PASUTRI (Troublemaker)

PASUTRI (Troublemaker)
Bab 87


__ADS_3

"Erland!" Panggil Maura kala ia tak mendengar balasan dari sang suami. Dimana hal tersebut membuat Erland kini berdehem untuk mengembalikan wajah datarnya lagi. Walaupun Maura tak bisa melihat ekspresi wajahnya saat ini. Tak apa lah, hitung-hitung untuk mendukung aktingnya.


"Hmmm. Apa?" kata Erland masih dalam mode cuek. Ia ingin memastikan saja apakah Maura benar-benar dengan ucapannya tadi atau justru perempuan itu sudah berubah pikiran.


Maura berdecak, tapi ia tetap saja mengulangi ucapannya tadi. Mungkin Erland belum percaya dengan keseriusan akan ucapannya, pikir Maura.


"Aku tadi kan bilang kalau kamu maafin aku, aku bakal ngelakuin apapun yang kamu mau. Jadi gimana? Kamu terima tawaranku ini atau tidak?" ulang Maura.


"Oke, aku terima tawaran kamu," jawab Erland sembari melepaskan kedua tangan Maura yang sedari tadi melingkar di perutnya. Kemudian ia berbalik, menghadap kearah Maura.


Maura yang mendengar jawaban dari Erland, ia tersenyum senang sembari ia berkata, "Kalau kamu terima tawaran aku berarti kamu sudah maafin aku kan?"


"Tergantung kamu bisa melakukannya apa tidak."


"Kalau tidak?" tanya Maura. Entah kenapa dia tiba-tiba tidak yakin dengan dirinya sendiri. Karena dia termasuk anak yang manja jadi ia berpikir syarat yang akan Erland ajukan ini merupakan hal yang tak bisa Maura lakukan.


"Kalau tidak ya berarti aku tidak akan memaafkanmu," jelas Erland yang membuat Maura berpikir sejenak. Tak mungkin bukan ia menarik ucapannya tadi karena ketidak percayaan dirinya sendiri? Ia juga tidak mau Erland terus mendiami dia seperti tadi karena didiami oleh orang yang kita sayang itu tidak enak sama sekali rasanya. Maura juga tidak akan sanggup jika hal itu terjadi nantinya.


"Ayo Maura. Kamu pasti bisa melakukan apa yang Erland mau. Ayo jangan egois lagi. Ingat Erland sudah banyak berkorban demi kamu. Dan saatnya kamu membalas apa yang telah dia lakukan kepadamu. Jangan bikin Erland kecewa. Ayo Maura, kamu pasti bisa," kata Maura di dalam hati untuk menyemangati dan meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Maura menghela nafas panjang sebelum dirinya berucap, "Baiklah, akan aku usahakan sebisaku. Jadi katakan apa yang harus aku lakukan sekarang."


Ujung bibir Erland berkedut, ingin sekali ia tersenyum lebar. Namun sayangnya saat ini bukan saat yang tepat untuk dirinya tersenyum. Jadi untuk menyamarkan kedutan di bibirnya ia menggigit mulut bagian dalamnya untuk sesaat sampai niat ingin tersenyumnya itu hilang.


Dan barulah saat itu juga Erland berkata apa yang ia inginkan dari Maura.


"Oke. Dan kemauanku adalah---" Erland sengaja menggantung ucapannya. Ia justru berjalan mendekati tubuh Maura yang membuat sang istri mengerjabkan matanya sebelum perempuan itu dengan takut-takut melangkahkan kakinya kebelakang. Siapa yang tidak takut coba jika melihat tatapan Erland yang benar-benar sangat tajam, sampai membuat Maura berpikir jika Erland akan memakannya saat ini juga.


Erland terus menggantung ucapannya tadi dengan kaki yang terus melangkah serta tatapan matanya yang terus menatap kearah wajah Maura. Ia tau jika istrinya saat ini tengah takut kepadanya. Namun ia tak peduli toh ia juga tidak akan menyakiti Maura.


Maura menendang-nendangkan tumitnya ke belakang saat ia tak bisa melangkahkan kakinya lagi karena sudah ada tembok yang menghalangi jalannya. Ia ingin melarikan diri pun juga percuma karena baru saja ia ingin berputar halauan, kedua tangan Erland yang berada di samping kanan dan kiri tubuh Maura sudah mampu mengunci tubuh perempuan itu di antara tembok di belakang tubuhnya, ditambah tubuh Erland sendiri dihadapannya.


