
Tubuh Maura menegang kala ia merasakan pelukan Erland. Tangisannya pun berhenti saat dirinya termenung, meyakinkan jika apa yang saat ini ia rasakan dan suara yang tadi ia dengar bukan hanya khayalan dirinya semata.
"Ra, Maaf." Ucapan Erland untuk kesekian kalinya masuk kedalam indra pendengaran Maura lagi yang membuat Maura tersadar jika apa yang tengah ia alami saat ini bukan hanya khayalannya saja melainkan kenyataan. Dimana hal tersebut membuat Maura langsung mendorong tubuh Erland hingga berakhir pelukan yang diberikan oleh Erland terlepas. Bahkan tubuh Erland sampai terdorong kebelakang.
Maura kini berdiri dari posisi duduknya tadi dengan mata yang menatap nyalang wajah Erland sembari punggung tangannya ia gunakan untuk menghapus air matanya. Walaupun percuma karena air matanya justru semakin deras membasahi pipinya.
"Ra---"
"Keluar dari kamarku!" ucap Maura dengan menunjuk kearah pintu kamarnya yang terbuka lebar.
"Ra, kamu---"
"Aku bilang keluar ya keluar! Aku tidak mau bertemu denganmu. Dan hari ini juga aku mau kamu pulangkan aku ke rumah kedua orangtuaku," ucap Maura sudah sangat kalang kabut. Hatinya semakin sakit kala melihat wajah Erland yang justru mengingatkan dirinya akan peristiwa di cafe tadi.
Erland yang mendengar ucapan dari Maura, matanya terbuka lebar. Apa-apaan Maura berbicara seperti itu? Memangnya kesalahan apa yang telah Erland buat sampai-sampai Maura memilih untuk di kembalikan ke rumah kedua orangtuanya? Yang artinya Maura sama saja ingin bercerai dengannya.
Tidak mungkin kan hanya gara-gara drama yang ia buat untuk membuat Maura cemburu istrinya sampai berkata seperti tadi? Oh ayolah, Erland hanya ingin membuktikan Maura cemburu atau tidak bukan malah ingin merusak hubungan rumah tangganya sendiri, lagian Erland juga sangat membenci yang namanya perceraian. Tapi Erland juga tidak boleh terbawa emosi. Bukannya setiap masalah harus di selesaikan dengan kepala dingin? Jadi ia akan mencoba berbicara dengan Maura walaupun ia yakin istrinya itu akan menolak mentah-mentah.
Erland kini berdiri dari posisi jatuhnya tadi. Kemudian ia mendekati Maura. Dimana saat itu pula Maura turut memundurkan tubuhnya. Ia terus menghindari Erland dan saat dirinya ingin berlari keluar dari dalam kamar tersebut. Pergerakannya kalah cepat dengan gerakan tangan Erland yang saat ini menarik lengannya hingga membuat tubuhnya oleng dan berakhir jatuh ke dalam pelukan Erland.
Erland kembali memeluk tubuh Maura, kali ini ia tak akan melepaskan tubuh istrinya sebelum semua masalah mereka berdua terselesaikan.
Sedangkan Maura memberontak, berusaha untuk melepaskan pelukannya tersebut sembari berucap, "Lepas!"
Erland tak bergeming sama sekali. Ia membiarkan tubuhnya menjadi samsak hidup untuk Maura. Membiarkan istrinya itu memukul, mencubit bahkan menggigitnya. Biarkan saja mungkin dengan cara itu Maura akan sedikit tenang. Dan benar saja entah kelelahan karena usahanya untuk melepaskan diri dari Erland tak membuahkan hasil sama sekali atau memang emosinya sudah mereda, Maura saat ini tak lagi memberontak didalam dekapan Erland. Namun tangisnya semakin menjadi sembari bergumam, "Aku benci kamu, Er. Aku benci kamu!"
Erland memejamkan matanya saat mendengar kata benci terucap dari bibir Maura. Hembusan nafas pun kini ia lakukan sebelum ia akhirnya angkat suara setelah beberapa menit hanya diam saja.
__ADS_1
"Katakan ada masalah apa hmmm? Sampai kamu nangis kayak gini? Apa aku melakukan kesalahan ke kamu? Kalau iya, aku minta tolong untuk kamu memberitahu kesalahanku itu apa? Biar aku bisa introspeksi diri dan membenahi diriku," ucap Erland dengan suara yang sangat lembut bahkan pelukannya tak ia lepas sama sekali.
Maura terdiam. Ia tak ingin menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Erland. Bukannya Erland tau sendiri apa kesalahan dia? Jadi untuk apa dia harus bertanya kepada Maura?
