PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 73


__ADS_3

Erland terus mondar-mandir didepan pintu kamarnya dengan sesekali ia melihat kearah kamar Maura yang sedari tadi tak kunjung dibuka oleh istrinya. Mungkin sudah terhitung 3 jam lamanya Maura mengurung dirinya dan saat Erland ingin masuk, baru saja ia mengetuk pintu kamar itu, Maura sudah mencegahnya dengan alasan Erland tidak boleh masuk atau menemui dirinya sebelum laki-laki itu tau kesalahan apa yang telah dia perbuat. Sumpah demi apapun saat Erland mendengar ucapan dari Maura, dirinya dibuat melongo tak percaya. Sudah dia bilang bukan jika dirinya ini hanya manusia biasa bukan seorang cenayang. Tapi walaupun begitu Erland berusaha keras untuk berpikir, kesalahan apa yang telah dia perbuat sampai-sampai Maura tidak mau bertemu dengannya.


Erland mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana tidak frustasi coba jika sedari tadi ia tidak menemukan kesalahan yang telah ia buat.


"Sumpah demi apapun, aku menyerah! Menghadapi yang namanya perempuan lebih sulit daripada menghadapi para klien yang sangat bermasalah dan masalah-masalah lain di kantor. Hah!" ucap Erland yang sudah cukup pusing memikirkan ini semua. Bahkan helaan nafas kasar sudah ia keluarkan yang berarti Erland benar-benar tengah frustasi dan menyerah disaat yang bersamaan.


Erland sudah pasrah jika memang dirinya akan terus didiami oleh Maura, ia juga sudah pasrah kalau sampai Maura akan mengomeli dirinya lagi seperti tadi. Jadi lebih baik dirinya saat ini mengistirahatkan tubuh serta pikirannya itu.


Erland berjalan dengan tubuh yang loyo menuju ke ranjangnya. Sesampainya dirinya di samping ranjang, ia langsung membanting tubuhnya diatas kasur empuk itu. Dan setelahnya barulah Erland memejamkan matanya, namun baru beberapa detik saja, mata Erland kembali terbuka sangat lebar bahkan ia juga sudah mendudukkan kembali tubuhnya. Ia sepertinya tau sekarang hal apa yang membuat Maura marah kepadanya. Tapi tak urung dirinya juga ragu akan tebakan yang sekarang memutar di otaknya itu. Tebakan yang ia sangkut pautkan dengan ucapan Maura sebelum mereka pergi dari depan toko buku.


"Apa mungkin hanya gara-gara itu saja?" tanya Erland pada dirinya sendiri.


"Kalaupun memang Maura marah hanya gara-gara aku dipanggil mas oleh pegawai toko tadi, alasan dia marah apa? Bukannya sebutan mas itu wajar untuk seorang laki-laki?" Erland masih bertanya-tanya walaupun ia sangat yakin jika pertanyaan-pertanyaannya itu tak akan mendapatkan jawabannya jika dia tidak mencari tahu terlebih dahulu.


Lagi dan lagi Erland kini mengacak rambutnya. Entah sudah terhitung berapa rambutnya menjadi sasaran untuk melupakan rasa frustasi yang tengah laki-laki itu rasakan saat ini.

__ADS_1


"Bodoamat lah bodoamat. Sudah cukup aku dibuat pusing hanya gara-gara disuruh cari sendiri kesalahan yang telah aku buat. Dan aku tidak mau berpikir alasan Maura marah hanya gara-gara panggilan pegawai toko itu. Biarlah Maura sendiri yang mengatakannya jika memang tebakanku ini benar adanya. Kalaupun nanti benar dan Maura tidak mau mengatakan alasannya, aku juga tidak peduli. Sudah cukup diriku dibuat pusing dengan masalah ini," ucap Erland sembari berdiri dari posisi duduknya tadi. Ia berniat untuk menghampiri kamar Maura menanyakan tentang tebakannya ini benar atau salah. Jika tebakannya salah maka Erland sudah tidak sudi lagi untuk berpikir hal kecil tapi benar-benar membuat dirinya hampir gila.


Dengan tak sabaran Erland mengetuk pintu kamar Maura kala dirinya telah berdiri didepan kamar istrinya itu.


Dimana ketukan berkali-kali dari Erland membuat Maura yang masih murung didalam kamarnya berdecak kesal. Tanpa bertanya pun ia tau siapa orang yang ada di balik pintu kamarnya tersebut. Jika bukan Erland siapa lagi? Toh di rumah ini hanya ada mereka berdua.


