
"Kamu pengen sesuatu atau tidak?" tanya Erland kala mereka berdua sudah berada di perjalanan pulang.
Maura yang di tanya pun dengan cepat ia menolehkan kepalanya kearah Erland.
"Mau es krim," jawab Maura dengan antusias.
Erland yang sempat melirik kearahnya pun sampai di buat gemas sendiri dengan reaksi Maura tadi.
Sehingga tangan kiri Erland bergerak, menggapai kepala Maura untuk ia elus sembari berkata, "Baiklah kalau begitu kita mampir ke supermarket dulu."
Maura mengangguk patuh seperti seorang anak kecil. Lalu setelahnya Maura kembali duduk anteng dengan menatap kearah depan sampai mobil milik suaminya itu telah sampai di salah satu supermarket yang mereka lalui.
Dengan Erland yang membukakan pintu terlebih dahulu, barulah Maura turun dari dalam mobil tersebut.
Keduanya saling bergandengan tangan memasuki supermarket tersebut.
"Ambil apapun yang kamu mau," ujar Erland kala mereka sudah sampai di deretan per-es kriman itu.
"Beneran?"
Dengan senyum yang mengembang Erland menganggukkan kepalanya. Tentunya anggukan kepala itu membuat Maura tersenyum lebar dan tanpa menunggu lama lagi, perempuan itu langsung melepaskan genggaman tangan mereka, lalu mendekati makanan yang ia inginkan itu.
Sedangkan Erland, ia mencuri kesempatan tersebut untuk menelepon seseorang.
Dengan sesekali menatap kearah Maura yang masih asik sendiri, Erland menunggu panggilannya di jawab oleh seseorang yang tengah ia hubungi saat ini. Sampai akhirnya di dering ke 5 telepon darinya di angkat juga, di tandai dengan suara seseorang yang masuk kedalam indra pendengarannya.
📞 : "Halo. Assalamualaikum, kenapa Er?" tanya orang di seberang sana.
__ADS_1
"Waalaikumsalam Bang. Erland mau tanya," balas Erland yang membuat seseorang di seberang telepon tersebut mengerutkan keningnya.
📞 : "Tanya apaan? Abang jawab kalau memang Abang bisa. Kalau Abang gak bisa jawab kamu tanya orang lain saja."
Erland memutar bola matanya malas mendengar jawaban dari Abang pertamanya itu.
"Aku yakin Abang bisa jawab. Karena aku tanya tentang keluarga jaya."
📞 : "Kenapa lagi dengan mereka?" tanya Adam yang entah kenapa memiliki filing yang tidak enak.
Erland tampak menghela nafas panjang dengan tatapan mata yang mengarah ke Maura yang masih sibuk memindahkan es krim yang ia inginkan ke troli belanjaan. Namun tak urung Erland menjawab pertanyaan dari Adam tadi dengan menceritakan apa yang sudah Maura ceritakan tadi kepadanya.
"Begitu bang ceritanya. Jadi aku mau tanya apa keluarga itu masih ada di rumah sakit Abang?" tanya Erland yang membuat Adam di sebrang sana yang tadi tengah mengepalkan tangannya, tak terima jika keluarga itu kembali mengusik ketenangan adik dan adik iparnya kini tersadar dari rasa amarah yang sudah hampir meledak itu.
📞 : "Benar, dia masih ada disini. Daddy kan sudah bilang kalau beliau tidak mau mengusir orang-orang itu sebelum Orla sembuh dengan alasan kemanusiaan. Jadi karena kondisi Orla yang belum stabil kita tetap menahan dia untuk tidak pulang terlebih dahulu. Tapi entah jika kejadian ini di ketahui oleh Daddy, aku yakin perikemanusiaan Daddy akan langsung hilang begitu saja. Jadi biar nanti Abang bicarakan semua ini ke Daddy dulu. Kamu tidak perlu bergerak sedikitpun, cukup lindungi istri kamu. Tapi tunggu dulu, kamu tadi kesini ngapain? Gak mungkin cuma main-main aja kan?" tanya Adam yang sudah tak tahan untuk tidak bertanya alasan adiknya dan adik iparnya itu pergi ke rumah sakit tadi.
"Gak bang. Aku sama Maura ke rumah sakit bukan untuk main-main saja tapi untuk periksa kandungan. Dan Abang tau, Erland sebentar lagi jadi Daddy," ucap Erland. Tentunya hal tersebut membuat Adam terkejut sesaat sebelum senyum bahagia terpatri jelas di bibirnya.
📞 : "Maura hamil?"
"Iya. Baru satu bulan sih."
