
Saat di dalam restoran terjadi hal yang cukup membuat sakit perut, Daddy Aiden yang berada di luar restoran tampak sedang berbicara serius dengan seseorang di sebrang sana. Siapa lagi jika bukan Adam, putra pertamanya bukan seorang perempuan yang sama seperti yang di tuduhkan oleh Erland tadi.
"Jadi bagaimana? Apa yang Daddy minta tadi sudah kamu berikan kepada mereka?" tanya Daddy Aiden.
📞 : "Sudah Dad. Dua kertas itu sudah berada di genggaman Orla. Tapi saat Adam tadi ke ruangan Orla, Adam tidak melihat tuan Jaya, kata Orla sih dia keluar untuk menyelesaikan suatu hal yang entah Adam tidak tau hal yang dimaksud oleh Orla itu apa. Dan karena Adam sudah muak berada di dalam ruangan yang sama dengan perempuan ular itu, takut dia menjadikan Adam target selanjutnya karena dia tidak bisa mendapatkan Erland dan dia berniat menjadi duri di rumah tangga Adam, Adam terpaksa memberikan dua kertas tadi ke Orla saja toh nanti perempuan itu akan menyerahkan ke tuan Jaya," ujar Adam.
Daddy Aiden yang mendengar penuturan dari putra pertamanya itu ia menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Kesetiaan putra dan putrinya memang tidak bisa di ragukan lagi.
"Baiklah-baiklah, Daddy juga tidak masalah mau dua kertas itu kamu berikan ke Jaya atau Orla sekalipun. Yang terpenting apa yang sudah Daddy amanatkan ke kamu sudah kamu sampaikan ke salah satu dari mereka. Dan Daddy ucapan terimakasih, karena kamu sudah membatu meringankan tugas Daddy," tutur Daddy Aiden.
📞 : "Daddy tidak perlu berterimakasih ke Adam. Adam akan melakukan apapun yang Daddy perintahkan semampu yang Adam bisa. Tapi Dad, Adam mau tau alasannya kenapa Daddy kembali membantu mereka dengan memberikan uang dengan jumlah yang sangat besar bahkan menyentuh angka setengah milyar belum lagi rumah yang Daddy berikan kepada mereka, pasti nilainya juga tidak sedikit. Padahal Daddy tau jika mereka sudah hampir menyakiti salah satu anggota keluarga Daddy, tapi kenapa Daddy baik sama mereka? Kenapa Daddy tidak membiarkan mereka buat berusaha sendiri di negara orang? Tidak peduli mereka nanti akan menjadi gelandangan disana. Tapi ternyata Daddy malah tidak membiarkan hal itu terjadi. Kenapa Dad, Adam perlu tau alasannya," ucap Adam penasaran.
Daddy Aiden tampak tersenyum sebelum ia menjawab pertanyaan yang Adam tadi lontarkan.
"Kamu tau Dam, orang yang sudah jahat kepada kita, kita tidak perlu membalas mereka dengan kejahatan pula. Mungkin mereka berniat jahat itu karena mereka khilaf saja dan nanti akan berubah baik. Allah itu maha membolak-balikkan hati manusia, bisa saja mereka sekarang jatah kepada kita tapi suatu saat nanti orang itu yang akan kita butuhkan. Jadi sebisa mungkin kita jangan menaruh dendam ke mereka dan berniat membalas kejahatan mereka. Boleh kita balas dendam tapi dengan cara yang baik contohnya seperti kita membantu mereka yang secara tidak langsung kita perlahan membuat mereka sadar akan kesalahan yang telah mereka perbuat dan sekaligus membuat mereka menyesal karena sudah jahat dengan orang yang sudah membantu mereka dalam kesusahan. Dan ini lah cara balas dendam terbaik menurut Daddy yang harus kamu ataupun adik-adik kamu contoh. Tapi kalau orang itu sudah bertindak yang lebih bahaya kalian boleh melakukan perlawanan demi nyawa kalian sendiri," ujar Daddy Aiden yang membuat Adam di sebrang sana tersenyum bangga kepada Daddy-nya itu. Laki-laki yang mengajak dirinya banyak hal yang membuat dirinya selalu bersyukur telah memiliki orangtua seperti Daddy Aiden dan Mommy Della. Dan sebenarnya hal ini bukan kali pertama Daddy Aiden membalas kejahatan dengan kebaikannya, termasuk saat kejadian Zico beberapa tahun yang lalu. Laki-laki yang hampir melecehkan Edrea dan laki-laki yang hampir membunuh seluruh keluarga Abhivandya, justru sekarang laki-laki itu menjadi bagian keluarga Abhivandya yang diangkat sebagai putra Daddy Aiden dan Mommy Della tanpa mempedulikan kesalahan yang dulu laki-laki itu perbuatan.
