PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 109


__ADS_3

Kedua bocil itu mengerucutkan bibirnya dengan sapu serta pel ditangan mereka.


"Mommy, Daddy, Axcel lelah huh," ucap Axcel dengan lengan mengusap keningnya. Padahal tak ada keringat sama sekali di tubuh anak-anak itu. Hanya air saja serta butiran-butiran lembut tepung bercampur gula dan garam.


Edrea mendelik saat mendengar keluhan dari sang putra. Dan dengan berkacak pinggang Edrea menimpali ucapan Axcel.


"Tadi waktu kalian hancurkan dapur ini apa kalian lelah? Mommy rasa tidak. Tapi giliran di suruh bersihin kekacauan yang kalian buat, kalian mengeluh lelah dan lain sebagainya," marah Edrea. Siapa yang tidak marah coba melihat dapur milik sang Kakak hancur berantakan, memang tidak ada barang yang pecah namun semua bahan makanan entah itu yang nabati, hewani atau makanan cepat saji habis tak tersisa, semuanya tak bisa di olah lagi gara-gara menjadi mainan si twins. Entah apa yang akan mereka lakukan dengan bahan-bahan makanan itu. Pasalnya ke-empat orang dewasa yang menemukan mereka, ke-empatnya melihat jika bahan makanan berceceran di lantai semua, jangan lupakan kran wastafel yang terus menyala yang tentunya disaluran pembuangannya tak di buka yang mengakibatkan air itu meluap sampai membasahi lantai dapur. Tak hanya itu saja, kulkas di biarkan terbuka, oven yang menyala walaupun tak ada apapun didalamnya. Tapi keempat orang dewasa itu bersyukur setidaknya kompor aman yang artinya hanya benda itu saja yang tak jadi mainan dua bocil itu.


Dan keempat orang dewasa tersebut saat ini tengah mengawasi twins yang di hukum oleh Mommy dan Daddynya membersihkan kekacauan yang mereka buat. Bahkan Edrea ataupun Leon tak mengganti pakaian anak mereka yang basah itu. Tak peduli jika mereka sakit, biar tau rasa mereka, batin Edrea dan Leon tentunya.


Axcel yang terkena amarah dari sang Mommy pun ia mencebikkan bibirnya, kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Maura berada.


"Aunty. Axcel---" Saaf Axcel ingin meminta bantuan kepada Maura, suaranya harus terputus kala Erland memotongnya.


"Apa? Mau minta bantuan sama Aunty kalian? Ohhh tidak bisa. Uncle tidak akan mengizinkan Aunty memberi bantuan ke kalian. Kalian harus bertanggungjawab dengan apa yang sudah kalian buat. Berani berbuat maka berani bertanggungjawab," ujar Erland dengan memeluk tubuh sang istri yang duduk disampingnya.


Axcel semakin mengerucutkan bibirnya.


"Ck, Uncle pelit," ujar Axcel dengan menghentak-hentakkan kakinya.


"Biarin. Lagian siapa suruh kalian nakal. Kalau kalian tidak mau melakukan ini semua, makanya jangan membuat kekacauan. Sudah tau akibatnya akan seperti apa, masih aja kalian ulang kesalahan yang sama," timpal Erland yang mendapat lirikan mata dari Axcel. Dimana lirikan itu dibalas Erland dengan ia yang menjulurkan lidahnya, mengejek Axcel. Dan tentunya hal tersebut membuat Axcel kesal setengah mati.

__ADS_1


Dengan rasa malas yang tengah ia rasakan, Axcel meneruskan apa yang sudah menjadi pertanggungjawabannya. Sedangkan Axcal yang sedari tadi diam dan tak memperdulikan protesan kepada kedua orangtuanya dan kepada Aunty serta Uncle mereka dan dirinya memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Dimana saat ini ia langsung mendudukkan tubuhnya dengan bersandar di tembok.


"Huh, akhirnya," ucap Axcal yang membuat semua orang mengalihkan pandangan mereka kearah dirinya.


Axcal yang sadar jika dirinya di tatap pun ia menatap balik keempat orang dewasa tersebut, tanpa memperdulikan tatapan sang kembaran dengan cengiran di bibirnya. Sebelum dirinya bangkit dari posisi duduknya kemudian ia menghampiri keempat orang dewasa yang tengah duduk di meja makan.


"Mommy, Daddy, Aunty, Uncle. Axcal sudah selesai menyelesaikan pertanggungjawaban Axcal. Jadi apakah Axcal sekarang boleh istirahat?" tanya Axcal dengan mengerjab-ngerjabkan matanya lucu.


