
Saat Maura tengah bergelut dengan pikirannya yang sudah membayangkan bagaimana ia harus menahan malu saat memakai lingerie itu. Disisi lain, Erland merasa terusik kala mendengar dering ponselnya yang berbunyi nyaring.
"Siapa sih, ganggu," erang Erland kesal namun tak urung tangannya kini bergerak untuk mengambil ponselnya yang tergeletak diatas nakas di samping tempat tidurnya saat ini. Ia membuka matanya sedikit untuk melihat si penelepon itu.
Ia berdecak kala melihat nama Afif lah yang tertera di layar ponselnya itu.
"Ada apa sih nih bocah," gerutu Erland sembari menggeser ikon telepon berwarna hijau itu dengan ia merubah posisi berbaringnya tadi menjadi duduk. Dan saat dirinya sudah duduk, ia baru menyadari jika Maura tak lagi berada di dalam kamar tersebut. Mata Erland mengedar, mencari keberadaan Maura sebelum suara seseorang dari sebrang mengalihkan atensinya.
📞 : "Bos Erland! Tolong!"
Erland mengerutkan keningnya saat mendengar Afif yang tengah berteriak meminta tolong kepadanya.
📞 : "Bos, tolong!"
Untuk yang kedua kalinya Afif mengucapkan perkataan yang sama dimana hal tersebut membuat Erland menghela nafas. Ia yang tadi sangat malas bersuara, akhirnya ia memilih untuk berucap agar Afif tidak terus menerus mengulang ucapannya.
"Kenapa?" tanya Erland singkat.
📞 : "Bos tolong saya!" Erland memutar bola matanya malas. Sekertarisnya itu sepertinya ingin sekali terkena lemparan sepatu darinya.
"To the point, Afif. Saya tidak memiliki banyak waktu hanya untuk mendengar kamu yang selalu mengulangi ucapanmu!" ujar Erland dengan garangnya.
Sedangkan Afif yang mendapat sentakan itu, ia sempat terkejut. Tapi hanya beberapa saat saja karena dirinya kembali fokus kearah sekelilingnya yang sangat-sangat sepi.
📞 : "Bos, tolong saya. Saya di culik oleh seseorang."
__ADS_1
Ucapan Afif itu membuat Erland melongo tak percaya. Tapi sedetik kemudian Erland merubah ekspresi melongonya berganti menjadi ekspresi yang ingin sekali tertawa namun Erland tahan.
"Kamu diculik? Tidak salah kamu?"
📞 : "Iya Pak, saya memang tengah di culik sekarang."
"Jangan bercanda Afif. Lagian siapa yang mau menculik kamu? Kurang kerjaan sekali orang itu menculik laki-laki dewasa sepertimu itu. Dan harusnya kalau kamu di culik, kamu lawan mereka lah atau kalau tidak ya telepon polisi, kenapa malah telepon saya?"
📞 : "Ck, yang ada di otak saya tadi hanya nama bapak bukan polisi atau orang lain. Dan saya tadi juga sudah melakukan perlawanan kepada mereka. Tapi saya kalah jumlah pak. Lagian siapa yang tidak kalah coba kalau satu lawan 20 orang," ujar Afif yang benar-benar kesal saat otaknya itu kembali memutar kejadian beberapa menit yang lalu. Dimana ia baru juga mendarat di tanah kelahirannya dan masuk kedalam taksi yang sudah ia pesan. Ia pikir taksi yang ia tumpangi itu akan mengantar dirinya ke rumah, tapi tanpa dirinya sangka-sangka ternyata taksi itu mengantar dirinya kesebuah bangunan tua. Dimana saat taksi tersebut baru berhenti, langsung di kepung oleh banyaknya laki-laki berbaju hitam yang membuat dirinya merinding hanya karena melihat mereka semua. Awalnya dia sangat bingung kenapa ia di bawa ke rumah kosong dan langsung disambut oleh banyaknya laki-laki berandalan itu, sebelum salah satu dari mereka membuka pintu taksi tersebut dan menarik ia keluar. Disaat itulah ia bisa menyimpulkan jika dirinya tengah diculik sekarang. Dan karena hal tersebut, ia langsung memberontak, melakukan perlawanan yang ia bisa dan dengan gesitnya ia berlari menjauh dari orang-orang itu dengan sesekali ia mengelabuhi 20 orang laki-laki yang mengejarnya. Namun tetap saja mereka tak menyerah hingga sampai saat ini Afif yang sudah bersembunyi di semak-semak mereka masih mencari keberadaan Afif.