Dan Adam benar-benar takjub dengan kebaikan orangtuanya itu.
📞 : "Dad," panggil Adam.
"Ya?"
📞 : "Adam bangga menjadi salah satu putra Daddy. Terimakasih Dad, karena Daddy, Adam belajar banyak hal. Adam benar-benar berterimakasih kepada Daddy dan Adam benar-benar beruntung menjadi putra Daddy. Love you Dad, really really love you," ucap Adam dari lubuk hatinya yang paling dalam. Dan ucapan dari laki-laki itu membuat hati Daddy tersentuh.
"Daddy juga bangga dengan kamu, Dam. Kamu putra Daddy yang paling kuat, yang paling tangguh dan tidak pantang menyerah. Terimakasih karena kamu sudah bertahan sejauh ini dan memilih Daddy dan Mommy sebagai orangtua kamu. Kamu kebanggaan Daddy, Mommy dan adik-adikmu," ujar Daddy Aiden yang kembali mengenang masa lalu putranya yang sangat memilukan. Bahkan jika dibandingkan dengan dirinya, ia tak ada apa-apanya dengan Adam yang masa kecilnya harus di renggut paksa dan harus sudah merasakan pahitnya dunia.
Tentunya ucapan Daddy Aiden membuat Adam meneteskan air matanya. Dan tentunya tak hanya Adam saja yang tengah mengeluarkan air mata Daddy Aiden juga sempat keluar sebelum dirinya usap dengan kasar.
Daddy yang tak ingin berlama-lama bersedih pun dan juga tak ingin kembali mengenang masa sulit Adam yang tentunya ia yakin Adam juga pasti akan mengingatnya dan membuat putranya kembali bersedih, ia menghela nafas panjang sebelum dirinya berkata, "Sepertinya sampai disini dulu ya Dam. Soalnya Daddy masih ada di luar. Sekali lagi Daddy ucapan terimakasih atas bantuan yang kamu berikan tadi."
Adam menganggukkan kepalanya sebelum ia ingat jika anggukan kepalanya itu tak bisa di lihat oleh Daddy Aiden sehingga ia mau tak mau menahan suara sesenggukannya agar Daddy Aiden tidak curiga jika dirinya sedang menangis saat ini.
📞 : "Baik Dad. Hati-hati jika nanti Daddy akan pulang."
"Baiklah son. Ya sudah Daddy tutup dulu. Semangat kerjanya Pak dokter. Assalamualaikum," pamit Daddy Aiden.
📞 : "Terimakasih Dad. Waalaikumsalam."
Balasan dari Adam tadi menandakan terputusnya sambungan telepon antara mereka berdua.
Daddy Aiden tampak kembali menghela nafas panjang dengan tatapan matanya mengarah ke ponsel yang berada di genggamannya sebelum ponsel itu ia kantongi lagi. Lalu kemudian ia segara melangkahkan kakinya untuk masuk kembali ke dalam restoran.
