
Bugh!
Satu pukulan keras mendarat tepat di rahang kanan Erland, membuat laki-laki itu sampai terhuyung kesamping saking kerasnya pukulan tersebut, sudut bibirnya pun juga mengeluarkan darah segar.
Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut melihat seseorang yang saat ini tengah berdiri tegak dengan nafas yang naik turun tepat di depan Erland yang kini tengah mengusap darah yang mengalir di sudut bibirnya, sebelum ia menatap ke arah Virza. Ya, Virza yang pembawaan selalu tenang dan dia tadi yang menyuruh Septian untuk tidak memukul Erland, lihatlah dia sendiri yang justru melakukan apa yang tadi ia larang.
"Banci anjing! Lo udah nikah tapi kita semua yang ada di hadapan Lo saat ini sama sekali gak Lo kasih tau! Lo anggap apa kita hah?! Bukannya kita sepakat apapun yang terjadi ke kita entah itu hal bahagia ataupun sedih sekalipun kasih tau satu sama lain! Tapi Lo." Virza menunjuk penuh amarah tepat di wajah Erland.
"Lo malah merahasiakan pernikahan Lo! Lo kira kita semua yang ada di sini musuh Lo! Iya hah?! Sampai Lo giniin kita! Sialan!" Amarah Virza semakin memuncak. Hingga membuat Septian kini menyenggol lengan Hito sebelum ia berucap, "Pisahin gih mereka. Jangan sampai ada pertumpahan darah disini karena kalau mereka sampai adu bogem, tidak akan ada yang mengalah sebelum salah satu dari mereka tidak sadarkan diri bahkan mati."
Tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua laki-laki yang tengah beradu tatap itu, Hito beranjak dari tempat duduknya tadi menuju kearah kedua sahabatnya tersebut. Karena yakinlah hanya Hito saja yang berani berhadapan dengan dua singa jantan itu jika dalam keadaan tegang sekaligus menyeramkan seperti ini.
Hito menepuk pundak Virza, membuat sahabatnya tersebut mengalihkan pandangannya kearahnya.
__ADS_1
"Bisa turunkan emosi kamu. Ini bukan saatnya kita menghakimi Erland. Kita harus tau terlebih dahulu alasan dia kenapa sampai merahasiakan pernikahan dia," ucap Hito.
"Alasan? Heh! Seharusnya kalau dia anggap kita sahabat dia, apapun alasannya, dia akan jujur ke kita! Katanya dia dulu, kita harus saling terbuka tapi nyatanya dia sendiri yang main rahasia. Cih, omong kosong, bulsit, anjing!" umpat Virza sebelum laki-laki itu meninggalkan ruangan tersebut sekaligus meninggalkan markas itu.
Kepergian dari Virza tadi tentunya sempat di cegah oleh Odi dan yang lainnya. Tapi karena Virza sudah keburu kecewa dengan Erland, ia sudah tidak ingin lagi mendengar apapun alasan yang akan diberikan Erland.
Sedangkan Hito, ia menghela nafas sebelum tatapan matanya yang tadi menatap kearah perginya Virza kini menatap kearah Erland.
"Abaikan Virza, urusan dia belakangan. Kamu sekarang kasih tau ke kita apa alasan kamu merahasiakan hal besar ini ke kita? Kamu masih menganggap kita sahabat bukan? Kalau iya, luruskan masalah ini sekarang juga! Jangan ada yang kamu tutup-tutupi lagi. Jangan merasa karena kita tetap disini dan tidak menghajar kamu, kamu anggap kita tidak marah. Salah, kamu salah besar karena jujur saja kita semua yang ada disini sangat marah sama kamu sekaligus kecewa. Kita merasa jika kamu sudah tidak menganggap jika kita ini bukan sahabat kamu lagi," ujar Hito sedikit mengeluarkan unek-uneknya sekaligus mewakili semua orang yang ada di ruangan itu menyampaikan kekecewaannya kepada Erland.
"Maaf karena sudah buat kalian kecewa. Dan aku akan menceritakan kenapa aku sampai merahasiakan pernikahanku ini," ujar Erland sebelum ia melanjutkan ucapannya tadi dengan menceritakan dari awal mula ia bertemu dengan sang istri sampai menikah dia dan alasan dia yang merahasiakan pernikahannya.
