
Maura yang sudah menemukan gaun pilihannya pun ia kini menghampiri Mama Dian yang sudah duduk manis di salah satu sofa di dalam butik tersebut.
"Ma, Maura udah dapat nih bajunya. Mama sudah dapat juga kan?" tanya Maura dengan melihat kearah sekeliling Mama Dian. Namun ia tak menemukan satupun dress ataupun pakaian disana.
"Lho kok gak ada baju yang Mama pegang. Jangan bilang kalau Mama gak beli," sambung Maura.
Mama Dian terkekeh melihat wajah cemberut Maura. Putrinya itu mungkin mengira jika dirinya tidak beli apapun, padahal...
"Kata siapa Mama tidak beli. Lihat tuh di tempat kasir. Semua itu baju Mama yang akan Mama beli hehehe," ucap Mama Dian dengan menunjuk ke arah kasir. Dimana hal tersebut membuat Maura mengikuti arah jari telunjuk Mama Dian.
Maura di buat melongo melihat tumpukan baju yang berada di meja kasir. Ia juga melihat sampai ada tiga karyawan yang membantu kasir utama untuk menjumlah belanjaan Mama Dian dan dua lainnya membantu untuk memasukkan pakaian itu kedalam paper bag.
"Ma, Mama serius beli baju segitu banyaknya?" tanya Maura tak percaya.
__ADS_1
"Pakaian Mama sudah tidak ada yang muat Maura. Saat kamu menikah, Mama jadi malas olahraga dan alhasil tubuh Mama mengembang. Dan kamu tau berat badan Mama sampai naik 15 kilo dalam waktu 2 bulan." Lagi-lagi Maura melongo mendengar penuturan dari Mama Dian. Memang benar sih, ia melihat tubuh sang Mama yang semakin berisi. Kedua pipinya pun semakin chubby tapi wajah yang sudah tak muda itu tetap saja masih terlihat cantik dan fresh.
"Mama yakin naik 15 kilo?" Mama Dian menganggukkan kepalanya.
"Makanya itu Mama beli banyak pakaian disini. Dan kamu, kenapa kamu hanya pegang satu gaun saja? Jangan bilang kamu hanya mau beli itu saja," tebak Mama Dian yang sayangnya tebakannya itu benar adanya.
"Hehehe iya. Maura hanya mau beli ini saja," balas Maura yang langsung mendapat tatapan tajam dari Mama Dian.
"Gak. Gak boleh kamu harus beli lebih dari satu. Jadi buruan sekarang cari lagi gaun atau dress ataupun pakaian lain yang ada disini yang kamu inginkan." Mama Dian mendorong pelan tubuh Maura agar segara bangkit dari posisi duduknya dan segara melakukan apa yang dia katakan tadi. Bukannya ia mau mengajak Maura kembali ke sifatnya yang dulu yang sering menghambur-hamburkan uang tapi masalahnya sang menantu tadi baru mengirim sejumlah uang secara tiba-tiba ke rekening dirinya. Dan jangan tanya jumlah yang dikirimkan oleh Erland tidak main-main, hingga membuat Mama Dian tadi sempat melongo tak percaya melihat 7 nol di belakang angka 5. Yap, Erland mengirimkan uang senilai 50 juta untuk biaya Maura jika istrinya itu menginginkan sesuatu. Dan karena hal itu tidak mungkin kan Mama Dian membiarkan Maura hanya membeli satu buah gaun saja yang mungkin harganya sekitar 3 atau 4 jutaan. Mungkin kalau yang berada di posisi Mama Dian itu perempuan lain, mereka dengan senang hati mengiyakan permintaan Maura yang hanya membeli satu gaun saja, bahkan mungkin kalau perlu tidak membiarkan uang itu digunakan oleh si pemilik asli yang artinya mereka akan mengkorupsi uang itu untuk dirinya sendiri. Tapi Mama Dian berbeda. Ia akui jika matanya akan berubah menjadi hijau jika melihat uang. Namun ia tak segila itu melakukan korupsi uang anaknya sendiri yang diberikan oleh menantunya. Dan jika memang uang itu nanti sisa, Mama Dian tetap akan mengembalikannya kepada Erland.
