
"Kamu apaan sih, Mel. Pengang nih telinga. Bisa gak kalau gak pakai teriak segala seperti tadi," protes Maura dengan mengusap telinganya yang berdengung.
Meli nyengir kuda kala mendapat protesan dari sang sahabat tadi.
"Maaf refleks. Tapi nama suami kamu ini sama seperti nama CEO yang perusahaannya kemarin aku datangi buat melamar pekerjaan." Maura mencebikkan bibirnya.
"Nama seseorang itu bisa di copy paste kali Mel. Nama boleh sama tapi tetap saja mereka itu berbeda. Ya kali, jika suamiku itu kerja sebagai CEO tapi dia hanya mampu beli rumah ini dan ngasih uang bulanan aku cuma 2 juta saja perbulan. Pelit sekali kalau memang itu benar." Meli tampak berpikir sesaat, ia tampaknya setuju dengan ucapan dari Maura tadi.
"Hmmm benar juga sih apa yang kamu katakan."
"Nah benar kan. Jadi sudah dipastikan jika orang yang kamu maksud itu bukanlah suamiku. Mungkin hanya kebetulan saja mereka memiliki nama yang sama," ucap Maura yang membuat Meli mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sesaat setelah itu, tak ada percakapan diantara dua perempuan tersebut. Namun tak berselang lama, Meli yang masih kepo maksimal dengan suami sahabatnya tersebut ia kembali bertanya.
"Ra."
"Hmmm."
"Kamu tadi bilang kalau suamimu tampan kan?" Maura menganggukkan kepalanya tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang ada di tangannya itu.
"Kalau begitu bisa kali kasih lihat wajah suamimu itu." Maura kini menatap kearah Meli dengan salah satu alis yang terangkat.
"Tenang saja aku tidak akan merebut dia dari kamu kok. Aku hanya penasaran dengan wajahnya saja tidak lebih," ucap Meli yang tak mau terjadi kesalahpahaman antara dirinya dan sang sahabat.
"Kalaupun kamu nanti naksir sama suamiku, aku juga tidak peduli Meli. Tapi sayangnya permintaanmu yang itu tidak bisa aku kabulkan karena aku tidak memiliki foto dia sama sekali."
"Hah? Masak kamu gak punya sih? Foto pernikahan kalian?"
"Tidak ada. Kita berdua tidak melakukan sesi foto dalam pernikahan itu." Meli melongo dibuatnya.
"Astaga. Ya sudah kalau kamu tidak punya fotonya tidak masalah. Tapi kamu punya kan kontak nomor dia? Atau akun media sosialnya kamu tau kan?" Maura menggelengkan kepalanya yang semakin membuat Meli kembali terkejut.
"Kamu sedang tidak membohongiku kan Ra?"
__ADS_1
"Ck, bohong karena apa sih Mel? Kalau masalah tentang aku yang tidak memiliki foto, nomor dia, atau tidak tau media sosialnya, aku mengatakan yang sebenarnya. Toh untuk apa juga aku bohong sama kamu? Gak ada gunanya," jawab Maura yang sekarang membuat Meli memijit pangkal hidungnya.
"Sudahlah untuk apa kita bahas laki-laki itu. Dan lebih baik kita bahas masalah interview kamu kemarin. Jadi gimana hasilnya? Kamu di terima tidak?" tanya Maura penuh dengan ke antusiasannya.
Meli tampak menghela nafas. Ia sebenarnya masih ingin bertanya banyak tentang hubungan rumah tangga sahabatnya itu tapi berhubung Maura yang sepertinya sudah jengah menceritakan masalah rumah tangganya. Ia memilih untuk menyimpan pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat ia tanyakan itu kepada Maura. Tapi ia tetap akan bertanya kepada sahabatnya itu di lain waktu.
"Aku belum mendapatkan informasi tentang hasil interview kemarin karena kata mereka jika aku di terima, mereka akan menghubungiku kembali," ujar Meli yang membuat Maura kini mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Tapi apapun hasilnya kamu terima kan? Gak bakal demo ke perusahaan itu?"
"Ya kali aku demo gara-gara tidak di terima di perusahaan yang memang sudah aku incar dari dulu itu. Karena perlu kamu tau ya Ra kalau perusahaan itu keamanannya, beuhhhh the best deh. Banyak banget orang-orang berbadan kekar yang tersebar di perusahaan itu. Jadi kalau seumpama aku mau melakukan demo kesana yang ada aku kalah terlebih dahulu karena lawannya gak main-main. Jadi ya kalaupun aku tidak diterima di perusahaan itu aku harus ikhlas walaupun sulit. Tapi ya doakan saja kalau aku di terima karena ini sudah menjadi impianku dari dulu. Doakan ya Ra." Maura tampak tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Tenang saja tanpa kamu minta aku sudah mendoakan kamu. Tapi jika kamu di terima, aku mendapat balasan apa dari kamu." Maura menarik turunkan alisnya. Sedangkan Meli, perempuan itu memutar bola matanya malas. Sudah bisa ia tebak, walaupun dirinya hanya meminta bantuan berupa doa kepada Maura, pasti sahabatnya itu meminta imbalan juga pada ujungnya.
