PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 79


__ADS_3

Karena tidak tau arah dan tujuan Maura mau kemana, akhirnya Bayu angkat suara. Walaupun ia sangat malas berbicara dengan Maura yang justru akan membuat dirinya emosi nantinya.


"Mau kemana?" tanya Bayu dengan ketus.


"Ke tempat yang sekiranya jual es krim," jawab Maura. Ia tak akan menghemat untuk hari ini. Bodoamat jika uang yang masih tersisa 1,8 juta itu habis sebelum tanggal Erland memberikan uang bulanan untuknya, ia tak peduli. Karena saat ini ia membutuhkan ketenangan dihatinya yang sangat bergemuruh dan terasa sangat panas itu. Apalagi mengingat ucapan dari pegawai toko yang mengatakan jika Teresa dijemput oleh seorang laki-laki. Dimana ciri-cirinya sama persis dengan Erland. Mengingat hal itu membuat hati Maura semakin panas saja. Dan setelah ia pikir-pikir jika memang tidak ada yang beres kepadanya. Ia bukannya hanya tidak terbiasa dengan panggilan mas yang diucapkan Teresa tadi, melainkan ada sesuatu yang membuat dia tak mau Erland mendapat perhatian lebih kepada perempuan manapun selain dirinya. Katakan saja jika Maura tengah cemburu saat ini, tapi berhubung gengsi Maura sangat tinggi jadi dia tidak akan mengakuinya. (Kita pura-pura tidak tau saja. Biar Maura tidak memarahi kita semua).


Bayu yang mendengar jawaban dari Maura pun ia hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dirinya membelah jalanan yang lumayan ramai itu menuju ke salah satu cafe terdekat dari lokasi mereka berdua yang memang banyak menyediakan berbagai macam es krim.


Hanya membutuhkan waktu 10 menit saja mereka berdua telah sampai di cafe tersebut.


"Turun!" perintah Bayu kala Maura masih nangkring di atas motornya.


Maura yang tadi melamun karena memikirkan Erland, ia mengerjabkan matanya. Lalu ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Cafe? Disini jual es krim kah?" tanya Maura yang tak yakin jika cafe di hadapannya itu menjual es krim seperti yang ia mau.


"Hmmm. Kalau tidak percaya lebih baik kamu turun dan tanya langsung ke karyawan di cafe itu," ujar Bayu yang membuat Maura mencebikkan bibirnya. Tapi tak urung dirinya kini turun dari atas motor Bayu.

__ADS_1


"Awas saja kalau kamu sampai bohong ke saya. Akan saya jadikan kamu butiran debu. Dan awas saja kalau kamu berniat ninggalin saya, ancaman saya yang tadi masih berlaku," ucap Maura yang hanya mendapat tatapan datar dari Bayu. Laki-laki itu sudah tidak memiliki mood untuk menimpali ucapan Maura. Biarkan saja Maura terus mengoceh sampai mulutnya berbusa pun Bayu sudah tidak akan peduli.


Maura yang melihat keterdiaman Bayu pun ia segara melepas helmnya dan dengan kasar ia mendorong helm tadi sampai mengenai lengan Bayu.


Bayu hanya bisa menghela nafas berat sebelum tangannya meraih helm tadi. Dimana saat helm tersebut sudah berpindah tangan, Maura segara pergi dari hadapan Bayu.


Dimana kepergian Maura langsung mendapat sambutan sumpah serapah dari Bayu yang tadi sempat menahan emosinya tapi berhubung Maura kembali membikin ulah kepadanya, emosinya itu akhirnya meluap juga.


"Perempuan gila, stress, sarap, anj--- eh astagfirullah, sabar Bayu sabar. Orang sabar rezekinya lancar. Aamiin," gumam Bayu dengan mengelus dadanya agar diberikan kesabaran yang melimpah karena ia harus menghadapi Maura sampai perempuan itu pulang nantinya.


Sedangkan Maura yang baru saja masuk kedalam cafe pun ia tampak bersin tiga kali dan setelah bersinnya terhenti, ia berucap, "Siapa yang berani membicarakanku dibelakangku, aku sumpahin hidupnya tidak akan aman."


Dan setelah mengucapakan sumpahnya, Maura mendekati bar di cafe tersebut untuk memesan apapun yang menarik minatnya.


