, kalau tidak, mana aku mau mencari yang tidak mungkin aku temukan di waktu yang tidak tepat seperti ini. Huh, sayang sayang, kamu itu ada-ada saja," gumam Erland dengan menatap kearah pintu kamar tersebut, seakan-akan pintu itu Maura, istrinya.


Dan setelah meluapkan isi hatinya, Erland melanjutkan langkahnya menuju ke luar dari rumah dua lantai itu tentunya untuk mencari keinginan Maura, istrinya tersayang.


...****************...


Typo kasih tau!


Eps ini udah panjang guys, awalnya aku mau buat dua eps tapi menurutku kalau di jadiin dua terlalu memperbanyak eps. Jadi alhasil aku gabung jadi satu. Jadi anggap saja aku double up sekarang 😂


Oh ya, aku mau ngucapin selamat menjalankan ibadah puasa ❤️ Semoga gak ada yang bolong karena di sengaja ya puasanya dan puasanya menjadi berkah untuk kalian. Aamiin.

__ADS_1


Cukup sekian dulu ya, bye-bye kesayangan 👋 see you next eps ❤️ Jangan lupa LIKE, VOTE, HADIAH dan KOMEN ya 🙏


__ADS_2