"Oh jadi bang Erland menikah itu dengan tujuan untuk merubah istri Abang?" tanya salah satu laki-laki yang masih mengenakan seragam sekolah itu. Tentunya pertanyaannya tadi di balas dengan anggukan kepala.
__ADS_1
"Kalau begitu istri kamu juga tidak tau siapa kamu yang sebenarnya?" Kini giliran Odi yang bertanya yang lagi-lagi dengan sabar Erland menjawab pertanyaan dari sang sahabat dengan anggukan kepala pula.
"Anjir jahat banget sih kamu, Er! Kamu tau gak, konsekuensi apa yang akan kamu dapatkan saat istri kamu itu tau siapa diri kamu yang sebenarnya? Apalagi kalau taunya dari orang lain. Siap-siap aja kamu jadi duda setelahnya. Aku yakin walaupun istri kamu sudah berubah menjadi sangat baik sekalipun, dia akan tetap marah, kecewa dan merasa di bohongi. Jadi kalau boleh aku kasih saran ke kamu, Er. Lebih baik kamu sekarang jujur sama dia. Sebelum kamu menyesal nantinya. Dan kalau sampai saat dia tau siapa kamu yang sebenarnya dan dia balik lagi ke setelan pabriknya, kamu ulang lagi cara kamu mendidik dia yang sudah kamu lakukan sebelum-sebelumnya. Ya memang sih pasti akan sulit untuk memulainya dari nol lagi, tapi daripada kamu kehilangan dia karena kebodohanmu ini. Apalagi kamu sudah di dasari oleh rasa cinta. Jadi lebih baik memperbaiki kan daripada melepaskan dan cari yang baru yang belum tentu sebaik istri kamu ini. Jadi jujur lah, Er. Dan yakinlah kalau kamu sudah jujur semuanya dengan dia, aku yakin keinginan kamu yang ingin segara punya anak segera terlaksana. Karena mungkin ada beberapa pertimbangan dan cara untuk kalian tidak memiliki keturunan yang diambil oleh istri kamu tanpa sepengetahuan kamu. Seperti dia melakukan KB, entah itu dari suntik KB lah, minum pil KB atau sebagainya yang bisa mencegah kalian untuk memiliki anak. Karena ya kembali lagi mungkin istri kamu belum siap punya anak karena masalah finansial kalian atau kesiapan mental dia," ujar Septian sangat bijak sekali, berbanding terbalik dengan sikapnya yang tadi tampak bar-bar dan hampir lepas kendali.
"Ehhh tunggu dulu. Kamu sudah pernah tanya ke istri kamu belum mau punya anak atau tidak. Kalau mau punya, kamu tanya siap atau tidak?" Sambung Septian.
Erland tampak terdiam sesaat, sepertinya laki-laki itu tengah mengingat-ingat apakah dirinya pernah bertanya seperti yang dikatakan oleh Septian tadi atau tidak. Sampai akhirnya ia menggelengkan kepalanya ketika ia tak ingat jika dirinya memang pernah bertanya tentang kemauan Maura untuk memiliki keturunan bersama dengan dia dan juga tidak pernah bertanya tentang kesiapan Maura entah secara fisik ataupun mental istrinya itu. Dan Erland mulai paham sekarang, mungkin benar apa yang dikatakan oleh Septian itu, jika Maura sudah melakukan suatu cara karena ingin menunda atau bahkan tak ingin memiliki keturunan dengan ketakutan-ketakutan yang tengah istrinya itu rasakan saat ini. Sehingga istrinya itu tak kunjung hamil.
Sedangkan semua orang yang ada di ruangan tersebut saat melihat gelengan kepala dari Erland, mereka dengan serempak menghela nafas lelah, tapi tak urung ada juga yang sampai menepuk jidat mereka sendiri karena tak habis pikir dengan jalan pikiran Erland itu. Tapi ada juga yang kini mengayunkan tangannya hingga...
Plakkk!
"Awsss!" rintih Erland dengan memegangi kepalanya bagian belakang. Lalu setelahnya ia menolehkan kepalanya kearah samping dimana di sana ada Hito yang merupakan pelaku dari pemukulan tadi.
__ADS_1
Hito yang ditatap tajam oleh Erland, ia membalas tatapan mata itu dan dengan wajah yang datar ia berkata, "Sorry refleks."