PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 93


__ADS_3

Pertanyaan yang tak kunjung mendapatkan jawaban membuat Maura yang sedari tadi menunggu kedua satpam yang tengah berperang dengan isi pikiran mereka masing-masing pun ia kini angkat suara kembali untuk menyadarkan kedua satpam tersebut.


"Pak, bapak kenapa bengong begitu? Saya tanya lho ini Pak? Jadi gimana jawabannya? Apa Erland ada di sini? Saya mau bertemu dengan dia saat ini juga Pak, ada urusan penting yang perlu saya bicarakan dengan Erland. Jadi saya mohon Pak, izinkan saya masuk kedalam rumah ini, biar saja sendiri yang mencari Erland jika bapak tidak mau memanggilkan dia kemari," ujar Maura penuh permohonan bahkan matanya kini sudah mulai berkaca-kaca.


Kedua satpam tadi saling pandang satu sama lain. Mereka berdua juga bingung harus melakukan apa sekarang. Karena jujur saja, tuan muda mereka hari ini tidak berkunjung ke rumah keluarganya. Salah satu satpam disana tampak menganggukkan kepalanya, sepertinya kode agar mereka jujur saja jika orang yang tengah dicari oleh Maura tengah tak ada di rumah ini.


Dimana anggukan kepala itu di mengerti oleh rekan kerjanya, kemudian mereka berdua mengalihkan pandangannya kearah Maura kembali.


"Maaf neng, tu---"


Tin tin tin!


Suara klakson mobil mengalihkan pandangan mereka bertiga. Dimana saat kaca mobil dibagian sopir turun kebawah, Maura dibuat terkejut saat melihat perempuan yang sangat familiar di matanya. Tak hanya Maura saja yang cukup terkejut, namun perempuan yang berada didalam mobil pun sama halnya dengan Maura.


"Kamu, Edrea kan? Adiknya Erland?" tanya Maura dengan mendekati mobil Edrea.


Edrea yang mendapat pertanyaan itu ia menganggukkan kepalanya, ia sangat yakin jika sang Kakak sudah memberitahu hubungan mereka berdua. Jadi tidak masalah kan kalau dia mengiyakan ucapan dari Maura tadi?


"Kamu ngapain kesini?" tanya Maura penasaran. Siapa tau kan Edrea bisa membantunya.

__ADS_1


"Ehhh anu itu. Aku kesini mau ketemu sama mertuaku Kak. Ya, aku mau bertemu sama mertuaku," jawab Edrea sekenanya saja.


"Mertua kamu yang punya rumah ini?" Dengan ragu Edrea menganggukkan kepalanya. Padahal ia ingin sekali berkata, "ini bukan rumah mertuaku tapi rumah kedua orangtuaku dan rumah mertuamu!"


Tapi sayang seribu sayang ia tak bisa mengatakannya jika ia tak mau nanti terkena hukuman dari sang Abang.


"Kalau begitu aku boleh minta tolong sama kamu. Tolong panggilkan Erland. Aku mau bicara sama dia sekarang juga. Dia hari ini masuk kerja kan?" ujar Maura. Walaupun dirinya tadi sempat berpikir kenapa Erland bisa kerja di rumah mertua adiknya. Tapi setelah ia pikir-pikir mungkin Edrea lah yang membantu sang Kakak untuk mendapatkan pekerjaan. Atau kalau tidak, mungkin Erland lebih dulu bekerja di rumah ini dan tak sengaja disuatu pertemuan salah satu anak dari pemilik rumah itu bertemu dengan mereka dan akhirnya anak dari keluarga Abhivandya jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Edrea, atau sebaliknya. Ya, Maura mencoba untuk berpikir positif saja daripada harus curiga dengan adik iparnya sendiri dan juga suaminya.


"Neng, tu---" belum sempat salah satu satpam tersebut yang berniat untuk menimpali ucapan dari Maura selesai berucap, suara Edrea memutus ucapan dari satpam tadi. Tentunya agar satpam itu tak membocorkan identitas dari Erland.