"Bukankan kita sekarang juga tengah bicara dengan cara baik-baik sayang?" ujar Erland sembari menggerakkan tangan kanannya untuk membelai wajah Maura yang membuat perempuan tersebut merinding seketika.


"Er. Please jangan gini. Aku takut," cicit Maura jujur. Kepalanya yang tadi menatap lekat wajah Erland, kini ia tundukkan. Ia tak kuasa melihat wajah garang dari Erland yang baru saja ia lihat untuk pertama kalinya.


Tangan Erland yang digunakan untuk membelai wajah Maura, kini bergetak kearah dagu istrinya, memegang lembut dagu tersebut sebelum ia tuntun untuk tegak kembali. Tapi Maura yang keburu takut duluan, ia menutup matanya agar tak melihat wajah garang Erland itu.


Sedangkan Erland, senyuman yang sedari tadi ia sembunyikan kini terbit juga. Toh Maura juga tidak akan melihat senyumannya itu karena aktingnya belum selesai.

__ADS_1


"Er, please jangan gini. Kalau kamu mau sesuatu hal yang perlu aku lakukan. Katakan saja, aku bisa kok melakukannya tanpa kamu intimidasi terlebih dahulu seperti ini. Katanya, kamu sayang sama aku. Tapi kalau sayang kenapa aku seperti kamu jadikan tawanan saja. Er, sumpah demi apapun aku takut kalau kamu seperti ini. Jadi---"


Cupp!


Satu kecupan berhasil mendarat di bibir Maura. Kedua bibir itu saling bertemu cukup lama, tapi hanya sekedar menempel saja bukan lebih. Dimana hal tersebut justru membuat Maura semakin menutup matanya. Hal-hal yang berbau mesum pun saat ini juga sudah terlintas di otak udangnya itu. Ia berpikir jika Erland akan meminta haknya yang harusnya sudah laki-laki itu dapatkan setelah kata sah terucap.


Erland kini menjauhkan bibirnya dari bibir Maura, sebelum ia berpindah haluan. Kepalanya kini ia condongkan ke samping telinga Maura. Lalu kemudian ia berucap, "Kamu bawel banget sih, Ra. Tapi aku suka. Dan tenang lah, aku ini manusia normal bukan seorang kanibal. Jadi jangan takut karena aku tidak akan memakan dagingmu. Tapi kalau memakan kamu dalam artian lain, aku bisa saja melakukannya. Dan seperti yang kamu ucapkan tadi. Kalau kamu mau melakukan apa saja seperti yang aku inginkan bukan? Jadi aku menginginkan kamu untuk tidur satu kamar dan satu ranjang denganku mulai malam ini. Dan aku tidak mau mendengar penolakan apapun dari kamu karena ingat, ini semua juga permintaan darimu langsung."


Setelah membisikkan perkataanya tadi dan apa yang ia mau, Erland segera menjauhkan kepalanya dari samping telinga Maura. Dimana bertepatan dengan menjauhnya dia, mata Maura juga terbuka. Namun ia melihat ada tatapan bingung dari mata istrinya itu bahkan kerutan di kening Maura juga terlihat.


Erland yang penasaran apa yang tengah terjadi dengan Maura pun ia kembali angkat suara, "Kenapa?" tanyanya.


Maura menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa sih? Mau nolak permintaanku tadi?" Lagi dan lagi Maura menjawab dengan gelengan kepala yang semakin membuat Erland penasaran dengan apa yang tengah Maura pikirankan saat ini.


"Kalau kamu tidak keberatan dengan permintaanku tadi. Lalu kenapa wajah kamu sampai seperti itu? Ada yang aneh dengan permintaanku?"


"Tidak. Tidak ada yang aneh sama sekali. Aku hanya bingung, kenapa kamu malah minta aku pindah ke kamar ini dan tidur satu ranjang saja denganmu. Bukannya kamu minta tubuhku ahhhh lebih tepatnya hak kamu sebagai tanda kalau aku ini milik kamu sepenuhnya?" tanya Maura entah dalam keadaan sadar atau tidak. Pasalnya ucapannya tadi juga membangunkan singa yang sudah lama tidur. Sampai-sampai sang singa saat ini kembali mengeluarkan senyum smriknya.

__ADS_1


__ADS_2