
"Aku berangkat dulu ya. Kalau ada apa-apa langsung telepon aku. Paham sayang?" tanya Erland saat dirinya sudah berada di ambang pintu tentunya bersama dengan istri tercintanya yang selalu mengantar kepergiannya.
Maura langsung bersikap hormat kepada Erland kemudian ia berkata, "Siap laksanakan bos."
Erland tersenyum dengan tangan yang bergerak mengacak rambut Maura dengan gemas sebelum sebuah kecupan mendarat ke setiap inci wajah Maura dan diakhiri dengan ia menggigit kecil pipi Maura yang semakin hari semakin gembul itu.
Maura yang tak sekali mendapat gigitan di pipinya, ia memutar bola matanya malas. Untung gigitan Erland tidak sakit, jika sakit, ia tak akan segan-segan untuk menampol wajah suaminya itu.
"Kebiasaan ih. Main gigit pipi orang." Walaupun sudah menjadi kebiasaan Erland, Maura tetap mengomel setelah mendapatkan gigitan itu. Dan Erland, laki-laki itu hanya memberikan cengiran yang membuat Maura mencebikkan bibirnya.
Erland menghiraukan hal itu, ia memilih untuk membungkukkan tubuhnya, sampai wajah tampannya kini berhadapan langsung dengan perut buncit Maura. Ia mengusap perut dengan hati-hati, seakan-akan jika ia memberikan sedikit tekanan dalam elusannya, perut itu nantinya akan meledak.
"Daddy berangkat kerja dulu ya sayang. Jangan nyusahin Mommy, oke. Kalau mau lahir, tunggu Daddy pulang dulu. Daddy sayang dan sudah tidak sabar bertemu kamu," ucap Erland. Ia mengakhiri ucapannya tadi dengan kecupan di perut Maura. Tentunya Maura tersenyum akan perlakuan Erland ini. Karena saat Erland mengajak calon anak mereka, pasti di jabang bayi di dalam akan bergerak aktif seperti saat ini, dia terus menendang perut Maura.
Erland yang sudah tak terkejut, ia hanya tersenyum kala tendangan kecil itu mendarat di bibirnya yang masih menempel di perut Maura. Setelah di rasa, pergerakan janin tadi sedikit mereda, Erland menegakkan kembali tubuhnya dengan tangan yang masih mengelus perut Maura sampai benar-benar ia tak merasakan pergerakan itu lagi barulah Erland menjauhkan tangannya.
__ADS_1
"Aku berangkat. Assalamualaikum," pamit Erland dengan menyodorkan tangannya di depan Maura. Tentunya langsung di balas oleh perempuan itu untuk ia kecup singkat punggung tangan sang suami.
"Waalaikumsalam. Hati-hati," ucap Maura kala salaman mereka terlepas.
Erland menganggukkan kepalanya, lalu setelahnya ia berjalan menuju mobilnya. Dan seperti biasa sebelum ia meninggalkan pekarangan rumahnya, ia membunyikan klakson yang dibalas lambaian tangan oleh Erland.
Maura menunggu sampai mobil Erland benar-benar menghilang dari pandangannya, dan barulah saat itu ia kembali masuk kedalam rumah dengan sedikit ringisan kala merasa sakit di perutnya. Sebenarnya ia sudah merasakan sakit sejak pukul 1 pagi tadi. Tapi ia menganggap jika rasa sakit di perutnya itu akibat kontraksi palsu yang sering ia rasakan beberapa hari yang lalu. Jadi ia tak memberitahu Erland akan hal ini, takutnya saat dirinya memberitahu rasa sakitnya, Erland akan langsung membawanya ke rumah sakit seperti waktu itu dan berakhir mereka di suruh pulang karena memang tidak ada hal yang membahayakan. Terutama jika ia bilang kepada Erland tadi, pastinya ia akan merecoki jadwal Erland yang akan meeting bulanan dengan para kolega kerjanya. Toh semuanya akan baik-baik saja, pikir Maura.
Namun sayang seribu sayang, tebakan Maura tadi, salah besar. Semakin berjalannya waktu, rasa sakit itu kian menjadi. Dan sekarang tepat pukul 10 pagi, rasa sakit itu sudah benar-benar tak bisa Maura tahan lagi dan ia baru menyadari jika apa yang ia rasakan saat ini bukan karena kontraksi palsu semata melainkan kontraksi sungguhan yang tandanya ia akan melahirkan.
"Huh hah. Atur nafas Maura. Atur nafas. Jangan gugup oke. Ayo kamu pasti bisa tahan. Huh, arkhhh," erang Maura kala dirinya kembali merasa sakit yang luar biasa di perutnya. Sungguh, ini benar-benar rasa sakit yang baru pertama kali ia rasakan sampai-sampai kakinya sangat sulit ia langkahkan. Padahal hanya untuk menuju ke arah pintu kamarnya saja yang mungkin berjarak beberapa meter di depannya. Maura ingin sekali berteriak untuk meminta bantuan ke orang-orang di luar kamarnya, tapi sayangnya kamarnya ini kedap suara. Jadi mau sampai pita suaranya putus, tak akan ada yang bisa mendengar suaranya.