"Kakak masuk saja kedalam mobil ini. Kita kedalam bersama-sama," ucap Edrea. Ia mengira jika Erland tengah berkunjung di rumah keluarganya. Jadi ia tak berpikir panjang lagi untuk menawarkan Maura agar ikut kedalam. Tapi tanpa diketahui oleh Maura, tangan Edrea sedari tadi mengirimkan pesan kepada sang Abang untuk bersiap-siap cosplay jadi seorang sopir.


Ucapan dari Maura tadi membuat Edrea yang tadi tampak fokus kearah ponselnya, ia mengalihkan pandangannya dengan senyuman yang ia perlihatkan kepada Maura. Kemudian ia menganggukkan kepalanya sembari berkata, "Tentu saja. Mertuaku sangat baik kok. Beliau tidak akan marah kalau aku bawa seseorang kerumah ini. Jadi tunggu apa lagi, ayo naik sekarang."


Maura yang mendengar perkataan dari Edrea pun ia menganggukkan kepalanya lalu setelahnya barulah ia melangkahkan kakinya menuju ke pintu penumpang. Sedangkan Edrea, ia memelototkan matanya kearah dua satpam tadi, tak lupa ia berkata, "Jangan bilang apapun tentang identitas bang Erland dihadapan perempuan tadi. Awas saja kalau kalian sampai keceplosan dan panggil Erland saja saat berhadapan dengan dia."


Dua satpam yang tengah menundukkan kepalanya namun dengan rasa penasaran yang tinggi dengan sikap dari nona muda mereka yang memberikan perintah kepadanya tadi, mereka hanya bisa menganggukkan kepalanya, menerima perintah dari Edrea.


"Kalau begitu tolong dibuka gerbangnya Pak, saya mau lewat," ujar Edrea kala ia sudah melihat Maura telah masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


Salah satu satpam tadi langsung berlari untuk membukakan gerbang tersebut. Dimana saat pintu gerbang itu sudah dibuka lebar, Edrea melajukan mobilnya memasuki rumah tersebut.


Sedangkan Maura, matanya langsung menatap kearah kanan dan kirinya, mencoba untuk mencari keberadaan Erland. Namun ia tak kunjung menemukan suaminya itu.


"Udah sampai Kak, turun yuk. Nanti aku bantu cari Kak Erland. Tapi kita masuk kedalam rumah dulu," ajak Edrea.


Maura hanya bisa menganggukkan kepalanya, tidak sopan juga bukan kalau dia sudah masuk kedalam area rumah seseorang dan tidak menemui si pemilik rumah terlebih dahulu sebelum melakukan apa yang ingin ia lakukan.


Kala Maura sudah keluar dari dalam mobil Edrea, matanya tak kunjung berhenti menatap kearah sekitarnya. Sampai akhirnya ia merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di lengannya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Edrea yang sudah berdiri disampingnya dengan senyum manisnya.


"Ayo Kak kita masuk dulu," ajak Edrea untuk kesekian kalinya. Dan setelah mengatakan hal tersebut, tanpa persetujuan dari Maura terlebih dahulu, Edrea langsung melangkahkan kakinya menuju kearah pintu utama rumah tersebut yang otomatis Maura juga mengikuti langkah kaki adik iparnya itu.


Dan setelah keduanya sampai dihadapan pintu utama, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Edrea langsung membuka pintu rumah tersebut cukup lebar sembari berkata, "Assalamualaikum Mommy, Daddy, Edrea pulang!"


Maura yang mendengar teriakkan itu sangat terkejut, bahkan ia berpikir, apakah adik iparnya itu tidak tau sopan santun sama sekali sampai-sampai bertingkat seperti ini? Mana ini di rumah mertuanya lagi. Astaga, sumpah demi apapun Maura malu sendiri jadinya dan rasa tak enak kepada si pemilik rumah tengah Maura rasakan saat ini.


Tapi yang semakin membuat Maura terkejut adalah balasan dari seseorang yang Maura yakini jika itu suara pemilik rumah itu tak kalah nyaring dari suara Edrea tadi. Dan balasan dari di pemilik rumah alias Mommy Della adalah, "BERISIK EDREA! WAALAIKUMSALAM!"


Sumpah demi apapun Maura sekarang tengah mengalami yang namanya kultur shock hanya karena mendengar cara komunikasi antara menantu dan mertua yang tak pernah ia temui dimanapun.

__ADS_1


__ADS_2