PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 113


__ADS_3

Muara menolehkan kepalanya kearah pintu kamarnya yang tertutup rapat kala telinganya mendengar ketukan dari pintu utama. Ia yakin jika orang yang mengetuk pintu itu adalah sang sahabat, Meli karena sebelumnya Meli sudah mengabari dirinya jika perempuan itu sudah hampir sampai di kediaman miliknya.


Maura kini perlahan melepaskan pelukan Erland. Dengan hati-hati ia menaruh tangan Erland diatas guling yang ia jadikan sebagai pengganti tubuhnya tadi. Dimana saat dirinya sudah memastikan jika Erland tak terusik dengan apa yang sudah ia lakukan tadi kepada laki-laki tersebut, Maura bergegas keluar dari dalam kamar. Namun tak urung kala ia membuka ataupun menutup pintu, ia melakukannya dengan sangat pelan agar tak menimbulkan suara sekecil pun hingga membuat Erland nanti terbangun.


Dan setelah ia berhasil menutup pintu tanpa menimbulkan suara, ia berlari kecil kearah pintu utama yang masih terdengar suara ketukan itu. Hingga ketukan itu terhenti saat Maura sudah membuka pintu itu dan benar saja tebakannya tadi jika yang ada di belakang pintu utama itu adalah Meli yang sudah membawa satu paper bag ditangannya.


"Ahhhh Maura, kangen!" teriak Meli dengan memeluk tubuh Maura yang sempat terkejut sebelum keterkejutannya itu berganti dengan ia mendelikkan matanya.


Namun tak urung matanya itu kini menatap kearah pintu kamar Erland. Ia tak melihat ada pergerakan apapun dari pintu itu, ia pun juga tak mendengar suara Erland yang memanggil namanya dan disitulah ia bisa menghela nafas lega.


"Mel, jangan teriak-teriak. Erland lagi tidur gak enak kalau sampai teriakan kamu bangunin dia," ujar Maura sembari melepaskan pelukan dari sahabatnya itu yang tadi sempat ia balas tapi hanya sesaat saja.


Meli yang mendapat teguran dari Maura pun ia langsung mengatupkan bibirnya sekaligus merutuki kebodohannya yang sampai lupa kalau di rumah Maura itu bukan hanya ditinggali oleh sang sahabat saja melainkan ada suaminya juga, yang sayangnya suami dari Maura adalah bosnya di kantor.


"Maaf maaf Ra, kelepasan tadi. Oh ya, nih pesanan kamu," ucap Meli dengan mengecilkan nada suaranya.


Maura tampak menatap kearah paper bag tadi sebelum ia melirik kearah pintu kamar Erland yang masih tertutup rapat yang berarti ia masih aman.

__ADS_1


"Thanks ya Mel. Sorry ngerepotin kamu," ucap Maura dengan mengambil paper bag tadi dari tangan Meli.


Meli tampak menganggukkan kepalanya sembari berucap, "Tenang aja kali Ra. Kayak sama siapa aja sih kamu. Lagian kamu juga gak ngerepotin sama sekali. Oh ya anggap saja barang-barang di paper bag itu hadiah pernikahan dariku."


Kening Maura berkerut, "Maksud kamu?"


"Ck, apa yang kamu mau aku tadi belikan yang baru Maura." Jawaban dari Meli tadi membuat Maura membelalakkan matanya.


"Astaga Mel. Kenapa kamu malah beliin yang baru sih? Aku kan tadi bilangnya mau pinjam saja sama kamu. Kamu kan punya banyak. Dan pasti semua ini harganya mahal," ucap Maura.


"Mel, uang 5 juta itu gak kecil lho Mel." Meli tampak mengerutkan keningnya saat melihat sahabatnya yang dulu sangat gemar menghambur-hamburkan uang kini menganggap uang 5 juta seperti melihat uang 1 milyar.


