PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 72


__ADS_3

"Kamu apaan sih main tarik tangan aku aja. Kamu pikir gak sakit apa hah?!" ucap Maura dengan memegang pergelangan tangannya. Sebenarnya tangannya itu tidak akan sakit jika saja Maura tadi tidak memberontak, tapi berhubung Maura memberontak berakhir lah tangan tersebut memerah dan rasa sakit Maura rasakan.


"Tadi mau ngajak mati sekarang melakukan kekerasan. Ini kalau aku visum kan, aku yakin kamu akan ditangkap polisi setelahnya karena ini sudah termasuk kasus KDRT!"


Erland yang mendengar omelan-omelan dari Maura, ia hanya diam saja. Membiarkan istrinya itu marah kepadanya. Ia tak akan menimpali bahkan meluruskan kesalahpahaman ini jika Maura belum selesai dengan omelannya.


"Sudah?" tanya Erland dengan nada suara yang sangat-sangat santai. Erland mulai angkat suara kala beberapa saat ia tak mendengar lagi suara yang keluar dari bibir Maura, ia hanya melihat tatapan mata Maura yang tajam dengan nafas yang tidak beraturan, dimana itu adalah tanda jika Maura tengah marah kepadanya.


Pertanyaan dari Erland tadi tentunya tidak mendapat jawaban dari Maura, perempuan itu diam namun matanya masih menyorot tajam kearah Erland.


Erland yang mendapat tatapan itu, bukannya takut, dia justru kini memegang kedua pundak Maura sembari berkata, "Sekarang giliranku untuk menjelaskan semuanya yang terjadi di jalan tadi. Dengarkan baik-baik."


Erland tampak menghela nafas sebelum ia melanjutkan ucapannya tadi, "Kalau kamu mau tau alasan aku ngebut dijalan tadi, karena kita tengah diikuti oleh seseorang. Jika aku tidak melajukan motor dengan kecepatan tinggi, kemungkinan kita akan di kepung oleh beberapa orang yang tengah mengikuti kita. Mungkin kamu sempat melihat segerombolan orang yang mengendarai motor sport yang hampir mirip motor yang kita pakai tadi? Jika iya, itulah orang yang mengikuti kita."


Maura terdiam, ia tadi memang sempat melihat segerombolan orang yang memakai motor yang mirip dengan motor Erland. Tapi yang bikin Maura penasaran, segerombolan orang yang kata Erland tengah mengikuti mereka berdua tadi memakai jaket yang sama, Maura mengira mereka semua tadi hanya tim sukses sebuah partai politik. Tapi jika dia pikir-pikir lagi, tidak mungkin partai politik memakai motor sport untuk mempromosikan partai mereka dan mana ada warna partai hitam.


Erland yang melihat keterbingungan yang terpancar dari mata Maura, ia mengusap lembut pundak yang sedari tadi ia pegang itu.


"Kamu pasti bingung kan meraka siapa?" Maura tersadar kemudian tatapan matanya yang tadi sempat ia alihkan ke arah lain kini kembali kearah Erland.

__ADS_1


"Memangnya siapa?" Maura yang sudah gatal ingin bertanya pun akhirnya ia angkat suara juga. Bahkan nada suaranya tak seketus tadi. Apakah sebegitu mudahnya Maura merubah suasana hatinya?


"Aku juga tidak tau. Tapi kemungkinan mereka tadi salah satu geng motor di kota ini," jawab Erland.


"Geng motor?" Erland menganggukkan kepalanya.


"Apa kamu ada masalah dengan mereka?" tanya Maura curiga. Tidak mungkin kan kalau dirinya yang memiliki masalah dengan orang luar? Karena dirinya saja tidak pernah keluar dari rumah ini, keluar-keluar juga mungkin keliling komplek untuk menghalau kebosanan yang tengah melanda dirinya. Dan kalau pun dia ada masalah bukan dengan mereka-mereka tadi melainkan dengan para tetangganya yang sering sekali terkena aksi jahil dari Maura apalagi si tukang bakso yang selalu menjadi langganannya dulu. Apa jangan-jangan tukang bakso itu merupakan salah satu anggota dari geng motor itu? Maura segara menggelengkan kepalanya, menghalau pikirannya itu.