"Haishhh kirain kamu doain aku dengan ikhlas tapi ternyata minta imbalan juga," ucap Meli yang dibalas dengan cengiran oleh Maura.
"Biar seimbang lah, Mel. Jadi apa yang akan kamu berikan kepadaku?"
Meli mendengus namun tak urung ia membalas ucapan dari sahabatnya itu.
"Beneran?" Tanya Maura untuk memastikan.
"Hmmm. Tapi ingat, jika aku di terima lho ya. Kalau tidak, kamu tidak dapat apa-apa," ucap Meli.
"Kamu tenang saja. Doa yang selalu aku panjatkan itu biasanya mujarab," kata Maura penuh dengan percaya diri.
"Terserah kamu lah Ra," ucap Meli yang sepertinya perempuan itu sudah lelah menghadapi sang sahabat. Sebelum tangannya kini mengambil ponselnya yang sempat berbunyi tadi, tanda jika ada sebuah email masuk.
Dan saat Meli mulai membuka ponselnya untuk melihat pesan masuk di emailnya, Maura justru sekarang tengah khusyuk dalam berdoa meminta agar Meli di terima bekerja.
Tapi ditengah ia berdoa, tiba-tiba...
Brakkk!
__ADS_1
"OH MY GOD!"
Maura terperanjat kaget kala mendengar gebrakan meja serta teriakan yang pastinya berasal dari Meli.
Dan dengan mengelus dadanya yang tanpa berdetak dua kali lebih kencang itu, ia menatap Meli yang tengah senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
"Sudah aku bilang kan tadi kalau kamu tidak perlu teriak-teriak. Udah di bilangin malah diulangi lagi. Untung saja aku ini tidak memiliki riwayat penyakit jantung jika punya sudah dipastikan aku dilarikan ke rumah sakit. Sialan memang kamu ini," semprot Maura yang sebal karena mulut rombeng sahabatnya tersebut.
"Hehehe peace Ra."
"Peace peace. Lagian kamu ngapain sih teriak-teriak lagi seperti tadi mana pakai gebrak meja segala? Tapi habis itu malah senyum-senyum gak karuan. Obat kamu habis atau gimana?" tanya Maura.
"Ya ampun Ra. Kamu tahu gak?"
"Gak."
"Ck, aku belum selesai."
"Kalau gitu selesaikan." Meli berdecak. Ingin sekali ia menendang sahabatnya itu jika dia tidak sayang dengannya.
"Kamu tau kenapa aku senyum-senyum sendiri, karena aku baru saja dapat email pemberitahuan dari perusahaan incaranku itu yang menyatakan jika aku di terima bergabung dengan perusahaan itu. Aaaaa aku bahagia banget!" Entah tenggorokan Meli itu terbuat dari apa karena lagi-lagi perempuan itu berteriak hingga suaranya menggelegar sampai memenuhi satu rumah tersebut. Namun ucapan dari Meli tadi tak urung membuat Maura melongo tak percaya tapi sesaat setelahnya ia ikut heboh.
"Serius?!" Meli menganggukkan kepalanya.
"Wahhhhh Daebak! Kan sudah aku katakan tadi kalau doaku itu selalu mujarab. Jadi karena kamu sudah diterima di perusahaan itu, kamu harus menempati janjimu," ucap Maura.
"Baiklah-baiklah aku akan menepati janjiku dan katakan kamu mau apa dariku."
Maura tampak berpikir sesaat sebelum sebuah senyuman terbit di bibirnya. Dimana hal tersebut membuat Meli yang melihatnya mengerutkan keningnya, ia penasaran dengan permintaan Maura yang harus ia lakukan. Jangan sampai sahabatnya itu meminta hal aneh-aneh kepadanya, contohnya minta dia untuk menjadi madunya misalnya.
...****************...
Terimakasih 50 like sebelum jam 12 siangnya semuanya. Seneng deh kalau kayak gini. Big Love you deh buat kalian. Dan sesuai janjiku tadi, double update sudah terlaksana ya. Tapi kalau kalian mau tambah lagi jadi triple update bisa kali 50 like lagi sebelum jam 6 sore. Gimana? Bisa gak menuhin tantangan ini?
__ADS_1
Oh ya jangan lupa KOMEN, VOTE dan HADIAHNYA juga ya. Bye semua see you ❤️