
Sepasang ibu dan anak kini sudah berada di dalam mobil yang sama, dengan Maura yang menyetir mobil milik ibundanya itu. Di setiap perjalanan menuju ke sebuah butik yang Mama Dian inginkan untuk membeli dress baru, suara Mama Dian menemani perjalanan mereka berdua. Sedangkan Maura, ia hanya sesekali menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mama Dian jika memang itu penting, kalau tidak ia hanya akan menjawab dengan deheman saja atau hanya kata iya dan tidak. Selebihnya ia memilih fokus ke jalanan di depannya itu.
Sampai saat mobil yang di kendarai oleh Maura berhenti di salah satu lampu merah, Mama Dian menolehkan kepalanya keluar kaca mobil tersebut. Dimana ia bisa melihat situasi di luar tanpa kaca mobilnya itu ia turunkan terlebih dahulu dan tak sengaja matanya langsung tertuju ke salah satu mobil yang berhenti tepat di sampingnya. Ia bisa melihat dengan jelas siapa orang yang ada di dalam mobil disampingnya itu karena kaca di sebelah kemudi di mobil yang ia lihat itu terbuka. Dan ia sangat kenal betul dengan dua perempuan di dalam mobil tersebut.
Hingga Mama Dian kini menepuk-nepuk lengan Maura tanpa mengalihkan pandangannya dari seseorang di mobil lain.
"Maura lihat."
"Ck, apaan sih Ma?" tanya Maura dengan menepuk pelan tangan mamanya yang terus menepuk lengannya itu.
"Haishhhh lihat itu tuh. Orang yang ada di mobil sebelah Mama." Maura mengintip sekilas kearah seseorang yang ada di dalam mobil di samping Mamanya itu.
"Cantik," ucap Maura memberikan penilaian kepada perempuan yang baru saja ia lihat.
"Cantikan kamu," timpal Mama Dian yang membuat Maura mengerutkan keningnya.
"Semua perempuan itu cantik Ma. Lagian Mama kenapa sih tiba-tiba nyuruh Maura buat lihat orang yang ada di mobil itu?" tanya Maura sembari menjalankan kembali mobilnya karena lampu rambu-rambu lalulintas sudah berganti warna.
Mama Dian sedikit memiringkan posisi duduknya agar menghadap kearah Maura.
"Kamu tau, ibu dari perempuan itu tadi malam memberikan berita ke grup arisan Mama," ucap Mama Dian.
__ADS_1
"Terus kenapa? Apa berita itu sangat penting atau menyangkut bahkan membahayakan nyawa Mama?" Mama Dian berdecak kesal. Anaknya itu memang ya tidak bisa serius jika ia ajak bergosip.
"Ck, menurut Mama informasi ini penting walaupun memang tidak menyangkut nyawa Mama. Tapi Mama tuh kepo tau Ra. Kata dia tadi malam, dia nanti sore akan melamar salah satu anak dari keluarga Abhivandya untuk putrinya. Perempuan yang kamu lihat tadi," ucap Mama Dian yang di respon dengan anggukan kepala oleh Maura yang justru membuat Mama Dian kesal setengah mati dengan Maura hingga ia melayangkan sebuah pukulan ke lengan Maura, kali ini pukulan yang ia berikan cukup keras, berhasil membuat Maura meringis kesakitan.
"Mama, sakit!" kesal Maura.
"Rasain. Lagian siapa suruh kamu ngangguk-ngangguk saja dari tadi."
"Ya terus Maura harus bagaimana? Toh kalau mereka mau melamar salah satu anak dari keluarga Abhivandya ya terserah mereka. Hidup-hidup mereka. Kalau di terima, mereka juga yang bahagia, kalau di tolak mereka juga yang akan malu. Tidak berimbas apapun ke kita Ma. Jadi untuk apa Maura harus memikirkan kehidupan orang lain. Tidak ada manfaatnya sama sekali," ujar Maura.
"Iya juga sih. Tapi kan Mama penasaran sayang. Keturunan keluarga Abhivandya yang mana yang akan di lamar oleh mereka. Perasaan semua putra ataupun putri keluarga Abhivandya itu sudah menikah semua karena Mama sama Papa sendiri juga menghadiri pesta pernikahan mereka. Dan salah satunya Mama sendiri yang menjadi saksi pernikahan salah satu keturunan Abhivandya yang sekarang menjadi menantu Mama, suami kamu, Maura." Mama Dian hanya bisa mengucapakan kalimatnya yang terakhir didalam hatinya saja. Tak berani mengungkapkan secara langsung.