"Ra, ayo katakan. Apa salahku? Kalau kamu terus diam seperti ini, masalah kita ini tidak akan selesai. Jadi katakan ya, aku mohon biar aku bisa memperbaiki kesalahanku dan biar aku juga bisa melakukan tindakan apa yang akan aku ambil," paksa Erland. Ia tidak akan mencoba untuk menebak-nebak sendiri lagi seperti sebelumnya. Jadi untuk kali ini ia akan memaksa Maura untuk mengatakan kesalahannya.
"Ra---"
"Ceraikan aku," ucap Maura yang membuat Erland dengan cepat melepaskan pelukannya namun kedua tangannya kini memegang kedua bahu Maura.
"Maura!"
"Kenapa? Kamu tidak mau bercerai denganku? Aku mohon Er lepaskan aku selagi istri pertama kamu belum tau jika kamu menikah lagi denganku. Aku tidak mau di cap sebagai seorang pelakor. Aku tau sikap dan perilakuku jauh dari kata baik. Tapi tetap saja aku tidak mau di sebut sebagai orang ketiga di dalam rumah tangga orang lain. Sudah cukup kamu nyakitin aku dengan fakta ini jadi aku mohon jangan sampai istrimu yang pertama juga merasakan sakit hati sepertiku," tutur Maura yang akhirnya bisa melupakan isi hatinya.
Sedangkan Erland, ia mengerutkan keningnya. Istri? Sejak kapan dia punya istri selain Maura? Ohhh tunggu dulu, apakah aksinya tadi di cafe membuat Maura berpikir kalau dia sudah menikah? Kan tadi dia membawa kedua keponakannya yang mungkin Maura anggap itu adalah anaknya dengan Edrea? Baiklah, Erland sekarang tau alasan marahnya Maura. Namun sebelum Erland menjelaskannya ia akan memastikan sesuatu kepada istrinya itu.
Walaupun begitu, Erland terus mendekatkan wajahnya ke wajah Maura. Hingga mau tak mau Maura memejamkan matanya karena mau mendorong wajah Erland juga percuma pasalnya satu tangannya terhimpit diantara lengan Erland yang merangkul tubuhnya sedangkan yang satunya lagi dipegang erat oleh suaminya itu.
Erland yang melihat Maura memejamkan mata ia tersenyum secara diam-diam. Hingga saat hidupnya menyentuh hidung Maura, ia berucap, "Apa kamu cemburu hmmm?"
Maura yang mendengar ucapan dari Erland, matanya kembali terbuka. Namun ia sangat terkejut melihat wajah Erland yang benar-benar dekat dengan wajahnya.
"Katakan, apa kamu cemburu?" tanya Erland lagi yang berhasil membuat kesadaran Maura kembali.
"Ti---tidak aku tidak cemburu," elak Maura.
"Benarkah?" Maura menganggukkan kepalanya sehingga hidung keduanya yang tadi menempel satu sama lain kini saling bergesekan.
__ADS_1
"Aku tidak cemburu," ucap Maura yang justru membuat Erland lagi dan lagi tersenyum. Namun senyumannya saat ini memiliki maksud tertentu. Dan maksud dari senyuman itu adalah...
Cup!
Tanpa izin terlebih dahulu Erland langsung mencium bibir Maura. Sedangkan Maura yang mendapat ciuman mendadak itu ia terkejut bukan main.
"Katakan kamu cemburu," ucap Erland menuntut. Karena ia sangat yakin jika Maura cemburu kepadanya terlihat dari mata istrinya.
Maura yang masih dalam mode terkejut pun dengan suara terbata, ia berkata, "Tidak. Aku tidak cemburu!"
Cup!
"Katakan, kamu cemburu!"
"Tidak."
Cup! Cup! Cup!
"Katakan, cemburu!"
"Sudah aku bilang ti---"
Cup! Cup! Cup! Cupp!
"Hentikan! Baiklah-baiklah aku mengaku kalau aku cemburu sama kamu!" ujar Maura pada akhirnya setelah dirinya berhasil melepaskan tangan kanannya yang tadi berada di genggaman Erland dan tangan itu ia gunakan untuk membungkam bibir suaminya itu yang terus saja mencium bibirnya tiada henti.
...****************...
__ADS_1
Huh hah akhirnya selesai juga masalah kesalahpahaman ini. Jadi apa yang akan kalian berikan ke aku nihhh biar makin semangat gitu lho 😂 oh ya kalau bisa 50 like untuk eps ini. Kalau udah sampai target entah di jam berapa aku kasih bonus up lagi. Gimana setuju? Kalau setuju kencengin kuyy, jangan jadi pembaca goib gak baik🤠Jangan lupa juga kasih VOTE, HADIAH juga KOMENTAR ya, tenang komen-komen kalian akan aku balas satu persatu sekarang 🤠see you next eps bye 👋