PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 146


__ADS_3

"Gak ada semutnya lho, Ma," ucap Maura kala mereka berdua telah berada di satu bilik kamar mandi yang sama bahkan untuk mendukung aktingnya yang tengah ia jalankan, Mama Dian sampai menyingkap baju yang tengah ia kenakan.


"Masak sih? Tapi Mama rasa ada yang gigit di punggung Mama tau Ra," ucap Mama Dian.


"Tapi punggung Mama gak ada apa-apa," ujar Maura.


"Kalau begitu apa dong yang gigit Mama tadi?" Mama Dian membenarkan baju yang sempat ia angkat tadi.


"Ya mana Maura tau. Di punggung Mama juga tidak ada bekas kemerahan kayak habis di gigit serangga juga kok," tutur Maura.


"Iya kah?" Maura menganggukkan kepalanya dengan mantap.


"Ya udah lah kalau memang tidak ada serangga yang gigit punggung Mama. Mungkin tadi hanya perasaan Mama saja. Dan sekarang kita balik lagi ke dalam yuk. Kasihan Vivian kita tinggalin dia sendirian di sana," ucap Mama Dian. Dan seperti tadi, ia menggandeng tangan Maura seakan-akan putrinya itu masih anak kecil yang sedang belajar berjalan yang harus kemana-mana ia pegang. Hal itu juga tidak mendapatkan protesan sama sekali oleh Maura, Maura menurut saja hingga mereka berdua kembali bergabung dengan Vivian.


"Maaf ya Vi, Tante tadi tidak pamit kamu terlebih dahulu saat Tante mau ke belakang," ucap Mama Dian dengan melirik kearah meja dimana Erland tadi tempati. Saat ia tak melihat ada seseorang pun disana, ia mengalihkan pandangannya kearah Vivian dengan menaikkan sebelah alisnya seolah-olah dirinya tengah bertanya, "Apakah Erland berhasil kabur?"


Vivian yang paham akan kode itu pun ia menganggukkan kepalanya dengan senyuman di bibirnya lalu membalas ucapan dari Mama Dian tadi.


"Tidak apa-apa Tante," balas Vivian.


"Maaf ya kak Vi. Mama emang sering rempong sendiri sampai sering tidak menyadari jika ada orang lain yang Mama tinggal seperti tadi contohnya. Padahal tidak ada semut sama sekali di punggung Mama," ujar Maura dengan menghela nafas. Ia tidak enak hati dengan perempuan yang baru aja ia kenal itu.


"Sudah tidak perlu minta maaf, Ra. Kakak mengerti kok. Dan lebih baik Tante sama Maura lanjutkan makannya," ujar Vivian yang diangguki dua perempuan yang duduk dihadapannya itu.


Dimana saat ketiga perempuan itu masih asik di dalam restoran, Erland tengah mengatur deru nafasnya yang ngos-ngosan.


"Berasa di kejar guguk. Huh capek juga," ucap Erland dengan mengusap peluh yang membasahi keningnya.


Sedangkan Afif yang tadi ikut berlari, ia baru sampai di dalam mobil bosnya. Dan dengan mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi, ia juga mengatur nafasnya dengan tubuh yang ia sandarkan di sandaran kursi mobil tersebut.


Erland yang menyadari keberadaan Afif, ia menolehkan kearah sang sekretaris dengan kerutan di keningnya.


"Ngapain kamu ngos-ngosan begitu?" Afif yang sebelumnya menutup matanya, mata itu kembali ia buka kemudian ia arahkan tatapan matanya ke Erland yang duduk disampingnya.

__ADS_1


"Bos tanya saya ngapain ngos-ngosan?" Erland menjawab dengan anggukan kepala saja.


"Astaga, bisa-bisanya ya bos tanya seperti itu. Saya ngos-ngosan seperti ini juga gara-gara bos. Kalau saja bos tidak berlari tadi, saya juga tidak ikut lari mengejar kepergian bos. Saya takut saat saya hanya jalan santai saja bos akan meninggalkan dan menelantarkan saya disini. Lagian bos ngapain sih lari-larian seperti tadi? Bos gak sedang cosplay jadi maling kan?" Erland mendelikkan matanya sebelum sebuah kotak tisu melayang dan mendarat tepat di kepala Afif yang tentunya membuat laki-laki itu mendesis kesakitan.