Muara mengalihkan pandangannya kearah pintu kamarnya yang masih tertutup rapat itu hingga suara Erland yang memanggil dirinya kini masuk kedalam telinganya.


"Maura!" panggil Erland yang membuat Maura mencebikkan bibirnya.


"Aku kan sudah bilang. Jangan panggil aku dan jangan bertemu denganku ataupun berbicara denganku sebelum kamu---" Belum sempat Maura menyelesaikan ucapannya tadi yang tentunya perkataannya itu sudah 10 kali ia ucapkan kala Erland terus mengetuk pintu kamarnya. Dan tentunya karena hal tersebut membuat Erland hafal kata-kata Maura.


"Aku sudah tau alasan kamu marah seperti ini denganku," ucap Erland yang membuat Maura terdiam. Namun berhubung dirinya kepo maksimal, ia kembali angkat suara.


"Oh ya? Kalau kamu tau, katakan!" perintah Maura yang masih enggan bertemu dengan Erland.

__ADS_1


"Aku akan mengatakannya jika kamu keluar."


"Gak. Katakan dulu. Jika benar, baru aku keluar."


Erland tampak menghela nafas kasar. Lebih baik dirinya mengalah saja kali ini. Jika dia tak mau otaknya semakin mendidih.


"Baiklah akan aku katakan. Alasan kamu marah dan mengurung diri seperti ini bahkan tidak mau bertemu denganku karena ucapan pegawai toko buku tadi yang memanggilku dengan sebutan mas. Right?!" Maura kembali terdiam karena apa yang Erland kali ini katakan adalah sebuah kebenaran. Ia juga tidak tau kenapa dirinya merasa marah dan kesal kala mendengar panggilan yang dilontarkan oleh pegawai toko tadi. Kalaupun seperti anggapannya tadi jika sebutan mas hanya bisa digunakan untuk menyebut suami atau Kakak laki-laki. Harusnya Maura tidak masalah bukan toh dia juga tidak ada rasa sama sekali dengan Erland kalaupun ada maksud terselubung dari pegawai toko itu yang memanggil Erland dengan sebutan tersebut? Tapi itu semua berbanding terbalik dengan yang Maura saat ini rasakan.


"Tidak mungkin kan kalau aku tengah cemburu dengan Erland?" gumam Maura. Sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya.


"Tidak lah. Ngapain aku cemburu dengan laki-laki nyebelin kayak dia. Kemarahanku ini bukan karena cemburu tapi aku merasa asing saja dengan sebutan mas itu. Ya, pasti itu alasannya," ucap Maura meyakinkan hatinya sendiri jika dirinya saat ini memang tidak tengah cemburu kepada Erland.


Erland yang tak kunjung mendapat jawaban dari Maura, ia kembali mengetuk pintu kamar tersebut dengan membabi buta sembari berkata, "Gimana? Apa tebakanku ini benar? Kalau iya, keluar sekarang!"


Maura yang masih memikirkan tentang perasaannya pun ia tadi sempat terkejut. Tapi hanya sesaat saja, karena setelahnya Maura kini beranjak dari sisi ranjang yang sedari tadi ia duduki kemudian ia bergegas menuju ke pintu kamarnya, untuk membukakan pintu kamar itu sesuai dengan apa yang ia katakan tadi jika Erland benar mengerti kesalahannya maka ia akan membuka pintu itu dan menemui suaminya. Lagian Maura juga khawatir jika dirinya terus menerus mendiami Erland, bisa-bisa pintu kamarnya nanti akan rusak yang berakhir dirinya ataupun Erland akan mengeluarkan uang untuk memperbaikinya. Ingat, Maura sekarang bukanlah Maura yang dulu. Perempuan itu sudah terlihat sedikit berbeda, ia yang dulu suka menghamburkan uang maka saat ini dia tidak suka menghamburkan uang lebih tepatnya menghemat, mengingat ekonomi keluarganya yang pas-pasan ia sebisa mungkin memanfaatkan uang yang ia pegang untuk kepentingan hidup dirinya dan Erland daripada untuk kesenangan sesaat saja. Apalagi untuk mengganti perabot atau apapun yang ada di rumah ini yang telah rusak, membayangkannya saja Maura cukup sayang jika harus mengeluarkan uang untuk benda-benda yang tak terlalu penting itu.

__ADS_1


__ADS_2