
Di pagi harinya, jika di keluarga Abhivandya adem ayem, berbeda dengan keluarga Jaya benar-benar sudah tidak bisa diselamatkan. Tepat hari ini Orla memang sudah di perbolehkan untuk kembali kerumah, tapi di hari itu juga surat perceraian antara Papa Jaya dan Mama Rina keluar. Ia hanya hanya butuh tanda tangan Mama Rina agar mereka benar-benar sah bercerai secara hukum. Jadi hari ini juga Papa Jaya datang ke lapas untuk menemui Mama Rina.
"Kamu beneran tidak mau ikut masuk kedalam sama Papa?" tanya Papa Jaya kepada putri semata wayangnya itu.
Orla menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar sudah bertekad untuk tak bertemu sang ibunda karena jika ia bertemu dengan wanita yang sudah melahirkannya, takutnya ia memilih tetap tinggal di negara ini dan berarti ia telah melanggar janji dirinya dengan keluarga Abhivandya yang menginginkan dirinya dan sang Papa hidup bahagia jauh dari mereka.
"Untuk yang terakhir kali, kamu benar-benar tidak mau melihat dia?" Lagi dan lagi pertanyaan dari Papa Jaya itu dijawab dengan gelengan kepala oleh Orla.
"Kamu yakin?" Papa Jaya masih berusaha meyakinkan sang putri takut jika Orla akan menyesal nantinya.
"Orla sangat yakin Papa. Jadi jangan bertanya lagi. Lebih baik Papa segara masuk untuk menyelesaikan masalah Papa yang satu ini. Karena waktu kita tidak lama lagi. Ini sudah pukul 9 yang artinya kita hanya memiliki waktu satu setengah jam lagi sebelum pesawat yang akan tumpangi berangkat. Jadi buruan, Papa masuk ke sana. Orla tunggu disini saja," ucap Orla menyakinkan sang Papa jika dirinya memang tidak ingin bertemu dengan sang Mama.
Papa Jaya hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia tak mau memaksa lagi putrinya itu. Lagian jika Orla tidak mau bertemu dengan mantan istrinya itu akan lebih baik karena kesempatan mantan istrinya untuk mencuci otak Orla agar menjadi orang jahat seperti dirinya tak akan bisa terealisasikan, pikir Papa Jaya yang sudah tidak bisa berpikir positif lagi tentang Mama Rina.
"Ya sudah kalau begitu, Papa masuk dulu," ujar Papa Jaya yang diangguki oleh Orla.
Anggukan kepala tersebut membuat Papa Jaya kini melangkahkan kakinya memasuki lapas yang menjadi tempat berteduh Mama Rina saat ini.
Papa Jaya yang tau aturan lapas pun ia melapor kepada salah satu polisi yang bertugas. Mengatakan apa keperluan dirinya. Dan setelahnya, laki-laki paruh baya itu di giring menuju ke salah satu ruangan khusus yang sering digunakan untuk para tamu mengunjungi para penghuni lapas.
"Silahkan tunggu disini ya, Pak. Saya akan panggilkan nama yang ingin bapak temui," ujar polisi tadi yang dibalas anggukan serta senyuman dari Papa Jaya.
Selagi Papa Jaya menunggu kehadiran Mama Rina, ia mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Terdapat beberapa orang yang juga sama seperti dirinya yaitu tengah menjunjung anggota keluarga mereka. Tapi mungkin bedanya kalau mereka akan melepas rindu, Papa Jaya justru akan melepas status Mama Rina yang tadinya istri dari seorang Wijaya menjadi mantan istri.
Sast Papa Jaya tangah asik melihat-lihat, perhatiannya itu ia alihkan saat dirinya mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekati dirinya.
Papa Jaya menoleh mengikuti sumber suara yang ia dengar tadi. Dan saat itu juga, tatapan matanya bertemu dengan mata Mama Rina. Terlihat jelas saat perempuan itu melihat Papa Jaya, bibir yang tadinya datar kini terangkat, binar bahagia pun juga tak bisa ia sembunyikan.
Sedangkan Papa Jaya, ia memutar bola matanya malas dan memilih untuk menatap lurus ke depan.
"Waktu kalian berbicara hanya 30 menit. Jika sampai melebihi waktu yang sudah pihak lapas tentukan, maka kita akan membawa tahanan kita kembali masuk kedalam sel tahanan," ujar polisi tersebut memberitahu waktu yang tidak boleh mereka langgar.
"Baik, terimakasih Pak," balas Papa Jaya. Sedangkan Mama Rina, ia mencebikkan bibirnya tak suka karena menurutnya waktu 30 menit itu tak cukup untuknya berbicara dengan suaminya itu.
Saat polisi tadi sudah menjauh dari mereka berdua, Mama Rina langsung berpindah tempat duduk menjadi disamping Papa Jaya lalu ia bergelayut manja di lengan laki-laki itu.
