
Maura yang sudah berganti pakaian pun ia segara keluar dari dalam kamarnya dan segara menyusul Erland yang sudah berada di lantai bawah.
Senyum Maura merekah kala dirinya sudah berada di lantai bawah dan saat itu juga matanya langsung tertuju kearah sang suami yang sibuk dengan ponsel di tangannya.
Dengan jalan perlahan, Maura mendekati Erland sampai ia berdiri disamping laki-laki tersebut tanpa di sadari oleh Erland.
Maura melirik sedikit kearah ponsel itu yang ternyata memunculkan deretan tulisan yang Maura tak tau apa itu, tapi ia yakin jika yang tengah di baca oleh Erland mengenai pekerjaannya.
"Sibuk ya?" Ucapan tiba-tiba yang keluar dari bibir Maura berhasil membuat Erland terkejut dan hampir saja laki-laki itu menjatuhkan ponselnya yang senilai jutaan rupiah itu jika ia tak refleks menangkapnya tadi.
Dan dengan menolehkan kepalanya kearah sumber suara sembari salah satu tangannya mengelus dada bidangnya, Erland berkata, "Astaga sayang, ngagetin."
Maura nyengir kuda mendengar ucapan dari Erland tadi.
"Maaf, aku tidak bermaksud buat ngagetin kamu kok. Kamunya saja yang tidak sadar kalau aku udah disini. Jadi kagetnya kamu tadi tidak salahku," ujar Maura yang tak mau di salahkan.
Erland hanya bisa menghela nafas kemudian ia menganggukkan kepalanya. Dirinya tidak ingin perempuan kesayangannya itu kembali marah kepadanya dan alhasil Erland memilih untuk mengalah saja.
"Baiklah-baiklah aku yang salah, aku yang tidak menyadari keberadaan kamu yang ternyata sudah berada di sampingku. Maaf ya sayang," ujar Erland sembari menggenggam tangan istrinya.
__ADS_1
Maura menganggukkan kepalanya.
"Permintaan maaf di terima. Tapi lain kali harus lebih peka lagi kalau istrinya datang tuh."
"Iya, aku akan berusaha untuk lebih peka lagi. Tapi sejak kapan kamu ada disini? Sudah dari tadi kah?" tanya Erland.
"Belum juga sih, mungkin sekitar 3 atau 5 menitan yang lalu aku baru sampai disini. Lagian kamu terlalu fokus dengan ponsel sih. Kenapa? Pekerjaan kamu banyak? Kalau banyak gak usah jadi saja ke pasar malamnya. Besok lagi saja," ujar Maura tak ada raut kekecewaan yang terlihat di wajah Maura saat ini. Mungkin mood Maura kembali berubah baik, lembut, dan pengertian tidak seperti tadi yang seperti anak kecil. Sehingga ia dengan senang hati menawarkan agar Erland melanjutkan pekerjaannya dari pada berangkat ke pasar malam seperti yang laki-laki itu tadi janjikan.
"Tidak tidak. Kita harus tetap berangkat," ujar Erland sembari berdiri dari posisi duduknya dan segera menghadap kearah Maura.
"Tapi kamu kelihatanya sibuk begitu. Memangnya tidak apa-apa jika kita tetap nekat berangkat?" tanya Maura.
"Sayang, jangan pikirin pekerjaanku. Pekerjaanku ini biar aku sendiri yang ngatur. Entah itu memang aku tengah sibuk sekalipun, jika kamu menginginkan aku untuk mengantar kamu kesuatu tempat, aku lebih memilih untuk mengantar kamu saja dan meninggalkan pekerjaanku untuk sementara waktu. Karena kamu adalah prioritasku," ujar Erland dengan mengusap lembut rambut Maura.
Sedangkan Erland, ia terkekeh gemas dengan tingkah Maura ini. Dan untung saja saat mereka tengah mengumbar kemesraan seperti ini tak ada orang lain yang berada di sekitar mereka, karena kalau ada sudah dipastikan jika siapapun yang melihatnya akan merasa iri dengan kemesraan mereka itu.
