PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 131


__ADS_3

Dengan mendorong troli, Erland menatap bahan makanan yang berada di satu rak dihadapannya. Ia baru saja selesai bekerja dan memutuskan untuk mampir terlebih dahulu kesebuah mini market yang selalu ia lewati, mengingat tadi pagi sayuran yang berada di kulkas habis. Masalah uang, ia tadi pagi sudah minta ke Maura. Bukan ia tak memiliki uang lain, tapi ingat dirinya kan tetap harus melatih Maura bagaimana cara menghemat jadi mau tak mau ia meminta uang yang setiap bulan ia berikan kepada sang istri untuk berbelanja. Dan Maura tadi memberikan dia uang 200 ribu yang ia rasa sudah cukup untuk membeli beberapa sayuran dan bahan makanan yang lain.


Erland terus memilih sayuran yang sekiranya dia dan Maura suka. Ia berusaha untuk tak menggubris tatapan semua orang yang menjadikan dirinya sebagai ojek penglihatan mereka. Bahkan tak sekali dua kali, Erland juga sempat menangkap suara orang-orang itu yang mendambakan suami sepertinya dan tak sedikit pula ibu-ibu yang secara terang-terangan mau menjadikan dirinya menantu yang membuat Erland hanya bisa memutar bola matanya malas. Namun tak urung hatinya juga ikut berkata, "Halunya pada ketinggian. Sorry to say, laki-laki yang kalian lihat ini sudah sold out. Laki-laki ini hanya milik Maura, suami Maura satu-satunya, menantu Mama Dian dan Papa Louis. Dan tidak akan ada yang bisa menggantikan Maura di hatiku. Apalagi modelan perempuannya seperti mereka yang matanya hampir copot kalau lihat laki-laki tampan. Ck, memuakkan! Ibu-ibu itu juga. Apakah anaknya tidak bisa memilih pasangan sendiri sampai-sampai mereka harus memilihkan pasang untuk anaknya? Mana yang mereka pilih laki-laki yang baru sekali mereka temui. Apa mereka tidak takut jika salah pilih dan berakhir mereka nanti akan menyesal karena secara tidak langsung mereka sudah melukai hati anak mereka jika pernikahan anak mereka berhenti di tengah jalan? Huh tapi ini kan emak-emak jadi mana mereka peduli dengan apa yang aku pikirkan ini. Ck, dasar emak-emak sama saja seperti perempuan-perempuan tadi."


Erland terus ngedumel didalam hatinya. Ia sebenarnya tak suka melihat mereka yang secara terang-terangan menatap dirinya dengan kagum dan ingin memiliki. Rasanya Erland ingin melakban mata mereka biar tidak bisa melihat sekalian. Tapi apa daya, ia tak bisa melakukan hal tersebut, bisa-bisa ia nanti di jebloskan ke penjara. Jangan sampai. Kalau dia masuk penjara bagaimana dengan Maura? Ia tak bisa membiarkan istrinya itu hidup sendirian. Apalagi keinginan Erland belum tercapai. Keinginan yang sejak dua bulan ini ia harapkan hadir di tengah-tengah dirinya dan Maura yaitu janin yang nantinya akan tubuh di rahim Maura sebelum lahir ke dunia yang akan semakin mengeratkan hubungan pernikahan mereka berdua. Huh, semoga saja secepatnya Maura segera mengandung buah hati mereka.


Erland berlagak cuek dengan situasi di sekitarnya. Ia sebisa mungkin memilih bahan makanan dengan cepat agar ia bisa segera pergi dari mini market itu.


Sedangkan seorang wanita paruh baya menatap heran kearah orang-orang yang menatap satu objek yang sama. Hingga membuat dirinya penasaran dengan objek yang mereka lihat.


"Apa ada diskon besar-besaran kah disana sampai semua mata tertuju ke rak sayuran semua?" tanya wanita paruh baya tersebut sebelum dirinya mendorong sebuah troli yang berisi makanan ringan itu. Dimana saat ia berada di deretan ibu-ibu yang masih menggosip, ia menajamkan penglihatannya yang sedikit rabun itu.


"Sebentar, sepertinya aku kenal laki-laki muda itu," gumamnya sembari mengingat perawakan laki-laki yang masih sibuk dengan banyaknya sayuran di hadapannya tersebut.

__ADS_1


"Perawakannya seperti... Ahhh seperti Erland ya. Anak dari keluarga Abhivandya. Wahhhhh kenapa dia ada disini, milih-milih sayuran lagi? Memangnya kemana maid di rumah dia? Kenapa dia yang harus beli sendiri? Apa dia ingin mencoba mandiri? Kalau benar, hebat sekali," sambungannya dengan senyum yang merekah. Namun senyumannya langsung luntur kala dirinya mendengar ucapan salah satu ibu-ibu di sampingnya.


"Ya ampun aku benar-benar sudah tidak tahan melihat ketampanan laki-laki itu. Rasa-rasanya aku ingin menjodohkan dia dengan anak sulungku. Aku rasa mereka akan serasi. Aku harus memfoto dia untuk aku perlihatkan ke anak sulungku nanti," ucap salah satu ibu-ibu itu dengan mengeluarkan ponselnya dan seperti paparazi, ia memfoto Erland berkali-kali. Dan hal itu membuat wanita paruh baya yang sudah mengenali Erland mencebikkan bibirnya.