📞 : "Syukur, Alhamdulillah kalau begitu. Abang ikut senang dengarnya. Selamat ya dan kalau kamu sudah tau jika di dalam raga istri kamu itu bukan hanya ada istri kamu saja melainkan ada calon anak kamu, kamu tidak boleh lengah menjaga dia karena keselamatan mereka lebih utama. Jangan biarkan penyesalan yang kamu rasakan. Karena menurut Abang, Maura tidak akan tenang jika kita benar-benar belum bisa membereskan keluarga Jaya itu. Dan kalau Abang boleh menyarankan nih ya Er, sebaiknya kalian tinggal di rumah keluarga Abhivandya dulu karena penjagaan di rumah sana sangat lah aman dibandingkan rumah kamu ataupun rumah kedua orangtua Maura. Tapi tetap, kamu harus berembuk dulu masalah ini dengan Maura. Jika dia tidak mau, jangan di paksa. Tapi jangan pula kamu menuruti keinginan dia, jika dia ingin segera kembali ke rumah kalian. Karena kalau dibandingkan dengan rumah keluarga kedua orangtua Maura, rumah kalian jauh lebih tidak aman lagi. Jadi jika dia tidak mau tinggal di rumah keluarga Abhivandya tidak masalah tinggal di rumah keluarga dia asalkan kamu harus memperketat penjagaan lagi di rumah itu. Lagian jika di rumah itu, kamu juga akan merasa tenang kalau bekerja karena disana pasti ada Mama Maura yang akan menemani dan membantu kamu untuk menjaga Maura daripada di rumah kalian yang pastinya Maura akan sendirian dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi," ujar Adam panjang lebar.
Erland yang sedari tadi menyimak pun ia menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan Abangnya itu.
"Iya bang. Nanti aku bicarakan masalah tempat tinggal untuk sementara waktu dengan Maura. Dan terimakasih sudah kasih saran ke Erland. Erland akan menjaga Maura semampu Erland dan masalah tentang penyerangan Maura tadi, aku percayakan ke Abang dan Daddy. Tapi jika kalian membutuhkan bantuan, telepon aku segera. Aku siap membantu," ujar Erland walaupun ia sangat yakin jika Daddy Aiden ataupun Adam tidak akan kesusahan untuk mengurus masalah yang tengah terjadi ini, tapi tidak masalah juga kan kalau menawarkan bantuan terlebih dulu ke mereka, siapa tau memang ada satu kondisi yang tak terduga nantinya dan Erland lah yang harus bergerak.
__ADS_1
📞 : "Iya, nanti Abang kasih tau kalau memang Abang atau Daddy butuh bantuan kamu."
"Terimakasih sekali lagi bang. Kalau begitu, Erland tutup dulu teleponnya, Maura sudah selesai belanja soalnya. Assalamualaikum bang," ucap Erland berpamitan.
📞 : "Baiklah. Waalaikumsalam," balas Adam lalu setelahnya sambungan telepon kedua orang itu terputus bertepatan dengan Maura yang sudah berdiri di depan Erland dengan tatapan mata penuh penasaran.
Dan sebelum perempuan itu bertanya dengan siapa Erland berbicara lewat telepon tadi, Erland sudah lebih dulu menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan log panggilan keluar kepada Maura.
"Aku berbicara dengan bang Adam sayang. Dia tadi tanya kenapa kita tadi ke rumah sakit," ucap Erland yang diangguki oleh Maura.
"Oh bang Adam ya. Kirain tadi teleponan sama siapa karena kelihatan serius banget," balas Maura.
"Masak sih?"
Maura menganggukkan kepalanya.
"Iya lho. Bahkan wajah kamu kayak orang yang lagi menahan amarah. Makanya aku langsung nyamperin ke sini. Takutnya kamu ada masalah di kantor kamu atau dengan orang lain sampai buat kamu harus berekspresi se-mengerikan tadi," jawab Maura.
Erland tersenyum dengan tangan yang mengelus rambut Maura, "Aku tidak sedang marah sayang. Mungkin kamu salah lihat tadi. Oh ya, kamu sudah selesai belanjanya?"
Erland mencoba mengalihkan pembicaraan mereka agar istrinya itu tidak curiga jika dirinya tengah mendalami kasus yang tengah menimpa Maura tadi.
Maura menatap kearah troli di hadapannya itu kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Sudah nih. Bayar yuk, habis itu pulang. Capek juga nih aku dari tadi gak rebahan," ujar Maura yang semakin membuat Erland tersenyum lebar.
"Ya udah ayo kita ke kasir sekarang juga."
__ADS_1
Dengan Erland yang mendorong troli, mereka berdua berjalan beriringan menuju ke tempat kasir berada untuk menyelesaikan transaksi mereka.