Untuk beberapa saat mereka masih berada di posisi saling berpelukan sampai Maura sendiri yang melepaskan pelukannya itu.
Tatapan mereka kini bertemu dengan senyum manis yang terpatri di bibir mereka.
__ADS_1
"Jadi gimana? Mau berangkat sekarang?" tanya Erland.
Maura menganggukkan kepalanya.
"Oke kalau begitu, let's go!" Erland meraih salah satu tangan Maura untuk ia genggam dan kemudian keduanya berjalan secara beriringan keluar dari rumah kedua orangtua Maura. Mereka tidak perlu untuk izin kepada Mama Dian dan Papa Louis karena kedua orang itu saat ini tengah berada di luar kota tentunya untuk urusan bisnis yang di jalankan oleh Papa Louis.
Kembali lagi dengan sepasang pasutri itu yang sudah berada di dalam mobil menuju ke tempat pasar malam berada, hanya berdua saja tanpa supir yang mengantar mereka. Namun tanpa Maura ketahui jika Erland sudah mengerahkan anak buahnya untuk mengikuti dirinya, jaga-jaga saja siapa tau ada orang yang ingin berniat jahat lagi dengan Maura.
Setelah menempuh perjalan setengah jam, mobil Audi R8 berwarna hitam legam yang ditumpangi oleh Erland dan Maura telah berhenti di parkiran yang sudah tersedia di tempat tersebut. Tentunya keberadaan mobil mewah itu mengalihkan atensi semua orang disana. Bahkan tak sedikit dari mereka penasaran sultan mana yang dengan senang hati menginjaknya kaki mereka ke tempat hiburan sederhana itu?
Pertanyaan itu terjawab saat Erland lebih dulu keluar dari dalam mobil tersebut. Awalnya semua orang belum benar-benar menyadari jika itu salah satu keturunan keluarga Abhivandya karena kondisi parkiran yang sedikit pencahayaan tersebut sampai pada akhirnya, Erland yang sudah membukakan pintu untuk Maura dan berjalan dengan tangan yang saling bergandeng memasuki tempat hiburan tersebut, mereka baru menyadari jika sultan yang dengan senang hati menginjakkan kakinya ke tempat hiburan sederhana itu adalah salah satu keturunan Abhivandya. Yang mana saat itu juga semua orang langsung berbondong-bondong untuk mengambil foto Erland dan juga Maura, seperti paparazi yang tengah mengambil foto idola mereka.
Erland merasa kesal akan hal itu terlebih Maura sepertinya tidak nyaman dengan aksi orang-orang di sekitar mereka yang mulai mengikis jarak mereka.
"Sayang. Kita ketempat lain saja ya," bisik Erland tepat di sebelah telinga Maura. Tangan yang tadi menggenggam erat jari-jari Maura, kini berpindah ke pinggang sang istri.
"Tidak usah. Kita tetap disini saja. Aku baik-baik saja kok hanya sedikit hmmm risih saja," balas Maura.
"Tapi sayang, mereka semakin mendekati kita. Aku takut saat mereka benar-benar di dekat kita salah satu dari mereka menyakiti kamu ataupun calon anak kita," ujar Erland tak tenang karena kondisi sekiranya sudah mulai tak kondusif, beberapa orang saling dorong bahkan sudah ada yang mulai berani meminta foto kepada Erland.
__ADS_1
Maura menghela nafas, sebelum ia berkata, "Baiklah. Kita ke---awss!" erang Maura saat tiba-tiba ada seseorang yang mungkin gemas dengannya mencubit lengan tangannya. Dan cubitan itu baru terlepas kala Erland yang mendengar rintihan sang istri menarik tubuh Maura kedalam pelukannya, dan beberapa saat setelahnya terdapat beberapa orang berbadan kekar dengan pakaian serba hitam datang sembari mendorong orang-orang yang tuduh tadi menjauh dari Maura juga Erland lalu setelahnya mereka membuat formasi lingkaran untuk melindungi kedua orang itu.
Maura yang melihatnya pun ia mengerutkan keningnya sembari bertanya, "Kenapa orang-orang itu datang untuk melindungi kita? Kamu tau siapa mereka?"