
Dua orang kini tengah terbaring diatas ranjang setelah kegiatan panas mereka telah usai. Dan selama permainan tentunya Maura yang terus memimpin, seakan-akan dirinya lebih pro daripada Erland padahal jika di nilai kemampuannya masih jauh di bawah Erland. Namun selama permainan tadi Erland tak protes sama sekali walaupun Maura sesekali harus menghentikan kegiatannya saat perempuan itu sudah berhasil mendapatkan kenikmatanya dan Erland dengan berbesar hati menunggu Maura untuk melanjutkan permainannya hingga akhirnya Erland mencapai puncaknya.
Maura menolehkan kepalanya kearah Erland yang dada laki-laki itu masih naik turun seperti dirinya dengan kedua matanya yang kini tertutup, mungkin masih ada sisa-sisa kenikmatan yang dia rasakan saat ini.
Hingga elusan yang Maura berikan membuat Erland membuka kepalanya dan menoleh kearah Maura berada, hingga tatapan keduanya saat ini saling bertemu yang langsung menciptakan sebuah senyuman dari kedua bibir pasangan suami-istri tersebut.
"Jadi gimana? Kamu sekarang sudah percaya sama aku kan kalau aku tidak akan kesakitan seperti semalam?" ucap Maura tanpa mengalihkan pandangannya kearah Erland.
Erland yang mendapat pertanyaan pun, ia merubah posisi tubuhnya menjadi miring menghadap sepenuhnya kearah Maura. Tangannya pun tak tinggal diam, menarik tubuh Maura hingga tubuh mereka berdua yang masih tak menggunakan sehelai benang pun bahkan selimut saling bersentuhan.
Erland mengecup puncak kepala Maura, lalu setelahnya ia berkata, "Hmmm sebenarnya aku belum percaya sepenuhnya sebelum aku melihat kamu bisa jalan lagi. Memang kamu tadi saat melakukannya tidak merintih atau sampai menangis seperti tadi malam tapi bisa jadi kan kalau kamu menahan rasa sakit itu."
Maura mendengus, "Kalau begitu lepas pelukanmu ini. Akan aku buktikan jika aku sudah bisa jalan normal seperti biasanya."
Maura memberontak, berusaha untuk melepaskan pelukan Erland. Namun bukannya laki-laki itu melepaskan Maura, ia justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Baiklah-baiklah aku percaya sama kamu. Dan daripada kamu membuktikan jika kamu bisa berjalan lebih baik kita segara membersihkan tubuh kita. Lengket banget tau sayang. Dan aku juga sudah merasa lapar," ujar Erland sedikit merengek terdengar seperti anak kecil di telinga Maura. Dimana hal tersebut membuat Maura yang tadi sempat kesal kepada Erland, kini kekesalannya itu menguap dan menghilang bergitu saja tergantikan dengan rasa gemas ingin menggigit bibir Erland yang saat ini tengah mengerucut lucu. Jika begini terus bisa-bisa Maura akan mengurung Erland di dalam kamar seharian ini dan tak mengizinkan suaminya yang baru ia tau jika sangat manja itu keluar dari kamar sedikitpun, apalagi menjauh darinya karena ia benar-benar sangat gemas dan tak rela jika raut menggemaskan ini harus di lihat orang lain.
__ADS_1
Maura yang sudah tidak tahan lagi untuk menyalurkan kegemasannya, tangannya kini terulur, mencubit pelan pipi Erland sebelum ia memberikan kecupan singkat di bibir suaminya tersebut.
"Kalau gitu. Kamu mandi sana duluan. Aku nanti saja setelah kamu," ucap Maura yang justru dibalas dengan gelengan kepala oleh Erland. Dimana hal tersebut membuat Maura mengerutkan keningnya.
"Kok geleng kepala. Kenapa?" tanya Maura tak paham.
"Aku tidak mau mandi duluan." Maura tampak mengangguk paham.
"Ya sudah kalau begitu biar aku duluan yang mandi." Saat Maura ingin melepaskan diri, lagi-lagi pelukan Erland kembali mengerat.
"Er, lepas ih. Aku mau mandi ini lho," ucap Maura.