Keempat orang tadi langsung menatap kearah pekerjaan Axcal, dan benar saja tempat yang mereka suruh Axcal bersihkan, saat ini tepat itu sudah rapi dan bersih kembali. Ya, mereka tadi membagi separuh dapur untuk Axcel bersihkan dan separuh lagi Axcal yang bersihkan. Biar adil.


"Jadi gimana? Axcal sudah boleh istirahat kan?" tanya Axcal lagi yang sudah tak sabar ingin merebahkan tubuhnya dimana saja ia bisa merebahkan tubuhnya itu, hanya di lantai saja ia juga tidak masalah asalkan rasa lelah di tubuhnya sedikit berkurang.


Edrea dan Leon menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih Daddy, Mommy," ucap Axcal sebelum dirinya langsung ngacir kabur menuju ke kamar mandi yang berada tak jauh dari dapur. Dimana kepergian Axcal tadi disusul oleh Maura yang tadi sempat menuju ke kamar untuk mengambil sabun, sampo serta handuk untuk keponakannya itu.


Sedangkan Axcel, ia yang melihat kepergian dari sang kembaran pun ia lagi-lagi mencebikkan bibirnya.


"Kalau mau segara istirahat sama seperti Abang kamu, segara bereskan pekerjaanmu," ucap Edrea yang menyadarkan Axcel yang sedari tadi menatap kepergian Axcal.


Axcel mendengus kesal tapi tak urung tangannya kembali bergerak untuk melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


...****************...


Setelah kejadian yang membuat si kembar kelelahan karena harus membersihkan apa yang telah mereka perbuat, kini keluarga kecil itu akhirnya memutuskan untuk kembali kerumah setelah kekacauan tadi sudah selesai mereka atasi.


"Hati-hati ya kalian dijalan. Dan terimakasih twins sudah berhasil membersihkan kekacauan yang telah kalian buat," ucap Erland yang membuat keduanya mencebikkan bibirnya. Dan dengan malas keduanya langsung meraih tangan Erland juga Maura, mereka mencium tangan itu secara bergantian. Dan tanpa mengatakan sepatah kata apapun, keduanya langsung masuk kedalam mobil milik sang Daddy. Dimana hal tersebut membuat keempat orang dewasa menggelengkan kepalanya.


"Mau ngakuin kalau mereka bukan anakku tapi aku ngerasain gimana sakitnya ngelahirin mereka. Ck," ucap Edrea berdecak kesal. Ingin sekali ia menjadikan kedua putranya itu menjadi embrio lagi. Tapi sayangnya dia tidak bisa melakukannya.


Sedangkan Leon, ia mengelus lengan sang istri, "Sabar."


Edrea menganggukkan kepalanya sebelum tatapan matanya kembali mengarah ke dua orang yang berada di hadapannya.


"Kak Maura, bang Er. Rea sama Leon pulang dulu. Maaf tadi sudah bikin dapurnya berantakan," ujar Edrea merasa tak enak hati dengan Kakak iparnya.


"Sudah tidak apa-apa Rea. Kakak maklum kok, mereka kan masih kecil," balas Maura dengan senyum di bibirnya.


"Terimakasih ya Kak. Kalau begitu kita pulang dulu. Takut mereka berdua semakin bad mood dan berakhir ngamuk nanti. Bye Kak, bang. Sampai ketemu lagi. Kalau bisa, bang Erland ajak Kak Maura ke rumah kita oke sebelum kita balik ke rumah di luar," ujar Edrea.


"Lihat nanti saja. Hati-hati kalian," ucap Erland yang diangguki oleh Erland dan Maura. Dimana anggukkan kepala tersebut membuat sepasang suami-istri itu mulai melangkahkan kakinya menuju ke mobil.


Keduanya melambaikan tangannya sebelum mobil yang saat ini sudah berisi keluarga kecil itu melaju. Dimana hal tersebut dibalas oleh Erland ataupun Maura. Hingga mobil tersebut menghilang dari hadapan mereka berdua.

__ADS_1


"Keponakan kamu lucu juga," beo Maura yang membuat Erland menatap kearah Maura berada sembari ia berkata, "Hmmm, lucu memang tapi aku berharap punya keturunan tidak seperti mereka. Aku berharap anakku nanti kalau nakal, nakal seperti Mamanya yang masih bisa di bilangin dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sudah mereka buat."


Dengan mengatakan hal itu, Erland terus menatap kearah Maura dengan senyumannya. Sedangkan Maura yang sepertinya tak paham jika ucapan dari Erland tadi adalah sebuah kode pun ia hanya mengangguk-angguk kepalanya. Bahkan tatapan matanya tetap tertuju kearah depan, tak sadar jika dirinya ditatap intens oleh sang suami.


__ADS_2