PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 162


__ADS_3

Seperti yang di katakan oleh Erland dan di setujui oleh Maura, setelah Maura tadi selesai menikmati makanan seafood yang dia mau, keduanya tak jadi menikmati waktu berdua hanya sekedar main di pinggir pantai, mereka justru kembali pulang lagi. Tentunya karena keduanya penasaran apa memang benar Maura saat ini tengah hamil. Saat perjalanan pulang tadi, Maura juga sempat membeli alat testpack. Dan kini Maura sudah berada di dalam kamar mandi, baru saja ia dan Erland tadi sampai, Erland langsung meminta Maura untuk mengetesnya segera.


Maura mengigit ujung kukunya saat menunggu hasil dari testpack tadi. Ia benar-benar sangat berharap jika dirinya tidak hamil. Porsi makanannya bertambah ya karena dia ingin saja bukan karena faktor kehamilan seperti yang di katakan oleh Erland tadi.


Sedangkan Erland, ia mondar mandir tak jelas di depan kamar mandi. Hingga ia akhirnya menghentikan langkahnya tepat di hadapan pintu kamar mandi tersebut dan dengan menghela nafas panjang, tangan Erland kini bergerak, mengetuk pintu kamar mandi tersebut.


Tok tok tok!!!


"Sayang! Udah belum?!" teriak Erland. Ia sudah tak sabar mengetahui hasilnya dengan harapan semoga tebakannya tadi benar adanya.


"Belum! Sebentar lagi!" Balas Maura dari dalam.


"Ck, kenapa lama sekali sih?!" kesal Erland.


"Kan tadi pipis dulu, habis itu baru test dan sekarang lagi nungguin hasilnya, ini juga belum ada 5 menit. Jadi sabar lah! Tunggu sebentar!" Erland berdecak kala mendengar ucapan dari Maura tadi. Dan dengan rasa kesal sekaligus jantungnya yang selalu memacu cepat, ia kini memilih untuk menyandarkan tubuhnya di tembok di sebelah pintu kamar mandi tersebut. Menunggu Maura keluar.


Sedangkan Maura dengan gelisah, ia menatap kearah jam yang melingkar di tangannya serta testpack yang sengaja ia letakkan terbalik agar ia tak melihat dulu hasilnya secara bergantian.

__ADS_1


"Huh tenang Maura tenang. Kamu tidak hamil kok, percayalah," gumam Maura untuk menenangkan dirinya sendiri dengan sesekali ia menghela nafas berulang kali sebelum, "Oke, sekarang sudah waktunya untuk lihat. Tenang Maura."


Tangan Maura kini bergerak, mengambil testpack tadi. Dan dengan mata yang terpejam ia membalikkan posisi testpack tadi. Kemudian dengan membuka mata secara perlahan ia melihat hasil testpack tadi. Dimana saat ia sudah melihat jelas garis di alat testpack tadi, ia melebarkan matanya, lalu ia mendekatkan testpack itu semakin dekat dengan matanya.


"Tunggu, aku tidak salah lihat kan?" tanya Maura dengan dirinya sendiri.


"Garis satu berarti aku tidak hamil kan?" beonya kembali karena memang terlihat jelas di dalam alat tersebut hanya memunculkan satu garis merah saja.


Tapi untuk memastikan jika ia tak salah mengartikan, ia mengambil kembali bungkus testpack tadi, membaca ulang dan saat ia sudah membaca dengan teliti, Maura refleks melompat sembari berkata, "Yesss! Aku tidak hamil, yeyyy!"


Maura terus melompat-lompat kegirangan hingga perutnya terasa nyeri mungkin akibat dia terlalu banyak makan dan makanan yang ia makan tadi belum turun semuanya. Hingga membuat Maura meringis.


"Respon Erland nanti gimana ya saat tau kalau aku tidak hamil? Apa dia akan marah dan pergi dari rumah? Ihhhh masak iya sampai pergi dari rumah. Amit-amit lah, jangan sampai. Aku masih mau punya suami soalnya. Gak lucu juga masak cantik-cantik begini statusnya janda yang di tinggal kabur suami. Tapikan semua kemungkinan itu bisa saja terjadi," ucap Maura dengan kekhawatirannya.