Saat Daddy Aiden baru masuk kedalam, ia mengerutkan keningnya saat matanya melihat Erland yang tengah memeluk tubuh Maura.
"Ada apa? Kenapa dia terlihat manja dengan istrinya?" tanya Daddy Aiden secara tiba-tiba kala dirinya sudah berada di belakang tubuh sang istri.
Mommy Della yang tak menyadari kedatangan Daddy Aiden, ia sempat terkejut sebelum ia menolehkan kepalanya kearah suaminya itu.
"Astaga ngagetin aja," ujar Mommy Della dengan memberikan pukulan pelan di lengan sang suami yang membuat Daddy Aiden tersenyum kecil.
"Maaf maaf sayang, aku tidak bermaksud mengagetkan kamu tadi," ucap Daddy Aiden sembari duduk di kursinya tadi. Sedangkan Mommy Della, ia menganggukkan kepalanya.
"Sayang, kamu belum menjawab pertanyaanku tadi. Dia kenapa?" tanya ulang Daddy Aiden dengan menunjuk ke arah Erland dengan dagunya.
Mommy Della tentunya mengikuti arah pandang Daddy Aiden.
"Oh Erland?" Daddy Aiden menganggukkan kepalanya.
"Iya, dia kenapa memangnya?" Daddy Aiden benar-benar kepo dengan apa yang sudah terjadi kepada putra terakhirnya itu.
"Anak kamu itu takut burungnya dipangkas habis oleh menantu kamu," jawab Mommy Della dengan santai.
__ADS_1
Daddy Aiden mengerutkan keningnya.
"Memangnya apa yang sudah dia perbuat sampai Maura ingin membunuh burung dia?" tanya Daddy Aiden lagi.
"Tidak ada. Maura hanya mengatakan ingin memangkas habis burung Erland jika dia berselingkuh. Tapi belum juga anakmu itu melakukan perselingkuhan dia sudah takut duluan dan berakhir lah dia seperti itu."
"Berarti hanya ancaman saja?"
"Ya dan ancaman yang Maura berikan sama seperti ancaman ku yang aku peruntukan kepadamu. Dan perlu kamu ingat reaksi Erland saat ini sama dengan reaksi kamu saat mendengar ancaman ku itu untuk pertama kalinya," ujar Mommy Della dengan senyum di bibirnya.
Daddy Aiden yang diingatkan lagi tentang masa lalunya itu, ia berdecak dan memilih untuk diam saja, tak bertanya lagi kepada istrinya yang sekarang terlihat menyebalkan karena ucapan dari Mommy Della tadi, seperti perempuan itu tengah mengejek suaminya sendiri. Dan laki-laki paruh baya tersebut memilih untuk melajukan makan siangnya yang sempat ia tinggalkan tadi, tidak peduli lagi dengan Mommy Della yang semakin melebarkan senyumannya. Ia juga tidak peduli dengan Maura yang terlihat ingin tertawa namun menantunya itu tahan. Mungkin Maura tak enak hati ingin menertawakan mertuanya sendiri yang ternyata takut dengan ancaman istrinya, sama seperti Erland saat ini.
...****************...
Dua pasang suami istri itu kini telah menyelesaikan makan siang mereka. Dan kini mereka telah keluar dari dalam restoran dengan Mommy Della dan Maura yang saling bergandengan tangan.
Namun saat mereka telah sampai di area parkir, Erland berucap, "Mom, Dad, Erland akan mengajak Maura ke suatu tempat dulu. Jadi Mommy sama Daddy pulang saja terlebih dahulu."
Maura yang tak tau akan di ajak pergi terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah keluarga Abhivandya pun ia mengerutkan keningnya.
"Kamu mau ngajak aku kemana?" tanya Maura yang mengalihkan pandangannya Erland yang awalnya menatap kearah kedua orangtuanya kini sepenuhnya menatap kearah Maura berada. Tentunya dengan senyum manis yang menambah kesan tampan pada dirinya.