"Mbak, es krim mint choco satu, es krim strawberry satu dan es krim chocolat vanillanya satu," ucap Maura memesan tiga es krim sekaligus.


"Baik. Mohon tunggu sebentar ya kak. Kita akan siapkan pesanan Kakak dulu," kata pelayan cafe tersebut sangat-sangat ramah. Dimana ucapan dari pelayan itu dibalas dengan anggukan kepala oleh Maura sebelum ia berjalan menuju ke salah satu tempat duduk di cafe tersebut. Dimana ia memilih tempat duduk di pojok ruangan, disebelah dinding kaca yang menghadap langsung ke jalan raya di sebrang cafe tersebut.

__ADS_1


Dan selagi menunggu pesanannya diantar, Maura memainkan ponselnya, menelusuri beranda sosial medianya. Hari ini Maura sudah membeli paket data tadi saat di perjalanan menuju ke jalan raya dari rumahnya. Kan sudah dibilang, ia tak akan menghemat untuk hari ini, kalau pun uang itu akan habis dihari ini juga maka salah kan saja Erland yang sudah membuat dirinya kalang kabut terbakar api cemburu yang tak ia akui itu.


Tujuan Maura menjelajahi media sosialnya bukan untuk menghilangkan kebosanan yang melanda dirinya melainkan ia mencoba untuk mencari akun media sosial milik sang suami. Namun sedari tadi ia terus mencari dengan berbagai nama ia ketikan di Instagram miliknya, ia tidak menemukan akun Erland. Entah laki-laki itu menamai akun media sosialnya itu dengan nama apa karena Maura sudah menyebutkan satu persatu nama panjang Erland tetap saja ia tak menemukannya. Hingga salah satu pelayan cafe mendekati dirinya dengan membawa tiga gelas cap es krim yang Maura pesan.


"Ini Kak pesanannya. Silahkan dinikmati," ucap pelayan tersebut setelah menaruh es krim-es krim tersebut keatas meja dihadapan Maura.


Maura yang mendengar suara tersebut pun ia menengadahkan kepalanya dan dengan tersenyum paksa Maura menjawab, "Terimakasih."


Pelayan tadi tampak menganggukkan kepalanya tak lupa juga tersenyum manis kepada Maura sebelum dirinya pergi dari hadapan Maura.


Dan kepergian dari pelayan tadi membuat Maura kembali fokus ke ponselnya sebelum...


Brakkk!


Maura menaruh kasar ponselnya tersebut kala dirinya belum juga berhasil menemukan akun media sosial milik Erland. Untung saja kondisi cafe tidak terlalu ramai sehingga ia tak menjadi pusat perhatian lagi. Hanya ada beberapa tadi yang menatapnya sekilas sebelum mereka kembali ke kesibukannya masing-masing.


"Kalau sampai aku menemukan akun media sosial milik dia. Aku tidak akan segan-segan untuk membayar orang agar bisa meretas akun dia sampai aku yang akan memegang kendali akun si laki-laki sialan itu," gumam Maura dan untuk meluapkan kekesalannya tersebut, dengan brutal Maura memakan es krim dihadapannya itu. Dinginnya es krim yang menyentuh lidahnya tak membuat emosi Maura mereda saat itu juga. Ia terus memakan es krim itu hingga saat dia sudah menghabiskan dua gelas cap dengan rasa yang berbeda, emosinya akhirnya sedikit mereda. Ingat hanya sedikit saja.

__ADS_1


Hingga saat ia ingin menyuapkan satu sendok es krim lagi kedalam mulutnya, suara lonceng yang sengaja di taruh diatas pintu cafe tersebut berbunyi yang menandakan jika ada pengunjung yang datang atau pergi. Tapi karena Maura ini manusia kepo, setiap kali lonceng tersebut berbunyi ia selalu mengalihkan pandangannya kearah pintu cafe tersebut, seperti saat ini contohnya. Ia menatap pintu cafe tersebut yang dibuka dari luar. Dimana saat seseorang yang membuka pintu tersebut masuk, mata Maura terbuka lebar, bahkan kalau bisa bola matanya keluar saat ini juga saat ia melihat orang yang sangat-sangat ia kenali lah yang masuk kedalam cafe tersebut.


__ADS_2