Mama Dian terus memikirkan hal tersebut sampai ia tak menyadari jika dirinya saat ini telah sampai di tempat yang ia inginkan. Hingga suara Maura menyadarkan dirinya.
"Ma, udah sampai. Mama gak mau masuk gitu?" tanya Maura.
"Ehhh udah sampai ya." Maura memutar bola matanya malas. Dan tanpa mengucapakan sepatah katapun ia keluar lebih dulu dari Mama Dian yang langsung di susul oleh wanita paruh baya tersebut. Kemudian setelahnya mereka berdua masuk kedalam butik yang sama seperti butik yang dulu Maura datangi saat memilih gaun pernikahan dirinya dengan Erland beberapa bulan yang lalu.
Dimana saat mereka berdua sudah masuk kedalam butik itu, tak berselang lama sebuah mobil baru saja berhenti tepat di samping mobil milik Mama Dian tadi terparkir. Lalu setelahnya dua perempuan berbeda umur itu keluar dari dalam mobil tersebut.
"Kamu siap sayang?" tanya wanita paruh baya tersebut ke perempuan yang lebih muda darinya itu.
__ADS_1
"Tentu saja Ma. Bahkan aku sudah tidak sabar lagi untuk memilih gaun terbaik disini sekaligus bertemu Kakak ipar," ucapnya diakhiri dengan kekehan kecil.
"Kalau begitu kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan di dalam butik itu dan saat bertemu dengan calon Kakak ipar kamu?" Perempuan tersebut yang tak lain adalah Orla menganggukkan kepalanya.
"Tau dong harus bisa menjaga sikap agar Kakak ipar menilaiku dengan point plus bukan minus yang tentunya akan langsung mendapat restu kalau aku bersikap baik dan sopan," ucap Orla penuh percaya diri.
"Smart girl. Ya udah kalau gitu kita masuk sekarang saja. Ayo sayang." Mama Rina menggandeng tangan Orla, memasuki butik milik salah satu Kakak Erland, siapa lagi kalau bukan Vivian pemiliknya. Makanya Orla bertekad untuk merubah sikapnya saat di dalam butik nanti.
Saat mereka berdua masuk, keduanya langsung mengedarkan pandangannya, melihat ke sekeliling butik itu untuk mencari pemilik butik dari beberapa orang yang tengah berkunjung ataupun karyawan disana. Namun salah satu dari mereka tak berhasil menemukannya.
"Kok si Vivian gak ada sih Ma? Kemana dia?" tanya Orla. Kalau sampai Vivian tidak datang ke butik itu, gagal sudah rencana Orla yang ingin merebut hati Kakak iparnya itu agar rencananya semakin mulus untuk menyakinkan Erland jika dirinya lah yang terbaik untuk dijadikan istri Erland bukan perempuan lain di luaran sana.
"Iya nih. Mama juga tidak melihat batang hidung dia." Orla mengerucutkan bibirnya.
"Kalau dia gak ada percuma dong kita kesini." Mama Rina menolehkan kepalanya kearah sang putri. Saat ia melihat kerucutan di bibir Orla, tangannya bergerak untuk mengelus kepala putrinya itu dengan penuh kasih sayang sembari ia berkata, "Kamu tenang dulu sayang dan lebih baik kamu cari-cari gaun saja dulu disana. Mama nanti susul setelah Mama tanya sama salah satu karyawan disini mengenai Vivian dimana. Dan kalau Vivian memang ada disini, Mama nanti suruh salah satu karyawan disini untuk memanggilkan dia agar bertemu dengan kamu."
"Ck, ya sudah deh. Orla cari gaun dulu. Kalau nanti Mama sudah tanya sama salah satu karyawan disini, Mama langsung samperin Orla," pinta Orla yang diangguki oleh sang Mama. Dimana saat ia melihat anggukkan kepala dari Mamanya, Orla melangkahkan kakinya menuju ke deretan dress yang tergantung rapi. Sedangkan Mama Rina yang sudah melihat tubuh Orla semakin menjauh darinya, ia juga melangkah kakinya mendekati salah satu karyawan butik itu.
...****************...
Note : Grup arisan yang dimaksud oleh Mama Dian tadi bukan grup yang berisikan Mommy Della ya. Tapi grup lain.
__ADS_1