"Papa kemana saja sih? Kenapa baru kesini sekarang? Mama sudah sangat rindu dengan Papa dan Orla. Oh ya kemana anak itu? Gimana keadaan dia? Apa dia belum juga keluar dari rumah sakit? Sialan memang keluarga Abhivandya itu. Jika saja mereka tidak berulah, pasti Orla akan baik-baik saja," ucap Mama Rina panjang lebar. Papa Jaya ingin menjawab pertanyaan dari Mama Rian, ia tak diberikan kesempatan itu karena perempuan tersebut kembali angkat suara.
"Oke kita lupakan sejenak masalah Orla. Aku mau tau, tujuan kamu kesini pasti akan membebaskan aku dari sini kan? Pastinya iya dong. Kalau begitu tunggu apa lagi, buruan ajak aku pergi dari sini sayang. Tempat ini sangat memuakkan. Ayo sayang, kita pergi dari sini," ujar Mama Rina yang tak tau dirinya. Bahkan perempuan itu kini sudah berdiri dari posisi duduknya dengan tangan yang ia gunakan untuk menarik lengan sang suami. Tapi itu sebelum Papa Jaya yang tiba-tiba menepis tangannya dengan cara kasar sehingga membuat cekalan Mama Rina dilengannya tadi terlepas. Tak tanggung-tanggung, perempuan itu sampai terjatuh dan berakhir pantatnya mencium lantai disana.
__ADS_1
Mama Rina meringis kesakitan, tatapan matanya pun kini menghunus kearah suaminya itu.
"Apa yang kamu lakukan, Pa? Kenapa kamu bersikap kasar seperti ini dengan Mama?" protes Mama Rina sembari berusaha untuk berdiri dengan menahan rasa nyeri di pantatnya. Mama Rina cukup terkejut dengan sikap Papa Jaya yang sangat ia kenal tidak pernah bermain tangan selama mereka pacaran sampai menikah. Tapi lihatlah, laki-laki yang dulunya sangat lembut kepadanya justru saat ini sudah melukai dirinya. Memang tidak menimbulkan luka tapi Mama Rina merasakan rasa sakit yang teramat.
"Aku akan mengatakan to the point ke kamu. Jadi tolong dengar kan baik-baik karena aku tidak akan membuang-buang waktuku hanya untuk mengulangi ucapanku," ujar Papa Jaya.
Papa Jaya tampak mengambil nafas dalam, lalu kemudian ia meneruskan ucapannya tadi.
"Pertama, aku kesini memiliki maksud lain bukan untuk melepaskan kamu dari hukuman kamu. Karena aku tidak memiliki banyak untuk bisa melepaskanmu. Kalaupun aku memiliki uang banyak lagi, aku juga tidak sudi melakukannya." Mama Rina mendelik mendengar ucapan dari Papa Jaya itu. Tapi saat dirinya ingin protes, suara Papa Jaya kembali terdengar.
"Kedua, aku peringatkan ke kamu untuk menjaga ucapan kamu itu. Jangan pernah kamu berbicara yang tidak-tidak mengenai keluarga Abhivandya. Karena mereka sudah banyak membantuku dengan Orla. Ketiga, mengenai Orla, kamu tidak perlu khawatir karena keadaan dia sangat-sangat baik, bahkan jauh lebih baik setelah aku yang menunggu dia selama di rumah sakit menggantikan kamu yang bukannya mensupport dia untuk segara sembuh malah memberikan tekanan lain untuknya. Mempengaruhi dia untuk melakukan kejahatan agar kamu ada teman untuk menghancurkan orang yang tidak kamu sukai. Tapi untuk sekarang, aku tidak akan pernah membiarkan kamu mempengaruhi anakku lagi. Orla akan lebih baik jika diasuh olehku daripada kamu. Dan yang ke-empat..." Papa Jaya menaruh satu map dari pengadilan agama di atas meja yang berada di hadapannya kemudian ia mendorong map sampai didepan Mama Rina.
Dan saat map tadi sudah berada di depan Mama Rina, Papa Jaya kembali angkat suara.
"Tanda tangani surat itu sekarang juga," sambungnya. Mama Rina mengerutkan keningnya, sebelum ia meraih map tadi lalu membukanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat isi dari map tadi ternyata surat cerai dari Papa Jaya untuknya.
"I---ini?" Suara Mama Rina tercekat didalam tenggorokannya.
Sedangkan Papa Jaya, ia menganggukkan kepalanya.
"Aku rasa tanpa aku beritahu, kamu juga sudah tau surat itu apa. Jadi cepatlah, tanda tangani surat itu sebelum waktu kita selesai," ujar Papa Jaya yang langsung membuat Mama Rina menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak mau. Aku tidak mau bercerai sama kamu. Aku tidak mau!" teriak Mama Rina yang berhasil mengumpulkan para polisi mendekati mereka.
