PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 90


__ADS_3

Erland kini telah selesai melakukan segala ritual di kamar mandi. Ia sekarang pun juga sudah keluar dari dalam kamar mandi. Dimana saat ia keluar dan tak mendapati Maura di dalam kamarnya, ia menghela nafas panjang.


"Memang harusnya begini kan? Terus apa yang kamu sesalkan? Ini juga konsekuensi yang kamu dapatkan Er, jika saja kamu tadi bisa menahan napsumu pasti Maura sekarang sudah duduk manis di dalam kamar ini. Tapi berhubung kamu melakukan kesalahan fatal maka jangan harap permintaan kamu tadi diikuti oleh Maura. Ingat ini semua konsekuensi dari apa yang kamu lakukan tadi," gumam Erland yang tentunya ia tujukan kepada dirinya sendiri. Menyesal, tentu saja. Entah kenapa dirinya tadi sangat gegabah sekali ingin melakukan hal lebih kepada Maura tanpa meminta persetujuan Maura terlebih dahulu untuk memastikannya. Padahal jika dia tadi bisa menahan napsunya mungkin ia akan mendapatkan hak dia di waktu dekat saat mereka sudah satu kamar bahkan satu ranjang. Tapi berhubung semuanya sudah terjadi, jangan harap Erland bisa mendapatkan haknya secepat mungkin atau malah tidak mendapatkannya sama sekali karena ia sangat yakin jika Maura saat ini tengah marah kepadanya. Bahkan Erland pun tak punya muka untuk bertegur sapa dengan istrinya sendiri yang lagi-lagi ini semua disebabkan oleh ulahnya sendiri. Erland benar-benar malu kepada Maura sekarang.


Bahkan saking malunya Erland tak keluar dari dalam kamarnya setelah kejadian tadi sampai malam hari tiba. Rasa lapar yang melanda dirinya pun ia abaikan begitu saja, ia memilih untuk mengalihkan pikirannya yang tak tenang itu ke banyaknya pekerjaan yang telah di kirimkan oleh sekertarisnya tadi.


Sedangkan disisi lain lebih tepatnya di kamar Maura, perempuan itu sama halnya dengan Erland, ia tak beranjak sedikitpun dari atas ranjangnya. Rasa bersalah kepada Erland terus menggerogoti dirinya yang membuat Maura kini hanya melamun sedari tadi.


"Apa yang harus aku lakukan untuk meminta maaf kepada Erland? Aku tidak bisa terus diam begini terus, aku tidak mau Erland semakin kecewa denganku. Ya Tuhan tolong kasih aku solusi!" erang Maura dengan menjambak rambutnya, menenggelamkan wajahnya di lipatan kedua tangannya. Maura saat ini tengah dilema. Ingin memberikan apa yang Erland mau tapi ia takut dan kalau ia tidak memberikannya, ia akan membuat Erland kecewa seperti saat ini dan ia harus memusingkan kepalanya sendiri hanya ingin memikirkan bagaimana caranya agar bisa membujuk Erland yang tengah kecewa.


Sampai malam hari pun sepasang suami istri itu tak kunjung juga keluar dari dalam kamar masing-masing. Keduanya di sibukkan dengan pikirannya sendiri sampai kantuk melanda mereka berdua hingga tertidur dengan sendirinya.


Pagi harinya, Maura bangun pukul 5 pagi. Entah kenapa malam ini tidurnya sangat tak nyenyak sekali, mungkin ini efek dia tengah resah memikirkan Erland. Maura meregangkan tubuhnya dan bersiap untuk membersihkan dirinya, lalu barulah ia nanti akan keluar untuk membereskan rumah serta akan belajar memasak lewat sosial media yang tentunya akan ia persembahkan untuk Erland sebagai tanda maaf darinya. Namun setelah dirinya keluar dari kamar dengan penampilan yang sangat fresh dan sudah masuk ke dapur, keningnya berkerut kala melihat ada beberapa makanan yang tersaji di atas meja makan.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Maura seperti orang bodoh saja. Tidak mungkin bukan yang menyiapkan semua makanan ini hantu dirumah ini?