"Sembarangan kalau ngomong. Lagian kamu juga tidak perlu tau kenapa saya lari-larian seperti tadi. Dan lebih baik kamu sekarang segera jalankan mobil ini. Kita kembali ke kantor," ucap Erland.


"Lho kembali ke kantor?"


"Iya lah memangnya mau kemana lagi?" tanya Erland tak santai.


"Saya kira bos akan mengajak saya berpindah restoran karena kita tadi belum sempat mengisi perut dengan makanan berat," tutur Afif.


"Makan siang di kantor kan juga bisa. Kantor ada kantin juga, jadi manfaatkan kantin itu untuk mengisi perutmu. Cepatlah, kita kembali sekarang!" perintah Erland mutlak tak ingin di bantah lagi oleh Afif. Sembari matanya menatap kearah pintu restoran. Takut jika Maura tiba-tiba keluar dan melihat mobilnya.


Sedangkan Afif, mau tak mau ia kini menjalankan mobil milik Erland itu menuju ke kantor. Tentunya dengan suara hatinya yang terus menggerutu karena ia gagal mendapatkan traktiran dari bosnya. Sampai di tengah perjalanan, saat suasana hati Afif sudah mulai kembali tenang tanpa ada gerutuan yang ia peruntukkan kepada bos-nya, tiba-tiba dirinya ingat akan salah satu ucapan dari bos-nya tadi di restoran. Dimana hal tersebut membuat Afif menolehkan kepalanya kearah Erland yang tengah sibuk dengan ponselnya.


Ia sebenarnya tak ingin menggangu aktivitas Erland tapi berhubung rasa keponya lebih besar, Afif memilih angkat suara.


"Bos," ucap Afif yang tentunya hanya dibalas dengan deheman saja oleh Erland. Tanpa mengalihkan pandangannya kearah Afif. Tapi Afif tidak mempermasalahkan hal itu, ia memilih melanjutkan niatnya tadi untuk bertanya kepada Erland.


"Tanya saja," balas Erland dengan mata yang masih tertuju ke arah ponselnya.


"Hmmm jadi begini bos, saya tadi di restoran sempat mendengar bos mengatakan kata-kata yang membahas tentang istri. Jadi saya penasaran, apa bos Erland sudah menikah?"


Pertanyaan dari Afif seketika membuat jari-jari Erland yang sedari tadi bergerak aktif diatas layar ponselnya, kini berhenti. Lalu kepalanya dengan cepat menoleh kearah Afif yang tengah menatap kedepan. Laki-laki itu entah memang sedang fokus ke jalanan didepan atau laki-laki itu hanya menghindari tatapan matanya.


Erland memutar bola matanya malas.


"Tidak. Kamu salah dengar tadi," ucap Erland dengan mengalihkan pandangannya kembali ke ponselnya.


"Ohhh jadi saya hanya salah dengar ya." Erland menganggukkan kepalanya.


"Oke-oke kalau begitu saya minta maaf atas telinga saya yang salah dengar tadi. Tapi saya masih penasaran bos dengan perempuan yang fotonya bos tadi perlihatkan ke saya. Apa bos memiliki hubungan dengan perempuan itu?"

__ADS_1


"Tidak," jawab Erland singkat.


"Ehhh tidak ya. Tapi bos kenalkan?" Erland kembali membalas ucapan Afif dengan anggukkan kepala.


"Bos berniat mendekati dia?" Erland mendengus sebal mendengar Afif yang tak berhenti bertanya itu.


Dan dengan kesal ia menjawab, "Tidak!"


Siapa juga suami yang mau melakukan sesi pendekatan kepada istrinya sendiri saat mereka sudah menikah coba? Tanpa melakukan hal itu pun Erland sudah mendapatkan hati dan raga Maura.