Sedangkan Erland, laki-laki itu tampaknya tengah mengingat-ingat apakah dia membuat masalah dengan geng motor? Seingat dia, dia tidak pernah membuat masalah dengan orang lain selain istrinya sendiri, itupun dulu.


"Tidak, aku rasa aku tidak pernah membuat masalah dengan anak geng motor di luar sana," jawab Erland.


"Kalau kamu tidak memiliki masalah dengan mereka, kenapa mereka bisa mengikuti kita?" tanya Maura yang semakin penasaran. Jika Erland tidak membuat masalah, terus apa tujuan mereka tadi mengikuti mereka? Apa gara-gara mereka memakai motor yang sama dengan mereka tadi? Haishhh entahlah Maura tidak mengerti dengan yang namanya geng motor seperti itu.


"Jadi untuk perkara aku ngebut tadi, aku minta maaf. Bukannya aku mau mengajak kamu untuk mati, tapi apa yang aku lakukan itu untuk menghindari orang-orang yang mengikuti kita yang kemungkinan juga menginginkan nyawa kita jika kita hanya pasrah saja tadi. Jadi aku minta maaf ya sudah bikin kamu ketakutan di jalan tadi. Kamu mau kan maafin aku," ucap Erland dengan menatap lekat wajah Maura. Dimana Maura yang mendapat tatapan dari Erland pun ia langsung menolehkan kepalanya kearah lain.


Namun tak urung ia menjawab, "Hmmm akan aku maafkan. Tapi lain kali kalau mau ngajak ngebut ngomong dulu, biar aku bisa nyiapin mental terlebih dahulu."


Erland menganggukkan kepalanya dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


"Aku akan memberitahumu jika saat kita keluar nanti dan hal ini terjadi lagi," ucap Erland yang diangguki oleh Maura.


"Jadi gimana, apa masih mau marah-marah lagi denganku?" tanya Erland memastikan.


"Masih," ucap Maura dengan raut wajah masamnya kembali perempuan itu perlihatkan. Dimana hal tersebut membuat Erland kini mengerutkan keningnya.


"Kok masih sih? Memangnya aku punya salah lain selain ngajak kamu ngebut tadi?" tanya Erland mencari-cari kesalahan yang telah ia lakukan hari ini.


Mata Erland terbuka lebar saat ia menyadari satu hal lagi kesalahan yang telah ia buat. Dan dengan segera Erland meraih tangan Maura, melihat pergelangan tangan Maura yang masih memerah itu.


"Ya Allah, Ra, maaf karena sudah bikin tangan kamu merah seperti ini. Maaf ya. Sumpah aku tidak menyangka jika tarikanku tadi bikin kamu terluka seperti ini, maaf." Erland mengelus pergelangan tangan Maura dengan sangat lembut bahkan ia sempat mencium pergelangan tangan Maura itu yang membuat sang empu terkejut sekaligus tersipu dengan apa yang sudah Erland lakukan kepadanya.


Dan untuk kesehatan jantungnya, Maura kini menarik tangannya dari genggaman tangan Erland sembari berkata, "Aku marah bukan karena ini."


"Hah?" beo Erland tak paham dengan maksud Maura.


"Ck, pokoknya aku marah bukan karena hal ini!"


"Kalau bukan gara-gara luka di tanganmu itu terus apa dong yang bikin kamu masih marah sama aku?" tanya Erland.

__ADS_1


"Pikir saja sendiri," ucap Maura lalu setelahnya perempuan itu pergi dari hadapan Erland yang kini melongo menatap kepergian dirinya.


"Lah ini gimana sih kok aku sendiri yang di suruh mikir? Apa begitu sulit bagi para perempuan untuk langsung mengatakan kesalahan apa yang sudah pasangannya lakukan? Biar kitanya langsung memperbaiki kesalahan kita, bukannya malah disuruh mikir sendiri. Apa mereka pikir kita para laki-laki ini cenayang, bisa mengetahui isi hati para wanita? Ck, dasar," gumam Erland yang entah kenapa dirinya merasa kesal sendiri. Ayolah, jika Maura langsung mengatakan kesalahannya maka acara ngambek, marah dan sebagainya yang membuat Maura uring-uringan sendiri akan dengan cepat teratasi. Tapi jika dibiarkan seperti ini karena Erland tidak tau kesalahan lain yang telah ia perbuat, maka masalah ini entah kapan akan selesainya.


__ADS_2