"Lho kok gak boleh sih. Katanya kamu tadi minta kita berdua buat mandi. Aku suruh kamu mandi duluan, kamunya gak mau. Giliran aku mau mandi lebih dulu, gak di bolehin. Gimana sih Er," ujar Maura benar-benar tak paham maksud Erland saat ini.
"Ck, aku tuh maunya kita mandi bareng," tutur Erland yang berhasil membuat Maura melongo tak percaya.
"Kenapa harus mandi bareng?" tanya Maura.
__ADS_1
"Ya karena biar cepat dan menghemat waktu kita berdua," jawab Erland dengan senyumannya. Tentu saja jawaban yang keluar dari bibirnya itu bukanlah alasan yang sebenarnya karena sejujurnya Erland ingin modus saja kepada Maura. Siapa tau kan ada ronde kesekian untuk melakukan perkembangbiakan mereka. Tapi selain hal tersebut, ada rasa tak rela di hatinya jika body seksi Maura ini harus tertutup pakaian lagi karena ia masih ingin melihat tubuh tanpa tertutup kain itu.
Maura yang mendengar jawaban dari Erland, ia tampak menghela nafas.
"Kalau begitu kita bisa menggunakan kamar mandi lainnya di rumah ini. Kamu bisa mandi di dalam kamar mandi itu dan aku akan mandi di kamar mandi yang ada di kamarku dulu. Itu juga akan menghemat waktu kita," ujar Maura.
"Tidak mau. Kalau kita mandi dengan cara berpisah seperti itu. Aku tidak akan bisa mengawasi kamu. Siapa tau kan ada apa-apa saat kamu di kamar mandi nanti dan aku tak mendengarnya. Aku tidak mau kamu terluka Maura sayang. Jadi jangan menolak lagi. Dosa tau nolak permintaan suami. Lagian kamu juga sudah selesai haid dan kita baru juga selesai berhubungan. Jadi biar aku ajarkan sekalian doa mandi junubnya sekaligus tata caranya agar tidak salah dan biar setelahnya kita nanti bisa sholat bersama," ujar Erland masih saja bisa memberikan alasan yang logis.
Dimana alasannya kali ini membuat Maura tampak terdiam, sepertinya perempuan itu tengah memikirkan ucapan dari Erland tadi.
Erland yang melihat Maura terdiam pun didalam hatinya ia terus berucap "Setuju. Kamu harus setuju Maura."
Hingga Maura tampak menghela nafas panjang sebelum perempuan itu menganggukkan kepalanya sembari berucap, "Baiklah. Terserah kamu saja."
"Yesss!" Erland menjerit didalam hatinya. Ia tak menyangka jika Maura hanya pasrah begitu saja mengingat Maura dulu anaknya tak pernah mau kalah dalam masalah apapun apalagi berdebat dengannya dan perempuan itu juga sedikit pembangkang. Tapi lihatlah sepertinya Mauranya, perempuannya, dan istrinya sudah sedikit berubah yang perlahan mulai menuruti ucapan Erland, bersikap lembut, berbicara baik walaupun tak sekali dua kali Maura masih keceplosan berucap kasar. Tapi itu sudah kemajuan yang luar biasa menurut Erland. Dan Erland sangat bersyukur setidaknya Maura mau berubah entah alasannya karena Erland atau diri perempuan itu sendiri atau malah Maura berniat berubah karena rumah tangga mereka. Entahlah Erland juga tidak tau alasannya, yang terpenting Maura sudah berubah saja ia sangat-sangat bersyukur.
Keputusan dari Maura langsung membuat semua Erland berdiri dari posisi berbaringnya tadi dengan semangat 45. Bahkan tanpa membiarkan Maura untuk duduk terlebih dahulu, ia langsung mengangkat tubuh Maura kedalam gendongannya yang berhasil membuat Maura memekik didalam hatinya. Maura sempat berpikir, seberapa ringannya dia sampai-sampai Erland menggendong tubuhnya seakan-akan tak memiliki beban sama sekali.
__ADS_1
Erland yang sudah membawa Maura kedalam gendongannya pun ia bergegas masuk kedalam kamar mandi. Dan jangan tanya apa yang mereka lakukan setelahnya yang jelas mandi lah, memangnya apa lagi?!