"Haishhhh udahlah. Kalau mau lihat respon dia, perlihatkan hasil testpack ini sekarang. Ayo Maura buktikan jika kamu memang tidak hamil seperti tebakmu tadi," ujar Maura dan dengan membawa alat testpack tadi, Maura kini berjalan menuju kearah pintu kamar mandi.


Dimana saat Erland melihat kenop pintu bergerak, ia langsung memposisikan tubuhnya tepat di depan pintu. Tentunya hal itu membuat Maura terkejut bukan kepalang saat ia sudah membuka pintu kamar mandi itu lebar-lebar.

__ADS_1


"Ya Allah sayang. Ngapain kamu berdiri disitu sih? Ngagetin tau gak," omel Maura dengan mengelus dadanya untuk menenangkan detak jantungnya yang terpacu sangat cepat.


Sedangkan Erland, ia memperlihatkan cengiran kudanya sebelum ia berucap, "Hehehe ya maaf."


Maura memutar bola matanya malas dan membalas ucapan Erland tadi dengan deheman saja sebelum ia berjalan menuju ke arah ranjang. Tentunya kepergian dari Maura tadi diikuti oleh Erland di belakangnya. Dan saat Maura duduk di pinggir ranjang, Erland juga ikut duduk tepat disamping sang istri.


"Hasil testpacknya udah keluarkan?" tanya Erland yang dibalas anggukan kepala oleh Maura.


"Kalau begitu hasilnya apa?" tanya Erland kembali.


"Hasilnya lihat aja sendiri nih," ucap Maura sembari menyodorkan testpack yang tadi berada di genggaman tangannya kearah sang suami. Dengan cepat Erland mengambil alih testpack tadi lalu melihat secara detail hasil testpack tersebut. Dimana saat Erland sudah melihat dengan jelas garis testpack tadi, ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun perubahan mimik wajahnya yang sangat kentara sekali jika tengah kecewa dapat di tangkap oleh Maura. Sehingga Maura kini menggigit bibir bawahnya apalagi saat mendengar helaan nafas frustasi dari Erland.


"Negatif ya?" tanya Erland. Padahal dirinya sendiri tadi lihat dan ia juga bisa mengartikan hasil testpack tadi. Tapi tetap saja ia harus memastikannya sekali lagi dengan bertanya kepada Maura.


Maura menganggukkan kepalanya saat tatapan mata Erland mengarah tepat di kedua manik matanya.


Saat Erland melihat anggukkan kepala dari Maura, ia menajamkan matanya. Sumpah demi apapun, dirinya tidak bisa kalau tidak kecewa seperti yang di pinta oleh Maura tadi. Ya, siapa yang tidak kecewa coba jika Erland sudah sangat menginginkan buah hati dari pernikahannya dengan Maura, tapi tak kunjung juga di berikan.

__ADS_1


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Maura dengan nada suara yang teramat lirih, ia takut jika hal-hal negatif yang tadi sempat melintas di otaknya akan kejadian juga. Tak lupa tangannya kini bergerak mengelus lengan Erland. Sentuhan serta suara yang masuk kedalam indra pendengaran Erland membuat laki-laki yang tengah di liputi dengan kekecewaan itu membuka matanya. Dan dengan memperlihatkan fake smilenya ia berkata, "Ya tentu saja, aku baik-baik saja. Mungkin memang belum saatnya kita di karuniai seorang keturunan. I'm okey, tenang saja. Hmmm tapi Ra, aku izin buat keluar sebentar ya. Mau beli bensin dulu. Aku tadi lupa beli soalnya. Bye, Ra. Assalamualaikum."


Tanpa menyematkan sebuah kecupan di kening Maura bahkan tanpa menunggu Maura untuk menyalami tangannya juga tanpa menunggu persetujuan dari Maura, ia langsung pergi begitu saja. Tentunya kepergiannya itu bukan seperti yang ia ucapkan tadi melainkan untuk menenangkan dirinya sendiri.


__ADS_2