"Nanti kamu juga akan tau sendiri sayang," ujar Erland sembari tangannya terulur untuk mengelus kepala Maura.
Mommy Della yang sedari tadi menggenggam tangan Maura, genggaman tangannya itu ia lepas sesaat setelah dirinya menatap kearah Daddy Aiden yang menganggukkan kepalanya, kode agar Mommy Della memberikan izinnya kepada Erland untuk membawa Maura pergi.
"Baiklah kalau kamu mau mengajak Maura ke sesuatu tempat Mommy dan Daddy akan memberikan izin. Tapi ingat kamu harus menjaga baik-baik menantu Mommy ini. Jika sampai Maura terluka, Mommy bunuh kamu," ujar Mommy Della dengan memberikan ancaman kepada Erland.
Erland hanya bisa menghela nafas panjang. Baru ia sadari tidak Mommynya, tidak juga Maura, mereka sama-sama menyeramkan dan suka mengancam.
"Ck, iya-iya Mom. Erland akan menjaga menantu Mommy ini," ujar Erland.
"Kalau begitu Erland dan Maura pamit dulu." Erland meraih tangan sang ibunda untuk ia kecup sekilas sebelum beralih ke tangan Daddy Aiden. Begitu juga dengan Maura yang melakukan hal yang sama seperti yang Erland lakukan tadi untuk berpamitan kepada kedua mertuanya.
"Assalamualaikum, Mom, Dad," ucap Maura maupun Erland secara serempak.
"Waalaikumsalam, kalian hati-hati di jalan. Erland, jangan ngebut kalau bawa mobil. Ingat kamu tidak hanya sendiri tapi kamu juga bawa nyawa orang lain," nasehat Mommy Della yang diangguki oleh Erland sebelum ia menggandeng tangan Maura untuk ia ajak menuju ke mobil mereka.
Keduanya lebih dulu pergi daripada pasangan Mommy Della dan Daddy Aiden dengan Erland yang membunyikan klakson mobilnya sebagai tanda pamit kepada kedua orangtuanya itu yang dibalas dengan lambaian tangan oleh keduanya.
Dan saat mobil Erland sudah menjauh barulah mereka berdua masuk kedalam mobil dengan tujuan pulang ke kediaman mereka.
Sedangkan di dalam perjalanan, tepat di mobil Erland, Maura terus bertanya-tanya dirinya mau di bawa kemana oleh suaminya itu.
"Sebenarnya kamu mau membawaku kemana sih?" tanya Maura padahal sebelumnya ia sudah bertanya dan jawaban yang Erland berikan selalu sama.
"Nanti kamu akan tau sendiri saat sudah sampai di tempat yang akan aku tunjukkan ke kamu." Maura memutar bola matanya malas.
"Ck, jawabannya gitu terus. Sekali-kali jawab yang benar apa susahnya sih?" kesal Maura. Ia sudah kepo maksimal ini.
Erland yang mengerti jika Maura tengah kesal kepadanya, laki-laki itu malah terkekeh kecil dengan tangan kirinya ia gerakkan untuk meraih tangan Maura kemudian ia genggam.
"Kalau aku kasih tau sekarang. Jatuhnya nanti tidak surprise lagi dong. Jadi tunggu saja ya sayang," ucap Erland dengan memberikan usapan lembut di punggung tangan sang istri menggunakan jempolnya.
Sedangkan Maura, ia mencebikkan bibirnya.
"Jangan cemberut gitu dong. Masak calon Mommy cemberut sih, gak boleh tau sayang takutnya baby yang ada di perut kamu itu juga akan cemberut sama seperti kamu," ujar Erland dengan sedikit merayu agar Maura tak merajuk kepadanya. Akan sulit jika sampai Maura merajuk sebelum mereka sampai di tempat yang mereka tuju.
