
Kepergian Mama Rina tadi membuat ketiga orang yang masih berada di dalam ruang kerja Adam menghela nafas lega.
"Akhirnya masalah ini selesai juga," ucap Mommy Della dengan menyandarkan kepalanya di pundak sang suami yang langsung mendapat elusan penuh dengan kelembutan disana.
Adam yang melihat hal tersebut pun ia memutar bola matanya malas. Orangtuanya itu memang tidak tau umur, sudah tua masih bucin seperti saat mereka masih muda dulu atau malah lebih parah yang sekarang.
Tapi Adam tidak peduli akan keromantisan kedua orangtuanya yang secara terang-terangan di umbar didepan matanya, ia benar-benar tidak peduli karena ada satu hal yang masih mengganggu isi kepalanya saat ini yang penuh penting dari ke-bucinan Mommy Della dan Daddy Aiden, sehingga Adam kini angkat suara, "Mom, Dad, Adam mau tanya."
Kedua orangtua itu dengan serempak menolehkan kepalanya kearah Adam yang saat ini tengah mendudukkan sedikit bokongnya di ujung meja kerjanya.
"Tanya apa?" tanya Daddy Aiden.
"Jadi begini, kalian kan tau siapa orang yang sudah berniat untuk mencelakai Maura? Kalian juga tau kan dia bagian keluarga siapa?" Mommy Della maupun Daddy Aiden menganggukkan kepalanya.
"Nah, berhubungan wanita tadi dari keluarga Jaya yang sudah mencari masalah dengan keluarga kita sampai dua kali, apa konsekuensi yang mereka dapat atas tindakan mereka hanya hancurnya usaha mereka dan di jebloskan wanita itu ke dalam penjara atau ada konsekuensi lain yang perlu Adam lakukan? Dan mengenai Orla yang merupakan keturunan dari keluarga Jaya yang saat ini tengah di rawat di sini, apa perlu Adam mengusir mereka untuk keluar dari rumah sakit ini?" tanya Adam yang siap jika kedua orangtuanya itu membutuhkan bantuannya kembali.
Daddy Aiden kini tampak menolehkan kepalanya kearah Mommy Della, sepertinya Daddy Aiden tengah meminta persetujuan kepada istrinya itu hanya lewat tatapan mata, buktinya sesaat setelah Daddy Aiden menatap mata Mommy Della, Mommy Della menggelengkan kepalanya. Lalu setelahnya laki-laki paruh baya tersebut kembali menatap kearah putra sulungnya tersebut.
"Sepertinya konsekuensi yang mereka dapat sudah cukup membaut mereka belajar atas kesalahan yang sudah mereka perbuat. Tapi jika mereka masih melakukan hal yang tidak kita inginkan dengan keluarga kita, kita akan bertindak kembali. Tapi untuk saat ini, sudah sangat cukup buat mereka jera. Dan untuk Orla, biarkan dia tetap di rawat disini karena itu janji yang sudah Daddy ucapkan dulu kepada kedua orangtuanya. Biarkan dia mendapatkan perawatan seperti orang-orang lain di luar saja. Jangan kamu beda-beda kan. Rawat dia sampai sembuh," ujar Daddy Aiden yang diangguki oleh Adam.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu Daddy sama Mommy pergi dulu. Masih ada pekerjaan yang harus kita berdua selesai yaitu di kantor polisi," Sambung Daddy Aiden yang membuat Mommy Della langsung menegakkan kepalanya yang semula senderan di pundak suaminya.
"Baiklah, hati-hati Dad, Mom," ucap Adam sembari memeluk tubuh kedua orangtuanya secara bergantian kala Daddy Aiden dan Mommy Della sudah berdiri dari posisi duduk mereka.
"Iya-iya sayang, kita akan berhati-hati. Dan untuk kamu, semangat kerjanya, jangan lupa istirahat juga makannya jangan sampai makan kamu telat karena banyaknya pasien yang harus kamu tangani. Kamu paham kan, Dam?" Lagi dan lagi Adam menganggukkan kepalanya.
"Iya Mom, Adam paham kok," jawab Adam.