"Kalau mau lahir, jangan disini ya nak. Mommy tidak mau menanggung resiko jika harus melahirkan seorang diri. Jika diri Mommy yang menerima resikonya, Mommy tidak masalah. Tapi Mommy tidak mau kamu kenapa-napa. Huh, jadi Mommy huh mohon bertahan sebentar ya. Setidaknya sampai kita keluar dari kamar ini," ujar Maura dengan sesekali menghela nafas, meredakan rasa sakitnya.
Maura terus berusaha melangkahkan kakinya dan juga masih terus berusaha untuk menghubungi Erland.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Afif tengah mondar-mandir tak jelas dengan kuku tangan yang ia gigit menandaskan jika ia tengah bingung sekarang. Tatapan matanya pun tak lepas dari benda pipih di tangannya yang terus saja bergetar.
"Angkat tidak ya? Kalau aku angkat nanti si bos marah gimana? Ishhh tapi kalau gak diangkat takutnya ada apa-apa sama nyonya Maura," ujar Afif. Ya, ponsel Erland memang saat ini tengah berada di genggaman sekretarisnya tersebut yang kebetulan tadi di tutupi oleh Erland. Karena Afif saat ini tak ikut dalam meeting itu.
Bukan karena alasan, Afif tidak mau mengangkat lebih tepatnya enggan mengangkat telepon dari Maura ini, pasalnya ia hampir mati di tangan Erland saat ia mengangkat telepon dari Maura dulu. Jadi inilah alasannya Afif takut mengangkat telepon dari istri bos-nya itu. Tapi entah kenapa, Afif saat ini justru dilanda kebingungan pasalnya Maura tidak hanya sekali melakukan panggilan tapi berkali-kali dan membuat Afif menjadi takut kalau terjadi sesuatu dengan Maura.
"Arkkhhhhhhh. Sialan lah!" Afif mengacak rambutnya frustasi sebelum akhirnya ia memilih untuk menggeser ikon berwarna hijau itu. Tanda ia mengangkat telepon dari Maura. Persetanan dengan Erland nanti yang akan menghabisinya, ia tak peduli. Toh jika Maura terjadi sesuatu dan ia tak mengangkatnya, tetap saja dirinya nanti yang akan salah. Jadi lebih baik ia mengangkatnya saja, dan mungkin jika nanti tidak ada hal penting yang akan Maura katakan kepada Erland. Afif akan menghapus riwayat panggilan agar ia selamat. Cerdik sekali otak Afif ini.
Afif menempelkan benda pipih itu di telinganya sebelum ia berkata, "Se---"
Belum sempat Afif menyelesaikan ucapannya, suara dari sebrang yang terdengar sangat berisik itu membuat kening Afif berkerut. Apalagi terdengar suara seseorang yang menyuruh orang lain untuk segara membopong tubuh Maura. Apa yang sebenarnya terjadi disana?
Sedangkan disisi lain, kepala maid yang kebetulan pertama kali melihat Maura kesakitan tepat di depan pintu kamarnya dengan kondisi wanita itu sudah terduduk dengan air ketuban yang sudah merembes keluar. Dan kepala maid itu tadi yang menyuruh para anak buah Erland segara membopong tubuh Maura, ia kini segera meraih ponsel milik Maura yang sempat ia lihat tergeletak di ambang pintu. Ia menatap layar ponsel tersebut yang ternyata sudah menampilkan nama yang cukup romantis yang ia yakini jika pemilik nomor tersebut adalah tuannya. Jadi dengan cepat kepala maid tadi, mendekatkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Halo tuan. Tuan, Nyonya Maura akan melahirkan. Sekarang beliau akan kita bawa ke rumah sakit karena air ketubannya sudah pecah. Akan sangat bahaya jika kita menunda untuk membawanya mendapatkan pertolongan pertama. Kita akan membawa ke rumah sakit AWA Hospital. Sudah dulu tuan, saya tutup dulu teleponnya. Maaf jika tidak sopan. Assalamualaikum," ucap kepala maid tadi tanpa harus menunggu Erland memberitakan respon terlebih dahulu karena kepala maid tersebut harus bergegas menyusul kepergian dari mobil yang sudah mengantar Maura tadi. Sekaligus ia juga harus secepat kilat mencari barang-barang yang nantinya di perlukan di rumah sakit entah untuk Mauranya sendiri atau bayinya nanti.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Afif yang mendengar penuturan dari kepala maid tadi. Ia cukup terkejut, sebelum ia menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri dan diakhiri dengan ia memukul kepalanya sendiri sembari berkata, "Bodoh, kenapa bengong! Beritahu bos sekarang, sialan!"
Afif mengumpati dirinya sendiri yang terlihat sangat bodoh itu. Lalu setelahnya, ia berlari sekencang-kencangnya menuju ke ruang meeting.