"Biarin saja. Toh ini juga ulah kamu. Jadi kamu yang salah disini. Kalau saja kamu langsung menjawab kita mau kemana, aku ataupun baby tidak akan cemberut seperti saat ini." Erland terlihat menghela nafas lelah. Ia harus sabar menghadapi istrinya yang moodnya tidak bisa di tembak oleh dirinya.
Namun agar Maura tak semakin merajuk Erland berkata, "Baiklah-baiklah, aku mengakui kesalahanku. Tapi aku tetap tidak akan memberitahu kemana kita akan pergi saat ini. Jadi tunggu sebentar lagi, kamu juga akan tau jawabannya."
__ADS_1
Erland masih kekeuh menyebunyikan tujuan mereka pergi.
Hal itu membuat Maura berdecak kesal sembari bergumam, "Ck, dasar menyebalkan."
Erland tak lagi menanggapi ucapan dari istrinya itu. Ia memilih untuk memfokuskan dirinya kearah depan, tetapi genggaman tangannya tak pernah ia lepas dari tangan Maura. Sedangkan Maura, perempuan itu memilih menatap pemandangan di samping jalan. Ia berniat mendiami Erland yang sudah membuatnya kesal sekaligus penasaran.
Pejalan mereka diisi dengan kesunyian sampai mobil yang dikendarai oleh Erland sampai di depan sebuah rumah yang cukup megah dengan tiga lantai didalamnya. Tentunya hal tersebut membuat Maura melongo, sebelum dirinya menolehkan kepalanya kearah Erland setelah mobil mereka memasuki area rumah tersebut.
"Ini rumah siapa?" tanya Maura.
Erland menolehkan kepalanya kearah Maura saat ia sudah menghentikan mobilnya dengan senyum di bibirnya.
"Kamu suka dengan rumah ini?" Maura mengerjabkan matanya.
"Hanya orang bodoh yang tidak suka dengan rumah mewah yang terlihat seperti istana ini," jawab Maura yang diangguki oleh Erland.
"Ya sudah kalau begitu kita turun dulu. Nanti akan aku beritahu rumah siapa ini," ucap Erland sebelum dirinya keluar lebih dulu dari dalam mobilnya lalu kemudian ia mengitari mobil tersebut untuk membukakan pintu Maura.
Maura yang sudah keluar dari dalam mobil, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah tersebut yang semakin membuat ia takjub. Sekaligus membayang betapa senangnya ia jika tinggal di rumah tersebut. Dan saking ia tidak fokusnya, dirinya saat ini telah sampai didepan pintu utama rumah tersebut. Dirinya baru sadar saat ucapan Erland terdengar di telinganya.
"Kamu siap sayang?" tanya Erland yang membuat Maura mengerutkan keningnya dengan menatap kearah suaminya itu.
"Siap? Siap untuk apa? Untuk bertemu dengan pemilik rumah ini? Kalau iya, untuk apa aku takut. Aku siap bertemu dengan dia," ujar Maura yang justru membuat Erland kembali tersenyum.
"Syukurlah kalau kamu sudah siap," ucap Erland yang semakin membuat Maura bingung sendiri. Ucapan dari Erland itu benar-benar sangat membingungkan bagi Maura.
Sedangkan Erland, laki-laki itu kini mengetuk pintu utama tersebut. Dan tak berselang lama, pintu itu terbuka, memperlihatkan seorang wanita paruh baya di balik pintu itu. Maura pikir wanita itulah si pemilik rumah itu, namun saat ia mendengar ucapan wanita tersebut membuat kepala Maura kembali bertanya-tanya.
Pasalnya wanita tersebut berkata, "Selamat datang di rumah tuan dan nyonya!"
Erland tersenyum untuk menimpali ucapan wanita paruh baya tersebut sebelum ia menoleh kearah Maura, lalu berkata, "Welcome home sayang!"
Dengan melongo Maura menatap suaminya itu.