"Syukurlah kalau kamu paham. Kalau begitu Mommy sama Daddy pergi dulu, Assalamualaikum!" ucap Mommy Della.
"Waalaikumsalam, hati-hati," tutur Adam yang dibalas dengan senyuman oleh kedua orangtuanya. Kemudian mereka berdua mulai melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar ruangan kerja Adam, diiringi dengan mata Adam yang menatap mereka sampai menghilang dibalik pintu ruangan tersebut yang sudah tertutup kembali.
Tak tunggu lama, hanya dengan sekali nada terhubung, telepon dari Adam tadi langsung diangkat oleh Erland.
📞 : "Halo, assalamualaikum, ada apa bang?" tanya Erland.
"Waalaikumsalam Er. Begini, Abang telepon kamu hanya mau memberitahu ke kamu jika masalah tadi yang berkaitan dengan Maura sama nyonya dari keluarga Jaya sudah selesai. Nyonya dari keluarga Jaya itu sekarang berada di kantor polisi. Kasus ini akan dibawa ke meja hijau karena Daddy sama Mommy tidak terima Maura hampir di lukai oleh Nyonya Jaya," jelas Adam.
📞 : "Beneran bang?"
__ADS_1
"Memangnya Abang tau bohong sama kamu, Er sampai kamu tidak langsung percaya sama Abang?"
📞 : "Gak pernah sih. Tapikan Erland cuma tanya tadi bang," ujar Erland.
"Semua yang Abang katakan tadi sudah sangat jelas Erland jadi seharusnya kamu tidak tanya lagi. Haishhhh sudahlah, mau kamu percaya atau tidak dengan ucapan Abang tadi yang jelas perkataan Abang tadi itu kebenarannya," tutur Adam.
📞 : "Tenang bang, Erland percaya sama Abang kok."
"Syukurlah kalau kamu percaya. Ya sudah hanya itu saja yang mau Abang sampaikan ke kamu. Dan karena sudah Abang sampaikan, Abang tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum!"
📞 : "Waalaikumsalam Bang."
Balasan dari Erland tadi menandakan sebuah sambungan telepon terputus yang membuat Adam langsung menyimpan ponselnya kembali lalu setelahnya, ia bergegas bersiap diri untuk melakukan pekerjaannya.
Sedangkan disisi lain, Erland menatap wajah damai Maura yang masih tertidur pulas. Erland tersenyum sebelum dirinya memberikan kecupan di kening Maura, kecupan itu kini berpindah di perut Maura. Cukup lama Erland mencium perut istrinya itu, dimana didalam sana Adam kehidupan yang harus ia jaga selain Maura.
Erland mengelus perut Maura yang sengaja ia singkap baju istrinya tersebut sehingga memperlihatkan perut mulus Maura.
"Hayyy baby, sehat-sehat didalam perut Mommy ya. Jangan nakal, jangan bikin Mommy kesusahan. Tumbuh dan berkembanglah dengan baik di dalam sana ya nak. Daddy akan menunggu kamu lahir ke dunia ini. Daddy sangat menyayangimu, little angelnya Mommy Maura dan Daddy Erland. Love you, sayang," gumam Erland seakan-akan janin yang baru berusia satu bulan itu bisa mendengar apa yang ia katakan tadi. Tapi walaupun memang janin itu belum bisa mendengar, Erland tetap berharap kehamilan pertama istrinya itu berjalan dengan lancar sampai saat melahirkan nanti. Erland juga berharap, semoga saja saat Maura tengah berada di fase mengidam, mengidam istrinya itu dalam kategori normal dan tidak ekstrim. Juga semoga saja Maura tidak mengalami mual dan muntah seperti yang dialami Edrea maupun para saudara ataupun iparnya yang lain dulu. Karena jujur saja, Erland tidak tega jika hal itu menimpa Maura, mengingat bayang-bayang akan tubuh lemas orang yang tengah mengalami mual dan muntah sangat-sangat menakutkan di mata Erland. Maka dari itu Erland berharap calon anaknya itu bisa diajak bekerja sama dan tidak membuat Maura sampai mengalami hal-hal yang tak ia inginkan.
__ADS_1