📞 : "Jadi saya mohon Pak. Tolong saya, please. Bapak harapan satu-satunya saya. Jika Bapak tidak menolong saya, Bapak akan kehilangan sekertaris secerdik, se-cekatan dan serba bisa seperti saya ini. Dan apa Bapak juga mau besok pagi, ada berita atau surat kabar yang menyatakan jika salah satu karyawan AWA Grup telah meninggal dunia karena diculik dan diacuhkan oleh bosnya saat meminta tolong? Dan apa Bapak juga mau kalau besok pagi rumah Bapak banyak wartawan yang datang? Dan lebih parahnya lagi semua klien Bapak---"
"Banyak bicara sekali kamu, Afif. Katakan posisi kamu dimana sekarang?"
Mata Afif berbinar kala mendengar balasan dari sang atasannya itu.
"Katakan sekarang sebelum saya berubah pikiran," ujar Erland sembari tangannya kini bergerak untuk meraih jaket yang tergantung di lemarinya.
📞 : "Saya tidak tau dimana saya sekarang berada. Tapi biar saya share lock saja. Saya tutup ya Pak dan saya mohon datangnya jangan lama-lama karena saya rasa komplotan orang-orang kurang kerjaan itu mulai mendekati posisi sembunyi saya," ucap Afif yang membuat Erland mendengus kesal. Dan saking kesalnya ia langsung mematikan sambungan telepon tersebut.
Dimana hal itu membuat Afif mencebikkan bibirnya. Tapi setelah ia mengingat ancaman Erland tadi, ia segara mengirimkan lokasinya saat ini.
Erland yang sudah mendapat titik keberadaan Afif pun ia segera berdiri dan keluar dari kamarnya.
Dan keluarnya ia dari kamar tersebut bertepatan dengan Maura yang juga keluar dari kamar sebelah.
__ADS_1
Maura tampak terkejut melihat Erland yang ternyata sudah bangun dari tidurnya.
"Er---Erland kok sudah bangun?" ucap Maura gugup.
"Kebangun karena ke ganggu sama dering telepon tadi. Oh ya Ra, aku pergi dulu sebentar ya. Ada urusan mendadak di luar, kamu tidak apa-apa kan di rumah sendirian? Aku janji akan pulang secepatnya," ujar Erland dengan mendekati Maura.
Maura yang baru menyadari jika pakaian Erland sudah berganti pun ia kini hanya bisa menganggukkan kepalanya, mengizinkan Erland untuk pergi.
Erland yang melihat anggukkan kepala itu pun ia tersenyum dengan tangan yang kini bergerak, mengusap kepala Maura sembari berucap, "Aku pergi dulu."
Saat Erland ingin memutar tubuhnya, lengannya dicekal oleh Maura. Erland kembali menatap Maura dengan salah satu alisnya yang terangkat.
Sedangkan Maura, ia menundukkan kepalanya, tapi tangan kanannya terulur kearah depan Erland yang semakin membuat Erland bingung dengan pergerakan Maura itu. Tapi keterbingungan Erland terjawab saat Maura berkata, "Salim."
Bibir Erland terangkat, membentuk sebuah senyuman manis dengan tangan yang bergerak, membalas uluran tangan dari Maura tadi.
Dimana saat Maura mencium punggung tangannya, Erland meletakkan tangan kirinya tepat diatas ubun-ubun Maura sembari ia melafalkan, "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udhu bika min syarri hana wa syarri maa jabaltaha 'alaih."
Maura yang tak paham dengan apa yang sedang Erland lakukan, ia hanya memejamkan matanya kala Erland berdoa dan setelah ia merasa Erland sudah selesai dengan doanya tersebut ia menjauhkan wajahnya dari tangan Erland. Tapi baru beberapa saat ia berdiri tegak, serangan mendadak yang diberikan Erland kepada dirinya membuat ia terkejut bukan main. Dimana Erland langsung mencium keningnya cukup lama sebelum berpindah ke kedua pipi dan berakhir di bibirnya.
Seulas senyum pun Erland perlihatkan setelah selesai memberikan kecupan manis tadi kepada sang istri. Sebelum lagi-lagi ia mengusap lembut kepala Maura.
"Aku pergi keluar dulu sebentar. Assalamualaikum," pamit Erland.
"Wa---waalaikumsalam," balas Maura dengan gagap. Dimana hal tersebut membuat Erland harus mati-matian menahan kegemasannya yang membuat ia tak rela keluar dari rumahnya itu. Tapi ia harus keluar sekarang juga mengingat ada satu nyawa yang tengah terancam saat ini.
__ADS_1
Sedangkan Maura, ia menatap kepergian Erland dengan wajah yang memerah karena malu atas apa yang baru saja ia terima dari Erland tadi. Ahhhh dan jangan lupakan detak jantungnya yang hampir keluar dari dalam dadanya itu. Astaga, hal itu membuat Maura hampir gila rasanya.