"Itu hanya akan terjadi di dalam mimpi kalian." Kata penuh penekanan yang sengaja tak ia lirihkan membuat para ibu-ibu yang memuja Erland sebagai menantu mereka langsung mengalihkan pandangan mereka kearah sumber suara. Tapi wanita paruh baya itu mana peduli, ia justru melangkahkan kakinya. Dimana saat ia berada di samping Erland yang tampak tak peduli dengan kehadirannya, ia berkata, "Ehhh ada calon menantu ternyata."


Wanita paruh baya tersebut sengaja mengeraskan suaranya, seakan-akan ia memberitahu semua orang jika Erland adalah calon menantunya.


"Kamu yakin ibu-ibu itu memang calon mertua dari laki-laki tampan itu? Aku rasa tidak deh. Dia hanya orang gila yang aku rasa hanya mengaku-ngaku saja. Kalaupun memang benar laki-laki itu calon menantu ibu-ibu itu kenapa dia terlihat cuek saat ada seseorang yang memanggil dia calon menantu. Tidak mungkin kan kalau dia lupa suara calon mertuanya sendiri?" Ucapan dari salah satu perempuan lain membuat wanita paruh baya tersebut tampak mengepalkan tangannya dengan senyum yang tadi mengembang hilang seketika.


Dan untuk membuktikan ucapan dari perempuan itu, wanita paruh baya tersebut menolehkan kepalanya kearah Erland berada. Matanya melotot sempurna kala Erland masih sibuk dengan aktivitasnya tanpa menoleh sedikitpun kearahnya. Tapi ia tak menyerah begitu saja, ia kembali berucap dengan memperlihatkan tampang manisnya.


"Calon menantu sepertinya membutuhkan bantuan. Sini biar Mama bantu kamu," ucap wanita paruh baya tersebut. Namun lagi-lagi ia tak mendapatkan respon sedikitpun dari Erland. Laki-laki itu justru menaruh sayur bayam yang tadi sudah ia pilih kedalam troli. Dan saat dirinya hendak beranjak ke lain tempat, trolinya tiba-tiba di pegang oleh seseorang yang membuat Erland kini menolehkan kepalanya kearah samping. Disitulah ia baru menyadari jika ada orang lain di sampingnya. Dan jangan tanya lagi siapa yang berani memegang troli Erland jika bukan wanita paruh baya yang di mata Erland sama memuakkannya seperti mereka-mereka yang sedari tadi menatapnya.

__ADS_1


Erland menghela nafas panjang. Ia kenal betul siapa wanita paruh baya itu. Dan karena dia kenal juga tau sifat asli dari wanita tersebut. Erland berucap, "Bisa lepaskan tangan anda dari troli saya, Nyonya? Jika tidak, saya tidak jamin tangan anda nanti akan utuh setelahnya."


Suara penuh penekanan yang diberikan oleh Erland, berhasil membuat wanita paruh baya yang tadi menggenggam erat troli Erland melepaskan tangannya dari troli yang di bawa oleh laki-laki di hadapannya itu. Dimana saat tangan wanita paruh baya tersebut sudah menjauh, tanpa mengucapakan permisi terlebih dahulu, Erland melangkahkan kakinya menjauhi para perempuan dan ibu-ibu yang tampak sedang tertawa, menertawakan nasib dari wanita paruh baya yang mereka anggap hanya mengaku-ngaku saja.


Sedangkan wanita paruh baya tersebut mengepalkan tangannya sebelum ia ikut pergi dari gerombolan para kaum hawa yang semakin menertawai dirinya.


"Awas saja kamu, Erland. Akan aku buat kamu benar-benar menjadi menantuku! Lihat saja nanti apa yang akan aku lakukan! Tunggu tanggal mainnya!" gumam wanita paruh baya tersebut saat sudah keluar dari dalam mini market. Ia tak jadi membeli barang-barang yang sudah masuk kedalam troli tadi karena mood dia sudah berhasil di rusak oleh orang-orang yang menertawakan dirinya tadi dan pelaku utamanya yang sudah menjadi dirinya emosi serta merasakan malu secara bersamaan adalah Erland. Laki-laki yang dengan kurang ajarnya secara tidak langsung menegaskan jika dirinya tidak minat mempunyai seorang mertua seperti wanita paruh baya tersebut hanya dengan penekanan dalam berucap tadi. Mengingat hal itu, membuat wanita paruh baya tersebut semakin emosi saja.


...****************...


Bang Erland emang suamiable sama menantuable banget ya. Sampai-sampai semua orang mau punya suami dan menantu kayak bang Erland. Termasuk aku hihihi 🤭


Oh ya aku mau kasih double up yang banyak kalau kalian kasih 70 LIKE di eps ini. Dan mohon bersabar ya, karena proses rivew bulan ini ngandat banget. Updatenya sekarang pasti ke publishnya besok. Jadi yok semangat kasih jempolnya, kerena satu jempol sudah buat aku semangat apalagi sampai ratusan uhhh double up terus🤭 Jangan lupa tinggalkan KOMEN, VOTE dan HADIAH ya. See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2