Papa Jaya memutar bola matanya malas, ia mengambil surat cerainya itu lalu ia berkata, "Jangan banyak drama Rina, segara tanda tangani surat perceraian kita. Dan setelah itu aku tidak akan mengusikmu lagi begitu juga dengan kamu. Jangan pernah mengusikku lagi setelahnya. Jadi segera tanda tangani."
Mama Rina tentunya menolak permintaan Papa Jaya tadi.
Papa Jaya tampak menghela nafas lelah. Ia harus melakukan cara lain agar Mama Rina segara mendatangai surat perceraian itu.
Senyum miring kini terukir di bibir Papa Jaya. Dan dengan mendudukkan tubuhnya kembali di kursi ruangan tersebut tak lupa tatapan matanya yang ia arahkan kearah Mama Rina, ia kembali berucap, "Perlu kamu tau Rina, jika aku tidak sudah sangat muak sama kamu. Kamu selalu semena-mena denganku. Dan perlu kamu tau juga jika aku tidak sudi memiliki istri seorang napi ataupun mantan napi karena itu sangat membuatku malu."
Mama Rina yang sudah menangis sesenggukan itu, kedua tangannya kini terkepal erat saat mendengar ucapan Papa Jaya yang berhasil melukai hatinya.
Mama Rina kini menghapus air matanya dengan kasar. Jika Papa Jaya bisa mencemooh dirinya, maka Mama Rina juga bisa melakukan. Mama Rina mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut dan saat ia menemukan benda yang ia cari, Mama Rina berlari untuk mengambil benda tersebut. Tentunya hal itu membuat para polisi langsung membuat pertahanan, takutnya tujuan Mama Rina berlari tadi karena dia ingin kabur dari lapas. Namun saat Mama Rina kembali mendekati Papa Jaya, para polisi tadi tampak menghela nafas lega, setidaknya tak ada tambahan pekerjaan untuk mereka.
Sedangkan Mama Rina, perempuan yang sudah berdiri di tempatnya sebelumnya, tangannya bergerak dengan cepat menarik map tadi. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung menanda tangani surat perceraian tersebut menggunakan bolpoin yang ia dapatkan dari salah satu meja polisi yang tak jauh dari ruangan itu berada. Padahal Papa Jaya tadi juga sudah menyiapkan bolpoin saat ia menyerahkan map tadi. Tapi Mama Rina tak sudi untuk memakai benda dari suaminya itu, ah ralat, manatan suaminya.
Setelah Mama Rina selesai mendatangai surat perceraian tadi, ia melepar surat cerai itu sampai mengenai wajah Papa Jaya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan yang namanya kesopan-santunan karena pada dasarnya ia tak memiliki dua perkara itu di hidupnya.
__ADS_1
Dan setelah melempar map tadi, Mama Rina berkata, "Itu kan yang kamu inginkan? Selamat kamu sudah mendapatkannya. Selamat kamu sudah bebas sekarang, dasar bajingan! Tapi perlu kamu ingat, dalam perceraian ini kamu harus menyiapkan harta gono-gini untukku!"
Papa Jaya yang ingin marah karena Mama Rina sudah lancang melempari dia dengan map berisi surat cerai mereka berdua, niatnya itu ia urungkan mengingat ia saat ini berada di kantor polisi. Sehingga ia merespon ucapan Mama Rina tadi dengan anggukkan kepala walaupun diam-diam kedua tangannya terkepal erat.
"Untuk masalah itu kamu tenang saja karena aku sudah membicarakannya dengan kuasa hukumku. Kamu tinggal duduk manis saja tidak perlu repot-repot untuk ikut pusing mengurusi perceraian kita ini. Kamu tinggal terima bersihnya saja. Enak kan jadi kamu?" ucap Papa Jaya yang tentunya membuat Mama Rina mengeraskan rahangnya. Dan dengan langkah lebarnya, Mama Rina mendekati Papa Jaya dan tidak sampai hitungan menit, satu tamparan mendarat mulus di pipi Papa Jaya hingga membuat kepala laki-laki itu menoleh kesamping saking kerasnya Mama Rina menampar mantan suaminya tersebut.
Para polisi yang melihat kejadian tersebut, mereka langsung memegangi pipi mereka. Sepertinya mereka turut merasakan betapa sakitnya tamparan dari Mama Rina tadi.
Senyum penuh kepuasan kini Mama Rina keluarkan. Dan sebelum dirinya menjauh dari depan tubuh Papa Jaya, ia sempat berkata, "Kalau begitu aku tunggu akte perceraian kita dan harta gono-gini kita."