Tapi Meli kini tersenyum kecil, ia berpikir mungkin ini sisi baik dari Erland yang menyamar jadi orang biasa saja hingga membuat Maura yang awalnya boros menjadi orang yang suka berhemat. Dan hal tersebut benar-benar membuat Meli ingin sekali berterimakasih dengan Erland karena sudah berhasil merubah Maura walaupun belum bisa merubah sepenuhnya sang sahabat itu. Tapi karena ia terlalu takut untuk bertemu Erland secara langsung, ia memilih mengurungkan niatnya tadi dan tangannya kini bergerak untuk mengelus lengan Maura.


"Sudah tidak apa Ra. Kan aku tadi juga bilangnya buat hadiah pernikahan kamu. Ck, sudahlah jangan bahas itu lagi. Oh ya aku gak bisa lama-lama disini Ra. Si emak rempong udah telepon aku dari tadi. Ngomel-ngomel gara-gara gak aku ajak ke mall tadi. Jadi aku pulang dulu ya Ra, takut si emak rempong tambah ngamuk nanti," pamit Meli yang sudah risih karena terus di teror oleh sang ibunda.


"Gak mampir dulu sebentar gitu?" Meli menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kapan-kapan aja deh Ra. Aku pulang dulu ya," ucap Meli dengan bercipika-cipiki kepada sang sahabat.


"Ya udah. Hati-hati dijalan Mel. Salam buat Tante Naum." Meli menganggukkan kepalanya.


"Aku pulang Ra, bye." Meli melambaikan tangannya sembari mulai melangkahkan kakinya menuju ke mobil yang terparkir di depan pagar rumah Maura dengan sesekali perempuan itu terlihat mengumpat saat ponselnya kembali berdering. Dimana hal tersebut membuat Maura hanya menggelengkan kepalanya sembari membalas lambaian tangan dari Meli tadi. Sampai akhirnya mobil Meli berjalan dan sudah tak terlihat lagi dipandang Maura.


Dimana hal tersebut membuat Maura langsung masuk kembali kedalam rumahnya. Ia melirik kembali kearah pintu kamar Erland yang masih tertutup rapat sebelum ia berlari menuju ke kamar di sebelah kamar Erland yang kemarin-kemarin ia tempati.


Ia menutup serta mengunci pintu kamar tersebut saat ia sudah masuk kedalamnya.


Muara kini mendudukkan tubuhnya diatas ranjang, ia akan melihat-lihat pakaian yang dibelikan oleh Meli itu karena ia sangat penasaran model yang Meli pilihkan untuknya seperti apa.


Tak mau berlama-lama lagi, Maura langsung mengeluarkan semua isi didalam paper bag itu yang ternyata isinya bukan hanya lingere saja melainkan ada satu box kecil yang tertuliskan nama merk pengaman saat berhubungan, parfum, dua buah lilin dan dua handuk kecil yang membuat Maura berpikir keras untuk apa benda-benda itu ikut Meli beli untuknya? Mungkin kalau parfum dan pengaman ada manfaatnya walaupun ia yakin Erland tak mau memakainya nanti. Tapi dengan lilin dan handuk kecil itu, apa fungsinya? Sumpah demi apapun Maura tak paham dengan jalan pikiran Meli yang membeli barang-barang yang sebenarnya tak ia butuhkan itu.


"Pantas saja sampai menyentuh angka 5 juta, orang semua merk disini Victoria Secret semua," gumam Maura dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tangan Maura kini bergerak membuka lebar lingerie yang tadi terlipat kecil itu. Dimana saat ia memperlihatkan setiap lingerie yang sudah terjejer rapi, ia hampir tersedak ludahnya sendiri saat melihat model dan bahan lingere tersebut. Dan hanya melihat pakaian haram itu saja membuat pipi Maura merona apalagi saat ia memakai dan ditatap oleh Erland entah apa yang akan terjadi kepadanya nanti.

__ADS_1


__ADS_2