"Bos tidak mau mendekati dia beneran?"


"Hmmm," balas Erland.


"Kalau begitu boleh lah saya yang deketin dia. Perempuan secantik dia tidak boleh di anggurin. Jadi bos bantuin saya dekat sama dia ya, siapa tau dia juga suka sama saya yang berakhir sampai ke pelaminan nanti," ucap Afif tak tau saja jika Erland saat ini tengah menatapnya dengan tatapan tajam.


"Apa kamu bilang? Coba ulangi lagi!" perintah Erland.


"Kalau bos tidak mau mendekati perempuan cantik yang ada di foto tadi, biar saya saja yang melakukan pendekatan dengan dia. Siapa tau kita berdua saling cocok satu sama lain hingga kita menuju ke jenjang yang lebih se--- Astagfirullah bos!" ucap Afif terkejut kala tiba-tiba Erland meraih kerahnya dan mencengkramnya dengan sangat kencang. Dimana saat itu juga Afif langsung membanting stir ke kiri. Untungnya posisi jalanan sedang tidak ramai. Jika saja ramai sudah di pastikan mereka akan mengalami kecelakaan parah. Tapi untungnya mereka masih di lindungi oleh Tuhan jadi Afif bisa meminggirkan mobilnya dengan selamat.


Sedangkan Erland, laki-laki itu mana peduli dengan resiko yang hampir saja dirinya dan sang sekretaris dapatkan. Ia benar-benar tak peduli, ia bahkan semakin mengencangkan cengkraman di kerah Afif sampai laki-laki itu memukul-mukul lengannya.


Tapi sayangnya pukulan Afif itu tak membuat Erland segera melepaskan cengkramannya dan ia kini mengucapakan perkataannya dengan penuh penekanan dan penuh dengan api amarah yang membara didalam hatinya.


"Dengar baik-baik. Sebelum kamu mendekati istri saya. Saya pastikan nyawa kamu melayang ditangan saya sendiri! Camkan itu!" Erland mendorong kasar tubuh Afif hingga membuat punggung sekertarisnya itu menabrak pintu mobil cukup keras.


Afif terbatuk-batuk saat terbebas dari cengkraman Erland tadi. Tapi tak urung senyum miring juga terbit dari bibirnya saat suara penuh penekanan Erland tadi masih terngiang di telinganya. Ia memang tidak berniat melakukan apa yang dirinya katakan tadi karena apa yang ia lakukan itu semata-mata untuk memancing Erland agar mengatakan yang sebenarnya kepada dirinya. Dan lihatlah triknya tadi berhasil walaupun nyawanya terancam tapi tak sia-sia juga kan, ia jadi tau jika Erland sudah menikah dengan perempuan yang fotonya ia lihat tadi.


Afif yang sudah merasa mendingan pun ia kembali menjalankan mobilnya. Tapi ia menyempatkan diri untuk berkata, "Tadi saja tidak mengakui kalau perempuan yang ada di foto itu bukan istrinya. Tapi setelah ada yang mau mendekati, marah dan baru mengaku. Ck, dasar."


Erland melirik Afif dengan malas. Tapi tak urung ia kembali angkat suara walaupun masih dongkol.


"Kalau kamu sudah tau. Mulut kamu itu diam saja! Jangan sampai hal ini bocor ke semua orang yang ada di kantor ataupun luar kantor. Jika sampai pernikahan saya terendus oleh awak media, kamu yang pertama saya salahkan. Dan tentunya nyawa kamu yang akan menjadi taruhannya," ucap Erland tentunya dengan ancaman agar Afif tak berani membocorkan rahasia pernikahannya itu.

__ADS_1


Afif yang mendengar ancaman itu, ia hanya bisa menghela nafas sebelum ia menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak berniat untuk membocorkan rahasia orang lain kok. Ia memang cerewet, tapi jika disuruh menyebarkan sebuah rahasia yang sudah ia ketahui tanpa izin dari si pemilik rahasia, ia pastikan rahasia-rahasia itu tetap akan aman.


__ADS_2