"Sebentar-sebentar, sepertinya aku salah dengar. Jadi tolong ulangi lagi ucapan kamu tadi sayang," pinta Maura. Tentunya langsung di turuti oleh Erland.
"Welcome home sayang. Selamat datang di rumah baru kita," ulang Erland dengan menjabarkan jika rumah yang berada di depan mata Maura itu adalah rumah masa depan mereka. Rumah yang akan mengisi hari-hari mereka bersama buah hati mereka nantinya.
"Sayang jangan bercanda, gak lucu tau." Maura masih tak percaya jika rumah ini adalah rumah mereka.
"Siapa yang sedang bercanda sih sayang. Rumah ini memang rumah kita berdua. Rumah yang akan kita jadikan sebagai tempat berteduh, tempat melukis kenangan kita dan tempat menuanya kita berdua. Kita akan tinggal disini mulai kapan pun yang kamu mau," ujar Erland dengan merangkul pinggang Maura.
"Jadi ini beneran rumah kita?" Erland menganggukkan kepalanya.
"Tentu. Jadi gimana kamu suka kan?" Tentunya Maura menganggukkan kepalanya sebelum ia berhambur ke pelukan Erland.
"Terimakasih sayang. Walaupun rumah ini terlalu mewah untuk aku tinggali dan pasti harganya sangat mahal kan?" ujar Maura.
Erland sedikit melonggarkan pelukan mereka, kemudian kedua tangannya kini menangkup kedua pipi Maura.
"Mau mahal sampai bisa membuatku gulung tikar, tidak masalah buatku sayang karena yang terpenting adalah kebahagiaan kamu. Kamu bahagia, uang yang sudah aku keluarkan tidak sebanding dengan kebahagiaan kamu. I Love you," ucap Erland diakhiri dengan ia mengecup sekilas bibir Maura.
Tentunya ucapan Erland tadi, berhasil membuat mata Maura berkaca-kaca. Dan sebelum air matanya itu jatuh membasahi pipinya, Maura kembali memeluk Erland sembari berucap, "Terimakasih. Aku benar-benar bahagia. Sebenarnya kalau kamu tidak memberiku rumah ini dan cukup kita kembali ke rumah kita yang lama, aku sudah sangat-sangat bahagia. Karena dengan kamu disampaiku saja lebih dari cukup dari semua benda yang kamu berikan kepadaku. Terimakasih sayang and I love you too."
Erland tersenyum sembari mengeratkan pelukannya. Untuk sesaat sepasang suami-istri itu saling berpelukan, tak peduli jika beberapa maid dan para anak buahnya melihat keromantisan mereka. Hingga akhirnya pelukan itu Erland lepas, namun setelahnya ia mengecup kening Maura.
"Sudah jangan nangis lagi. Kita masuk kedalam dan lihat-lihat semua ruangan yang ada di rumah ini. Nanti kalau kamu tidak suka tata letaknya atau desainnya, kamu bilang saja biar aku menyuruh orang untuk mengganti sesuai dengan keinginan kamu," ujar Erland tak lupa ia menghapus sisa air mata di pipi istrinya itu.
Sedangkan Maura, ia menganggukkan kepalanya. Kalaupun memang ia tak suka dengan tata letak ataupun desain suatu ruangan di rumah itu, Maura akan diam, tidak mau memberitahu Erland, karena ia tak ingin membebani suaminya lagi. Sudah cukup surprise yang Erland berikan kepadanya jadi ia tak akan menuntut lebih lagi kepada suaminya.
Anggukan Maura tadi membuat Erland menggenggam erat tangan Maura. Lalu setelahnya keduanya masuk kedalam rumah mewah yang akan mereka tinggalin nanti, tentu saja Maura lagi-lagi berdecak kagum dengan kemewahan dan keindahan rumah tersebut yang membuat ia tersadar jika suaminya itu benar-benar orang kaya.
__ADS_1