PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 159


__ADS_3

"Ahhh sudahlah, mungkin memang bos kamu terlalu baik banget dan sangat royal. Dan daripada mikirin hal itu lagi, lebih baik kita lanjutkan rencana kita tadi," ucap Maura dengan berdiri dari posisi duduknya. Dimana hal tersebut membuat Erland tersadar dari lamunannya tadi.


"Aku gak tau kamu mau bawa aku kemana yang penting setelah kamu mengajak aku ke suatu tempat, kita harus makan makanan yang aku sebutin tadi," sambung Maura yang membuat Erland tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya. Dan hal itu juga membuat Erland kembali tersenyum.


"Kalau begitu, tunggu sebentar!" ujar Maura kembali lalu setelahnya, ia berlari masuk kedalam kamar mandi.


Kepergian dari Maura tadi, Erland kembali terdiam sebelum ia menghela nafas dengan tangannya yang bergerak untuk memijit pangkal hidungnya sembari bergumam, "Maafkan aku sayang. Maaf."

__ADS_1


Erland sangat berharap jika suatu saat nanti Maura mengetahui siapa dirinya, istrinya itu tidak sampai marah besar kepadanya. Sumpah demi apapun jika Maura marah, entah apa yang akan Erland lakukan untuk membujuk istrinya tersebut.


Disaat Erland dan Maura merencanakan untuk menikmati kebersamaan mereka sekaligus Erland ingin merayakan keberhasilannya tadi. Di lain sisi terdapat seorang laki-laki paruh baya dengan langkah lunglainya ia memasuki rumah sakit, dirinya sudah tidak lagi di cegah oleh para satpam disana yang sempat tadi pagi ia harus mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk berusaha menerobos para satpam tadi. Sedangkan saat ini, ia langsung di persilahkan masuk begitu saja, kedua satpam yang menjaga pintu masuk pun tampak cuek dengan keberadaan dirinya, seakan-akan kejadian tadi pagi itu tidak pernah terjadi.


Laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Papa Jaya kini ia menghela nafas panjang setelah menatap kedua satpam tadi sebelum dirinya kembali melangkahkan kakinya dan tujuan utamanya ke ruang ICU, tempat dimana putrinya berada.


"Pa," ucap Mama Rina yang sudah berdiri kemudian berlari mendekati Papa Jaya. Dimana saat jarak diantara mereka sudah terkikis, Mama Rina langsung berhambur ke pelukannya.

__ADS_1


"Pa, gimana bisa terjadi hiks? Kenapa bisa perusahaan kita bangkrut seperti ini? Bukannya kemarin-kemarin baik-baik saja, tapi kenapa tiba-tiba jadi bangkrut? Kalau seperti ini kita harus membiayai pengobatan Orla dengan apa? Aku yakin sebagian dari tabungan kita harus kamu gunakan untuk menutup ganti rugi semua yang telah terjadi sedangkan kita tidak tau Orla akan bangun kapan? Tidak mungkin kita membiarkan Orla tidak mendapatkan penanganan. Aku masih mau Orla hidup Pa, dia anak kita satu-satunya. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan dan apa yang akan terjadi kepada diriku sendiri jika sampai Orla meninggalkan kita selamanya. Aku tidak mau Orla pergi Pa, hiks. Aku masih mau melihat dia bahagia di dunia ini," ucap Mama Rina meraung-raung didalam pelukan Papa Jaya. Sungguh dirinya tidak rela jika pihak rumah sakit mencopot semua peralatan yang bisa menopang hidup Orla selama koma ini karena mereka tidak memiliki biaya yang cukup untuk membayarnya dan tentunya konsekuensinya saat semua peralatan yang saat ini menempel di tubuh Orla itu di lepas, Orla akan menghembuskan nafasnya terakhir.


Papa Jaya yang masih bingung harus berbuat apa pun ia hanya diam dengan mengelus punggung Mama Rina.


Hingga suara seseorang yang berada tepat di belakang tubuh Papa Jaya terdengar, "Kalian tidak perlu khawatir. Karena semua biaya perawatan Orla, saya yang akan menanggungnya."


Papa Jaya dan Mama Rina yang mendengar suara tersebut, mereka langsung melepaskan pelukan yang tengah mereka lakukan dan dengan serempak keduanya menolehkan kepalanya ke sumber suara. Keduanya tampak terkejut saat melihat si pemilik suara tadi.

__ADS_1


__ADS_2