Setelah mengatakan hal tersebut Mama Rina menepuk-nepuk pundak Papa Jaya. Kemudian ia memutar tubuhnya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat pengunjung lapas. Tentunya kepergian dari Mama Rina tadi langsung diikuti oleh salah satu polisi yang tadi sempat mengantar dia bertemu dengan Papa Jaya.
Sedangkan Papa Jaya yang sedari tadi memegang pipinya yang terasa kebas, ia kini berdiri dari posisi duduknya. Tak lupa juga membawa map tadi kemudian dengan membungkukkan badannya sedikit, untuk menghormati para polisi yang berada di sekitarnya, Papa Jaya kini berjalan menuju keluar lapas tersebut tak lupa ia juga meminta maaf atas kejadian tadi juga mengucapakan terimakasih. dan barulah ia benar-benar keluar dari tempat tinggal mantan istrinya itu 20 tahun kedepan.
Orla yang melihat sang Papa sudah keluar pun ia segara membukakan pintu yang berada disebelahnya.
"Kok lama Pa? Dan pipi Papa kenapa lebam seperti ini? Perasaan tadi baik-baik saja. Apakah jangan-jangan didalam tadi ada sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi?" tanya Orla sedikit penasaran sekaligus khawatir dengan kondisi Papanya itu.
"Tadi hanya ada insiden sedikit saja. Kamu tenang saja, Papa baik-baik saja kok," ujar Papa Jaya sembari masuk kedalam mobil taksi tersebut. Lalu mendudukkan tubuhnya di samping tubuh sang putri.
"Papa yakin Papa tidak kenapa-napa?" tanya Orla yang diangguki oleh Papa Jaya.
"Sangat yakin sayang. Dan pak, kita pergi ke bandara sekarang juga ya," ucap Papa Jaya yang ia tujukan kepada sopir taksi didepan sana.
"Baik tuan," ujar sang sopir sebelum ia menjalankan mobilnya.
Sedangkan tangan Orla kini bergerak, menyentuh luka lebam yang berada di pipi sebelah kiri Papa Jaya itu sembari berkata, "Ini pasti sakit kan Pa? Maaf Orla tidak bisa mengobati luka Papa karena disini tidak ada kotak P3K."
Papa Jaya tersenyum sebelum tangannya kini bergerak mengambil tangan Orla yang masih mengelus luka lebamnya itu.
"Papa tidak apa-apa sayang. Kamu tidak perlu khawatir oke," pinta Papa Jaya.
"Tapi---"
"Stttt Papa tidak mau mendengar apapun lagi dari kamu yang tengah khawatir dengan Papa. Dan lebih baik, kamu istirahat saja. Nanti kalau kita sudah sampai di bandara, Papa bangunkan kami," ucap Papa Jaya yang membuat Orla menghela nafas panjang sebelum ia menganggukkan kepalanya. Karena jujur saja kepalanya masih terasa sedikit sakit mungkin ini efek dirinya yang terus menerus memikirkan masalah yang tengah menimpa keluarganya itu yang membuat dirinya diam-diam begadang dengan otak yang terus berisik dan tak menenangkan dirinya.
Orla kini menyandarkan kepalanya di bahu sang Papa, kemudian ia menutup matanya saat merasakan usapan lembutnya yang diberikan oleh Papa Jaya.
Beberapa saat setelahnya terlihat hembusan nafas Orla yang sudah teratur, menandakan jika perempuan itu sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Papa Jaya menatap lekat kearah sang putri, satu tetes air mata pun keluar. Namun segera ia hapus dengan kasar sebelum air matanya itu mengenai wajah Orla yang berakhir putrinya itu akan terusik tidurnya.
"Maafin Papa, nak. Papa sudah gagal mempertahankan keharmonisan rumah tangga Papa dan kamu yang menjadi korban dari keputusan yang Papa ambil ini untuk berpisah dengan Mama kamu. Yakinlah sayang, Papa tidak menginginkan hal ini terjadi. Tapi apa yang Mama kamu laku sudah benar-benar kelewat batas. Papa sudah tidak bisa mentolerir kesalahan dia ini. Papa benar-benar meminta maaf ke kamu, Orla. Papa harap kamu mengerti," gumam Papa Jaya dengan memberikan usapan lembut di kepala Maura sebelum ia menyematkan sebuah kecupan di puncak kepala putri semata wayangnya itu. Lalu setelahnya, Papa Jaya memilih untuk menatap ke samping, melihat pemandangan ibu kota untuk yang terakhir kalinya sebelum ia meninggalkan negara yang sudah menjadi saksi hidupnya dan juga negara yang menyimo banyak kenangan untuknya dan mungkin untuk putrinya itu juga. Berat memang untuk meninggalkan negara tercinta ini tapi Papa Jaya harus tetap bisa melakukannya semua ini ia lakukan demi kebaikan Orla dan juga dirinya sendiri.