"Apa? Kamu gak punya uang gitu? Kan Mama tadi sudah bilang kalau apapun yang kamu mau akan Mama turuti hari ini. Jangan pikirkan uang yang kita habiskan hari ini. Jadi jangan kebanyakan protes. Cepat pergi sana. Pilih-pilih lagi, Mama tunggu disini," ucap Mama Dian dengan galaknya yang membuat Maura hanya bisa menghela nafas panjang dan dengan langkah berat ia pergi menjauh dari Mama Dian.
Tak seperti sebelumnya, Maura hanya asal ambil pakaian yang ia lihat dan cukup menarik. Kali ini ia harus memilih dengan teliti, bagian dada tidak kelihatan, dengan potongan gaun panjang atau kalau tidak yang berada dibawah lutut. Yang terlihat sopan dan tertutup namun masih meninggalkan kesan elegan.
__ADS_1
Ditengah-tengah Maura memilih pakaian yang akan ia beli, samar-samar telinganya menangkap percakapan dari dua orang yang berada tak jauh darinya.
"Kamu cantik banget sih nak. Mama jadi sangat yakin jika kamu tidak akan di tolak nanti. Bahkan Erland nanti pasti akan terpesona dengan kecantikan kamu."
Deg!
Jantung Maura seakan berhenti berdetak beberapa detik setelah mendengar suara tadi. Suara yang mengatakan nama suaminya.
Dan dengan tangan yang bergetar hebat, Maura menolehkan kepalanya kearah dua perempuan yang tadi sempat ia lihat di lampu merah. Tapi tunggu, bukannya kata Mama Dian tadi, mereka akan melakukan lamaran di rumah keluarga Abhivandya? Tapi kenapa nama Erland ikut terseret? Apa jangan-jangan nama salah satu putra dari keluarga Abhivandya itu memilik nama yang sama dengan nama suaminya? Atau dirinya yang salah dengar? Sumpah demi apapun Maura saat ini tengah bertanya-tanya.
Dan daripada dirinya mati penasaran, ia memilih untuk langsung menjelajahi sebuah aplikasi pencarian, mengetikkan sebuah nama dengan marga Abhivandya dan tak menunggu waktu lama, muncul profil keluarga terpandang itu dengan keturunan mereka. Ia membaca satu persatu nama tersebut dan melihat foto mereka.
"Tidak ada nama Erland disini. Adanya hanya Adam, Vivian, Zico, Azlan dan Leon. Di artikel ini juga tidak memperlihatkan foto dengan wajah suamiku. Apa aku salah dengar ya yang aku kira Erland, tapi yang mereka maksud sebenarnya adalah Azlan. Lagian kalau memang yang mereka maksud Erland bukan berarti Erland suamiku kan ya? Nama Erland kan banyak. Jadi ya udah fiks sih aku memang salah dengar saja dan terlalu parno dengan yang namanya pelakor. Toh kalaupun Erland, suamiku berbohong dengan memalsukan identitasnya yang sebenarnya harusnya di sini juga tertulis nama Edrea karena Edrea kan adik Erland yang otomatis keturunan Abhivandya juga. Malah Edrea disini di tulisnya sebagai menantu terakhir keluarga itu. Tapi kalau yang mereka maksud adalah Azlan, bukannya Azlan sudah menikah ya. Apa jangan-jangan dia sudah cerai dengan istrinya? Karena artikel ini di tulis 2 bulan yang lalu, yang artinya belum di perbarui. Dan karena mereka tidak mau kalah cepat dengan perempuan lain, mereka langsung tancap gas langsung melamar Azlan. Hmmm bisa jadi sih. Ahhh sudahlah, pusing sendiri aku mikirin urusan orang lain," ujar Maura yang menganggap jika dirinya hanya salah dengar saja tadi. Padahal apa yang ia dengar adalah sebuah kebenaran. Pendengarannya tidak salah menangkap suara dua perempuan tadi yang saling bercakap-cakap jika mereka bukan menginginkan Azlan untuk mereka lamar nanti, melainkan Erland, suaminya.
__ADS_1
Jangan tanya kenapa di dalam artikel yang di baca oleh Maura sangat berbeda dari kenyataannya, tentunya karena Erland sudah mengatur semua artikel yang menyorot kehidupan keluarga Abhivandya, merubahnya sedemikian rupa agar Maura yang semisal curiga dengannya tidak mengetahui fakta yang sebenarnya sebelum Erland sendiri nanti yang memberitahu Maura. Erland memang benar-benar niat sekali menyembunyikan identitasnya dari Maura.