"Apa ini semua disiapkan oleh Erland?" beonya sembari menatap kearah pintu kamar Erland. Dimana ia kini menghela nafas panjang, ia tau jika semua makanan ini hasil tangan Erland. Jadi niatnya tadi untuk membuat makanan untuk sang suami gagal total.

__ADS_1


Maura kini mengedarkan pandangannya, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal kala melihat seluruh ruangan di rumah ini telah bersih dan rapi. Dan jangan tanya lagi siapa yang melakukan ini semua jika bukan Erland juga yang melakukannya.


"Dia bangun jam berapa sih? Kenapa sepagi ini dia sudah menyiapkan semua ini? Apa jangan-jangan dia gak tidur lagi? Tapi untuk apa dia gak tidur? Apa karena dia memikirkan aku?" Gumam Maura sembari mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi makan tersebut namun tatapan matanya tak lepas dari pintu kamar Erland yang masih tertutup rapat. Sesaat setelah Maura bergumam seperti tadi, ia dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak. Tidak mungkin Erland memikirkan aku. Untuk apa juga dia mikirin aku sedangkan aku saja sudah buat dia kecewa parah. Huh," ucap Maura dengan menunduk lesu kala mengingat kejadian tadi malam.


Cukup lama Maura kembali terdiam untuk memutar ulang apa yang sudah terjadi tadi malam lebih tepatnya mengulang agar ia bisa melihat wajah Erland yang benar-benar sangat kecewa dengannya. Hingga beberapa saat setelahnya dengan tiba-tiba Maura bangun dari posisi duduknya.


"Aku tidak boleh diam saja! Aku harus menemui Erland dan meminta maaf kepadanya. Perkara dia nanti akan membentak, memarahi dan memukulku tidak apa selagi aku bisa mendapatkan maaf darinya," gumam Maura dengan tekat dan semangat membara. Bahkan kakinya saat ini sudah mulai melangkah, mendekati kamar Erland. Dan setelah ia sampai didepan pintu kamar laki-laki itu, tangan Maura bergerak, berniat untuk mengetuk pintu kamar tersebut namun belum juga ia melakukannya, niatnya itu ia hentikan.


"Tunggu dulu. Kalau aku nanti bertatap muka dengan Erland, apa yang akan aku katakan kepada dia? Erland, maaf. Gitu saja? Ahhhh tidak-tidak. Kata-kata itu terdengar sangat sederhana bahkan seperti aku tidak ikhlas mengatakannya. Tapi kalau tidak seperti itu, aku harus mengatakan apa?" gumam Maura dengan mengigit jari telunjuknya kala ia tengah berpikir. Hingga sekitar 10 menit telah berlalu dan Maura tak kunjung mendapat kata-kata yang pas untuk ia ucapkan kepada Erland nantinya.


Waktu terus berlalu, sampai tak terasa saat ini sudah pukul 7 pagi dimana saat itu pula harusnya Erland sudah keluar dari dalam kamarnya untuk sarapan. Tapi lihatlah sekarang, pintu kamarnya masih tertutup rapat. Padahal Maura sudah sangat siap untuk melontarkan rangkaian kata maaf yang akan ia ucapan kepada Erland. Namun laki-laki itu sampai saat ini belum juga menampakkan batang hidungnya yang membuat Maura tampak gelisah.


"Erland kemana sih? Kok dia gak keluar-keluar dari kamarnya? Apa jangan-jangan dia sangat marah dan kecewa sama aku sampai dia tidak mau melihatku lagi? Bahkan dia mengerjakan pekerjaan rumah saat aku belum keluar dari kamar. Segitunya kah aku menorehkan luka di hati Erland?" gumam Maura penuh dengan penyesalan. Bahkan saat ini air matanya menetes saat dirinya menundukkan kepalanya dengan tangan yang saling bertautan. Hingga beberapa saat setelahnya helaan nafas untuk yang kesekian kalinya keluar dari hidung Maura, tangannya yang tadinya saling bertautan sekarang tangan itu bergerak untuk mengusap air matanya secara kasar. Kepala yang ia tundukkan pun saat ini ia tegakkan kembali bertepatan saat semangat didalam dirinya berkobar.


"Ayo Maura semangat. Jika Erland tidak mau bertemu denganmu maka kamu harus berusaha! Kalau Erland tidak mau keluar dari dalam kamarnya, maka kamu yang harus kesana. Ayo Maura! Semangat! Kamu pasti bisa mendapatkan maaf dari Erland! Semangat! Semangat! Semangat!" ujar Maura menyemangati dirinya sendiri. Bahkan dirinya sekarang sudah berdiri dari duduknya dan dengan langkah lebar ditambah tekatnya yang sudah bulat, ia berjalan menuju ke kamar Erland. Dimana sesampainya ia di depan kamar itu, tanpa keraguan namun sedikit merasa gugup Maura mengetuk pintu kamar tersebut.

__ADS_1


Tok tok tok!


"Erland! Ini Maura, boleh bicara sebentar?!" Tak hanya mengetuk pintu kamar saja, tapi Maura juga berteriak biar Erland yang ada didalam kamarnya mendengar siapa orang yang mengetuk pintu laki-laki tersebut.


Namun beberapa saat setelahnya, pintu kamar tak kunjung dibuka oleh Erland bahkan ucapan Maura pun juga tak mendapatkan balasan.


Maura tak pantang menyerah, ia kembali mengetuk pintu kamar tersebut sembari berucap, "Er, aku mau minta maaf. Jadi tolong keluar sebentar saja. Nanti kalau aku sudah mengatakan permintaan maafku, kalau kamu mau marah, marah saja tidak apa-apa."


Untuk yang kedua kalinya, ucapan dari Maura tak mendapatkan balasan.


"Er! Please!"


Hening, Erland benar-benar tak membalas ucapan dari Maura. Tapi Maura berulang kali berteriak memanggil Erland dengan permohonan agar laki-laki itu mau bertemu dengannya. Namun sayang seribu sayang, berkali-kali Maura bersuara dan memohon, hasil yang dia dapatkan tetap saja nihil. Dimana hal tersebut membuat Maura yang sudah cukup frustasi menangis sejadi-jadinya dengan masih berusaha untuk membujuk Erland.


"Erland! Hiks please! Keluar sebentar, Er! Hiks. Aku mohon!"


Nyatanya permohonan dengan air mata itu terbuang sia-sia karena harapan Maura tak kunjung di penuhi oleh si pemilik kamar.

__ADS_1


"Oke, kalau kamu tidak mau keluar hiks, biar aku yang masuk!" ucap Maura. Dan dengan menghapus air matanya yang membasahi pipinya Maura memutar kenop pintu dihadapannya itu. Ia sempat terkejut saat mendapati ternyata pintu kamar tersebut tak di kunci oleh Erland. Tapi keterkejutannya itu hanya sesaat saja sebelum senyum kecil terbit di bibirnya, setidaknya dengan tak dikuncinya pintu kamar itu memudahkan ia masuk kedalam kamar Erland tanpa ia harus mencoba untuk mendobraknya. Dan karena Maura tak ingin membuang waktunya terlalu lama, Maura langsung masuk kedalam kamar laki-laki yang sudah berstatus suaminya itu sembari memanggil nama sang suami yang sudah sangat ia sayangi.


"Erland!" Namun saat Maura sudah masuk, pintu kamar sudah ia tutup, senyum kecil yang tadi sempat terbit dibibirnya luntur seketika saat ia melihat situasi didalam kamar tersebut.


__ADS_2